
__________
Belum selesai ku lanjutkan ucapan, ibu sudah menimpali.
" Nggak usah ragu, nak. Sampai kan saja, insyaallah kami semua menerima keputusan mu, " timpal ibu.
Aku kembali terdiam, menunduk.
" Mas, Zia setuju. Insyaallah ini sudah Zia pikirkan matang-matang. Jadi tidak akan ada penyesalan nantinya, " ucapku masih menunduk.
" Baiklah, mas terima apapun itu. Tapi ingat dek. jika suatu saat, dia menyakitimu baik disengaja atau pun tidak, jangan ragu untuk datang pada mas. Mas akan menjadi orang pertama yang menghajar nya, " ucap mas Hanan terdengar tulus, aku hampir terharu jadinya, kalau saja ibu tidak menimpali.
" Siapa yang ngajarin kamu menghajar orang sembarangan? Kalau ada masalah itu, jangan hanya mendengar dari sebelah pihak, mas. Meskipun itu adik kandungmu sendiri. Kita harus bisa bersikap dewasa jika menghadapi masalah, jangan malah kekanak-kanakan. Menghajar orang itu bukan suatu penyelesaian masalah, tapi malah nambah masalah jadinya, " ucap ibu panjang lebar. Jika sudah Ibunda ratu yang bicara, mana berani dia membantah lagi.
Mas Hanan terdengar menggerutu kesal.
" Tadi aja, yang dimarahin cuma anaknya. Mantunya malah dibelain, " gerutu mas Hanan berbisik, tapi masih bisa kami dengar.
Ibu memukul paha mas Hanan dengan keras, membuat nya mengaduh. Aku dan mbak Alya tertawa melihatnya.
" Kalo salah itu ngaku aja, nggak usah minta dibela. Ibu mah, kalo salah ya salah, walaupun anak sendiri. Masak nggak paham-paham, kamu ini? " Kata ibu, membuat mas Hanan menggaruk kepalanya yang kuyakini tidak gatal itu.
Semua sudah setuju dengan keputusan ku, meski mas Hanan masih terlihat sedikit berat. Berbeda dengan ibu dan mbak Alya, malah terlihat mendukungku sepenuhnya.
_______
Pagi ini mendung menggelayut manja, bahkan gerimis sudah mulai jatuh. Membuat badan kurang bersemangat sebab cuaca. Aku sedang diruang makan, tadi Hyan menghubungi lewat chat WhatsApp. Katanya akan menjemput sebentar lagi.
Setelah beberapa menit menunggu, terdengar suara deru mobil dari luar.
" Bu, Zia berangkat dulu, " aku pamit pada ibu yang sedang nonton.
" Iya, hati-hati, ya, " jawab ibu.
Aku mengangguk dan mencium punggung tangannya, kemudian segera berlalu.
Hyan sudah menunggu diteras sambil memegang payung ditangan kirinya. Saat aku keluar dan menutup pintu dia menoleh, kemudian segera membuka payung. Tanpa mengeluarkan suara dia mengajakku satu payung dengannya.
Didalam mobil, seperti biasa aku dan Hyan tidak bicara apapun. Tak ada yang membuka suara, hanya keheningan yang ada diantara kami, ditambah dengan cuaca yang pagi ini dinginnya mampu menembus kulit. Suasana seperti ini membuat ku mengantuk.
Aku menyandarkan badan, dan memejamkan mata dengan tangan terlipat di dada.
" Ngantuk? " Irit banget ngomongnya.
" Enggak, cuma mau ngusir jenuh aja. Soalnya sepi, ditambah suasananya lagi hujan gini, " sahutku tanpa membuka mata.
Diam. Tidak terdengar jawaban lagi darinya, dasar manusia batu! Nggak peka banget, sih. Udah dibilang jenuh, sepi, ngajak ngomong kek!
Akhirnya aku mengalah, untuk mengusir suntuk. Apalagi didepan sana jalanan sedikit macet, aku bersuara.
" Ahm ... By the way, aku sudah ngambil keputusan atas permintaan kamu waktu itu, "
Setelah mengubah posisi duduk agak tegak, aku berbicara padanya.
" Oh, ya? "
Sungguh diluar nalar tanggapan nya, tanpa menoleh, malah terlihat raut wajahnya datar-datar saja.
Aku malah jadi berpikir, dia serius pengen nikahin aku? Akhirnya aku diam saja, tidak melanjutkan ucapan tadi.
Aku akan menunggu, apakah dia akan bertanya, atau tidak.
Setelah ditunggu beberapa menit, bahkan jalan yang tadinya sedikit macet, sekarang jadi mulus bebas tanpa hambatan nggak ada tuh keluar suaranya bertanya. Dia tetap fokus nyetir dengan wajah datarnya, psikopat!
__ADS_1
Aku lagi yang menyerah.
" Nggak pengen tau jawabannya? " Aku melirik nya, dia hanya mengangguk sekilas.
" Hufft ... " Aku menghembuskan nafas kasar.
Ternyata itu berhasil menarik perhatian nya. Dia menoleh kearahku, dengan tatapan seolah bertanya ' ada apa '. Aku hanya diam saja.
" Jawabannya? " Dia bertanya dengan singkat.
" Aku akan resign, " ucapku tanpa melihatnya.
" Owh ... Oke, " tanggapannya membuatku semakin gemas, ya Tuhan.
Aku hanya menatap lurus kedepan dengan wajar masam.
" Kapan kamu akan resign? " Tanyanya lagi.
Aku hanya mengedikkan bahu, aku pun belum memikirkan kapan akan mengajukan resign.
" Besok saja, dan tak ada penolakan! " Tandasnya.
Aku hendak membuka mulut, tapi terhenti sebab kami sudah sampai dipelataran kantor.
" Jangan lupa, besok langsung kirim surat resign nya, " ucapnya saat aku bersiap-siap untuk turun. " Bunda pengen kita nikah secepatnya, " ucapan nya kali ini mampu membuatku terkejut dan menoleh padanya.
" Nggak usah kaget, sana masuk. Ini hari terakhir mu dikantor. Nggak mau pamitan pada teman-teman mu? "
Dia berucap santai. Aku hanya mendengus, dan tak mengucapkan sepatah kata pun lagi. Aku segera turun dan berlalu masuk kedalam kantor.
________
Aku melihat Nita yang sedang sibuk.
" Eh? Enggak, kenapa? " Nita menoleh.
Aku menarik kursi agar bisa duduk dekat Nita.
" Gue mau curhat. Lagi bingung banget, " jawabku memelas.
" Lemes amat Lo, nggak sarapan? " Candanya.
Aku hanya mendelikkan mata, membuat Nita terkekeh.
" Candaa ... Emang Lo kenapa, sih? Tumben banget nggak semangat gini, " tanya Nita serius setelah menyelesaikan pekerjaan nya.
" Gue bingung Nit. Hyan minta gue resign, dan rencana nya ini hari terakhir gue kerja, " ungkapku dengan perasaan sedih.
" Apaa?! " Pekik Nita, membuat semua yang ada diruangan menatap heran kearah kami.
Nita membekap mulutnya sendiri, mengangguk dan menangkupkan tangan sembari mengatakan maaf.
Setelah semua orang kembali keaktivitas masing-masing, Nita kembali bicara dengan suara pelan.
" Seriusan Lo? Kenapa harus resign, sih, Zi? " Tanya Nita.
" Gila kali tuh orang, emang dia kagak tau gimana perjuangan Lo dulu? Terus gimana bulan depan? Lo kan kepilih Zi, yaa rugi lah! " Cetus Nita.
" ya mau gimana lagi, awalnya juga mas Hanan sependapat sama Lo. Tapi akhirnya setuju juga dengan keputusan gue, " kataku.
" Tuh kan, sehati gue sama mas Lo, tuh, " kelakarnya, aku hanya mendelikkan mata.
" Tapi, yaudah sih. Kalo Lo ngerasa ini yang terbaik. gue sebagai sahabat Lo, cuma bisa ngedoain yang terbaik aja, " sambung Nita menatapku.
__ADS_1
Aku hanya mengangguk saja, kemudian menopang dagu dengan kedua tangan.
" Sekarang apa lagi yang Lo pikirin? "
" Menurut Lo, gue nganter suratnya sekarang apa besok aja, ya? " Tanyaku.
" Terserah Lo aja, sih. Emang suratnya udah Lo bikin? "
" Udah, " jawabku.
Aku memang sudah membuat surat pengunduran diri tadi, karena sedang tak ada kerjaan, jadi aku memutuskan segera membuatnya saja.
" yaudah, Lo anter sekarang aja, " saran Nita. " Gue temenin? " Tawarnya.
Aku hanya menggeleng saja, nggak mungkin juga mau ngundurin diri mesti ditemani, ya kali!
" Yaudah, gue anter sekarang aja, " kataku.
Aku bangkit dan meraih surat yang sudah kubuat tadi, aku ingin cepat menyelesaikan ini.
_________
Aku dan Nita berjalan beriringan, aku akan menunggu Hyan menjemput. Sedangkan Nita katanya sudah pesan ojol. Sudah kutawari pulang bareng saja, pasti Hyan juga tidak keberatan. Tapi Nita malah menolaknya.
Aku sudah berada didepan, Hyan katanya juga sebentar lagi sampai. Ojol yang dipesan Nita juga sudah didepan saat kami keluar. Aku menatap gedung ini untuk yang terakhir kalinya, ya, aku sudah mengantar surat tadi langsung pada direktur. Awalnya dia menyayangkan keputusan ku, mengingat aku salah satu calon terpilih , dan bulan depan akan diumumkan siapa pengganti manager keuangan yang baru. Namun dia juga mengatakan menghargai keputusan ku.
Jadi mulai besok aku tidak perlu datang lagi, sedih rasanya berpisah dengan teman-teman dikantor. 3 tahun aku di sini, dan tiba-tiba saja aku harus melepasnya. Tapi semua ini aku yang putuskan, semoga saja ini menjadi awal yang baik.
Suara klakson mobil didepan menyentak ku dari lamunan, ternyata Hyan sudah datang. Aku berkali-kali menghembuskan nafas, mengusir sesak yang tiba-tiba hinggap. Aku segera masuk ke dalam mobil, saat memasang seat belt Hyan bertanya.
" Kamu kenapa? " Tanyanya.
Aku mengernyit mendengar nya.
" Aku? Kenapa memangnya? " Kataku sambil menunjuk diri sendiri.
" Wajahmu terlihat murung, apa menyesal dengan keputusan mu menerima ku? "
Aku menghembuskan nafas mendengarnya. Kemudian menggeleng sebagai jawaban.
" Terus? Apa yang membuatmu terlihat sedih? "
Aku tidak menjawab. Malah menyandarkan badan dengan mata terpejam.
Entah berapa lama aku tertidur, namun tiba-tiba terdengar bisikan ditelinga yang membuat ku terbangun.
" Zia, bangun. Kita sudah sampai, "
Bisikan Hyan disamping telinga membuatku kaget dan menoleh kesamping, beberapa detik kami saling tatap dengan jarak wajah ku dengannya hanya beberapa senti. Setelah tersadar kami sama-sama mundur.
" Ma ... Maaf, aku hanya ingin membangunkan. Tidak tau jika itu malah mengejutkan mu, " katanya tergagap.
Aku hanya memalingkan wajah, sambil menetralkan debar didada.
Loh? Aku menatap bingung rumah mewah didepan sana. Kemudian menoleh pada Hyan, hendak bertanya ini rumah siapa. Sudah duluan dia buka suara.
" Ayo turun, maaf aku nggak bilang kalau mampir ke rumah dulu. Tadi bunda nelpon minta kamu dibawa kesini, "
Seolah mengerti kebingungan ku, dia menjelaskan alasan aku dibawa kesini. Aku hanya mengangguk dan segera bersiap turun.
Aku menarik nafas dan menghembuskan nya secara berulang, untuk mengusir kegugupan. Ini kali pertama nya aku berkunjung kerumah Hyan selama kedekatan kami.
____________
__ADS_1
Jangan lupa jejaknya🫶😍