
___________
Setelah pertengkaran malam itu, kami sudah saling meminta maaf. Aku yang mengakui kesalahan karena terlalu emosi, begitu pun dengan Mas Hanan, dia yang lelah karena baru pulang kerja jadi emosi sebab aku yang menuduhnya macam-macam.
Besok adalah hari pernikahanku dan Hyan, malam ini aku tak bisa memejamkan mata barang sebentar pun. Dibawah terdengar ramai, rumah sudah selesai di dekor, begitu juga dengan kamarku. Ruang tidurku itu sudah disulap bak kamar pengantin pada umumnya, dengan nuansa serba putih dengan tambahan bunga setiap sudut ruangan.
Aku memutuskan keluar dari kamar dan turun kebawah, ingin bergabung dengan saudara yang ikut menginap disini. Ada beberapa saudara dari ayah dan juga ibu yang datang, begitupun dengan para sepupu yang ikut meramaikan.
Orang-orang yang sedang asik berbincang seketika menoleh kearahku.
" Loh? Calon pengantin kok belum tidur, sih? " tanya salah satu saudaraku.
" Hehehe ... Iya, Tante. Soalnya Zia nggak bisa tidur. Belum ngantuk, " sahutku sambil duduk bergabung dengan mereka.
" Nggak boleh begadang, loh. Besok kan harus bangun subuh banget untuk dirias, " ucap Ibu.
" Iya, iya. Yaudah kalo gitu Zia balik kekamar, deh. Permisi semuanya, " aku kembali naik kekamar.
Sesampainya dikamar aku memutuskan untuk mencoba kembali tidur, entah berapa lama aku hanya guling-gulingan hingga akhirnya tertidur. Yang pasti subuh ini saat pintu diketuk dari luar aku langsung membukanya.
" Periasnya sudah datang, mbak. Mbak sudah mandi? " ternyata Bi Irah yang datang.
" Sudah, Bi. Langsung suruh naik aja, ya? " kataku.
Bi Irah mengangguk dan pamit turun, aku kembali masuk kekamar untuk beres-beres. Dari semalam dadaku tak berhenti berdebar, apalagi sekarang, melihat kebaya yang sedang digantung saja membuatku sudah tak karuan, bibir tak berhenti menyunggingkan senyum.
" Zia! " Seseorang memanggil dan mengetuk pintu kamar, aku segera membukanya. Itu pasti Resty, MUA yang kupilih ini memang salah satu temanku saat kuliah dulu.
" Eh? Ayok, masuk Res! " Ajakku setelah pintu terbuka.
Dia mengangguk dan langsung masuk disusul dua orang lainnya yang membawa beberapa buah box, mungkin asisten yang biasa bantu-bantu dia.
" Kamu sudah mandi, kan? " Aku mengangguk. " Kalo gitu kita langsung aja, ya. " katanya, dan langsung memintaku duduk di kursi rias.
Aku dirias sambil sesekali kami berbincang, membahas kembali tentang masa-masa kuliah dulu, Resty juga mengatakan kalau dia tak menyangka aku akan nikah muda juga, sebab tidak pernah melihat aku dekat dengan laki-laki manapun sejak dulu, mungkin yang mendekati ada beberapa, tapi tak pernah ku gubris.
Resty sendiri sudah nikah setahun yang lalu, dan sudah dikaruniai seorang putri yang baru berumur 7 bulan. Ternyata dia sudah lumayan lama berkecimpung di dunia per makeup an, Resty memang kuakui pintar merias sejak dulu. Jadi tidak salah kalau sekarang dia jadi MUA.
" Emang, ya? Kalo udah cantik dari Sono nya, nggak perlu terlalu mencolok pun tetap bikin pangling, " ucap Resty. Kemudian dia memintaku untuk membuka mata.
__ADS_1
Aku tertegun saat melihat pantulan diriku di kaca, secantik ini ternyata kalau di-makeup? Benar kata Resty, bikin pangling. Aku sendiri saja hampir tidak mengenali diriku, saking cantiknya.
Tidak salah jika makeup Resty banyak yang booking, dia mampu menyulap wajahku menjadi seperti sekarang. Aku sejak dulu memang tidak suka makeup, paling hanya pake maskara, bedak dan juga lipstik, jadi saat melihat diri sendiri di-makeup serasa tak percaya saja.
" Masha Allah. Hasilnya bagus banget, Res! Aku nggak nyangka loh, bisa jadi secantik ini, " aku memuji keahlian Resti.
" Bisa aja kamu, ini. Lagian kamu emang udah cantik, jadi dipoles dikit aja pun oke, " Dia malah balik memujiku, membuatku sedikit tersipu.
" Udah, kamu ganti baju dulu. Biar langsung pasang hijabnya, " titah Resty membuatku segera bangkit dan berganti baju.
Setelah berganti baju, Resty kembali memintaku duduk. Dia mulai memasang hijab serta berbagai aksesoris yang tidak begitu kutahu namanya.
" Selesai! " Pekik Resty girang.
Aku langsung tersenyum lebar saat melihat pantulan ku dikaca, dengan kebaya putih yang begitu mewah, serta riasan dan juga hiasan dikepala membuatku tampil lebih anggun. Aku tak berhenti tersenyum sejak tadi.
" Cantik banget! Gue yakin, suami Lo bakal pangling entar! " Resty berseru riang.
" Selamat, ya Zi? Semoga jadi keluarga sakinah mawadah warahmah, btw sorry gue nggak bisa lama, soalnya ada pengantin yang mau di-makeup lagi abis ini, " ujarnya sambil memelukku, dia juga menyerahkan kado yang lumayan besar.
" Yaampun, Resty! Kok repot-repot, sih? Makasih banyak, loh, " sahutku membalas pelukannya.
Akhirnya dia segera pamit, katanya masih ada job habis ini. Maira dan Nindy sepupuku yang datang masuk, mereka sudah mengenakan baju seragam yang diberi Ibu untuk seluruh keluarga yang hadir. Mereka berdua sepupu dari Ayah, jika dari Ibu kebanyakan sepupuku laki-laki, ada perempuan tapi masih pada kecil-kecil.
" Masha Allah, Mbak! Cantik banget, kita pangling. Iya, kan Mai? " kata Nindy.
Maira mengangguk antusias, mereka berdua membuatku tersipu.
" Kata Bude, Mbak tunggu dikamar aja. Kita temenin, nanti sesudah ijab kabul selesai baru kita turun, " ucapan Maira membuat darahku berdesir hebat.
" Keluarga mereka sudah datang? " tanyaku sedikit gugup.
" Belum, tapi tadi katanya sih sudah dijalan, " Nindy yang menjawabku.
Aku hanya ber oh ria, untuk mengubur rasa gugupku saat ini, aku mengajak mereka berbincang-bincang. Mereka saat ini masih duduk di bangku SMA, tahun ini tamat. Dan katanya akan melanjutkan kuliah, saat asik-asik berbincang ketukan di pintu terdengar.
" Boleh Ibu masuk? " Suara Ibu terdengar, aku segera meminta tolong Maira untuk membuka pintu.
" Ya Allah! Cantik sekali anak Ibu! " Ibu memujiku, aku tersenyum mendengarnya.
__ADS_1
" Siapa dulu Ibunya? " Aku mencoba menggoda Ibu untuk menutupi rasa gugup yang tiba-tiba menyerang, membuat perut terasa dililit.
" Bisa aja, kamu! " Ibu menepuk pelan lenganku sambil tertawa kecil.
" Eh? Keluarga Hyan sudah sampai, sebentar lagi ijab kabul akan segera dimulai, "
Ucapan Ibu membuatku semakin gugup, aku menarik nafas dalam berkali-kali, tapi tak juga berhasil menyingkirkan rasa itu. Aku memainkan jari-jari dipangkuan, rasa cemas tiba-tiba saja mendera.
Ibu segera duduk di sampingku, dan mulai menggenggam tanganku dan membisikkan kata-kata yang menenangkan, membuat cemasku perlahan hilang.
" Ibu temenin kamu disini, jangan khawatir, " ucap ibu seraya memelukku, aku mengangguk dalam dekapannya.
Tiba-tiba adik Ibu masuk, dan mengatakan ada sedikit gangguan.
" Mbak, lampu tiba-tiba aja mati. Jadi kayaknya nggak bisa pake pengeras suara, itu sekarang ijab kabul nya sudah mau dimulai, " lapor Tante Heni.
" Yaudah lah, nggak apa-apa. Yang penting semua lancar saja, " ucap Ibu membuat kami semua mengangguk. Tante Heni meninggalkan kamar, katanya akan kembali kebawah.
___________
Nindy yang diminta Ibu untuk melihat kebawah sudah kembali, bersamaan dengan itu jantungku kembali bertalu-talu.
" Sudah selesai Bude. Mbak diminta segera turun, " ucapannya semakin membuat aku gelisah.
Aku dibantu Maira berdiri, Ibu segera mengapit lengan kananku, sedang Maira berada sebelah kiriku. Nindy bertugas mengangkat baju bagian belakangku yang menjuntai hingga lantai.
Dengan diapit Ibu dan Maira, aku berjalan perlahan menuruni setiap anak tangga. Dengan dada yang tak berhenti berdebar serta bibir yang tak bisa berhenti menyunggingkan senyum.
Satu anak tangga lagi kami tiba dibawah, tapi saat itu juga semua yang berada diruang tamu yang sudah diubah menjadi tempat kami melaksanakan akad menoleh kearah kami. Rasa gugupku kian menjadi, ketika semua mata tertuju padaku, kupandangi lelaki yang kini sah menjadi pendampingku itu, dia gagah dalam balutan baju pengantin yang dikenakan nya. Matanya tertuju menatapku tanpa berkedip, bahkan kulihat dia sedikit menyunggingkan senyum, aku segera menunduk, tak tahan jika harus menatap matanya lama-lama.
Ibu segera menuntunku untuk duduk dikursi yang sudah disediakan, duduk berdampingan seperti ini dan disaksikan banyak orang membuatku serasa ingin pingsan. Terdengar bisik-bisik dibelakang kami, mereka mengatakan aku bikin pangling, soalnya kelewat cantik, bisa aja emak-emak bikin jantung gue jedag jedug.
Aku sesekali melirik Hyan, aku berasa seperti mimpi indah saat ini. Saat tatap kami bertemu dia tersenyum begitu manis, bikin meleleh aja.
Proses demi proses kami sudah kami lalui, godaan dari para tamu yang hadir ikut memenuhi gendang telinga. Hingga tiba akhirnya kami diminta untuk berfoto dulu, mulai dari foto berdua hingga foto bersama seluruh keluarga dan juga para tamu.
Saat foto berdua, tiba-tiba saja tukang fotonya meminta kami saling tatap, aku tak bisa menahan gugup, foto dengan gaya biasa saja mampu membuat jantungku jedag jedug, apalagi harus berhadapan dan saling tatap? Teriakan semua orang yang menggoda semakin membuatku tak bisa menyembunyikan rasa malu, aku terus menunduk dengan wajah yang sudah memanas, hingga akhirnya Hyan mengangkat daguku dengan jemarinya, yang otomatis membuatku mendongak dan menatap langsung matanya, saat itulah sang fotografer mengabadikan momentnya, disertai teriakan gemas dari para tamu.
Aku segera memalingkan wajah dan mengutuk perlakuan Hyan tadi yang seperti sengaja mengundang godaan dari orang-orang. Saat semua orang tengah lengah dan tak memperhatikan kami, Hyan mendekatkan wajahnya ketelingaku, dan membisikkan satu kata tapi mampu membuat seluruh persendian ku melemas.
__ADS_1
" Cantik! " Satu kata itulah yang membuatku salah tingkah dan tak bisa berhenti tersenyum.