
_________
Aku melangkah lunglai menuju rumah, dan segera menjatuhkan bobot tubuhku disofa ruang tv dengan menyandar malas. Hyan pasti salah paham tadi, padahal beberapa hari ini dia sudah mulai sedikit menghangat sikapnya.
Aku memejamkan mata, memikirkan bagaimana nanti menjelaskan padanya. Ingin merayu tapi gengsi, duhh ... Makin dekat hari pernikahan, ada aja masalah yang muncul.
Tring ... Tring ....
Aku membuka ponsel, ingin melihat siapa yang menelepon. Nita? Kenapa dia menghubungiku. Tiba-tiba rasa kesalku makin menjadi, entah kenapa melihat namanya saja mampu menghancurkan moodku.
' kenapa? ' ketusku.
Tanpa basa-basi seperti biasa segera saja kutanyakan kenapa dia menelepon.
' kok jutek banget, sih calon pengantin? ' tanyanya, mungkin heran dengan sikapku. Yang biasanya selalu penuh canda, sekarang terdengar ketus.
' plis Nit, gue nggak ada waktu becanda sekarang. Kalo Lo nggak ada yang pengen diomongin gue matiin, ' sahutku.
' dih? Kok gitu, sih? ' aku semakin muak dan segera mematikan ponsel dan melemparnya ke sofa.
Berkali-kali ponselku berdering lagi, Nita kembali menghubungiku. Tapi aku enggan menjawabnya, biar saja. Mood sedang sangat tidak baik hari ini.
" Anty? " Saat sedang memejamkan mata, tiba-tiba terdengar suara mbak Alya.
" Kenapa, mbak? " Aku langsung menegakkan badan.
" Anty yang kenapa, mbak perhatiin kok kayak lagi ada masalah? " Mbak Alya mendudukkan badannya disampingku.
Aku hanya menggeleng, dan kembali menyandarkan badan.
" Itu apa? " Mbak Alya menunjuk amplop dan kotak bekal yang kuletakkan diatas meja.
" Itu uang pesangon Zia, yang kotak bekal nggak tau isinya apa, soalnya belum dibuka. Itu dari bundanya Hyan tadi, " kataku.
" Hyan yang antar? " Tanya mbak Alya, aku mengangguk mengiyakan.
" Kok lemes gini? Biasanya kan kalo Anty abis ketemu Hyan, wajahnya selalu berbinar. Lah ini kok kayak nggak semangat gitu? "
Aku hanya melihat sekilas kearah mbak Alya.
" Ada masalah? " Lanjutnya.
Aku mengangguk, terdengar mbak Alya menghela nafas. Kemudian mengubah posisi duduknya jadi menghadap aku.
" Masalahnya apa? "
Akhirnya aku menjelaskan alasan kenapa dari tadi uring uringan terus, aku mencebikkan bibir ketika mendengar tawa mbak Alya setelah mendengar penjelasanku. Entah apa yang lucu menurutnya saat ini.
" Mbak kok malah ketawa, sih? " Gerutuku.
Mbak Alya menghentikan tawanya ketika mendengar aku yang menggerutu.
__ADS_1
" Sorry, sorry. Mbak lucu aja, sih. Ternyata Anty bucin juga, ya? " Sahutnya masih dengan sisa-sisa tawa.
" Kok Bucin, sih? " Aku mendelikkan mata ketika mbak Alya mengatakan aku bucin. Padahal kan emang bener!
" Ya terus? Kalo bukan bucin apa lagi coba? " Aku tak menyahut, aku memasang raut seolah-olah sedang merajuk.
Mbak Alya menepuk pelan pahaku.
" Gini Anty, cowok itu, kalo marah gitu tandanya beneran cinta! Jadi Anty nggak usah khawatir kalo dia marah ngeliat Anty lagi sama cowok lain, " aku mengangkat kedua alis mendengar penuturan mbak Alya.
" Malah bingung dibilangin! " Katanya. " Cowok kalo marah itu tinggal disenengin aja, mau tau gimana cara nyenengin cowok yang lagi marah? " Aku spontan menganggukkan kepala mendengarnya.
Mbak Alya mendekatkan wajahnya ke telingaku, kemudian membisikkan sesuatu yang membuatku spontan menjauhkan badan darinya. Aku berteriak kesal karenanya, sedangkan mbak Alya malah tertawa terbahak-bahak hingga mengeluarkan air mata. Aku segera bangun dan menghentak-hentakkan kaki, sebab kesal dengan candaan mbak Alya. Apa katanya tadi? Cara nyenengin cowok yang lagi marah itu dengan 'ngasih jatah?'. Hiiyy ... Aku bergidik ketika membayangkan nya.
" Ingat Anty! Cara itu cuma diperbolehkan buat yang sudah halal saja! " Godanya setengah teriak.
Aku segera meninggalkan mbak Alya yang masih saja tertawa sambil menepuk-nepuk pahanya sendiri. Aku terus saja menggerutu sebal, kenapa sih mbak Alya? Selama kehamilan kedua ini kok malah jadi usil.
____________
Saat tiba dikamar aku segera menghempaskan badan diatas kasur, sambil menatap lurus kearah langit-langit kamar, aku terus memikirkan bagaimana caranya memulai bicara dengan Hyan.
Aku segera menegakkan badan ketika tiba-tiba dapat ide, aku menyunggingkan senyum. Mudah-mudahan cara ini berhasil.
Kuambil ponsel dan mencari kontaknya, segera saja kuhubungi melalui panggilan WhatsApp. Dadaku berdebar, panggilan pertama tak diangkat, aku menarik nafas pelan dan kembali mencobanya, hingga dipanggilan ketiga ...
' assalamu'alaikum, ' terdengar suaranya diseberang sana.
' Mmm ... Aku sedang rapat. Kenapa? '
' Ahm ... Kalo gitu nanti saja kuhubungi lagi, ' sahutku.
' oh oke, nanti biar aku yang menghubungi, '
Aku mematikan ponsel setelah menjawab salamnya. Aku memegang dadaku yang berdebar, kenapa harus segugup ini sih?
Aku menunggu telfon dari Hyan dengan bermain ponsel, hingga 20 menit kemudian dia kembali menghubungi ku.
' kenapa tadi? ' dia bertanya dengan nada datar, dan itu membuatku sedikit ragu dengan rencana tadi.
' Mmm ... Aku mau minta tolong, apa nanti siang kamu bisa jemput Umi? Soalnya mas Hanan katanya nggak bisa, lagi banyak kerjaan, " aku mengucapkan nya dengan hati-hati.
' kira-kira jam berapa pulangnya? ' dia bertanya.
' sekitar jam 12 an, kalo kamu nggak bisa biar aku aja, '
' bisa. Kamu jangan keluar, biar aku yang jemput Umi, ' aku bersorak dalam hati saat mendengar jawabannya.
' yaudah, makasih banyak kalo gitu, ' sambil menahan gugup aku menjawab.
' iya, assalamu'alaikum, '
__ADS_1
' wa'alaikum salam. ' aku menjawab salamnya dan mematikan ponsel.
Setelah itu aku tak bisa menyembunyikan rasa senang ku, entah kenapa, bicara dengannya diponsel saja bisa membuatku salah tingkah, padahal yang dibahas bukan hal yang romantis.
___________
Aku baru saja selesai mandi, ada sekarang sudah hampir jam 12, mungkin Hyan sebentar lagi sampai. Aku ngecek ponsel, ingin memastikan apa dia ada menghubungi, ternyata tidak. Hufftt ....
Setelah selesai siap-siap, aku segera menuruni tangga dengan hati yang sedikit senang, rasanya deg-degan banget kalo mau ketemu dia.
Saat sudah tiba ditangga paling bawah, ternyata Shaumi sudah sampai. Dia berlari dan memanggil-manggil bundanya. Duhh ... Apa Hyan sudah langsung balik, ya? Aku sedikit mempercepat langkah hingga ruang tamu, tapi dia tak ada disana. Kenapa tak kutanyakan pada Shaumi saja tadi?
Aku bermaksud hendak keluar ke teras, mungkin mobilnya masih disana. Tapi saat sudah didepan pintu yang terbuka ... bugh! Aku menabrak tubuh seseorang saking tak fokusnya. Saat mendongak pandangan kami bertemu, aku terpaku beberapa saat, jantungku serasa mau copot karena kaget, ditambah lagi memandang langsung matanya dengan jarak yang lumayan dekat seperti ini, kulihat bibir nya menyunggingkan senyum, kami sama-sama mengalihkan pandang saat mendengar deheman ibu.
" Zia! Kamu ngapain lari-larian gitu? " Tanya ibu.
" Eh? Ehm ... Zia ... Zia tadi mau keluar, kirain Hyan sudah balik, " aku spontan mengucapkan itu didepan Hyan, duhh ... Keliatan banget kan kalo lagi nungguin dia! Zia ... Kenapa sih nggak bisa keliatan sedikit gengsian dikit?
" Kamu kok tau Hyan datang? Kalian udah janjian? " Tanya ibu dengan kening berkerut. Mungkin bingung.
Aku menggigit bibir bawahku, dan menggaruk tengkuk, kenapa malah keceplosan, sih? Baru saja hendak menjawab, Hyan sudah duluan bersuara.
" Bukan janjian, sih Bu. Tapi tadi Zia minta tolong jemput Umi. Karena katanya mas lagi nggak bisa, soalnya banyak kerjaan, " Hyan melirikku saat menjelaskan itu pada ibu, duhh ... Bikin tambah salah tingkah saja.
Ibu malah tersenyum mendengar ucapan Hyan dan menatapku curiga.
" Ohya? Memang mas mu sudah bilang, dek? " Tanya ibu menatapku sambil tersenyum.
Aku tak menjawab, tapi malah melihat Hyan yang keliatan bingung dengan pertanyaan ibu, duhh ... Bisa-bisa ketahuan nih, kalo ini cuma akal-akalan ku saja.
Aku kembali dilanda gelisah ketika mobil mas Hanan memasuki perkarangan rumah. Dia segera turun dengan tergesa. Aku menepuk kening. Kenapa nggak briefing dulu sih? Aku bahkan lupa ngasih tau mas Hanan kalo Umi bakal dijemput Hyan. Sekarang berabe kan jadinya? Mas Hanan menatap bingung kearah kami yang masih berdiri didepan pintu.
" Bu, tadi katanya Umi sudah dijemput. Siapa yang jemput, Bu? " Tembak mas Hanan. Aku hanya bisa menahan nafas.
" Loh? Tadi katanya mas sibuk, jadi Zia minta saya yang jemput Umi. Maaf kalo malah bikin mas khawatir, " sahut Hyan sambil menatapku.
" Sibuk? Dek? " Mas Hanan malah ikut mengalihkan tatapannya padaku.
Sudah seperti tersangka saja aku saat ini, semua orang menatap seperti hendak menguliti saja, aku segera mengalihkan pandang dari mereka bertiga. Entah kenapa aku segugup ini.
" Maksud kamu apa, dek? " Mas Hanan masih saja bertanya.
" Ahm ... Anu .. itu ... Apa ya? " Aku malah semakin tak jelas saja, hingga menjawab pertanyaan mas Hanan pun tak mampu.
" Mas tanya, maksud kamu minta tolong Hyan jemput Umi apa? Pake jual nama mas segala lagi, padahal seperti biasa mas bakal jemput Umi, atau kalau emang nggak bisa bakal minta tolong bapak sekalian, kamu pasti punya alasan sendiri, kan? " Mas Hanan menyipitkan mata kearahku, dia terus menatap curiga.
" Ahhaa ... Mas tau! " Mas Hanan berucap sedikit keras, membuat aku yang tadi sesekali menunduk langsung mendongakkan kepala.
" Kamu kangen Hyan, ya? Jadi bikin alasan biar ketemu. Gitu, kan? " Ucapan mas Hanan sontak membuatku membulatkan mata.
Kulihat ibu dan Hyan malah mengulum senyum, mas Hanan malah tertawa dengan ucapannya sendiri. Aku malu sekali, rasanya ingin menghilang dari muka bumi ini, udah ketahuan bohong, digodain langsung depan orangnya lagi. Kebiasaan deh mas Hanan, kalo ngomong suka bener! Eh?
__ADS_1