Lelaki Dinginku

Lelaki Dinginku
bab 22


__ADS_3

Jangan lupa jejaknya 😍🫶


______________


Aku sama sekali tak menjawab guyonan mas Hanan yang memang benar itu, kadung malu.


" sudahlah, mas. jangan digodain terus adiknya, " ucap ibu.


Aku sesekali melirik Hyan yang masih saja mengulum senyum, ibu mengajaknya mampir dulu, sekalian makan siang katanya. Hyan baru saja duduk, tapi Shaumi langsung berlari dan duduk dipangkuan Hyan, dia sedikit terkejut karena sedang bicara dengan mas Hanan.


" Umi, nggak boleh gitu sayang. Nggak sopan loh, " kata mbak Alya yang menyusulnya.


" Iya loh, sayang. Om Hyan kan lagi ngomong, Umi duduk sini, sama ayah, " panggil mas Hanan yang langsung dihadiahi gelengan oleh Shaumi.


" Ayah sibuk terus, Umi nggak mau! " katanya seraya menggelengkan kepala.


Kami semua menahan tawa mendengar ucapan jujur bocah itu, sedang mas Hanan terlihat menahan malu karena omongan anaknya sendiri.


" Maafin ayah, ya? Nanti kita jalan-jalan deh, kalo ayah udah nggak sibuk, ayah janji! Tapi Umi jangan marah lagi, oke? " Mas Hanan mencoba merayu.


" Emang kapan ayah nggak sibuk? Padahal om Hyan kan juga kerja, tapi dia mau bawa Umi jalan, iya kan anty? " sahutnya.


Aku mengangguk sambil menatapnya, bukan Shaumi, tapi yang tukang pangkunya hihi.


" Nggak boleh ngomong gitu sayang, kasian loh, ayah kan kerja juga buat kita, buat beli mainan sama jajan Umi juga, " mendengar ucapan bundanya, Shaumi langsung cemberut.


" Itu terus alasannya, padahal Umi nggak pernah minta mainan sama jajan, Umi kan udah gede, " sungutnya, entah siapa yang mengajari anak itu bicara.


" Tuh! Katanya Umi udah gede, tapi minta dibawa main juga. Gimana, sih? "


Mas Hanan mencoba menggoda, tapi reaksi Shaumi membuatnya tertegun. Bagaimana tidak, gadis kecil itu langsung melompat turun dari pangkuan Hyan, dan menghentak-hentakkan kaki nya dilantai, kemudian segera berlari kedalam.


Mbak Alya menghembuskan nafas kasar, dan melirik mas Hanan, Hyan terlihat canggung berada dalam situasi seperti ini, aku juga merasa nggak enak.


" Susulin mas! " ucap mbak Alya datar dan segera bangkit, kemudian disusul juga oleh mas Hanan.


Tinggal aku berdua dengan Hyan disini, kecanggungan lebih mendominasi.


" Maaf. " ucapku menunduk.


" Untuk? " sahutnya.


" Aku sudah ganggu waktumu, padahal kamu lagi kerja, " aku menjawab.


" Santai, itung-itungan aku belajar, " ucapnya sambil tersenyum manis.


" Hmm? " Aku mengangkat kedua alis, bingung dengan ucapannya.


" Iya! Belajar, kalo udah nikah mana tau ada panggilan mendadak seperti tadi darimu, jadi aku sudah terbiasa, " darahku berdesir mendengar jawabannya, sedang dia tersenyum begitu lebar, duhh ... Hyan! Gemeshh deh!


__________


Hari ini hatiku kembali berbunga-bunga, ternyata Hyan kalo marah nggak bisa lama. Aku duduk dimeja makan untuk sarapan, suami istri didepanku itu masih saja betah diam-diam an, lebih tepatnya mbak Alya yang terlihat cuek, menjawab pertanyaan mas Hanan dengan seperlunya saja. Mas Hanan terlihat pasrah, aku dan ibu berpura-pura tak tahu saja.


" Umi, ayo berangkat, " ajak mas Hanan.


" Ayok, yah! " sahutnya, dasar bocah. Padahal kemarin dia yang marahan pada ayahnya, dia juga yang menyebabkan orang tuanya perang dingin, tapi pagi ini malah terlihat biasa-biasa saja.

__ADS_1


Mas Hanan segera bangkit, mbak Alya mencium tangannya yang dibalas kecupan dikeningnya oleh mas Hanan, dia segera pamit setelah mencium punggung tangan ibu juga. Mbak Alya tidak ikut mengantar sampai depan seperti biasa, mungkin dia masih kesal, aku dan ibu pun tak mau ikut campur.


" Bu, Alya kekamar dulu, ya. Mau istirahat, " kata mbak Alya.


" Iya, sayang. Jangan banyak pikiran, ya? Nanti kalo ada perlu panggil ibu, atau Zia aja. " Mbak Alya mengangguk.


Aku dan ibu juga beranjak meninggalkan meja makan, aku segera mencuci piring. Sedangkan ibu mungkin akan nongkrong diteras samping dengan tanamannya.


___________


" Mbak, makan du ... " Saat menekan handle pintu, terdengar suara isakan dari dalam. Apa itu mbak Alya? Tapi kenapa dengannya?


Aku membuka pintu secara perlahan, ingin melihat, apakah mbak Alya memang sedang menangis. Posisinya yang tidur membelakangi membuat dia tak menyadari kedatanganku. Saat sudah berada tepat disamping ranjang, aku memanggilnya.


" Mbak? " Mbak Alya sedikit tersentak, kemudian tanpa mengubah posisinya, aku melihat dia mengusap sudut matanya.


" Mbak kenapa, kok nangis? " tanyaku seraya duduk dibibir ranjang.


" Enggak anty, mbak lagi pusing aja, " sahutnya sambil memijit pelipisnya.


" Kok nggak bilang Zia atau ibu, sih, mbak? Zia pijitin, ya? " kataku.


Mbak Alya malah menggeleng, matanya terlihat sembab, mukanya juga memerah. Seperti nya dia sudah sejak tadi menangis, aku curiga ini pasti bukan hanya karena sakit kepala. Tapi aku pura-pura percaya saja, karena seperti nya dia sedang ingin memendam masalahnya sendiri.


" Yaudah, kalo gitu. Kita makan siang dulu, aja yuk, mbak. Bentar lagi Umi pulang kayaknya, " ajakku.


" Mbak nggak laper Anty, nanti kalo laper mbak makan, kok. " Aku menghela nafas pelan mendengar jawabannya.


Akhirnya aku memutuskan keluar, setelah menutup kembali pintu kamarnya, aku segera ke ruang makan.


" Loh, mbakmu mana? " Ibu bertanya, mungkin heran karena aku kembali hanya sendiri.


Ibu hendak bangkit, seperti nya ingin menyusul mbak Alya. Aku tau ibu pasti khawatir, tapi aku segera mencegahnya, siapa tau sekarang ini mbak Alya ingin privasi, tidak ingin diganggu siapapun, jadi lebih baik kami diam saja. Kalau memang nanti dia tidak keluar juga, makanannya bisa diantar kekamar.


" Mbak Alya sepertinya sedang ingin sendiri, Bu. Biarin aja dulu. Takutnya kalo kita terlalu ikut campur, dia nya bakal ngerasa risih, " cegahku.


Ibu menghembuskan nafas dan kembali duduk.


" Ini pasti karena mas mu, nggak pernah ada waktu buat istri. Gemes ibu, " omel ibu.


Aku hanya diam saja, pikiranku malah jadi bercabang. Apa jangan-jangan mbak Alya tau sesuatu? Selera makanku seketika hilang, aku hanya makan beberapa suap saja. Setelah itu aku hanya mengacak-acak isi piringku, ternyata itu tak luput dari perhatian ibu.


" Zia? Kenapa malah diacak-acak nasinya? " tanya ibu.


Aku hanya menggeleng dan mengatakan akan kekamar dulu, ibu hanya menatap bingung kearahku. Segera saja kutinggalkan meja makan dan naik kekamar.


Aku meraih ponsel yang berada diatas meja kecil disamping ranjang, aku harus menghubungi Nita. Saat panggilan tersambung, Nita tak kunjung menjawab, tak putus asa aku terus mencoba sambil mondar mandir dan berakhir duduk dibibir ranjang sambil menggigit jari. Di Panggilan kelima Nita baru mengangkat nya.


' Halo Zi, ada apa? ' Sepertinya Nita sedang diluar, sebab terdengar suara yang lumayan bising.


' Gue mau nanya sesuatu, ' ucapku.


' Duhh ... Zi, sorry banget. Gue lagi diluar, nih. Ribut banget disini, nanti gue hubungi lagi, ya. Gue lagi ada janji sama seseorang, ' jawaban Nita membuatku berdecak dan langsung mematikan ponsel tanpa menjawab nya.


Kulempar asal ponsel diatas ranjang, entah kenapa, melihat mbak Alya menangis seperti tadi makin membuat rasa curigaku makin membuncah, ponselku berdering. Mas Hanan?


' Kenapa mas? ' tanyaku setelah menjawab salamnya.

__ADS_1


' dek, Umi siang ini nggak pulang. Kasih tau ibu sama mbakmu, tadi dia dijemput Raka, soalnya mas lagi diluar, '


Tuhan ... Kenapa harus kebetulan seperti ini? Aku malah jadi makin berpikir buruk. Mas Hanan sedang diluar, Nita juga katanya sedang ada janji dengan seseorang. Apa mereka?


Tak ingin pikiran buruk makin merajai, aku memutuskan turun kebawah dan memberitahu ibu, jika Shaumi pulang kerumah neneknya.


____________


Jam 8 malam mas Hanan baru saja pulang, aku yang sedari tadi memang menunggu kepulangannya segera berdiri dan berpangku tangan.


Mas Hanan turun dan kembali menutup pintu mobil.


" Mas! Zia mau ngomong! " tegasku.


Mas Hanan mengerutkan kening, mungkin bingung kenapa aku yang tiba-tiba menodongnya saat pulang kerja.


" Kamu dari mana aja, mas? Mas tau, mbak Alya sakit? Sejak siang badannya panas, tadi siang dia juga kepergok nangis, kalian ada masalah apa? " Aku segera mencecar mas Hanan dengan berbagai pertanyaan yang sejak tadi bersarang di otak.


Mas Hanan menghembuskan nafas kasar, kemudian melonggarkan sedikit dasinya.


" Ada apa, sih? Mas baru pulang loh, dek. Soal mbakmu yang lagi sakit, mas juga nggak tau. Lagian mbakmu juga nggak ngabarin mas sama sekali. Terus kenapa harus mas yang disalahin? " Mas Hanan menjawab sedikit keras, membuatku yang tadinya garang jadi sedikit menciut.


" Terus kalo bukan mas siapa lagi yang harus disalahkan? Mas nggak terima disalahin? Seharusnya mas itu ngaca! Mas pernah ada waktu nggak buat istri dan anak mas? Seharusnya mas itu sadar! Mbak Alya itu lagi hamil, dia butuh waktumu mas. Dia butuh dukungan, kenapa sih kamu nggak ngerti juga dibilangin? Kenapa harus pulang malam terus? Apa kamu punya wanita lain diluar sana? Iya?! " pekikku. Aku benar-benar melampiaskan segala amarah yang selama ini kupendam, mas Hanan melotot dengan mata memerah mendengar ucapanku. Aku yakin dia marah, tapi aku tak takut sama sekali.


" Apa katamu? Kamu berpikir masmu ini punya wanita lain? Mas nggak salah dengarkan? Kamu nuduh mas selingkuh dek? " sahutnya penuh emosi.


" Iya! Mas memang nggak salah denger! Benerkan? Mas punya wanita lain? " tegasku.


" Kamu! " Mas menunjuk wajahku dengan telunjuknya. Rahangnya mengeras menahan amarah, bahkan urat-urat tangannya terlihat menyembul.


" Apa?! Mau tampar? " tantangku tanpa takut.


" Aarrghh ... " Mas Hanan mengangkat tinggi tangannya.


" Maas! Hentikan! " Suara ibu menggelegar membuat tangan yang tadi diangkatnya menggantung di udara.


" Apa-apaan kalian ini? " Mata ibu sudah memerah menahan emosi. Selama ini kami belum pernah bertengkar sehebat ini, bahkan sejak kecil.


" Ini balasan kalian terhadap ibu? Ha? Jawab! " Teriak ibu dengan mata berkaca-kaca seketika membuat tangisku meledak. Aku langsung memeluk ibu yang sudah menumpahkan kaca-kaca dimatanya, ibu tak sama sekali membalas pelukanku, bahunya bergetar hebat. Dia hanya mematung menerima pelukanku, aku tau, ibu pasti sangat kecewa saat ini.


" Bu, maafin Zia ... " Tangisku makin meledak begitu juga ibu dan mas Hanan.


Mas Hanan ikut memeluk ibu, kami yang tadinya sama-sama penuh emosi sekarang bersimbah air mata. Mas Hanan meminta maaf dengan suara pelan, ibu juga tak menggubris sama sekali, bahkan pelukan kami pun enggan dia balas. Aku benar-benar menyesal, kenapa harus menempatkan emosi ditengah-tengah masalah.


" Bu, Anty, Mas? " Panggilan mbak Alya membuat kami bertiga serempak menoleh.


" Kalian bertengkar? " Mbak Alya terlihat masih lemas.


" Enggak mbak, ini cuma salah paham. Iya, kan mas? " sahutku sambil melirik mas Hanan.


Mas Hanan mengangguk, kemudian mendekati mbak Alya dan memeluknya dengan erat. Sembari meracau meminta maaf. Mbak Alya tak membalas pelukannya, dia hanya diam mematung dengan pandangan kosong.


" Masuk sayang, sudah malam. Angin malam tidak baik untuk kesehatan, " ibu mengajak mbak Alya masuk, mas Hanan spontan melepas pelukannya.


Ibu segera menggandeng mbak Alya, kemudian melirik kearah kami dengan tatapan tajam, dan berlalu masuk.


Tinggal aku dan mas Hanan yang saling lirik canggung saat ini.

__ADS_1


" Maafin mas, " ucap mas Hanan.


Aku segera menghambur kepelukannya, menangis didekapan yang selama ini selalu ada jika aku butuh, Tuhan ... Semoga saja mas Hanan tidak macam-macam diluar sana.


__ADS_2