Lelaki Dinginku

Lelaki Dinginku
bab 14


__ADS_3

__________


Ibu baru saja menghidangkan sop ayam yang tadi dibuatnya, bahkan wanginya menguar ke seluruh ruangan. aku berjalan keruang makan, terlihat diatas meja sudah terhidang semangkok sop yang masih mengepulkan asap.


" Mmm ... wangi banget nih, masakan nini-nini, " godaku sambil terkekeh.


" dasar kamu ini, masa ibu sendiri dibilang Nini-nini, "


" Lah ... emang bener, kan? jadi ceritanya ibu menolak tua, nih? " kataku semakin menggoda nya.


" ihh ... Kamu ini, kebiasaan. ngegodain ibu aja terus, " ucap ibu gemas.


aku tertawa mendengarnya, aku memang suka sekali menggoda ibu. suka aja gitu ngeliat ekspresi kesalnya, tapi kayak nggak bisa marah. kan gemes jadinya.


suara klakson mobil didepan membuat ibu tersenyum senang, ibu berjalan cepat menuju pintu depan. seperti nya dia ingin menyambut mantu dan juga calon cucunya.


sesampainya didepan, ibu segera membuka pintu, dan bersamaan dengan itu mas Hanan membuka pintu samping kemudi, dan menuntun sang istri turun dari sana. ibu segera berjalan kearah mas Hanan dan mbak Alya, lalu mengambil alih mbak Alya dari gandengan suaminya.


ibu dengan hati-hati memapah mbak Alya masuk kerumah, sedang mas Hanan mengeluarkan barang serta tas dari mobil.


Bi Irah datang tergopoh-gopoh, meminta izin untuk membantu membawa barang mas Hanan.


" mas, Umi dimana? nggak ikut kesini? " tanyaku ketika tak mendapati gadis kecil itu.


" Umi lagi dirumah emak bapak, kemarin dibawa pulang pas dirumah sakit, " jawabnya sambil berjalan masuk.


aku hanya membulatkan bibir. sedikit kecewa sebab tak ada yang bisa kucubit dan kuciumi, kan nggak mungkin juga nyubit dan cium mbak Alya, yang ada malah diamuk sama suaminya ntar.


" jemput dong, mas. Zia kan kangen, " rengekku.


" iya, ini juga mas mau langsung jemput, " katanya membuat senyumku merekah.


" Bun, kalo gitu mas jemput Umi dulu, ya? bunda nanti kalo pusing, minta tolong ibu sama Zia aja bawa kekamar. nggak apa-apa kan? " ucap mas Hanan seraya mengusap lembut kepala istrinya.


Mbak Alya hanya mengangguk lemah, kehamilan trisemester pertama ini membuatnya tak punya tenaga, apalagi menurut cerita ibu, semalam dirumah sakit dia sering muntah, katanya juga mual dan pusing.


mbak Alya dipapah ibu agar duduk selonjoran diruang tv, sementara ibu bergegas kedapur, untuk mengambil sop ayam yang sudah dimasak nya tadi.


ibu sudah kembali dengan semangkok sop ayam yang masih panas, juga segelas susu hangat.


" sayang, makan dulu, ya. ini udah ibu bikinin sop ayam. mudah-mudahan bisa masuk, ya? " kata ibu sambil memegang mangkok sop tadi, dan duduk didekat mbak Alya.


ibu dengan telaten menyuapi mbak Alya, sambil terus mengajak sang menantu berbincang, meskipun hanya direspon anggukan, gelengan atau senyuman oleh mbak Alya.


tanpa terasa setengah dari isi mangkok tadi sudah berpindah kedalam perut mbak Alya, setelah itu dia mengatakan sudah cukup. karena tak sanggup makan terlalu banyak, karena takut akan keluar lagi.


kemudian ibu menyodorkan gelas susu tadi ke bibir mbak Alya, dia pun mulai menyesapnya perlahan.


" dihabiskan nak, biar ada tenaganya. juga biar calon cucunya ibu sehat, " kata ibu seraya mengelus lembut perut mbak Alya.


mbak Alya tersenyum dan mengangguk, kemudian mulai meminum lagi susu yang diberikan ibu tadi.


" nanti siang kamu mau ibu bikinin apa lagi? " tanya ibu.

__ADS_1


mbak Alya nampak berpikir, kemudian menggeleng.


" nggak ada, Bu. nanti kalo Alya pengen dimasakin ibu lagi, Alya kasih tau, " ucap nya terdengar lirih.


" yasudah, kalau begitu ibu anter kekamar, ya? biar kamu bisa istirahat. biar nggak pusing duduk terlalu lama, " kata ibu, mbak Alya hanya mengangguk saja.


________


malam ini meja makan hanya diisi oleh aku, Shaumi dan ibu. mas Hanan mengatakan akan makan dikamar saja, sekalian menemani sang istri. sweet banget, sih, mereka. kan jadi pengen, ehh?


makan malam kali ini lebih heboh, sebab ada Shaumi yang berperan. dengan gaya khasnya dia mulai berceloteh, segala hal dibahasnya. bahkan mengatakan sangat senang, sebab diperut sang bunda adiknya sedang tumbuh. aku dan ibu hanya tertawa saja menanggapi celotehan nya.


usai makan malam, Shaumi mengajak ibu menonton. tapi ibu mengatakan sebentar saja, sebab besok dia harus bangun pagi karena sekolah.


" Nini kok sama sih, sama bunda? umi kan mau nontonnya lama, " dia merengek sebab dilarang menonton terlalu lama.


" umi kan besok harus sekolah, kalo Umi nonton terlalu lama, bisa-bisa besok Umi bangunnya kesiangan. terus telat deh, ke sekolah. Umi mau ibu guru marah? " ibu berusaha membujuk sang cucu, aku hanya bisa tersenyum melihat interaksi keduanya.


ibu membawa Shaumi menonton, sedang aku segera mencuci piring.


sesudah menyelesaikan pekerjaanku, aku menyusul keruang tv. ternyata ibu dan Shaumi sedang menonton film kartun dichannel tv khusus anak-anak. aku bergabung dengan duduk disamping Shaumi.


" Umi malam ini tidur sama Anty, ya? " kataku.


tapi dia malah menggeleng.


" Loh, kenapa? bunda kan lagi sakit, mending tidur sama Anty aja, " bujuk ku.


" nggak mau, ah. Umi mau tidur sama Nini aja deh, " jawabnya sambil menggelayut manja pada ibu.


" yaudah deh, terserah. yang penting Umi enggak boleh gangguin bunda dulu, oke? " kataku mencubit gemas pipinya.


dia hanya mengangguk kemudian kembali fokus pada tv didepan kami.


mas Hanan keluar dari kamar, dan menghampiri kami.


" kenapa, mas? " tanya ibu.


" Alya kepengen brownies panggang, Bu. " jawabnya. " dek, tolong bilangin Bi Irah bikinin, ya? " pinta mas Hanan padaku.


aku mengangguk dan hendak bangkit. tapi ibu mencegahku, dia mengatakan biar dia saja yang membuat, tapi langsung dilarang mas Hanan.


" jangan, Bu. ibu istirahat aja, biar Hanan minta tolong bi irah yang bikin, " kata mas Hanan.


" nggak apa-apa kok, mas. lagian bikin brownies itu nggak lama, nanti ibu minta Bi Irah bantuin, jadi mas nggak usah khawatir, " kata ibu menyahuti.


mas Hanan hanya bisa pasrah, dan membiarkan ibu kedapur, sedangkan dia mengajak Shaumi kekamar.


karena ditinggal sendiri, aku memilih naik kekamar saja. tiba dikamar, aku memilih rebahan sambil memainkan ponsel. aku chatingan dengan Nita, dia mengatakan kangen kerja bareng aku lagi.


Nita juga bilang, tidak ada yang bisa dia ajak bergosip saat waktu luang. sebab memang diruangan kami dulu, hanya aku dan Nita perempuan, selebihnya laki-laki. itu yang membuat Nita kewalahan karena tak ada kawan menggibah. makanya sekarang mengajakku menggibah online. hihi


sedang asik menggibah online dengan Nita, tiba-tiba saja ada panggilan masuk, dari ... Hyan? aku mengernyit, tumben sekali dia menelfonku malam-malam begini. aku mengatur nafas, kok tiba-tiba nervous gini, sih?

__ADS_1


' hufftt ' aku menghembuskan nafas sebelum menerima panggilan nya, untuk mengusir rasa gugup yang tiba-tiba menyerang.


" Halo ... " kataku setelah panggilan nya kuangkat.


" assalamu'alaikum ... " ucapnya.


aku menepuk kening, saking nervous nya aku sampai lupa mengucap salam. padahal selama ini, dengan siapapun aku menelfon pasti tak pernah lupa untuk mengucap salam dulu. muka ku memanas, malu sendiri dengan tingkahku.


" ehh? wa-wa'alaikum salam, " ucapku dengan sedikit tergagap.


" bunda akan kerumah besok pagi dengan ayah, tolong disampaikan pada ibu. tadi bunda nelfon ibu, tapi nggak diangkat, " ucapnya langsung pada inti tujuan dia meneleponku.


" ohiya ... nanti aku sampaikan, cuma bunda dan om Hadi? " tanyaku memastikan.


" hmm ... memang siapa lagi? " dia malah balik bertanya.


" Kamu nggak ikut? " tanyaku spontan, membuatku segera menutup mulut. merutuki kecerobohanku dalam hati.


" aku? enggak! " sahutnya diseberang sana.


" ahm ... maksudku bukan kamu, tapi Nayna. ahh ya ... Nayna nggak ikut? " kilahku.


" Mmm ... dia ada kelas pagi, jadi tidak bisa ikut, " katanya.


aku mengangguk, padahal sudah jelas dia tidak bisa melihat.


" yaudah, aku tutup dulu, " katanya lagi.


" ohiya ... assalamu'alaikum, " ucapku.


" wa'alaikum salam, " aku sudah menjauhkan ponsel dari telinga saat ia menjawab salam ku. tapi terdengar dia kembali bicara.


" jangan begadang, selamat malam, " what? aku nggak salah dengar, kan? aku memandangi ponsel yang sudah mati. ternyata dia sudah menutup panggilan tanpa menunggu jawabanku.


hati ku berdesir setelah mendengar kalimat terakhirnya tadi, seperti ada ribuan kupu-kupu yang beterbangan didalam perutku. membuat aku salah tingkah sendiri, aku melempar asal ponselku. ingin berteriak saking senangnya, tapi takut ada yang denger. jadinya aku cuma bisa guling-gulingan di kasur saking senangnya. untung saja aku sedang dikamar, jadi tidak ada yang melihat bagaimana wajahku saat ini. aku yakin, wajahku sudah memerah seperti kepiting rebus, apalagi rasa panas yang menjalar membuat hawa tubuhku panas dingin.


hanya diingatkan jangan begadang dan diucapkan selamat malam saja, sudah membuatku seperti orang sawan. bagaimana nanti kalau dia mengucap ijab kabul, bisa-bisa gigiku kering karena kelamaan nyengir.


aku mengatur nafas, kemudian memukul-mukul bantal dengan gemas, saking senangnya, kemudian berguling lagi, hingga .... dugh! aku jatuh ... dan bersamaan dengan itu, pintu terbuka. wajah ibu menyembul dibaliknya.


ibu kaget aku pun lebih kaget, ibu segera berjalan kearahku, membantuku bangun dari keterpurukan ini, ehh? canda Ding!


" Kamu kenapa? kok bisa jatuh, sih? " tanya ibu setelah memapahku duduk dibibir ranjang.


aku berusaha tidak tersenyum, namun tidak bisa gaiiss ... saking senengnya. bibirku tetap mengukir senyum, malah makin lebar, sampe geter nih, bibir nahannya hahaha.


ibu menatapku kebingungan.


" Kamu ini, ditanya malah senyum-senyum, kenapa? " tanyanya penasaran.


aku mengatakan, kalau baru saja Hyan menelpon, dan mengatakan bunda dan ayahnya akan kesini besok pagi. ibu manggut-manggut sambil tersenyum mendengar penjelasan ku.


" jadi itu yang bikin kamu kesenangan gini? sampe jatuh dari tempat tidur saking senengnya? emang Hyan bilang apa? kok bisa bikin kamu salah tingkah gini? " ibu mengintimidasiku.

__ADS_1


duhh ... nih Nini-nini kok kepo, sih?


__ADS_2