Lelaki Dinginku

Lelaki Dinginku
bab 6


__ADS_3

haii gaes, yang punya bantu follow gaes πŸ™ cari dengan nama akun yang sama, cerita Hyan dan Zia juga ada disana 😍


Terimakasih πŸ«ΆπŸ€—


___________


Saat sedang makan malam, ibu tiba-tiba nyeletuk,


" Gimana sama Hyan? Kira kira kamu cocok, gak? "


" Ibu, kita itu ketemunya baru 2 kali, loh, masak udah nanya cocok gak nya aja, " ucapku,


" Ibu ada-ada aja, deh, " aku kembali melanjutkan makan,


" Hehehe... Hyan itu sopan, ya, santun juga. Mana enak diajak bicara lagi, iya, kan? " Pertanyaan ibu spontan membuatku mencibir pelan.


" Enak diajak bicara apanya? Orang kayak kulkas delapan pintu gitu, kok dibilang enak diajak bicara.. " lirihku pelan.


" Kamu ngomong apa? Ngomong kok bisik bisik, mana ibu dengar, Zi, " tanya ibu mengerutkan keningnya.


Aku hanya tersenyum dan menggeleng, ibu pasti gak bakal percaya sama omongan aku.


" Enggak Bu, Zia keinget kerjaan, ada yang belum selesai, abis ini Zia langsung kekamar aja ya, Bu? " Ucapku berbohong, ibu hanya mengangguk saja.


______


Hari berlalu, tak terasa kedekatan ku dan Hyan sudah mulai masuk setengah bulan, jika ada yang bertanya disini, apakah manusia es sudah mulai mencair? Jawabannya adalah ... BIG NO!


Sifatnya padaku masih seperti biasa, meski sudah jalan setengah bulan lamanya, nyatanya itu tidak bisa mencairkan sikapnya, tapi yang aku heran kan adalah, sikapnya berbanding terbalik jika sedang dengan ibu atau pun mas Hanan, pantas saja jika ibu dan mas Hanan begitu menyukainya.


Ting!


' besok aku gak bisa jemput, ada urusan penting, ' begitu isi pesannya, terlihat dia sedang mengetik,


' naik grab aja, pulangnya kita bareng, ' pesannya masuk lagi.


' oke, ' pesanku langsung centang biru, setelah itu tidak terlihat dia online lagi, aku segera menutup aplikasi hijau ku, dan memutuskan segera tidur.


________


Hari ini aku lebih memilih membawa mobil dari pada harus naik grab, sudah lama juga nggak nyetir sendiri.


Saat aku menuruni tangga tercium bau masakan yang begitu menggoda, aku segera saja menuju meja makan untuk sarapan, ternyata bi Irah masak nasi goreng seafood, terlihat begitu menggugah selera membuatku tak sabar untuk mencicipi nya, aku mulai mengisi piring dan memakannya, setelah menghabiskan sarapan ku, aku segera meneguk susu hangat yang sudah terhidang.


" Ibu belum keluar Bi? " Tanyaku pada Bi Irah.


" Udah kok, mbak, kayaknya lagi diluar, tapi emang ibu belum sarapan, " sahut Bi Irah dari dapur.


Aku segera keluar setelah mendengar jawaban Bi Irah, sesampai nya diteras ternyata ibu sedang merapikan tanamannya,


" Bu, Zia pamit, ya? "


" Hari ini Zia bawa mobil aja, soalnya Hyan lagi ada urusan, " kataku pada ibu, dan mencium tangan nya.


" Iya, kamu hati-hati, ya? " Jawabnya,


" Ehh... Kamu udah sarapan? " Ibu bertanya saat aku sudah membuka pintu mobil,


" Udah, ibu jangan lupa sarapan, loh, "


" Zia jalan, ya, Bu, " pamitku, dan mulai melajukan mobil.


Diperjalanan menuju kantor, tiba-tiba saja aku melihat mobil yang kukenali didepan ku, dan mobil itu berhenti di sebuah cafe dekat kantorku, aku sengaja memelankan laju mobil dan berhenti dibahu jalan, ingin melihat, apakah benar itu mobilnya?


Seseorang terlihat turun dari balik kemudi, dan ternyata benar, itu adalah Hyan, saat akan kembali melajukan mobil, tiba-tiba saja Hyan berputar dan membuka pintu samping, dan keluar seorang.... Perempuan?


Siapa dia? Apa hubungannya dengan Hyan? Ahhh... Kenapa aku harus pusing memikirkan ini? Bukankah kami saat ini belum ada ikatan?


" Hhhh.... " Aku menghembuskan nafas, kemudian kembali melajukan mobil menuju kantor.


________


" Pagi, bebb... " Seperti biasa, suara cempreng Nita yang selalu menyambutku ketika membuka pintu ruangan.

__ADS_1


" Pagi, " ucapku lirih tak bersemangat.


Aku meletakkan tas diatas meja, kemudian menyandarkan badan kekursi.


" Kamu kenapa? Tumben banget gak semangat gini, " Nita bertanya setelah melihat ekspresi ku,


" Sakit? " Sambungnya kemudian mengecek kening ku,


Aku menggeleng sambil menepis pelan tangannya.


" Terus kenapa? "


" Apa jangan-jangan kamu lagi ada Masalah dengan Hyan? " Tebak nya,


" Bukan masalah yang gimana-gimana, sih, " jawabku.


" Gue bingung mau cerita dari mana, "


" Cerita aja semua nya, masalah apa yang bikin sahabat gue ini kelihatan gak semangat gini? " Nita menarik kursi nya dan duduk didepan ku.


" Nit, menurut Lo.... "


Tring.... Tring....


Dering ponsel mengurungkan niatku untuk bercerita, setelah kulihat ternyata panggilan dari Hyan.


' Ada apa? ' Tanyaku setelah menjawab salamnya.


' kamu sudah berangkat? ' dia malah balik bertanya.


' sudah, ' f


' ohh.. oke, '


' assalamu'alaikum ' tanpa menunggu jawabanku dia langsung memutuskan panggilan nya.


" Cuma itu doang? Dasar manusia menyebalkan, ngapain pake nelfon coba! " Aku merutuk sendiri.


" Lo kenapa, sih, Zi? "


" Gak jadi cerita nih? " Nita bertanya lagi.


" Nit, gue mau nanya, menurut Lo, gue sama Hyan ini gimana? "


" Gue bingung Nit, kadang gue ngerasa, dia itu gak serius dengan rencana perjodohan orang tua kami, ditambah lagi dengan sikapnya yang seolah mengatakan, kalo gue bukan pilihannya, ngomong seadanya, gak pernah perhatian, secara kita sebagai cewek pasti ngerasa gak diinginkan, kan? " Tanyaku dengan menunduk.


" Kenapa Lo tiba tiba kepikiran gini? Biasanya juga santai-santai, aja, apa itu artinya Lo udah mulai ada rasa sama dia? " Pertanyaan Nita membuatku mendongak, benar juga, apa benar yang dikatakan Nita?


Aku menggeleng seketika, membuat Nita terkekeh dan melanjutkan ucapannya.


" Zia, gue ngerti, kok, " ucapnya sambil tersenyum aneh.


" Ngerti apa, sih? " Tanyaku kesal dengan ekspresi nya.


Nita malah tertawa, namun tak lama dia menghentikan tawanya, dan menatap ku dengan lekat.


" Gue serius, Zi, Lo udah mulai nyaman sama hubungan tanpa status, ini, kan? "


Pertanyaan Nita membuat lidah ku kelu, bahkan menolak pertanyaan yang berupa pernyataan Nita saja aku gak mampu.


" Nggak usah sok menyembunyikan perasaan, Zi, Lo nggak bakat. " Sambungnya lagi seraya tertawa, aku hanya mendengus mendengar ucapannya.


" Jadi, apa yang bikin Lo kepikiran ini tiba-tiba? "


" Tadi gue ngeliat dia bareng seseorang, mana manis banget lagi, pake dibukain pintu segala, " jawabku dengan perasaan yang entah, jika mengingat perlakuan Hyan pada perempuan tadi, bahkan selama kami kenal ini, baru sekali dia seperti itu, itu pun karena ada Ibu.


" Lo cemburu, gitu? "


" Kenapa nggak turun, aja? Nanyak cewek itu siapa? " Pertanyaan konyol Nita membuatku semakin kesal.


" Ngapain juga? Males! " Tandasku.


" Yaaa... Dari pada Lo uring-uringan gini, kan? " Nita terbahak setelah mengatakan itu, aku pun mendelik tajam kearahnya, yang ditatap hanya bisa nyengir kuda.

__ADS_1


_________


" Mau pulang bareng? " Aku bertanya pada Nita yang sedang merapikan meja kerjanya, Nita menoleh dan menyipitkan mata.


" Lo berantem beneran sama Hyan? Biasanya kan... " Belum sempat Nita menyelesaikan perkataannya aku menimpali.


" Kalo gak mau, yaudah, gue duluan, " timpalku dan berjalan keluar ruangan.


" Ehhh... Tunggu Zi, gue becanda, nebeng ya? " Nita mengejar dan menggandeng tanganku.


Selama didalam mobil bersama Nita, tak berhenti membuatku tertawa melihat tingkah random nya, ada saja tingkah yang dibuatnya, Nita memang anak yang ceria, selama ini belum pernah kulihat ada kesedihan dimatanya, mungkin itu juga yang membuat orang suka berteman dengannya, iyaa... Nita memang memiliki banyak teman, bukan cuma aku, dikantor pun begitu, bahkan anak bagian lain pun senang berteman dengannya, menurutku, Nita orang yang meng asyikkan, meski juga menyebalkan.


Sepulang mengantar Nita, aku memutuskan segera pulang, rasanya badan sudah benar-benar lelah ingin istirahat.


Setibanya dirumah, ternyata sudah ada Hyan, sebab mobilnya yang sudah terparkir di halaman.


" Assalamu'alaikum, " aku mengucap salam dan melangkah masuk, dan benar saja, diruang tamu sudah ada Hyan bersama ibu, sepertinya dia sudah lumayan lama, terlihat dari gelas teh didepannya yang sudah habis.


" Wa'alaikum salam, "


" Kebetulan kamu udah pulang, Hyan udah lama nungguin kamu, " ucap ibu membuatku mengerutkan kening dan melirik Hyan, dia hanya tersenyum sekilas.


" Yaudah, kalo gitu kalian ngobrol dulu, ya, ibu kekamar dulu, " kata ibu,


Aku pun duduk disofa yang berbeda dengan Hyan,


" Ngapain nungguin aku? " Tanyaku tanpa basa-basi.


" Kenapa nggak ngasih tau kalo kamu bawa mobil? " Kebiasaan, orang nanya malah balik nanya!


" Emang kenapa? Kan kamu yang bilang nggak bisa jemput, " tukasku.


" Iya, tapi aku kan sudah bilang, pulangnya aku jemput, untung aja tadi aku telfon ibu, jadi tau kalo kamu bawa mobil, " lahh... Tumben ngomong lumayan panjang? Biasanya juga kosakatanya gak pernah lebih panjang dari iya atau tidak.


" Iya, masalah nya dimana? " Ucapku dengan nada kesal.


" Masalahnya itu, aku harus bolak balik, dari kantor kekantor mu, nungguin 20 menit gak keluar-keluar, ditelfon nggak diangkat, kebiasaan! Jangan bilang hp mu silent lagi! " Ehh malah makin panjang ngomongnya.


" yaa.. e-emang aku silent, soalnya sibuk, " kelit ku.


" Makanya, sesibuk apapun, komunikasi itu penting, coba aja kamu diposisi aku, nunggu hampir setengah jam, gak taunya orang yang ditunggu udah pulang, gimana? " Dia benar-benar kesal keliatan nya,


" Terus, kamu dari mana? Kenapa malah baru nyampe? "


" Abis anterin Nita, "


" Kalo kamu takut bolak-balik, ngapain malah kesini? Bukannya pulang, " ejekku


" Ehh... emm.. ya itu, aku mau mastiin kalo kamu udah sampai rumah dengan selamat, kalo ada apa-apa kan aku yang bakal disalahin, apalagi aku udah janji sama ibu bakal antar jemput kamu, " jawabnya sambil menggaruk tengkuknya, dan aku mengulum senyum.


" Khawatir kali... " Cibirku dengan berbisik.


" Ehh.. apa? Khawatir? Geer! " Tukasnya, membuat ku mendelik tajam kearahnya.


" Terus, kamu ada urusan apa tadi pagi dicafe? " Tanyaku,


" Sejak kapan kamu mau tau urusan ku? " Ledeknya.


" Siapa juga yang mau tau, "


" Aku cuma mastiin aja, itu tadi beneran kamu atau enggak, " dalihku.


" Kalo emang aku kenapa? " Tanyanya sambil mengulum senyum, aneh!


" Gak kenapa-kenapa, manis banget keliatannya, apa dia nggak marah kalo kamu tiap hari antar jemput aku? " Hyan mengerutkan keningnya sekilas, kemudian tersenyum.


" Enggak, dia ngerti kok, lagian kan waktu sama dia tetap ada, " ujarnya dengan tersenyum, ada yang panas didalam sini ketika mendengar kata-kata nya.


" Ohh.. yaudah, kamu balik, gih, aku mau mandi dulu, " ucapku seraya Bangkit,


" Oke, bilangin ibu aku langsung balik, " pamitnya dengan tersenyum manis,


Aku hanya mengangguk, dan mengantarnya sampai pintu, setelah dia keluar aku langsung menutup pintu dengan sedikit keras, duhh... Kok aku kesal, sih?

__ADS_1


_________


__ADS_2