
_____________
" Hyan, kamu bisa antar bunda bentar, nggak? " tanya Bunda saat kami baru saja selesai sarapan.
" Antar kemana, Bun? Kenapa nggak bareng ayah aja? " Aku bertanya sambil melirik ayah.
" Ayah nggak bisa, ada klien yang mau bertemu pagi ini. Mending kamu yang antar, kan lagi nggak banyak kerjaan, " aku menghela nafas mendengar jawaban ayah.
" Nayna aja deh, Bun. Hyan ada urusan penting, " sahutku, malas sekali mengantar ibu-ibu pergi. Apalagi kalau bertemu dengan teman-temannya, yang dibahas pasti kapan nikah, atau yang paling parah ngajakin jadi mantu. Mereka kan nggak tahu aku lagi nyari gadis yang sejak SMP kukagumi, entah kemana dia sekarang.
Gadis cantik, hidung kecil, bibir tipis, pipi yang sedikit chubby, alis mata yang tebal, serta mata bulatnya menambah kesan cantik untukku. Jika saja aku berani mendekatinya dulu, mungkin tidak akan kulepaskan hingga sekarang. Foto-fotonya saat SMP hingga SMA tersimpan rapi disebuah album laptopku, kalian bertanya aku dapat darimana? Jelas saja dari media sosialnya, mana berani aku minta langsung! Gengsi lah.
Aku sudah berulangkali mencari akun sosmednya, saat kujumpai akun dari aplikasi biru nya, namun sepertinya sudah lama sekali tidak digunakannya, fotonya pun sudah banyak yang hilang, untung aku bergerak cepat dulu jadi bisa disimpan untuk dipandang setiap malam hahaha.
Akun Instagram nya juga sudah kujumpai, tapi sayang sekali, tak ada informasi yang kudapati dari sana, karena akunnya diprivat, pengen follow tapi takut ketahuan.
" Hyan! Gimana? " sentak bunda membuyarkan lamunanku.
" Hah? Iya, iya, " sahutku.
" Mikirin apa, sih? Cewek, ya? " ledek Nayna, siadik cerewetku.
" Gimana mau mikirin cewek, dideketin aja langsung kabur! " timpal bunda yang disambut tawa ayah dan juga Nayna.
" Kamu normal, kan Hyan? " Pertanyaan bunda membuat tawa Nayna makin menjadi, begitu juga dengan ayah dan bunda.
Hhhh keluarga macam apa ini? Suka sekali membully anggota keluarga sendiri. Aku hanya diam pura-pura tidak mendengar ucapan mereka.
" Normal kok, Bun. Orang foto cewek aja banyak dilaptopnya! Tapi kayaknya bukan foto baru sih, kayaknya mas lagi nyari cinta lamanya tuh, Bun! " Ember sekali gadis ini! What? Dia tahu darimana aku menyimpan foto perempuan?
Bunda dan ayah saling mengulum senyum, sedangkan aku sedang memikirkan darimana Nayna tau.
" Kamu buka laptop, mas? Sembarangan banget, sih?! " Nayna hanya mengatupkan tangannya sambil menahan tawa. Sedangkan aku hanya bisa mendengus.
" Kasih tau bunda, siapa perempuan beruntung itu? " Bunda kembali menggodaku.
" Udah, ah! Jadi berangkat nggak, nih? Kalo enggak Hyan kekantor aja! " ucapku seraya bangkit dari kursi.
" Iya, iya! Bunda jalan dulu, yah! " pamit bunda dan mencium punggung tangan ayah.
Aku segera keluar setelah melakukan hal yang sama dengan bunda. Saat sampai diluar, aku langsung membuka pintu mobil dan duduk dibalik kemudi, disusul bunda disampingku.
Langsung saja kulajukan mobil menuju tempat tujuan bunda. Selama didalam mobil bunda tak berhenti berceloteh, dia juga menanyakan tentang perempuan yang dikatakan Nayna tadi, tapi aku enggan untuk menjawab nya.
__ADS_1
" Kamu Bunda jodohin aja. Temen Bunda ada yang punya anak gadis, cantik lagi. " Aku melirik sekilas kearah bunda yang nampak antusias, tapi tak kutanggapi sama sekali.
" Gimana? " Bunda bertanya lagi.
Hhhh pertanyaan yang sama, yang selalu muncul dari mulut wanita yang sudah melahirkanku itu.
" Emang jaman apa sekarang, main jodohin aja! " sahutku.
" Ya dari pada kamu nggak nikah-nikah, bunda udah tua loh, udah kepingin gendong cucu, " aku menggelengkan kepala, tak habis pikir. Kenapa sih emak-emak suka sekali beralasan pingin gendong cucu? Kenapa nggak nambah anak aja? Eh!
" Kenapa nggak bunda aja yang nambah anak? " tanyaku spontan. Bunda melayangkan pukulannya dilenganku, membuatku terkekeh karena reaksinya.
" Emang kamu nggak malu udah umur segini bukannya punya anak, malah punya adik? " omel bunda dengan bibir yang sudah maju beberapa senti.
Aku hanya tertawa melihatnya, bunda bersungut-sungut karena candaanku tadi. Dia hendak membuka mulut lagi, tapi terhenti saat mobil berhenti dihalaman sebuah kafe.
" Nggak lama, kan? Hyan tunggu dimobil aja, " kataku.
" Kamu ikut kedalam aja, yuk! " ajak bunda yang langsung kutolak dengan menggelengkan kepala.
Akhirnya bunda keluar setelah mewanti-wanti agar aku tetap menunggu disini, karena katanya dia hanya sebentar.
Sekitar 20 menit menunggu, akhirnya bunda keluar juga dari kafe itu, dia langsung masuk setelah membuka pintu.
" Sekali-kali bunda minta tolong malah mendengus gitu, makanya nikah! "
Lah? Apa hubungannya coba?
Karena tak mau membuatnya kesal, aku memutuskan tetap mengantarnya, dengan arahan bunda, aku melajukan mobil kerumah yang bunda katakan sebagai temannya itu.
" Beneran ini rumahnya? " Aku bertanya setelah bunda meminta berhenti didepan sebuah rumah.
" Iya, bener. Ayok turun! " ucap bunda sambil melepas seat belt. Aku mengerutkan kening.
" Kamu harus turun pokoknya! Cepat! " ajak bunda setengah memaksa, mau tak mau pun aku tetap turun mengikuti nya, jika tak dituruti bisa-bisa bakal ngoceh sepanjang jalan kenangan. Dasar wanita tua! Untung sayang.
Entah kenapa jantungku tiba-tiba berdegup kencang, sudah seperti orang yang baru habis lomba marathon aja.
Bunda mengetuk pintu dan mengucapkan salam beberapa kali, tak lama ada yang menyahut dari dalam dan pintu langsung terbuka.
" Maaf? Mau cari siapa, buk? " Wanita paruh baya yang sepertinya pekerja dirumah ini bertanya.
" Saya buk Amel, benar ini rumahnya buk Tari, kan? "
__ADS_1
" Ohh ... Benar, mau cari ibuk? " Bunda langsung menganggukkan kepala.
Kami dipersilahkan menunggu sebentar, sambil sang art memanggil majikannya kedalam. Bunda sudah duduk dikursi, sedangkan aku hanya berdiri membelakangi pintu.
" Buk Amel? Kenapa nggak langsung masuk, buk? Saya kira siapa, " sambutan yang sangat baik diberikan tuan rumah.
" Nggak apa-apa, buk. Ohya ... Kenalin, ini Hyan anak saya, " kata bunda seraya menarik lenganku agar mendekat.
Aku tersenyum kikuk, apa coba maksud dan tujuannya, tercium bau-bau perjodohan, nih! Pokoknya nggak bisa! Aku nggak akan menerima jika ini memang perjodohan, aku akan mencari cinta pertamaku dulu, jika memang dia sudah berkeluarga atau ada yang punya, akan kurebut dia! Eh? Hahha.
" Hyan, Bu. " Aku menyalami tangannya agar terlihat sopan.
" Ganteng, ya buk? Besanan bisa, nih! " Aku hanya bisa menyunggingkan senyum palsu.
" Itu juga yang lagi saya pikirin, buk! " Bunda menyahut heboh.
" Yaudah, kalau gitu didalam saja ngobrol nya, biar lebih enak, " ajak bu Tari yang langsung diangguki bunda.
Aku hanya bisa tersenyum canggung, duhh bunda ini. Dikira anaknya nggak bisa nyari sendiri apa? Kayak bujangnya ini nggak laku aja! Huhhh.
Aku melangkahkan kaki mengikuti dua wanita didepanku itu, kami diajak duduk diruang tamu dengan nuansa warna putih dan abu-abu, terlihat sangat nyaman dan sejuk meski rumahnya tak sebesar rumah kami.
Bu Tari sudah izin kebelakang, ingin membuat minum untuk kami katanya. Sepeninggal tuan rumah, aku dan bunda berbincang ringan, aku bertanya kenal dari mana bunda dan Bu tari, ternyata mereka teman satu pengajian.
Aku mengedarkan pandangan pada ruangan yang sangat nyaman untuk dipandang ini, perabotan diatur sesuai tempatnya, tiba-tiba saja mataku tertubruk pada dinding dekat tangga yang berada disamping ruang tamu. Aku memperhatikan dengan seksama foto yang tertempel disana, apa aku salah liat? Aku sampai mengerjapkan mata berkali-kali, tapi aku yakin aku tak salah lihat. Foto yang tertempel disana sama dengan foto yang tersimpan di laptopku, foto yang paling sering ku pandangi diantara foto-foto lainnya. Karena difoto itulah sigadis impianku tersenyum begitu lepasnya, foto itu diambil dengan gaya candid. Gadis yang mengenakan seragam putih abu-abu itu sedang memegang setangkai mawar putih, dan diambil dari samping membuatnya terlihat alami, ahh ... Nggak tau juga jika memang itu gaya arahan fotografer nya, yang pasti disana dia terlihat sangat cantik, aku memandangi tak berkedip, masih tak menyangka akan menemukan yang selama ini kunantikan, apa mungkin ini adalah hasil dari sepertiga malamku?
Bunda menyenggol lenganku, membuatku sedikit tersentak. Tiba-tiba saja bibir ini ingin sekali menyunggingkan senyum.
" Kamu kenapa? " tanya bunda dengan dahi berkerut.
" Bun, yang difoto itu anaknya buk tari? " tanyaku berbisik sambil menunjuk dengan tatapan mata. Bunda melihat kearah yang kutunjuk.
" Kayaknya, sih. Cantikkan? " Aku mengulum senyum mendengarnya, bukan cantik lagi bundaa ... Tapi cantik pake banget!
" Tuh! Wajahmu aja udah memerah gitu! Kamu suka? " Aku segera mengalihkan pandangan dari foto itu dan menggaruk tengkuk yang tidak gatal. Ketahuan deh!
Obrolan kami terhenti saat Bu Tari datang dan membawa nampan yang berisi tiga gelas teh panas dan beberapa cemilan. Dia mempersilahkan agar kami mencicipi suguhannya.
Aku tiba-tiba saja bersemangat sekali saat ini, bibirku juga tidak berhenti menyunggingkan senyum, Tuhan ... Baru juga liat fotonya! Gimana kalau orangnya langsung?
" Maaf, Bu tari. Kalau saya lancang, tapi saya ingin bertanya, apa anak ibu sudah menikah? " tanya bunda yang membuatku sedikit berdebar menunggu jawabannya.
" Oh ... Iya Bu. Anak saya yang pertama sudah menikah, sudah punya anak juga, "
__ADS_1
Degh! Senyumku yang semula mengembang sempurna langsung memudar saat itu juga.