Lelaki Dinginku

Lelaki Dinginku
bab 3


__ADS_3

Haii... Bagi pembaca yang suka dengan cerbung ini, mohon dukungannya dengan like dan komen yaaa, biar author ini makin semangat nulisnya😍🫶 love guyys


________


Setelah makan malam selesai, kami berkumpul diruang keluarga, bercerita sambil menikmati cemilan dan teh hangat yang dihidangkan Bi Irah.


Shaumi yang paling heboh saat bercerita, bocah 5 tahun itu sedang senang bercerita ternyata, dia menceritakan bagaimana kegiatan nya disekolah, bagaimana temannya saling berebut mainan, entah itu temannya yang menangis karena ditinggal orang tuanya, dan banyak lagi yang dia sampaikan, membuat kami semua tertawa mendengarnya.


Jam 9 malam mas Hanan pamit, katanya besok harus berangkat pagi-pagi sekali kekantor sebab ada meeting penting, akhirnya aku dan Ibu pun mengantar mereka hingga pintu depan, Shaumi masih terlihat betah memeluk Nini nya, sedang Ayah dan Bunda nya sudah berjalan menuju mobil.


" Ayah, kapan, sih, kita nginap lagi disini? "


" Umi masih kangen sama Nini dan Anty, "


Rengeknya tanpa melepas pelukan nya pada Ibu.


Ibu berjongkok menyamakan dengan tinggi cucu pertamanya itu,


" Nanti pas libur Umi nginep sini, ya, ? Sekarang kan Umi harus sekolah dulu, kasian nanti Ayah kejauhan antar nya, ya, sayang? " Ibu mencoba membujuknya.


" Tapi nanti pas libur Ayah juga pasti masih kerja, kan Ayah sibuk terus, " ucapan Shaumi membuat mbak Alya menahan tawa sambil melirik mas Hanan yang hanya menggaruk tengkuknya.


" Nini janji, deh, nanti kalo pas libur Ayah gak mau diajak nginep sini, biar Nini yang marahin, tak jewer itu telinganya " Shaumi tertawa mendengar kelakar Ibu.


" Baiklah Nini, janji, ya? " Shaumi menyodorkan kelingkingnya kearah Ibu.


" Iya, janji, " Ibu pun mengaitkan kelingking mereka, kemudian mengecup kening Shaumi dengan sayang.


" Makanya, mas, jangan sibuk terus, ankmu itu udah mulai ngerti, loh, "


Ucap Ibu sambil mengantar Shaumi ke mobil.


" Iya, Bu, mau bagaimana lagi, apalagi ini mau ada promosi jabatan, "


" Doakan semoga Hanan terpilih, ya, Bu, "


Mas Hanan mengecup punggung tangan ibu kemudian memeluknya,


" Pasti itu, tanpa kamu minta pun, Ibu selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian semua, "


Mas Hanan melepas pelukannya pada Ibu, kemudian beralih padaku,


" Kamu juga dek, jagain Ibu, ya, mas doakan semoga dapat jodoh terbaik, " ucapnya sambil memelukku.


" Semoga aja lancar dan cocok sama yang kemarin.." lanjutnya berbisik di telingaku, sontak kucubit pinggangnya kuat-kuat, membuatnya mengaduh kesakitan.


" Makanya, mas jangan digangguin terus adiknya, udah ah, yuk, jalan. Nanti kemalaman dijalan, kasihan Shaumi, "


" Kita jalan dulu, ya, Bu, Anty, " mbak Alya mencium tangan Ibu dan memeluknya, kemudian beralih memeluk ku juga.


" Umi, Salim dulu, sama Nini sama Anty, " pintanya pada keponakan ku itu, yang langsung diangguki bocah itu.

__ADS_1


Aku pun memeluk dan mencium-cium pipinya, membuat Shaumi tertawa kegelian.


Setelah berpamitan mereka memasuki mobil, Shaumi melambaikan tangan dengan heboh saat Ayah nya mulai menjalankan mobil,


" Dadahh Nini, Anty, " ucapnya seraya melambaikan tangan, aku dan Ibu pun membalasnya, setelah memastikan mobil mas Hanan sudah tak terlihat aku dan Ibu pun kembali masuk kedalam rumah.


" Ibu mau istirahat dulu, ya, "


" Kamu juga, jangan tidur terlalu malam, besok kan, kerja, " kata Ibu sambil berlalu menuju kamarnya.


" Iya, Zia juga mau langsung istirahat, badan udah pegel semua ini, "


Sesampainya dikamar aku langsung menuju kamar mandi, rasanya badan udah pegel banget, sejak siang belum ketemu kasur, tapi aku harus tetap kekamar mandi dulu untuk bersih-bersih, setelah itu aku melakukan rutinitas wajib setiap cewek, yaitu skincare an, baru setelahnya aku menuju tempat tidur, sebelum itu aku meraih handphone dan berbaring sambil scroll aplikasi t*k t*k, sebenarnya aku termasuk jarang membuka aplikasi ini, cuma diwaktu senggang begini saja aku membukanya, yah.. itung-itung untuk hiburan diri, setelah seharian penat beraktivitas, entah itu kerja atau apapun itu.


Ternyata mataku tak cukup kuat untuk terlalu lama memandangi layar handphone, aku pun memutuskan untung langsung tidur setelah menyetel alarm.


___________


Subuh itu aku dibangunkan oleh suara alarm dari handphone ku, aku langsung beranjak dari kasur, segera kuraih handuk dan masuk kekamar mandi.


Setelah selesai mandi aku bersiap-siap untuk menunaikan shalat.


Ketukan pintu terdengar saat aku baru selesai melipat kembali mukena.


" Mbak Zi, hari ini mau dimasakin apa buat bekal? " Terdengar suara Bi Irah dibaliknya.


Aku segera membuka pintu,


" Ibu udah, bangun?"


" Baik, mbak,"


" Udah, tuh Ibu lagi diteras samping, lagi ngeteh, mbak mau Bibi bikinin sekalian? "


Tanya Bi Irah padaku.


" Boleh, deh, anter kesamping, ya, Bi " pintaku yang langsung diangguki nya.


Bi Irah berlalu, aku kembali menutup pintu, segera kurapikan tempat tidur, dan setelah selesai aku segera turun menuju teras samping.


" Ibu, gimana tidurnya semalam? Nyenyak? " Ucapku sambil memeluk dan mencium pipi wanitaku itu.


" Enggak, soalnya kepikiran gimana lanjutan yang kemarin, " balas ibu sambil terkekeh.


" Ihh... Ibu mahh... Becanda mulu, " ucapku kesal sambil menarik kursi disampingnya.


" Kok merona gitu pipinya? " segera kupegang kedua pipiku yang disambut tawa keras Ibu.


Bi Irah datang mengantarkan teh yang kupinta tadi,


" Makasih, Bi, " ucapku

__ADS_1


" Sama-sama mbak, Bibi permisi dulu, ya, mau lanjutin masak, " ucapnya setelah mendapat anggukan dariku.


" Kira-kira Hyan jadi gak, jemput kamu? " Pertanyaan Ibu yang tiba-tiba membuat aku yang tengah menyeruput teh tersedak,


" Hati-hati atuh, " ucap Ibu sambil menepuk-nepuk pelan pundak ku.


" Bu, Zia kan udah bilang, jangan terlalu banyak berharap, " kataku setelah batukku reda


" lagian dia juga sibuk kali, Zia kan bisa berangkat sendiri, biasanya juga kan gitu, " ucapku lagi.


Ibu menghela nafas mendengar jawabanku.


" yaudah, iya, "


" udah, kamu siap-siap sana, ntar telat loh, kamu kan, kalo bersiap lama udah kayak pengantin, " kata Ibu.


" siap, Ibunda ratu, " kataku sambil membungkuk kan badan seperti pelayan kerajaan, Ibu memukul angin dan tertawa melihat tingkahku.


aku pun membawa gelas bekas teh tadi ke dapur, sesampainya di dapur sudah tercium bau masakan Bi Irah, membuatku tak sabar ingin segera mengisi perutku.


" humm.. wanginya bikin perut keroncongan, Bi, " kataku sambil mengendus bau masakan Bi Irah.


" si mbak bisa aja, mbak siap siap dulu, gih, nanti kalo udah selesai Bibi panggil, " ujar Bi Irah padaku.


" sip, Bi, "


________


Aku yang sedang merapikan jilbab segera membuka pintu ketika terdengar suara Bi Irah memanggil,


" udah selesai mbak? "


" Ibu udah nungguin dibawah, " ucap Bi Irah.


" udah, Bi, "


" Bibi duluan, aja, ntar Zia nyusul, mau nyiapin berkas dulu, " kataku.


" kalau gitu, bibi turun dulu, " aku hanya mengangguk mengiyakan.


Aku mulai merapikan berkas penting yang akan dibawa kekantor hari ini, setelah yakin semua sudah masuk dalam sebuah map, aku pun meraih tas dan mulai memasukkan ponsel, parfum serta lipstik.


Aku melihat jam ditangan, sudah pukul 07:15, rasanya mustahil jika Hyan akan datang menjemput, ahh.. sudah lah, aku pun meraih kunci mobil dimeja kecil samping ranjang, berpikir lebih baik berangkat sendiri saja.


Aku mulai menapaki anak tangga dengan sedikit tergesa, takut tidak sempat ikut sarapan, setelah sampai dianak tangga terakhir aku terkejut sebab melihat seseorang sedang bercengkrama dengan Ibu diruang tamu.


Dia?


________


Kira-kira siapa, ya? Kok Zia sampai kaget gitu? Ada yang bisa nebak gak, nih? Jawab dikolom komentar, ya😍🫶

__ADS_1


__ADS_2