
_____________
" Mmm ... Kamu ini kenapa, sih dek? Ngeliatin mas sampe segitunya, " mas Hanan seperti risih dengan tatapanku.
" Jawab dulu! Mas ngapain nanyain Nita? " Desakku kesal.
Mas Hanan menghela nafas, kemudian menatapku. Aku yang belum mendapat jawaban pasti darinya masih saja mencurigai nya. Takut kalau mas Hanan dan Nita ... Ahh aku benci pikiranku.
" Kemarin sore mas lagi ketemu klien dicafe. terus, pas mas mau jalan ke parkiran, tiba-tiba saja ada motor yang melaju dengan kecepatan tinggi kearah mas. Mas juga nggak tau kenapa tuh motor bisa keluar dari jalur, padahal mas masih dalam area parkiran cafe tersebut, tapi memang parkiran sedikit penuh, sih, " mas Hanan menjeda ucapan nya.
" Terus apa hubungannya sama mas nanyain Nita? " Sela ku.
" Makanya dengerin penjelasan mas, dulu, " mas Hanan menggerutu sebab aku menyela ucapannya.
" Yaudah, cepat jelasin. Zia mau antar sarapan mbak, nih, " sungutku.
" Jadi, mas nggak sadar kalo Ado motor dibelakang, mas bisa aja ketabrak kalo saja Nita nggak narik tangan mas, " mas Hanan melanjutkan ucapannya.
Aku membulatkan mulut mendengar penjelasan dari mas Hanan, ternyata Nita sudah menyelamatkan mas Hanan. Dan aku malah berpikir buruk tentangnya.
" Siapa yang tabrak? " Tanya ibu yang tiba-tiba masuk kedapur membuat kami terlonjak kaget.
" yaampun ibuu ... Zia sampe kaget loh, " kataku seraya mengelus-elus dada karena kaget.
" Jawab dulu pertanyaan ibu, siapa yang tabrak? " Ibu malah mendesak tanpa menghiraukan kami yang kaget.
" Mas aja yang jelasin, Zia mau nganterin sarapan buat mbak dulu, " aku menyahut sambari berlalu.
_________
" Anty! Buka pintunya! Umi mau masuk ... " Gedoran pintu membuatku terbangun dari tidur siang.
" Iyaa ... Bentar, " sahutku seraya meraih jepitan rambut, dan menjepit nya dengan asal.
Aku melangkah lunglai menuju pintu, sebenarnya aku baru saja tidur, tapi suara cempreng bocah diluar sana mengganggu tidurku.
Aku memutar kunci dan menekan handle pintu, begitu pintu terbuka Shaumi langsung menyeruduk masuk melewatiku. Aku hanya menggeleng melihatnya.
" Anty ... Umi bosan, pengen main keluar, " Shaumi memberengut.
" Terus kenapa? " Tanyaku.
" Ayah nggak bisa nemenin Umi, sekarang aja ayah belum pulang. Katanya lagi ada kerja, " lagi Shaumi menjawab dengan wajah ditekuk.
" Terus, bunda juga nggak bisa karena lagi sakit, " bibirnya mengerucut. Aku tersenyum melihatnya yang merajuk, menggemaskan.
" Jalan sama Anty mau, nggak? "
Wajah yang tadi ditekuknya langsung berbinar ketika mendengar ucapanku, dia langsung mengangguk dan melompat-lompat senang.
" Umi mandi dulu, sana. Anty juga mau mandi, " kataku yang langsung diangguki nya.
Dia langsung berlari keluar kamar, dan turun kebawah. Aku kembali menutup pintu dan menguncinya, dan memutuskan segera mandi agar tak terlalu kesorean.
________
Shaumi ternyata sudah selesai dan menungguku dibawah sambil menonton tv, saat melihat aku turun dia langsung berdiri dan menyusulku.
" Ayok, Anty ... Umi sudah nggak sabar, " katanya.
" Nini mana? Kita pamit dulu, " aku berjalan kekamar ibu.
__ADS_1
Saat membuka pintu kamar, tak kudapati ibu disana. Aku kembali menutup pintu dan berniat mencarinya ke dapur. Tapi di saat bersamaan, ibu memanggilku dari arah luar, ternyata ibu sedang diteras. Aku mengajak Shaumi menyusul ibu ke luar, sekalian langsung jalan.
Sampai diteras, aku dikejutkan dengan kehadiran Hyan. Dia masih dengan setelan kerjanya, ini belum terlalu sore, apa dia sudah pulang kerja?
Hyan menoleh dan menatapku sekilas.
" Ibu masuk dulu, ya, " ucap ibu.
" Bu, Zia mau pamit, bawa Umi main, bilangin ke mbak, ya? " Pamitku. Ibu yang hendak melangkah masuk menghentikan langkahnya.
" Main kemana? " Hyan bertanya.
" Ng ... Belum tau, mungkin ke mall, " sahutku.
" Aku antar saja, "
Dia berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan Shaumi, kemudian tersenyum pada gadis itu.
" Om yang ngantar main nya, boleh, nggak? " Aku tercengang, ngomong sama bocah kok bisa suaranya lembut gitu, gaya bicaranya juga ramah. Pencitraan nih!
" Hem ... Boleh nggak Anty? " Bukannya menjawab, Shaumi malah bertanya padaku, seolah meminta persetujuan.
Hyan sudah kembali berdiri menatapku, seolah menunggu jawaban. Aku menghela nafas dan mengangguk, Hyan langsung mengalihkan pandang pada Shaumi.
" Ayok! pamit sama Nini dulu, ya, " titah nya pada Shaumi.
Shaumi langsung menghampiri ibu yang masih diteras.
" Nini, Umi pergi sama Om dan Anty, ya? " Katanya seraya meraih tangan ibu untuk diciumnya.
" Iya sayang, jangan nakal, ya? " Kata ibu mengelus rambut sang cucu.
Shaumi hanya mengangguk dan langsung menghampiri Hyan, meminta agar segera berangkat.
Dia mencium punggung tangan ibu dengan takzim, begitu juga aku yang menyusul nya.
" Kalian hati-hati, ya! " Kata ibu setelah kami masuk kedalam mobil.
Hyan melajukan mobil meninggalkan perkarangan rumah, Shaumi yang duduk di bangku belakang tak berhenti berceloteh. Anak itu terlihat begitu senang karena dibawa keluar seperti ini. Aku sedikit kagum dengan kesabaran Hyan dalam menanggapi setiap celotehan yang keluar dari mulut Shaumi. Aku sudah seperti obat nyamuk saja, Hyan maupun Shaumi tak ada yang mengajakku bicara. Mereka seolah lupa, kalau ada makhluk cantik ini diantara mereka. Berasa diduain sama bocah deh jadinya.
Melihat bagaimana antusias nya Shaumi dibawa jalan seperti ini, aku kadang menyayangkan sikap mas Hanan, dia lebih mementingkan pekerjaan dibanding menyenangkan hati anak dan istrinya. Kuakui, dia begitu mencintai mbak Alya dan juga Shaumi, mungkin karena besarnya rasa cinta itu juga lah yang membuat dia ingin berjuang sekeras sekarang, tanpa disadari ada kebahagiaan lain yang dibutuhkan mereka, yaitu waktu dan kebersamaan.
Shaumi yang masih berumur 5 tahun saja seringkali mengeluh padaku juga ibu. Dia sering mengatakan jika mas Hanan paling susah diajak liburan, bahkan untuk bawa main ke mall saja sangat jarang. Ibu sudah sering menasihati nya, tapi dia selalu beralasan capek karena banyak kerjaan, apalagi jika dia sudah mulai lembur.
Aku memandang Hyan dari samping, melihat interaksi dia dengan Shaumi membuatku semakin kagum. Keduanya saling bercanda dan tertawa.
" Yeay! Sampai! Ayok, om. Umi udah nggak sabar pengen main, " Shaumi memekik girang ketika melihat mobil sudah tiba dipelataran mall.
Aku hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkahnya, sedangkan Hyan tersenyum begitu lebar, aku seperti menemukan sesuatu yang berbeda darinya, saat bersama Shaumi.
__________
Hyan meraih tangan kecil Shaumi dan membawanya masuk kedalam mall yang ramai pengunjung. Shaumi terlihat begitu girang, dia langsung melepas tangan nya dari pegangan Hyan dan berlari masuk diantara ramainya orang.
Hyan segera berlari menyusul nya, kulihat dia sedikit kewalahan untuk menggapai Shaumi yang sudah berlari sedikit jauh. dengan langkah lebar dia terus menyusul sedangkan aku hanya berjalan santai dibelakang.
" Anty! cepat! umi mau main keatas, " teriak nya dari jauh.
kami bertiga naik kelantai dua, sesampai disana Shaumi masih juga lari-larian, bocah itu memang sangat aktif, dia bahkan tak terlihat lelah sedikit pun, entah karena sangat senang karena bisa keluar.
" hhh ... hhh ... " Hyan sudah ngos-ngosan karena kecapean mengejar Shaumi yang sejak tadi betah lari-larian. aku menghampiri Shaumi dan membujuknya agar tidak lari-larian lagi.
__ADS_1
" sayang ... jangan lari-lari lagi, nanti Umi capek, terus nggak dapet main. Umi mau main nggak? " dia langsung berhenti dan mengangguk ketika mendengar ucapanku.
" tuh liat, kasian om Hyan sampe kecapean ngejar Umi dari tadi. kalo umi masih lari-larian, mending kita pulang aja, " kataku seraya menunjuk Hyan.
" maaf Anty, umi janji nggak nakal lagi, " Shaumi meminta maaf dengan wajah memelas. kasian juga ngeliatnya.
aku tersenyum dan mengelus lembut rambut panjangnya. aku juga memintanya untuk meminta maaf pada Hyan.
Shaumi mengampiri Hyan yang sejak tadi berdiri dibelakang kami. aku hanya memperhatikan nya dari jauh, Shaumi mulai berbicara, aku tak mendengar apa yang diucapkannya, yang pasti aku tahu dia pasti sedang meminta maaf, seperti yang ku minta tadi, dia memang anak yang patuh, kulihat Hyan yang tersenyum dan mengangguk. kemudian dia berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan Shaumi. entah apa yang dibicarakan nya, kulihat Shaumi hanya mengangguk, dia juga mengelus kepala bocah itu dan mengecupnya sedikit lama.
mereka kembali menyusulku, Hyan menggenggam tangan kanan Shaumi. kami kembali berjalan, membawa Shaumi ke tempat bermain khusus anak.
sesampainya disana, Shaumi langsung meminta berbagai macam permainan, dan langsung disetujui oleh Hyan. dia mengatakan jika dia akan menemani Shaumi bermain, jadi dia meminta aku untuk menunggu atau bisa menyusul jika bosan.
" aku akan menemani Umi, kamu tunggu disini saja, kalau bosan susul kesana, ya? " ucapnya.
" iya, aku tunggu disini saja, " aku memutuskan menunggu dibangku yang sudah disediakan sambil bermain ponsel.
__________
hampir sejam aku menunggu, akhirnya mereka keluar juga. lumayan bosan sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi.
" udah? " tanyaku ketika melihat Hyan.
" udah, kayaknya mulai bosan, capek juga mungkin. secara, semua permainan pengen dicoba, " Hyan terkekeh sambil mengacak pucuk kepala Shaumi.
aku tersenyum melihatnya, ada yang menyelusup hangat dalam dada ini. melihat perlakuan Hyan yang sangat tulus untuk keponakanku itu. bahkan dia sejak tadi tak terlihat marah atau pun kesal dalam menghadapi Shaumi.
" kita kemana lagi? " tanyanya.
aku hanya mengedikkan bahu tanda tak tahu, niatku hanya ingin menemani Shaumi main, jadi jika dia sudah selesai main, aku pun tak tau harus membawanya kemana lagi.
" Mmm ... gimana kalau kita beli eskrim dulu? umi mau nggak? " tanya Hyan pada Shaumi.
gadis kecil itu langsung mengangguk cepat, bocah mana yang nggak mau jika ditawarkan eskrim?
kami segera meninggalkan tempat bermain, dan mencari eskrim. setelah menemukan tempatnya, Hyan segera membelinya. aku menunggu diluar dengan Shaumi, sambil mendengar bocah itu berceloteh menceritakan bagaimana dia dan Hyan mencoba segala macam permainan tadi.
Hyan sudah kembali dengan dua eskrim ditangannya. aku heran, dia membeli untuk Shaumi dua?
Shaumi menerima eskrim yang diulurkan Hyan, kemudian dia mengulurkan pada ku yang satunya. aku menatapnya, dia hanya mengangguk dan kembali menyodorkan eskrim tadi ke tanganku.
" maaf, aku nggak tau kamu suka yang rasa apa. jadi aku samain aja sama Umi, " katanya setelah aku menerima eskrim itu, aku hanya mengangguk malu.
___________
" wahh ... boneka nya bagus Anty, "
Shaumi berseru riang saat kami melewati toko yang menjual berbagai macam model dan ukuran boneka, dari yang paling kecil hingga yang paling besar, yang ukurannya melebihi badan orang dewasa.
" Umi mau boneka? Anty beliin, ya? " tawarku.
" boleh Anty? " tanyanya, aku hanya mengangguk dan tersenyum, kemudian mengajaknya masuk dan meminta dia memilih yang dia inginkan.
Shaumi memilih sebuah boneka panda yang lumayan besar ukurannya. saat aku mengambil dan hendak membayar, Hyan mengambil alih dari tanganku dan mengatakan biar dia yang membayar. aku sudah menolaknya, tapi dia tetap bersikeras, malah memintaku menunggu diluar.
aku dan Shaumi menunggu Hyan yang sedang membayar didepan toko.
" waahhh ... makasih om, Umi sukaaa ... "
Shaumi berseru saat melihat Hyan keluar dan membawa ... dua? ditangannya memegang dua buah boneka berbeda ukuran. yang satu sudah jelas punya Shaumi, yang satunya?
__ADS_1
" ini, dia yang akan jadi teman tidurmu sebelum aku, " katanya seraya menyerahkan sebuah boneka beruang warna pink berukuran sangat besar, melebihi badanku. aku sampai kewalahan saat memegangnya.
__________