
______________
Setelah pertemuan hari itu, aku setiap hari menjemput serta mengantarnya pulang. Tak ada bincangan berarti, aku tak pernah memulai membuka suara, karena terlalu gengsi, takut ketahuan kalau perjodohan ini memang sangat kuinginkan. Biasanya Zia yang selalu memulai pembicaraan, tapi mungkin karena tanggapanku yang terlalu kaku atau cuek, dia seperti menyerah. Mulut rasanya gatal ingin membahas ini itu dengannya, apalagi membahas masa depan! Eakk ...
Tapi diam-diam aku selalu memandangnya, entah itu dari spion depan, atau hanya melirik sekilas. Tuhan ... Kenapa makhlukmu satu itu sangat menggemaskan? Wajahnya adem untuk dipandang, bibirnya yang tipis itu sangat indah saat tersenyum, suaranya yang lembut, matanya yang bulat ... Benar-benar tak ada alasan untukku tak mencintainya. Aku berjanji untuk tak akan meninggalkan nya sampai kapanpun, sudah cukup waktuku terbuang selama ini, sekarang dia sudah kutemukan bagaimana pun caranya, aku harus bisa memaksa bunda agar segera menikahkan kami, aku tidak mau dia jadi milik orang lain. Bukankah perempuan yang hampir mendekati sempurna sepertinya pasti banyak yang menyukai?
______________
Setelah beberapa hari jalan dengannya, ya meskipun hanya mengantar jemput, sih. Hari ini aku izin padanya tak bisa menjemput beralasan karena ada urusan, padahal aku ada janji dengan bunda, ayah dan juga Nayna. Aku ingin membahas bagaimana kelanjutan hubungan kami.
aku sudah memintanya untuk tak membawa mobil agar pulang bisa bareng. Dia hanya mengatakan iya tapi malah bawa mobil sendiri. Dasar cewek!
Aku yang awalnya tak tau dia bawa mobil dengan santainya melaju menuju kantornya dengan hati riang, saat sudah tiba diparkiran, seperti biasa aku segera menghubungi Zia. Tapi beberapa kali kuhubungi tak kunjung dijawab, aku kesal sendiri, ingin masuk juga tak mungkin. Kucoba menghubungi lagi, tapi hasilnya tetap sama.
Akhirnya dengan terpaksa aku menghubungi Bunda, meminta nomor telepon ibunya Zia.
' Assalamu'alaikum, Bu. Ini Hyan, apa Zia sudah pulang? '
' ohh ... Yasudah, Bu. Kalo gitu Hyan kesana aja, ya. ' aku segera mematikan ponsel setelah mengucap salam.
Dengan hati dongkol, aku kembali masuk kedalam mobil dan melajukan nya dengan kecepatan tinggi menuju rumahnya. Bisa-bisanya dia malah membawa mobil, sudah dikasih tau biar aku yang menjemput, sekarang malah belum pulang sama sekali, kesal sekali aku. Keluyuran kemana dulu dia? Jam pulang kantor pastinya sudah berakhir setengah jam lalu, dan selama aku menunggu disana batang hidungnya juga tak keliatan. Mana ditelfon nggak diangkat-angkat lagi. Aku menggerutu kesal sambil menyetir, nggak tau apa dia kalau aku udah kangen? Padahal baru tadi pagi kami nggak berangkat bareng.
__ADS_1
Aku menghentikan mobil didepan rumahnya, dan segera turun. Ternyata ibu sudah menunggu diteras, aku langsung disambut ramah olehnya.
" Zia nggak kasih tau kalau dia bawa mobil? " tanya ibu setelah aku menyalami nya.
" Enggak, Bu. Malahan tadi pagi Hyan udah kasih tau kalo pulang bakal dijemput, dia juga bilang iya aja, " jawabku dengan sopan. Pastinya sambil menahan kesal.
" Aduhh ... Maaf, ya nak. Kalo gitu kita tunggu Zia didalam aja, ya. Sambil ibu bikinin teh, " aku hanya mengangguk mendengar ajakan ibu, kemudian mulai melangkahkan kaki mengikuti langkah ibu.
" Tunggu sebentar, ya. Ibu ambil minum, dulu. "
" Tidak usah repot-repot, loh Bu. " sahutku.
" Nggak repot, tunggu sebentar, ya. " Aku mengangguk saja, kemudian ibu segera berlalu kedalam.
Kami berbincang ringan, sebentar-sebentar aku melirik ponsel yang sengaja kuletakkan diatas meja, takutnya nanti balasan pesan dari Zia.
Namun hingga isi gelasku habis pun tak ada notifikasi pesan apapun darinya, aku hendak menyerah dan akan pamit pulang, namun suara mesin mobil yang berhenti dihalaman membuatku mengurungkan niat.
Dia masuk setelah mengucap salam, setelahnya kami ditinggal berdua, ibu pamit ingin kekamar katanya.
Tanpa basa-basi dia langsung bertanya maksud kedatanganku, nggak tau apa dia kalau aku sejak tadi menunggu dikantor nya.
__ADS_1
" Kamu kenapa nggak ngasih tau bawa mobil? " tanyaku serius.
" Emang kenapa? Kan kamu yang bilang nggak bisa jemput, " emang, ya! Cewek itu nggak pernah salah. Dahlah ... Untung cinta! Ehh!
" Iya, tapi kan aku sudah bilang, pulangnya aku jemput. Untung aja tadi nelfon ibu, jadi tau kalo kamu bawa mobil, " sahutku kesal.
" Iya, masalahnya dimana? " Lah ... Malah nanya masalahnya dimana! Aku kan kangen pengen ketemu, padahal tadi udah semangat 45 mau jemput, ehh tau-tau nya malah bawa mobil.
" Masalahnya, aku harus bolak-balik, dari kantor ke kantor mu, ditungguin 20 menit nggak keluar-keluar, ditelfon nggak diangkat, jangan bilang hape mu silent lagi! " Karena gengsi kujawab saja begitu, padahal pengen bilang kangen.
" Yaa ... e-emang aku silent, soalnya sibuk! " Aku tau dia pasti cuma beralasan.
" Makanya, sesibuk apapun komunikasi itu penting, coba aja kamu diposisi aku, nunggu hampir setengah jam, gak taunya orang yang ditunggu udah pulang, gimana? " tanyaku dengan kesal.
" Terus, kamu dari mana? Kenapa malah baru nyampe? " tanyaku lagi.
" Abis anterin Nita, kalo emang takut bolak-balik, ngapain malah kesini, bukannya pulang. " dia bertanya dengan nada yang terdengar mengejek. Pertanyaan nya malah membuatku salah tingkah dan terpaksa mengatakan hanya ingin memastikan dia selamat sampe rumah, karena itu termasuk tanggung jawabku, karena sudah bakal antar jemput dia. Dia malah mencibirku, dan mengatakan kalau aku khawatir, emang sih! Tapi masa iya harus secepat itu kuakui, lantas saja kukatakan dia ke geer an. Dia malah mendelik dan menatap tajam kearahku, bukannya takut aku malah makin cinta. Gemes juga liat ekspresi kesalnya itu.
Ternyata dia ngeliat aku ke kafe tadi pagi, di juga menyangka kalo aku sedang jalan bareng cewek, kapan coba aku pernah jalan dengan cewek selain dia, tapi hanya demi melihat dia cemburu atau tidak, terpaksa saja aku berbohong, seolah-olah yang tadi itu memang kekasihku, nggak taunya Nayna!
" Kamu balik, gih. Aku mau mandi dulu, " katanya seraya bangkit, raut wajahnya juga sudah berubah, seperti orang yang sedang kesal atau lebih tepatnya cemburu.
__ADS_1
" Oke, bilangin ibu aku langsung balik, ya! " pamitku sambil memasang senyum manis untuknya, bukannya membalas senyumku dia hanya mengangguk dengan tampang datar, setelah aku keluar dia segera menutup pintu dengan sedikit keras, cemburu tuh pasti! Aku senyum-senyum sendiri mengingat bagaimana ekspresi nya tadi saat menduga bahwa aku sedang jalan dengan kekasihku. Zia ... Zia ... Aku belum pernah pacaran dengan perempuan mana pun, hanya demi menunggumu ... Tidak ada perempuan yang lebih menarik dimataku selain ' Maryam Sezia Dianta ' .