
______________
Kami tiba dihalaman sebuah butik, setelah Hyan memastikan ini butik yang katanya milik teman bunda tersebut, dia lalu mencari tempat untuk memarkir kan mobilnya.
' F Boutique ' nama yang tak asing ditelingaku, seperti pernah mendengarnya, tapi dimana nya aku pun kurang ingat.
Sebelum kami turun, bunda menghubungi temannya yang pemilik butik ini.
' saya sudah didepan, buk '
' oh ibuk nggak disini? ' tanya bunda seraya melirik kearah kami satu persatu.
' ooh ... Iya, iya. Nggak apa-apa, berarti anaknya sudah ibuk kasih tau kan? '
' baik, baik, terimakasih banyak, buk '
' wa'alaikum salam. '
Bunda menutup telfon dan segera menyimpan kembali ponselnya. Kemudian mengajak kami semua turun.
" Temennya bunda lagi nemenin suaminya ke luar kota, tapi katanya sudah disuruh anaknya sama karyawan kepercayaan nya untuk melayani kita, " kata bunda setelah beliau turun dari mobil.
Dia segera menggandeng lengan kananku, sedang Nayna berjalan disisi kiri ku. Hyan mengekori kami dibelakang.
" Selamat datang, mari masuk, " sambut sang karyawan dengan membungkukkan badannya, sangat sopan dan ramah.
" Saya sebenarnya sudah aja janji dengan buk Farah, tapi katanya beliau sedang ada urusan diluar kota. Jadi kita diminta untuk menemui anaknya saja, " bunda menjelaskan maksud kedatangan kami.
Karyawan tersebut tersenyum mengangguk, kemudian mengatakan akan mengantar kami ke ruang tunggu, sementara dia akan memanggil sang bos.
Kami mengikuti langkah sang karyawan tadi, hingga kami tiba diruang tunggu khusus tamu yang sudah ada janji.
Dia mengatakan agar kami menunggu sebentar, selagi dia memberitahu bosnya. Aku, bunda dan Nayna duduk berdampingan, sedang Hyan duduk disofa single dekat kami. Lelaki itu terlihat cuek saja, dan hanya fokus pada ponsel digenggamannya, begitu juga dengan Nayna, bahkan sesekali dia tersenyum geli saat berbalas pesan.
Aku teringat akan perkataannya tadi, tentang foto dilaptop, jadi aku mencolek lengannya, agar perhatian nya teralihkan dari ponsel yang sedang di genggam nya itu.
" Kenapa mbak? " Tanyanya.
Aku melirik Hyan yang masih sibuk sendiri, dan bunda yang sedang duduk tenang sambil menunggu sang pemilik butik.
" Mbak mau nanya soal yang tadi, " bisikku, agar tak ada yang mendengar.
Kening Nayna berkerut mendengar perkataan ku, pasti dia sudah lupa.
" Apa? " Balasnya dengan berbisik juga.
" Tadi kan kamu bilang, ngeliat foto lama mbak dilaptop, terus kamu liatnya dilaptop siapa? " Tanyaku masih dengan berbisik.
Nayna terlihat sedikit salah tingkah, dia malah melirik Hyan yang ternyata sedang menatap kearah kami juga. Pria itu menatap kami tanpa ekspresi. Aku segera mengalihkan pandang darinya.
" Nay ... " Bisikku lagi, membuat gadis itu sedikit terlonjak.
Aku bingung melihat tingkahnya, bukannya menjawab malah lirik sana lirik sini.
" Ehh ... I-iya mbak, ap-apa ya? Duhh ... Nayna lupa ,mbak. hehehe, " dia malah cengar-cengir.
Aku menyipitkan mata menatapnya, sedang yang ditatap terlihat salah tingkah, terbukti dari posisi duduknya yang berubah-ubah, seperti orang yang sedang gelisah.
Aku hendak kembali bertanya, tapi terhenti ketika terdengar seseorang yang berjalan menuju kesini.
" Selamat sore, "
__ADS_1
Degh! Suara itu?
Kami serentak menoleh kearah suara, aku menatap seseorang yang berdiri didepan kami dengan membulatkan mata.
Pak Faroz? Jadi dia, anak dari pemilik butik ini? Dia juga menatapku dengan ekspresi terkejut, tapi setelah itu mampu mengendalikannya.
Aku yang masih menatap tak percaya padanya langsung disenggol oleh Nayna, kesadaranku kembali dan mulai bisa bersikap biasa.
Tak sengaja aku melihat Hyan, ternyata dia sedang menatapku dengan tatapan dinginnya, dan itu mampu membuatku bergidik.
" Mbak ngapain malah natap tuh cowok? Ntar calon mbak cemburu, tuh! " Nayna menunjuk Hyan dengan dagunya, kemudian setelah itu dia malah terkekeh.
Aku yang tak mau melihat ekspresi wajah Hyan lagi, tak mengalihkan pandang kepadanya. Tatapan matanya itu, loh. Hiiyy. Aku kembali bergidik membayangkannya, membuat Nayna bertanya, tapi langsung ku jawab dengan gelengan.
" Maaf, sebelumnya perkenalkan, saya buk Amel, ini anak saya Nayna, yang laki-laki Hyan, dan yang ini calon mantu saya, namanya Zia, " bunda memperkenalkan kami satu persatu pada pak Faroz, membuat pria itu manggut-manggut menanggapi sambil menatapku.
" Saya Faroz, " sahutnya. " Jadi, Zia ini calon menantu ibu? " Dia kembali bertanya.
Aku yang tadi menunduk kembali mendongak mendengar pertanyaan nya, aku kira dia akan berpura-pura tidak mengenaliku.
" Iya, apa kalian saling mengenal? " Bunda balik bertanya dan menatapku dan pak Faroz bergantian.
Aku hanya diam tak menjawab.
" Kebetulan, Zia ini mantan karyawan terbaik dikantor saya, tapi sayang sekali, dia malah memutuskan resign karena ingin menikah, " pak Faroz menjawab begitu entengnya.
Aku melihat Hyan yang sudah menatap pria didepan kami itu dengan tatapan tajamnya, dengan wajah memerah seperti menahan amarah.
" Iya, kebetulan itu karena permintaan ... "
" Saya, " Hyan segera memotong perkataan ibu dengan cepat dan tanpa ekspresi.
" Ohya? Berarti anda akan menjadi suami yang sangat menyayangi istrinya, " balas pak Faroz dengan senyuman.
" Pasti! Dan saya juga pasti akan menjaga nya dari pandangan laki-laki lain diluar sana, dengan cara memintanya dirumah saja, karena dia hanya milik saya! " Hyan mengucapkan kalimat terakhirnya dengan penuh penekanan.
Aku hanya bisa melongo melihat Hyan yang tak seperti biasanya, seperti orang yang sedang menahan ... Cemburu mungkin?
" Ehemm ... " Bunda berdehem menghentikan pembicaraan dua pria itu.
" Sudah terlalu sore, bisakah kami segera melihat-lihat model bajunya sekarang? " Tanya bunda.
" Oh ... Iya, mari ... " Sahut pak Faroz yang langsung mempersilahkan kami menuju ruang khusus baju pengantin.
aku yang hendak melangkah mengikuti bunda dan Nayna langsung ditarik Hyan agar berjalan berdampingan dengannya, dan tentu saja sikapnya itu membuat darahku berdesir hebat, kami belum pernah berjalan sedekat ini, aku hanya bisa menunduk seraya menggigit bibir menahan gejolak dalam dada. kenapa juga dia harus bersikap seperti ini?
kami tiba diruang khusus baju pengantin, ruangan yang sangat luas dimana berjajar manekin yang dipasang bermacam model gaun serta kebaya pengantin. dari model, serta warna yang beragam membuat mata tak bisa menentukan pilihan.
kami dipersilahkan oleh pak Faroz untuk melihat-lihat dulu model yang kami inginkan, bunda dan Nayna tak berhenti berdecak kagum melihat model-model baju disini, begitu juga dengan aku.
Hyan sendiri tetap mematung tanpa ekspresi, sampai bunda memanggilnya dan menunjuk satu model kebaya.
" Hyan, kalo yang ini gimana menurut kamu? " tanya bunda sambil menunjuk kebaya yang dipajang disebuah manekin.
Hyan mendekat, kemudian memperhatikan baju yang tadi ditunjuk bunda, kemudian dia menggeleng.
" kalau untuk akad, usahakan yang warna putih saja kebaya nya, " sarannya.
bunda mengangguk dan kembali melihat yang lain, aku dan Nayna pun begitu. sampai tiba-tiba pak Faroz datang dan diikuti seorang perempuan, mungkin karyawan kepercayaan nya.
" saya punya rekomendasi kebaya, saya rasa ini sangat cocok dan pas di badan Zia, mau mencoba dulu? " katanya.
__ADS_1
aku memandang bunda, meminta persetujuan nya. bunda mengangguk dan mengatakan dicoba saja dulu, biasanya jika sudah direkomendasikan langsung pemiliknya sudah pasti itu bagus.
aku menyetujui, ingin melihat dulu modelnya, siapa tau memang cocok dan pas di aku.
pak pak Faroz meminta sang asisten mengambil baju yang dimaksud tadi, perempuan itu mengangguk dan keluar, tak lama kemudian dia sudah kembali dengan kebaya putih yang sangat mewah ditangan nya.
dia menyerahkan nya padaku. dan meminta agar masuk ke ruang ganti untuk mencobanya. dengan ditemani Nayna aku mencoba kebaya tadi. ukurannya memang pas di badanku, aku juga suka dengan modelnya, simple tapi elegan.
aku keluar, semua mata tertuju padaku. bunda tak berhenti tersenyum dan memujiku, mengatakan kebaya ini sangat pas dan terlihat cantik di tubuhku.
mataku tertuju pada Hyan, pria itu menatapku tak berkedip.
" sudah ku bilang, pilihan ku tak pernah meleset, " ujar pak Faroz tersenyum bangga, membuat Hyan seketika menoleh padanya.
" aku tidak suka, kita cari model yang lain saja! " Hyan berkata dengan menatap kearah ku.
semua orang menatap bingung padanya, begitu juga aku. padahal baju ini sudah sangat cocok untukku.
" loh? Kamu nggak suka? padahal bagus, loh, Zia juga kayaknya suka. iya, kan, sayang? " tanya bunda.
" iya, Bun. tapi kalo Hyan nggak suka nggak apa-apa, sih. kita cari yang lain saja, " ucapku.
Bunda menghela nafas, mungkin kebingungan dengan sikap anaknya. aku memutuskan kembali membuka kebaya yang sudah ku coba tadi. saat keluar, Hyan sudah memegang dua baju ditangan kanan dan kirinya.
" gimana dengan yang ini? apa kamu suka? aku rasa kamu akan sangat cantik jika mengenakan nya, " aku dan Nayna yang baru keluar dari ruang ganti saling lirik.
Nayna memintaku untuk mencoba dulu, bunda dan pak Faroz memperhatikan kami sejak tadi. sempat kulihat pak Faroz seperti menyunggingkan senyum melihat tingkah Hyan.
aku langsung saja mencobanya, ukuran nya pas di badan ku, modelnya juga aku suka. tapi ini lebih terlihat mewah dibanding yang pilihan pak Faroz tadi. Nayna mengajakku keluar untuk menunjukkan pada bunda juga Hyan.
Hyan langsung tersenyum sumringah begitu melihatku, dia menatapku dari atas sampai bawah, tatapan nya itu malah membuatku sedikit risih.
" aku suka! bagaimana Bun? pilihanku tak kalah bagus, kan? " dia berkata sedikit keras sambil melihat pak Faroz, detik kemudian dua pria itu saling tatap dan tersenyum sinis.
" bunda sih, terserah kalian. kalo Zia suka , bunda oke aja, "
" tapi ... kalau menurutku yang ini terlalu mewah, lebih cocok yang pertama tadi. Zia juga lebih terlihat anggun saat mengenakannya, " sahut pak Faroz menatapku dengan senyum manisnya, membuatku salah tingkah.
Hyan langsung mendekatiku.
" sayang, kamu suka yang ini, kan? " pertanyaan membuatku darahku berdesir.
bukan. bukan karena pertanyaan nya, tapi panggilan nya itu, apa aku tidak salah dengar? dia memanggil ku dengan sebutan sayang? seluruh persendian ku terasa lemas, aku menahan diri agar tidak tersenyum. aku melirik Nayna di sampingku yang menggodaku lewat lirikannya.
" ahm ... ya, iya ... aku terserah kamu, " ucapku sedikit gugup, aku masih berusaha menetralkan debaran hebat di dada, takutnya Hyan mendengar detak jantung ku yang berpacu cepat.
" sudah jelas pak Faroz? calon istri saya sudah menyukainya, jadi tidak ada alasan untuk kami tidak mengambilnya, " katanya dengan senyum tersungging.
pak Faroz terlihat santai saja dengan omongan Hyan. bahkan dia masih bisa tersenyum, entah kenapa aku seperti merasakan ada hawa yang tak biasa diantara mereka. apa mereka juga saling mengenal?
setelah memastikan kebaya pilihan Hyan, kami juga harus mencari gaun untuk resepsi nya. Hyan meminta dua gaun, yang satunya untuk acara siang, dan yang satunya lagi untuk acara malamnya.
setelah beberapa lama memilih, akhirnya pilihan kami jatuh pada gaun yang berwarna silver dan biru pastel. aku dan Hyan juga sudah mencobanya. setelah semua diyakini pas, Hyan meminta agar segera dibungkus dan dia akan membayar.
saat akan pulang bunda mengucapkan banyak terimakasih pada pak Faroz, sebab sudah melayani kami dengan baik, bunda juga meminta maaf jika antara kami ada salah kata, pak Faroz hanya menanggapi dengan senyuman.
kami sudah akan melangkah keluar, saat pak Faroz memanggil ku, kami kembali menoleh kebelakang begitu juga dengan Hyan.
" Zia, salam sama Hanan, ya. kapan-kapan saya berkunjung kerumah lagi, kangen juga sama ibu, sudah lama tidak jumpa. dulu waktu saya masih sering kesana, kamu masih kecil loh. tau-tau sekarang sudah mau nikah saja, " ucap pak Faroz seraya terkekeh.
aku membulatkan mata mendengarnya, entah kenapa aku segera melirik kearah Hyan, ingin melihat ekspresi nya. dia menatap pak Faroz yang tersenyum dengan wajah menahan emosi, entah itu perasaanku saja
__ADS_1