
Tinggalin jejak yaa gess❤️🫶
___________
" Zi, abis cuci piring, keruang tv ya, ibu tunggu disana, ada yang mau ibu bicarain " kata ibu,
" Mau ngomongin apa, Bu? Serius banget kayaknya, " aku bertanya sambil terus menyabuni piring-piring didepan ku,
" Tentang kelanjutan hubungan kamu sama Hyan, " jawaban ibu seketika membuatku menoleh,
" Maksud ibu? " Tanyaku tak mengerti.
" Udah, kamu selesaikan dulu aja kerjaannya, abis itu susul ibu kedepan, ya? " Jawab ibu, aku hanya mengangguk dan segera menyelesaikan pekerjaan ini.
Setelah semua beres, aku segera menyusul ibu keruang tv seperti perintahnya tadi,
" Bu, " panggil ku.
" Ehh? Sini duduk nak, " ibu menepuk sofa disampingnya, aku pun menjatuhkan bokong disana,
" nak, menurutmu, bagaimana dengan Hyan? " Ibu menatapku lekat.
" Maksudnya? Bagaimana apanya, Bu? "
" Apa kamu merasa cocok dengannya? Kalian kan sudah saling tau selama setengah bulan ini, Hyan juga menurut ibu benar-benar lelaki bertanggung jawab, " aku hanya diam saja mendengar ibu,
" Tadi saja dia terlihat khawatir banget, apalagi saat menyusul kesini tapi kamu belum juga pulang, " ucapan ibu membuatku menggigit bibir,
" Dia minta maaf sama ibu, karena nggak bisa jemput kamu tadi pagi, karena memang dia sedang ada urusan penting dengan keluarga nya, " sambung ibu, aku hendak membuka mulut dan mengatakan dia sudah membohongi ibu, padahal sedang ada urusan dengan kekasihnya, malah bilang urusan keluarga, tapi ibu sudah kembali bicara.
" Tapi semua ibu serahin ke kamu, kalo kamu mau lanjut, ya lanjut, kalo enggak, besok kasih tau langsung sama dia dan keluarganya, " ucapan ibu kali ini membuatku mengerutkan kening,
" Maksud ibu? "
" Tadi siang saat menyusul mu kesini, Hyan kasih tau ibu, kalo besok dia serta keluarganya akan datang kesini, untuk membahas tentang kalian, "
" A-apa? Terus? " Aku kaget dan gugup sekali, bagaimana ini?
" ya, nggak ada terus-terus, kamu persiapkan diri dan jawaban aja besok, mas mu juga sudah ibu kasih tau, katanya besok akan datang dengan mbak mu juga, " aku tidak menjawab lagi, saking gugupnya bicara pun sudah tak sanggup.
" Kamu denger kan? "
" I-iya Bu, " ucapku tergagap sebab masih kaget.
" Menurut ibu, apa jawaban yang tepat? " Aku mencoba meminta pendapat Ibu.
Ibu menarik napas dalam dan menghembuskan nya, dia kembali menatapku, dan menggenggam tangan ku.
" Nak, ingat, ya? Ibu dan mas Hanan memang sudah menyetujui jika Hyan yang akan mendampingi mu, tapi, bukan berarti kamu harus menuruti kami, memang orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya, tapi pilihan serta kenyamanan anak itu yang paling penting, ibu nggak mau memaksakan kehendak ibu atas hidupmu, sebab memilih pasangan ini harus menuruti kata hati, agar tercipta sebuah hubungan yang nyaman, jika kamu merasa ragu untuk melangkah lebih jauh, lebih baik jangan dilanjut, kamu harus bisa menentukan pilihan yang menurut mu terbaik, dan tepat. " Ucapan ibu membuatku sedikit tenang,
" Kamu istirahat dulu, sambil dipikir-pikir bagaimana baiknya, kalau perlu minta petunjuk sama Allah, ya? " Sambung ibu menenangkan ku.
" Iya, makasih banyak, ya, Bu, Zia kekamar dulu, " pamitku.
Ibu mengangguk dan mengelus lembut rambut ku.
" Iya, sayang " jawab ibu, aku memeluk dan mencium kedua pipi ibu, kemudian berlalu kekamar.
__________
" Anty... Anty... Bangun dong, Umi udah sampe, masa Anty belum bangun, sih? " Suara gedoran pintu kamarku terdengar ketika aku baru saja keluar dari kamar mandi, aku tersenyum ketika mendengar suara siapa yang memanggil.
Aku segera menuju pintu, dan membukanya, Shaumi memekik kegirangan ketika melihatku.
" Anty... Umi kangen banget, " Shaumi memeluk erat kaki ku, aku menunduk kemudian menggendongnya dengan sedikit kewalahan, sebab badannya yang gembul.
" Makin berat aja, sih? Pasti kebanyakan jajan, ya? " Ucapku dan mencium pipi nya.
" Hihi... Anty, kok tau, sih? " Kekehnya.
" yaa tau lah, bocah kayak kamu gini, apalagi yang disenengin selain jajan, heh? " Aku menurunkan dan mencubit hidungnya.
" Iya Anty, soalnya ayah kan suka nyogok, kalo pulang telat selalu bawain jajan, takut Umi marah, kalo kata bunda, sih, " Dia menjawab dengan muka polosnya membuatku semakin gemas.
__ADS_1
" Itu tandanya, ayah sayang sama umi, makanya takut kalo umi marah, " kataku sambil mengelus rambut nya, dia hanya mengangguk.
" Umi bareng Bunda sama Ayah, kan? " dia mengangguk.
" Bunda sama Ayah, dimana? " Tanyaku lagi.
" Dibawah, Bunda lagi bantuin Nini, Ayah lagi nonton, "
" yaudah, kalo gitu, Anty siap-siap dulu, ya, abis itu kita turun, "
" Ayuk, masuk dulu, " ajakku.
_________
" Cieee... Udah dandan aja, " mas Hanan menggodaku saat melihat aku dan Shaumi sudah dibawah.
" Apa, sih, mas! "
" Gak usah gangguin bisa nggak, sih? " Kesalku.
" Udah dikabarin bakal datang jam berapa? " Mas Hanan bertanya, aku hanya mengedikkan bahu acuh.
" Malah nggak tau? Gimana, sih, kamu. Emang nggak telfonan? " Ejeknya.
" Kita nggak alay, ya, kayak mas dulu. Tiap hari, siang malam telfonan, ayang ayangan lagi, " ledekku sambil mencibir nya.
" Dihh... Emang kalian udah beneran jadian? " Dia balik meledekku,
" Eh? Enggak, kok, siapa bilang? " Tanyaku panik.
" Itu, tadi? Malah ngeledek mas, bilang kalian nggak sealay mas dulu, berarti kalian jadian juga, dong? " Dia tersenyum jahil.
" Ihh... Nggak gitu maksudnya, mas! " Sanggah ku.
" Terus gimana? Udah dek, ngaku aja kalo emang udah punya rasa, " timpalnya.
" Tap... "
" Nggak ada tapi tapian, mas udah tau, kok, dari matamu aja mas bisa tau, " potongnya dengan cepat, membuatku semakin kesal, aku mengambil bantal sofa dan mulai memukulinya, dia malah lari kedapur membuatku mengejarnya.
" Ini juga, udah jadi Ayah kelakuan malah kayak anak kecil, pasti kamu, kan yang ngusilin adek mu? " Ibu menggetok pelan kepala mas Hanan dengan sendok kayu ditangannya, membuatnya mengaduh kecil, mbak Alya malah tertawa melihatnya.
" Makanya mas, jangan usil, gak malu apa diliatin sama Umi? " Ucap mbak Alya sambil terkekeh.
" Mending mas bantu bawain makanan ini ke meja makan, bentar lagi mereka udah mau jalan, loh, " pintanya pada mas Hanan, sedang suaminya itu hanya bisa mengangguk patuh.
" Tau dari siapa kalo mereka udah mau jalan, mbak? " Tanyaku.
" Tadi, ibu ditelfon sama Tante Amel, katanya lagi siap-siap, mau jalan, " sahut mbak Alya.
Aku malah deg-degan, mbak Alya melihat kearah ku dan berkata,
" Anty, gugup, ya? Santai aja, mending sekarang Anty siap-siap dulu, ganti baju yang lebih pantes, " ucap mbak Alya.
" emang ini nggak pantes mbak? " Tanyaku sambil menatap baju yang kupakai.
" Pantes, sih, tapi masak mau ketemu calon suami sama keluarganya pake baju gini, ganti lah, Anty, pakek gamis, kek, " ucap mbak Alya sambil mencolek daguku.
" Eh? Belum pasti kali, mbak, " sungutku dengan pipi yang sudah memanas.
" ya makanya, mereka datang kan, untuk mastiin kelanjutannya? Udah, sana! Wajahmu udah pink-pink gitu, " ledek mbak Alya sambil terkekeh.
" Ihh... Mbak Alya udah ketularan jahilnya mas Hanan, nih, " aku memanyunkan bibir karena diledek mbak Alya.
" Eh? Masak, sih? " Mbak Alya malah terkekeh mendengar perkataan ku.
" Iya, nggak salah juga, sih, kan serumah, sekamar, seranjang lagi, " aku menggodanya dengan mengedipkan sebelah mata, mbak Alya memukul lenganku dengan wajah yang bersemu merah.
" Udah, sana, mbak mau lanjutin ini, " dia mengalihkan pembicaraan dengan mengangkat piring dan membawanya kemeja makan.
Aku tertawa dan berlalu dari sana.
_______
__ADS_1
Dikamar, aku sibuk memilih baju yang akan dipakai, ditempat tidur sudah tergeletak beberapa baju gamis yang ku keluarkan dari lemari, aku mencoba namun tidak ada yang cocok,
" Duhh.. aku pake yang mana, ya? " Pikirku sambil menatap baju-baju yang sudah berhamburan diranjang.
Tok.. Tok.. Tok...
" Anty belum siap? Kok lama, sih? Hyan sama keluarganya udah sampe, " suara mbak Alya mengagetkan ku, jantungku serasa mau copot saja mendengar ucapannya,
" Ehh.. udah, mbak, bentar yaa? " Sahut ku dari dalam tanpa membuka pintu, aku bergegas mengambil asal satu baju, kuputuskan untuk memakai gamis putih saja, dan akan kupadukan dengan hijab frappuccino kesukaan ku.
" Kalo gitu mbak turun dulu, buruan, ya? " Kata mbak Alya, terdengar derap kaki nya menjauh.
Setelah selesai, aku merapikan sedikit makeup, memoles kembali bibir dan memakai parfum, baru kemudian aku keluar kamar dan turun.
" Huhhh... " Aku menghembuskan nafas untuk mengurangi kegugupan, mulai menapaki tangga satu persatu, kegugupan ku makin menjadi saat sampai ditangga terakhir, semua mata tertuju padaku, termasuk dia.. kami saling tatap dalam diam, kulihat dia tersenyum sekilas, kemudian segera menundukkan pandangannya setelah dicolek perempuan disamping nya,
" Malah tatap-tatapan, " seru Tante Amel membuat semua orang disana tertawa, aku hanya bisa menunduk kan kepala, mbak Alya menyusulku dan membawaku duduk diantara mereka.
" Salim dulu, sayang, " bisik ibu ditelingaku, aku menoleh dengan menatap penuh tanya, ibu menganggukkan kepalanya, membuatku mau tak mau bangkit dan mulai menyalami mereka, dimulai dari om Hadi, kemudian Tante Amel, beliau memeluk dan mencium kedua pipiku, baru setelah itu tanganku disambut dan dicium perempuan sebelah Hyan, dia Nayna, adik perempuan nya, meski belum pernah bertemu dan melihat wajahnya tapi bisa kutebak, sebab wajahnya begitu mirip dengan lelaki sebelah nya, versi cewek nya, setelah itu aku beralih pada laki-laki itu, entah kenapa aku spontan mengarahkan punggung tangannya ke dahiku, membuat semua orang saling lirik dan berdehem, aku yang kemudian sadar, lantas dengan segera melepas tangannya dan segera duduk disamping Ibu.
" Latihan, ya, dek? Udah cocok, sih, " ucap mas Hanan bermaksud menggodaku, disambut gelak tawa semua orang, aku melirik Hyan yang tersenyum sedikit lebar dari biasanya, tanpa sadar aku pun ikut tersenyum malu.
" Maaf ya, nak Hyan, mas nya Zia ini memang gitu, kalo nggak ngegodain adeknya sehari aja, pasti nggak bakal tenang dia, " ucap ibu sambil tersenyum.
" Iya, Bu. Nggak apa-apa, kok, " jawab Hyan,
" yaudah, karena semua sudah kumpul, udah masuk waktu makan siang juga, mending kita makan siang bareng dulu, aja, " ibu kembali bicara.
" Duh... Buk Tari, kok repot-repot, sih, " jawab Tante Amel tak enak,
" Nggak ngerepotin, buk, ayuk makan dulu, semua juga sudah disiapkan, biar enak nanti ngobrol nya, " ucap ibu,
" Zia, Ayuk, ajak nak Hyan nya, " lanjut ibu padaku,
Aku hendak membuka mulut, tapi ibu sudah memberi kode dengan menunjuk Hyan dengan dagunya.
" Nayna, om, tante, yuk, kita makan siang dulu, nanti makanannya keburu dingin, " ajakku tanpa menyebut Hyan,
" Loh, Hyan kok nggak diajak sekalian, dek? " Sahut mas Hanan, aku hanya mendelik kearah nya,
" Nggak apa-apa, mungkin Zia malu, apalagi didepan kita semua, iya, kan nak? " Om Hadi menimpali, aku hanya tersenyum canggung, sedang Ibu hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Ibu mengajak Tante Amel serta om Hadi, diikuti mbak Alya dan aku yang sudah menggandeng Nayna.
" Sabar ya, bro, gengsi nya terlalu gede itu, " bisik mas Hanan pada Hyan, namun masih bisa kami dengar.
Aku melirik kebelakang, mereka malah tertawa dan berjalan mendahului kami.
" Duhh.. mas Hanan, usil banget sih, sabar ya, Anty, "
" Sudah biasa, mbak, tapi ya gitu, rada kesel aja, sih, apalagi ngeliat senyuman jahil nya itu, " ucapku sambil tertawa, mbak Alya dan juga Nayna ikut tertawa.
Semua sudah duduk dikursi masing-masing dan sudah mengambil makanan yang terhidang, kami semua makan sambil berbincang hangat, meski hanya para orang tua yang banyak bincangnya, aku memutuskan fokus untuk makan saja, meski sesekali ikut menimpali dan menjawab saat ditanya.
Makan siang selesai, kami kembali duduk diruang tamu.
" Apa kita langsung ke pokok pembahasan nya saja? " Tanya om Hadi, semua saling lirik.
" Iya, silahkan saja, pak, " jawab ibu.
" Hyan, bagaimana? Apa Ayah saja yang sampaikan? " Tanyanya menoleh kearah Hyan, yang ditanya mengangguk saja.
Om Hadi menarik napas dan menghembuskan nya sebelum kembali bicara,
" Baiklah, Buk Tari sekeluarga, maksud kedatangan kami kesini, untuk membahas bagaimana kelanjutan hubungan antara anak kita, " ucapnya dan menoleh pada Tante Amel yang mengangguk.
" Iya, tapi mohon maaf sebelumnya, pak, buk, untuk semua nya saya sebagai orang tua, menyerahkan langsung pada, Zia, biar dia yang memutuskan bagaimana baiknya, karena yang menjalin hubungan nantinya mereka, " kata ibu sambil menggenggam sebelah tangan ku.
" jadi, meskipun saya, menyetujui ini, tapi kembali lagi pada Zia, jika dia tidak mau, maka saya tidak bisa memaksa, " sambung ibu sambil menatap sekilas kearahku.
" saya setuju, buk Tari, karena kami juga sudah menyerahkan ini pada Hyan, dan berhubung Hyan sudah setuju, maka kami akan bertanya pada Zia, apakah dia juga bersedia? " pertanyaan Tante Amel mengejutkan ku yang sedang menunduk, aku seketika mendongak, apa tidak salah dengar? jadi dia setuju? bagaimana dengan kekasihnya waktu itu? tidak, aku tidak mau dibilang perusak hubungan orang, ini harus diperjelas.
" m-maaf sebelum nya Tante, tapi... " aku ragu mengatakannya, jika memang dia memiliki kekasih, kenapa menyetujui perjodohan ini?
__ADS_1
__