
Maaf telat up nya gess ... Jangan lupa tinggalin jejak yaa 😘 love you kalian semua 😍
______________
Hyan melengos setelah mengatakan itu, sedangkan aku sudah salah tingkah, aku tak bisa berhenti tersenyum sendiri, mungkin orang-orang mengira aku sudah stres kali, ya?
Siangnya kami istirahat dulu sebentar, sebelum acara kembali dimulai, masih ada waktu untuk kami istirahat sekitar setengah jam lagi. Aku naik kekamar dengan dibantu Nindy dan juga Maira, saat akan membuka pintu tak sengaja aku melirik dengan ekor mata, dan terkejut melihat Hyan yang sudah berada dibelakang kami. Ternyata dia ikut menyusul kami, duhh ... Ngapain ikut segala, sih?
" Kamu mau kemana? " Aku mengernyit heran melihatnya.
" Loh? Ya kekamar lah, emang kemana lagi? " Sahutnya santai.
" Ke-kekamar? " tanyaku dengan mata membola.
" Iya, sayang. Ayok! " katanya dan berlalu masuk, meninggalkan aku yang masih tertegun sejenak didepan pintu.
" Mbak? Ayok! Waktu untuk Mbak istirahat nggak lama. Bentar lagi periasnya dateng, " ucapan Maira membuatku segera masuk.
Saat masuk pemandangan yang pertama kali kulihat adalah, Hyan yang sudah berbaring telentang diranjangku, dengan mata terpejam. Entah kenapa darahku tiba-tiba berdesir melihatnya dikamar yang sama denganku, apalagi jika mengingat kami sudah sah sebagai suami istri sejak beberapa jam yang lalu, rasanya seperti sedang bermimpi saja.
Seseorang mengetuk pintu kamar, aku yang sedang dibantu Maira untuk membuka aksesoris dikepala pun sontak menoleh, kemudian meminta Nindy agar melihat siapa yang datang.
Ternyata Resty sudah tiba, padahal aku baru saja akan berganti baju.
" Eh? Nggak apa-apa nih, aku masuk? " Dia melirik sekilas kearah ranjang.
Hyan masih saja memejamkan matanya, mungkin dia benar-benar lelah, jadi aku tak tega untuk membangunkannya.
" Nggak apa-apa, masuk aja, " sahutku.
Tiba-tiba saja Hyan membuka matanya dan segera bangun, setelah mengangguk sopan pada semua orang yang ada disini dia segera keluar dari kamar. Aku menghela nafas lega, berasa nggak bebas aja kalo dia juga ada disini.
____________
" Mbak, kita langsung turun, ya? Tamu-tamu udah pada dateng, " ucap Maira.
Akhirnya dengan dibantu Nindy dan juga Maira, aku kembali turun. Saat sudah dibawah, Hyan ternyata sudah duduk dipelaminan dengan memangku Shaumi. Mereka berdua saling bercanda, sesekali kulihat Hyan mencubit gemas pipinya, Shaumi hanya bisa tertawa geli.
Shaumi segera melompat turun ketika melihatku, begitu juga Hyan yang langsung berdiri dan menatap kearahku. Aku segera memalingkan wajah, Hyan mendekat dan mengulurkan tangannya padaku, membantu aku untuk naik ke pelaminan.
" Woaah ... Anty cantik banget! Iya, kan Om? " seru Shaumi sambil melihat Hyan.
__ADS_1
Hyan mengangguk dan melirikku, setelah aku berhasil naik dia kembali meraih Shaumi agar duduk didekatnya.
" Ngomong-ngomong kok Nita nggak keliatan dari tadi pagi, ya? " tanya Hyan melirikku.
Ahya ... Aku hampir saja lupa! Kenapa Nita nggak datang? Aku segera meminta tolong Maira untuk mengambil ponsel yang ketinggalan dikamar, gadis itu segera bergegas dan tak lama kembali kemudian menyerahkan ponsel ketangan ku.
Baru saja ponsel ku aktifkan, sudah masuk beberapa notif WA. Salah satunya pesan dari nomor Nita, aku segera mengklik nomornya untuk melihat isi pesan yang dia kirim.
[ Kayaknya gue bakal telat dateng, Zia. Kemungkinan siang, btw selamat yaa sayangku, semoga jadi keluarga sakinah mawadah warahmah. ] Aku menghembuskan nafas kasar membaca pesannya.
" Kenapa? " Hyan bertanya tanpa mengalihkan fokusnya dari Shaumi.
Aku hanya menggeleng, tak ingin menjawab. Aku mengedarkan pandangan ingin mencari keberadaan Mbak Alya dan juga Mas Hanan, mereka tak terlihat duduk mendampingi Ibu, kemana mereka?
" Umi, Bunda sama Ayah dimana? " Aku memutuskan menanyakannya pada Shaumi.
" Bunda tadi katanya pusing, jadi lagi dikamar sama Ayah juga. " sahutnya. Aku hanya manggut-manggut.
Tamu-tamu sudah mulai berdatangan, kebanyakan yang datang siang ini memang dari teman-teman ku dan juga Hyan. Dimulai dari teman sekolah, kuliah hingga teman kerja. Diantara para tamu yang datang, aku melihat Pak Faroz datang bersamaan dengan Nita juga. Nita berjalan menuju pelaminan tempat aku dan Hyan saat ini, dia menyalami Ibu, kemudian Hyan dan juga aku. Saat menyalamiku dia langsung memelukku dengan erat, pelukan yang masih sama seperti biasanya. Rasanya aku tak ingin membalas pelukannya jika tak mengingat sedang dimana kami saat ini.
Nita turun dari pelaminan dan mulai duduk bergabung dengan Pak Faroz serta teman-teman kantor lainnya. Aku dan Hyan kembali fokus menyambut tamu-tamu yang datang, dan naik ke pelaminan untuk bersalaman dan berfoto. Entah sudah berapa lama kami hanya berdiri sebab tamu yang tak berhenti datang, hingga akhirnya keadaan sudah mulai sedikit sepi, Hyan memintaku untuk duduk dulu.
Mas Hanan sudah keluar dari kamar, dia ikut bergabung dengan Pak Faroz dan duduk disamping Nita, hal itu membuatku semakin membenci perempuan itu. Kenapa mas Hanan malah keluar? Bukannya menemani mbak Alya.
Aku memutuskan mengirim pesan pada Mas Hanan.
[ Bukannya Mbak Alya sedang tidak sehat? Kenapa Mas malah keluar? Jadi siapa yang menemani nya dikamar? ] Terlihat Mas Hanan sedang mengetik.
[ Iya, tapi sekarang sudah nggak apa-apa katanya. Dikamar juga ada Bapak dan Emak yang menemani, mereka sendiri yang meminta Mas keluar untuk menemui para tamu yang datang. ] Aku hanya membaca balasan pesan darinya, kemudian kembali mematikan ponsel.
Sekarang sudah pukul 3 sore, tapi tamu yang datang masih saja ramai. Orang tua Hyan dan juga Ibu sampai kewalahan menyambut mereka. Aku yang sudah tak kuat untuk berdiri memutuskan duduk saja, sambil memijit kaki.
" Kalau sudah nggak sanggup mending kita ke kamar aja, " Hyan membantu memijit kakiku. Hal itu malah membuatku berdebar.
" Ahm ... Nggak apa-apa, kok. " sahutku sambil tersenyum kikuk.
Hyan masih saja memijit kakiku, dan berhentinya ketika ada teman-teman nya yang naik ke pelaminan.
" Wahh ... Bro! Perhatian banget, ya? " kata salah satu temannya, membuat yang lain terkekeh, Hyan hanya melengos dan memasang tampang datarnya. Sedangkan aku hanya bisa tersenyum dan menahan rasa malu akibat godaan temannya.
Mereka saling bercanda, setelah itu satu persatu dari mereka mulai menyalami kami dan langsung turun.
__ADS_1
____________
Bunda dan Nayna menghampiri kami.
" Kamu capek, sayang? Ke kamar aja, dulu. Biar bisa istirahat, nanti malam kan masih ada acara lagi, " ucap Bunda dan segera meminta Nayna agar bisa membantuku naik ke kamar.
" Mbak, Pak Faroz itu udah punya calon belum, sih? " tanya Nayna setengah berbisik saat kami mulai berjalan menjauhi para tamu undangan.
Aku menatapnya dengan kening berkerut, kenapa gadis ini tiba-tiba menanyakan tentang mantan Bos ku itu?
" Kenapa kamu nanya tentang Pak Faroz? Jangan-jangan kamu suka, ya? " Godaku.
" Ihh ... Mbak jangan keras-keras! Nanti ada yang denger, kan jadi nggak enak, " katanya sambil mencubit lenganku dan mengerucut kan bibir, membuatku menahan tawa.
" Ayoo ... Jujur sama Mbak. Kamu suka, ya? " Wajahnya bersemu merah mendengarku yang kembali menggoda nya.
" Tuh, kan! Wajahnya aja udah memerah gitu, ngaku kamu ... " Aku semakin Melancarkan godaan padanya, dia hanya bisa menahan senyum sejak tadi.
__________
Aku memijit kaki yang sejak siang tadi berdiri saja untuk menyambut tamu yang datang, Hyan sedang dikamar mandi, dia memang meminta izin untuk mandi lebih dulu. Tiba-tiba saja pintu kamar mandi dibuka, bau shampo menguar memenuhi indra penciumanku, Hyan keluar hanya mengenakan handuk dengan santainya, sedangkan aku segera mengalihkan pandangan darinya. Wajahku sudah memerah saat ini, sedangkan dia dengan santainya berjalan menuju koper kecil yang berisi pakaiannya. Nggak sadar apa kalo gue udah sesak menahan debar didada? Jangan-jangan dia sengaja lagi.
Setelah mendapat apa yang dicari nya, dia berlalu masuk kembali ke kamar mandi. Aku menghela nafas lega.
Aku meraih handuk, bermaksud akan mandi dibawah saja. Tidak mungkin aku mandi dan berganti baju diruangan yang sama dengannya. Baru saja akan melangkah keluar, Hyan sudah kembali membuka pintu kamar mandi membuatku seketika menoleh kebelakang.
" Mau kemana? " tanyanya heran.
Aku yang tadi sempat terpaku sesaat ketika menatap sosok yang nyaris sempurna didepan mata pun segera menundukkan kepala.
" A-aku mau ma-mandi ke bawah, " sahutku tergagap, duh ... Zia! Keliatan banget salah tingkahnya. Gimana nggak salah tingkah coba?
" Ngapain kebawah? Disini kenapa? " katanya sambil tersenyum aneh, itu malah membuatku merasa risih.
" Gak! Aku dibawah aja. Kamu istirahat aja, "
Saat hendak berbalik dan keluar, Hyan malah menarik lenganku, membuat aku terlempar dalam dekapannya. Sontak saja aku mendongak dan menatap langsung matanya yang juga sedang menatapku. Kami saling bertatapan beberapa saat, Hyan semakin menundukkan kepalanya membuatku spontan memejamkan mata dengan erat, takut kalau Hyan ...
Deheman seseorang membuat aku dan Hyan spontan saling menjauh, aku sudah salah tingkah begitu pun dengan Hyan, dia terlihat berkali-kali menggaruk tengkuknya.
" M-maaf ... Nindy diminta Bude untuk manggil Mas dan juga Mbak, untuk makan malam. Semua orang udah nungguin, " ucap Nindy sambil mengulum senyum.
__ADS_1
" Ahm ... I-iya. Bilangin Ibu, Mbak mandi dulu, " Nindy mengangguk dan segera pamit turun.
Sekarang tinggal aku dan Hyan yang saling lirik, duhh ... Malu banget! Kenapa Nindy harus datang, sih? Kalo enggak kan tadi bakal ... Ehem!