
_________
Pagi menyapa, aku yang masih bermalas-malasan diatas kasur, seketika melompat bangkit, sebab teringat kalau pagi ini mas Hanan dan mbak Alya akan datang.
Semalam, setelah masuk kamar usai berbincang dengan ibu dibawah, memang mbak Alya menghubungi ku, mengatakan kalau mas Hanan mengajaknya datang, untuk segera membahas masalah kemarin, mbak Alya juga bilang, setelah sedikit lebih tenang, mas Hanan mengatakan akan menerima setiap keputusan yang aku ambil.
Aku juga sudah memikirkan semalaman, setelah mendengar nasehat ibu, dan berpikir sendiri serta mendengar suara hati, aku sudah menyiapkan jawaban yang akan kusampaikan pada keluarga Hyan, semoga saja ini yang terbaik.
Aku memutuskan untuk menyegarkan diri dulu sebelum mereka datang, aku segera meraih handuk dan masuk kekamar mandi.
Setelah selesai mandi dan berganti baju, aku melanjutkan memakai skincare diwajah, tiba-tiba ponselku berdering, aku melirik sekilas dan ternyata Nita yang menelpon, tumben nih anak nelpon dihari libur.
' assalamualaikum, ada apa, Nit? '
' Lo udah didepan? '
' duhh... Gimana yaa, gue juga ada janji sama mbak Alya dan mas Hanan, ada yang mau dibahas '
' yaudah deh, Lo masuk dulu aja, gue baru selesai mandi, nih, '
' oke, '
Aku mengakhiri panggilan, dan segera bersiap untuk turun kebawah.
Ternyata Nita sudah duduk diruang tamu, ada ibu, mbak Alya juga mas Hanan disana, aku duduk disamping ibu.
" Kamu kok nggak bilang ada janji sama Nita, sih, dek? " Tanya mas Hanan ketika aku sudah duduk.
" M-maaf, mas, ini salah Nita sendiri, nggak nanya-nanya dulu, jadinya gini, " Nita berucap sungkan, " kalo gitu, Nita permisi dulu, mbak, mas, Tante, " kata Nita seraya bangkit dan menunduk, tumben amat nih bocah kalem gitu.
" Eh.. bareng Zia aja nak, nyari kost-an kan lama, kasian kamu nanti, capek, "
" Kita bicaranya nanti aja, mas, kalo Zia sudah pulang, kamu kan bisa disini dulu, " sambung ibu, terlihat mas Hanan seperti meminta persetujuan mbak Alya,
" Iya, mas, nggak apa-apa, kita tungguin Anty pulang dulu, aja, " mas Hanan pun mengangguk setuju.
" Kalo gitu aku ganti baju dulu, tungguin bentar, ya, Nit? " Nita mengangguk.
Aku naik lagi kekamar untuk berganti baju, pasalnya memang tadi aku hanya memakai baju rumahan, nggak mungkin juga keluar nyari kost-an baju ginian, kan?
Tak ingin Nita menunggu terlalu lama aku pun bergegas, setelah memakai lipstik juga menyemprotkan parfum, aku segera meraih kunci mobil dan juga tas kecil, kemudian memasukkan ponsel, aku segera turun menemui Nita.
" Udah, yuk! " Ajakku setelah sampai dibawah.
" Eh.. kalian nggak sarapan dulu? Kamu kan belum sarapan, nak? " Tanya ibu padaku.
" Nggak usah, Bu, nanti nggak keburu, kita cari sarapan diluar aja nanti, iya, kan, Nit? "
Nita mengangguk, ibu menghela nafas.
" yaudah, kalo gitu kalian hati-hati, ya? " Kami hanya mengangguk, kemudian pamit setelah mencium punggung tangan ibu.
_________
Mobil menuju daerah yang ditunjuk Nita, selama perjalanan kami saling berbincang, aku mengajak Nita untuk sarapan bubur dulu, awalnya dia menolak dengan alasan belum lapar, tapi setelah kupaksa dan mengatakan aku lapar, dan takut nggak kuat keliling buat nyari kost-an, dia pun menyetujui.
Kami singgah diwarung bubur ayam yang terkenal enak, aku memesan dua porsi bubur ayam dan dua teh hangat setelah bertanya pada Nita, setelah memesan, aku duduk dimeja yang sudah diisi Nita.
Warung ayam ini setiap pagi selalu ramai, entah itu dihari kerja ataupun hari libur, seperti hari ini, setiap meja sudah terisi, hanya ada beberapa yang kosong, warung ini memang terkenal dengan rasanya yang enak, juga tempat yang nyaman dan yang pasti bersih, penjualnya juga ramah pada pembeli, mungkin itu juga menjadi salah satu daya tarik nya.
Setelah menunggu lumayan lama, pesanan kami sampai juga, dua mangkok bubur ayam dan teh hangat sudah terhidang, tanpa menunggu lama, aku dan Nita segera menyantapnya, selain karena memang sudah lapar, juga karena takut nggak keburu dengan urusan yang sudah menanti.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama, masing-masing mangkok kami sudah tandas, aku segera meneguk teh hangat hingga habis, Nita juga sudah selesai, saat aku bangkit hendak membayar, Nita melarangku dan mengatakan biar dia saja yang membayar untuk sarapan ini, meski aku sudah menolak, dia tetap memaksa dan mengatakan sebagai tanda terima kasih karena sudah aku temani, akhirnya aku pasrah saja dan membiarkan dia yang membayar, lumayan, kan, gratis? Hihi
Aku segera bangkit ketika melihat Nita sudah berjalan kearah ku.
" Udah, yuk! " Ajaknya sambil memasukkan kembali dompet kedalam tas kecilnya.
Mobil sudah melaju meninggalkan warung bubur ayam tadi, kami kembali berbincang, sifat aslinya sudah mulai keluar, sepanjang jalan dia terus berceloteh, dia mengatakan sedih karena harus pindah kost-an yang sudah dua tahun ini dia huni, namun karena pertimbangan satu dan lain hal, dia pun mau tak mau harus pindah juga.
" Mulai cerewet lagi, Lo, tadi aja dirumah gue keep calm, ngapa? Jijik gue ngeliat Lo sok-sokan kalem gitu !? " Kelakar ku sambil tertawa.
" Lo nggak tau aja, jantung gue hampir copot ngeliat mas Hanan, " jawabnya.
" Emang dia sejenis jin? Bisa bikin jantung Lo hampir copot, gitu? Udah kayak orang yang mau ketemu calon aja Lo, " Aku terkekeh.
" Gue kan malu, apalagi ada mas Hanan sama ibu Lo, tatapan mas Hanan mampu menembus jantung gue , Zi " jawabannya membuatku menyipitkan mata dan melihat kearahnya.
Yang dilihat malah nyengir-nyengir bae !
" Maksud, Lo? "
" ya gitu, bikin gue nggak bisa move on aja, " dia tertawa setelah mengatakan itu, sedang aku hanya mendelik kearah nya.
" Ehh... Tapi serius tau, Zi, coba aja kalo mas Hanan belum nikah, "
" Terus? Mau Lo deketin gitu? Ogah gue punya ipar kayak Lo, udah bener mas Hanan nikah sama mbak Alya terus punya bocah gemoy, kalo nikah sama Lo? Yang ada ponakan gue sama ceriwisnya kayak emaknya, bikin gue puyeng tiap hari, " Nita terbahak mendengar ocehan ku, dia tidak tersinggung sama sekali, karena dia tau aku mengatakan itu pun hanya bercanda.
" Seru kali, Zi, punya ipar sahabat sendiri, Lo mau tukar kagak? " Sahutnya lagi membuat ku menatap tajam.
" Emang Lo pikir mas gue bakal mau ngelepas pawangnya untuk Lo, gitu? " Ledekku membuatnya memanyunkan bibir, aku tertawa melihat raut kesal diwajah Nita.
" Eh? By the way, kost-an kali ini nggak lebih jauh dari kantor, kan? " Aku mengalihkan pembicaraan.
" Enggak sih, tapi belum tau cocok apa enggaknya, didaerah tujuan kita ini ada 3 kost-an yang bakal kita liat, Lo nggak keberatan kan? "
Kami tiba dihalaman sebuah kost-an yang terlihat mewah, setelah berbincang sebentar kami pun memutuskan segera turun, ternyata ibu kost nya sudah menunggu disana.
" Permisi, dengan buk Lina bukan? " Tanya Nita saat kami sampai didekatnya.
" Iya, ini nak Nita kan? Yang nelpon tadi? " Si ibuk menjawab dengan tersenyum.
" Betul Buk, kalau begitu bisa kita liat langsung kedalam? "
" Oh boleh, boleh, mari, " ucapnya mempersilahkan kami.
Aku, Nita dan juga buk Lina pemilik kost ini naik tangga kelantai dua, sebab kamar kosong hanya tersisa satu, yaitu dilantai dua, yang lainnya sudah penuh.
Saat tiba disana, buk Lina langsung membuka kunci pintu kamar tersebut, terpampang didepan sana, ruangan yang lumayan luas untuk ukuran kamar kost, kamar ini juga sudah full keramik, disudut ruangan terdapat sebuah bed dengan ukuran sedang, tidak terlalu kecil pun tidak terlalu besar, disampingnya ada sebuah meja kecil, ada lemari baju yang berukuran sedang juga, dan sudah ada AC nya.
Nita masuk untuk melihat kamar mandi nya, setelah pintu terbuka, terlihat kamar mandi yang lumayan luas dan terpenting sangat bersih, sepertinya buk Lina sering membersihkan nya meski kosong, bahkan tadi saat pertama kali dia membuka pintu, tercium aroma dari pengharum ruangan tersebut.
Setelah melihat-lihat sejenak, Nita mengajak pemilik kost tersebut berbicara diluar, mungkin ingin bernegosiasi, aku memutuskan menunggunya didalam saja.
Nita mengajakku setelah selesai berbicara dengan buk Lina, kami keluar dari kost-an setelah berpamitan padanya.
" Lo jadi ngambil yang ini? Atau pengen liat yang lain dulu? " Tanyaku setelah berada di dalam mobil.
" Gue kayaknya ngambil yang ini aja deh, kadung nyaman sama tempatnya, soalnya rapi terus bersih juga, pemiliknya juga ramah kayaknya, doain gue cocok disini, ya? " Jawab Nita, aku hanya mengangguk saja.
" Terus, ini kemana lagi? " Tanyaku lagi.
" Gue langsung balik kost-an aja, mau beres-beres, "
__ADS_1
Mobil kulajukan kearah kost-an Nita, seperti biasa, perjalanan dengan makhluk aneh disebelah ku ini pasti dipenuhi dengan tawa, semua tingkah lakunya benar-benar membuatku seperti orang gila, yang tidak berhenti tertawa.
" Lo nggak mampir dulu? " Tanya Nita saat akan bersiap turun.
" Enggak deh, kan masih ada urusan lain, "
" Maaf ya, gue nggak bisa bantuin Lo pindahan, " kataku padanya.
" Nggak apa-apa, yang ada malah gue makasih banget, Lo udah sering banget bantuin gue, " ucapnya serius.
" Apa, sih? kaku amat! Kayak bukan Lo aja, deh, " cetus ku sambil tertawa.
" Bang**t Lo, " ucapnya ikut tertawa.
" yaudah, gue balik, ya? " Pamitku.
" Salam sama mas Hanan, ya, adik ipar?! " Katanya yang langsung kuhadiahi dengan lirikan maut, dia hanya cengengesan melihat aku yang kesal.
_________
" Assalamu'alaikum, " aku mengucap salam.
" Wa'alaikum salam, " ternyata mbak Alya yang menyambutku.
" Udah selesai? Dapet nggak kost an nya? " Tanya mbak Alya.
" Sudah mbak, " jawabku sambil duduk dan menyandar disofa.
Mbak Alya duduk disamping mas Hanan yang sedang fokus dengan ponsel nya.
" Eh? Shaumi nggak ikut, ya? " Ucapku, baru sadar kalau sejak pagi aku tidak melihatnya.
" Iya, kebetulan tadi malam Umi dijemput kakek sama neneknya, terus nginep deh, makanya nggak ikut kemari, " jawab mbak Alya, aku hanya manggut-manggut.
" Pantesan, nggak ngegedor pintu tadi pagi, biasanya kan suka jahilin Anty nya, kayak nya udah menurun sikap jahil Ayah nya, nih, " ucapku menggoda mas Hanan yang masih saja fokus pada ponselnya.
Dia hanya berdecak dan mendelik kearahku.
" Nggak usah usil, ntar diusilin balik ngamuk, " cibirnya membuat aku dan mbak Alya menahan tawa.
" Dih.. masih sibuk aja, betah amat mbak jadi bininya, kalo aku mah, auto ngamuk, " ledekku.
Mas Hanan melempar ku dengan bantal sofa.
" Nggak usah ngomporin, ntar meledak, kamu juga yang jadi korbannya, " tawa ku dan mbak Alya meledak mendengar ucapan mas Hanan.
Dia hanya mendengus melirik kearah kami bergantian, kemudian kembali sibuk pada ponsel digenggamannya.
" Mas, kalo sibuk terus kapan kita bahas yang kemarin? " Tanya mbak Alya.
mas Hanan tidak menyahut, saking fokusnya.
" Maass .. ihh .. " mbak Alya mencubit pinggang mas Hanan, membuat laki-laki itu memekik kecil, aku hanya menahan tawa melihatnya.
" Aduhh ... Sakit, Bun, " mas Hanan meringis sambil mengelus pinggangnya.
Mbak Alya memanyunkan bibir dan memalingkan wajahnya, mas Hanan segera mendekat.
" Ada apa, sayang? Mas lagi ngurus kerjaan tadi, maafin mas, ya? " Bujuknya.
" Tau, ah, " jawab mbak Alya kemudian bangkit meninggalkan mas Hanan, aku mengejar mbak Alya.
__ADS_1
" Kapok mu kapan mas? " Ejekku membuat mas Hanan menatapku dengan kesal.
__________