
Hai... Hai... Hai... Hyan dan Zia muncul lagi nih, awas jangan senyum-senyum bacanya😁
___________
Aku masih saja mematung ditempat setelah menerima boneka jumbo itu dari tangannya, sedangkan Hyan tersenyum tipis sekali.
" Mau berapa lama berdiri disana? " Seru nya membuatku tersentak.
Aku segera menyusul Hyan dan juga Shaumi yang sudah berjalan lumayan jauh didepan, dengan perasaan yang campur aduk. Antara kaget, bingung dan senang dengan perlakuan nya barusan, ditambah lagi dengan kata-kata nya saat menyerahkan boneka tadi, makin membuatku salah tingkah saja.
" Kita makan malam dulu, ya? " Kata Hyan saat langkahku yang sudah sejajar dengan mereka.
Aku melirik jam ditangan, ternyata sudah pukul 18:57. Shaumi sudah terlihat kelelahan, dia juga kewalahan membawa boneka yang ukurannya melebihi ukuran badannya itu.
" Mau om gendong aja, nggak? " Tanya Hyan.
" Boleh, om. Umi capek jalan terus dari tadi, " keluhnya.
" Yaudah, kalo gitu kasihin bonekanya ke Anty aja. Biar Anty yang pegang, " sambungnya.
Shaumi langsung menyerahkan boneka miliknya padaku, yang mau tak mau aku terima. Aku yang sudah kewalahan sebab membawa boneka super jumbo tadi, malah ditambah dengan satu boneka lagi.
Aku berjalan sedikit kerepotan, Hyan membawa kami ke restoran cepat saji. Kami segera masuk dan mencari meja kosong, Hyan yang masih menggendong Shaumi berjalan didepan, akhirnya kami memutuskan duduk di bagian pojok kiri.
Hyan menarik kursi dengan kakinya dan mendudukkan Shaumi disana, setelah memastikan Shaumi duduk dengan aman, dia kembali menarik kursi sampingnya dan duduk disana.
Dia melambaikan tangan pada salah satu pelayan pria, kemudian memesan makanan sesuai dengan pesanan kami bertiga. Sambil menunggu pesanan, aku mengajak Shaumi bercerita. Dia terlihat sudah mengantuk dan kelelahan, tapi matanya tetap berbinar setiap kali bercerita tentang keseruannya bermain tadi. Sesekali aku melirik Hyan, dia tampak fokus pada ponsel ditangannya, tapi saat Shaumi mengajaknya bicara dia segera mematikan ponselnya dan meletakkannya dimeja, kemudian mulai mendengar celotehan gadis kecil itu dengan senyum mengembang.
Aku hanya bisa tersenyum melihat keduanya, sepertinya mereka partner yang cocok jika bercerita. Shaumi malah terlihat sangat bahagia jika sedang bersama Hyan, berbeda jika sedang bersama mas Hanan, dia malah sibuk bermain denganku, ibu atau mbak Alya, seperti menghindar setiap mas Hanan mengajaknya bermain, kecuali sedang berkumpul bersama.
Mereka baru berhenti bercerita saat pelayan mengantar pesanan kami, kemudian Hyan meminta agar Shaumi makan dulu, agar bisa segera pulang dan istirahat.
Kami menyantap makanan masing-masing, tak ada perbincangan berarti antara aku dan Hyan, kecuali jika Shaumi yang mengajak bicara.
Setelah selesai makan, aku segera meneguk minuman. Hyan juga sudah selesai, begitu juga Shaumi yang tak sanggup menghabiskan makanannya karena kekenyangan.
Hyan kembali memanggil pelayan dan meminta tagihannya, setelah itu segera membayar dan mengajak kami pulang.
Hyan sudah kembali menggendong Shaumi, namun saat hendak bangun dan keluar, aku menangkap bayangan seorang perempuan yang sangat kukenal diujung sana. Nita!? sepertinya dia baru saja tiba, dia bersama seorang pria, aku seperti tak asing dengan perawakan pria itu, namun aku tak bisa melihat dengan jelas, selain karena jarak yang lumayan jauh, pria itu juga duduk membelakangi. Aku baru saja hendak melangkah mendekati mereka, namun rengekan Shaumi membuatku mengurungkan langkah. Sudah lah! Lebih baik aku pulang saja, Shaumi juga sudah kelihatan mengantuk dalam gendongan Hyan, dia sudah menyandarkan kepalanya pada bahu pria itu dengan mata terkulai.
Aku mengikuti langkah lebar Hyan dengan pikiran yang berkecamuk, tentang Nita yang tadi kulihat dengan seorang pria. namun masalah nya bukan berhenti disana, tapi sosok pria yang duduk membelakangi tadi yang membuat perasaan ku tak menentu, apakah benar dia pria yang sama dengan yang ada dipikiran ku saat ini? Allah ... Semoga saja tidak!
kami sudah tiba diparkiran, Hyan membuka pintu belakang mobil dengan sedikit kerepotan, sebab ada Shaumi yang terlelap dalam gendongannya. setelah pintu terbuka, Hyan langsung membaringkan Shaumi dan kembali menutup pintu, aku masih mematung didekat pintu. karena tak mungkin membawa dua boneka jumbo ikut masuk denganku. sudah pasti tak akan muat.
__ADS_1
Hyan segera meraih kedua boneka di tanganku dan menaruhnya dibelakang. kemudian memintaku untuk segera masuk.
aku membuka pintu dan segera masuk, setelah memasang seat belt aku menyandarkan tubuh dan memalingkan wajah menghadap jendela, mencoba menepis segala pikiran buruk yang sejak tadi bersarang dipikiran.
hatiku masih saja bertanya-tanya, siapa pria yang sedang bersama Nita tadi? apa kekasihnya? ah ... aku sungguh tak peduli siapapun pria itu sebenarnya, apa status nya dengan Nita, dan sedang apa mereka disana, asal lelaki itu bukan lelaki yang ada dipikiran ku saat ini.
" Zi? " panggil Hyan membuyarkan lamunanku.
" emm? iya? " aku menjawab seraya menoleh dan menegakkan tubuh.
" Kamu kenapa? "
aku mengalihkan tatap darinya kemudian menghela nafas.
" nggak kenapa-kenapa, " jawabku.
" nggak kenapa-kenapa, tapi ngapain ngelamun? " dia mencoba bertanya lagi.
" ngelamun? ah ... enggak kok. aku lagi capek aja, " sahutku berbohong.
terdengar Hyan hanya bergumam, aku kembali merebahkan badan dan memalingkan wajah kesamping dengan menutup mata. pikiran buruk ini begitu mengganggu, dadaku tiba-tiba sesak. akan sangat mengecewakan jika laki-laki itu benar laki-laki yang ada dalam pikiran ku sejak tadi.
" Zia, apa kamu sakit? " Hyan bersuara lagi.
" ahm ... by the way, terimakasih untuk hari ini. terimakasih juga kamu sudah sangat baik memperlakukan Shaumi ... " aku menjeda ucapanku.
" dan maaf jika sikap dan tingkahnya hari ini membuat kamu kewalahan, " aku melanjutkan ucapan.
Hyan terdengar menghela nafas, kemudian melirikku sekilas dan tersenyum samar.
" Shaumi itu anak yang baik, patuh juga. tapi ya gitu, mungkin karena jarang dibawa keluar oleh ayahnya, makanya sekali keluar seperti ingin melampiaskan nya, dengan cara yang menurutnya menyenangkan, "
ucapan Hyan membuatku tertegun. yang dikatakan nya itu memang benar, Shaumi ingin melampiaskan segala rasa yang selama ini ditahannya, dengan cara yang menurutnya menyenangkan tapi bagi sebagian orang itu dianggap kenakalan.
" mungkin kamu heran, kenapa aku bisa berpikir seperti itu, " Hyan menjeda ucapannya dan melirikku, aku hanya mengangguk menanggapi nya.
" saat sedang bermain tadi, Shaumi mengatakan jika dia jarang dibawa bermain seperti ini oleh ayahnya, dia juga mengatakan kalau mas Hanan terlalu sibuk kerja, seringnya pulang malam, saat dia pulang Shaumi sudah terlelap, dan baru akan bertemu pagi hari saat akan berangkat kantor dan mengantarnya ke sekolah, " Hyan menjeda lagi ucapannya. sedang aku hanya mampu terdiam, tak tahu harus menanggapi seperti apa.
" dia juga mengatakan, seolah tak ada hari libur atau liburan untuk ayahnya, karena yang dia tahu, saat hari libur tiba pun sang ayah masih saja sibuk dan fokus dengan pekerjaannya. tak peduli rengekannya yang ingin dibawa main, " Hyan menghentikan ucapannya seraya melirikku.
aku tak menanggapi apapun, bukan tak mau. namun aku tak tau harus menanggapi seperti apa, semua yang dikatakan Hyan memang sangat benar, terlebih semua itu dia dengar dari mulut kecil Shaumi.
" aku melihat Shaumi seperti kehilangan sosok ayahnya, " aku langsung melirik hyan ketika dia mengucapkan itu.
__ADS_1
ingin membantah tapi tak kuasa, jadi hanya bisa menghela nafas berat, pikiranku sangat kacau saat ini.
" maaf, jika aku sudah terlalu jauh ikut campur, aku hanya kasihan melihat Shaumi. kuharap kamu mengerti, " ucap Hyan lagi.
aku tak menjawab sama sekali, entahlah, pikiranku seketika buntu. memikirkan nasib Shaumi, dan laki-laki yang mirip seseorang dimall tadi.
__________
mobil sudah tiba didepan rumah, aku segera turun, begitu juga Hyan. dia membuka pintu mobil bagian belakang dan mengangkat Shaumi kembali dalam gendongannya. aku mengambil alih Shaumi dari tangan Hyan, dan segera membawanya masuk kekamar ibu.
" bentar, aku antar Shaumi dulu, " Hyan hanya mengangguk.
aku segera membawa Shaumi kedalam, Hyan membantu membukakan pintu rumah karena melihatku yang sedikit kerepotan, aku tersenyum sebagai ucapan terimakasih.
saat masuk, rumah sudah sepi. ibu juga tidak ada didepan tv, aku melanjutkan langkah menuju kamar ibu, untuk segera membaringkan Shaumi. saat pintu kubuka, tak ada ibu disana, aku mengernyit heran sebab melihat kamar ibu dalam keadaan kosong. aku langsung saja membaringkan Shaumi dan menutupi sebagian tubuhnya dengan selimut, setelah itu aku segera keluar dan menutup pintu. tujuanku saat ini adalah kamar mbak Alya.
aku mengetuk pintu kamar, tak berapa lama ada yang membukanya dari dalam. ternyata ibu, dia sedikit terkejut melihatku.
" kalian sudah pulang? ibu kira mas mu, " katanya.
" emang mas kemana? belum pulang? " tanyaku dengan perasaan tak menentu, takut sekali dengan pikiranku sendiri.
" belum, tadi sudah ibu telfon. katanya lagi ketemu klien, " jawaban ibu tak sama sekali membuatku tenang, malah semakin menaruh curiga.
aku hanya menanggapi dengan anggukan, sebab teringat Hyan yang masih menunggu diluar, kasian jika dia harus menunggu terlalu lama.
" Zia kedepan dulu, bu. Hyan masih nunggu diluar, Umi sudah Zia tidurin dikamar, " kataku pada ibu.
" yaudah, kalo gitu ibu kekamar aja. mau nemenin umi, " aku mengangguk dan segera beranjak keluar.
sesampainya diteras, ternyata Hyan sedang duduk dikursi, boneka milikku dan Shaumi sudah dia taruh dikursi satunya. saat melihatku keluar, dia segera berdiri.
" aku langsung pulang saja, nggak enak malam-malam masih bertamu, " katanya.
" nggak mau minum dulu? " tanyaku berbasa-basi, dia menjawab dengan gelengan.
" sekali lagi terimakasih banyak untuk hari ini dan juga ... bonekanya, " ucapku seraya menunduk malu.
saat aku meliriknya dia tersenyum manis sekali, senyum yang menenangkan, mampu mengobati sedikit kerisauan hatiku.
" sama-sama, langsung istirahat dan jangan begadang, ya!? " ucapnya seraya mengacak lembut pucuk kepalaku, perlakuannya itu malah membuat waktu seperti berhenti berputar, aku hanya bisa membeku ditempat dengan hawa panas yang sudah menjalari seluruh tubuhku.
___________
__ADS_1