Lelaki Dinginku

Lelaki Dinginku
bab 4


__ADS_3

Haii gess.. ada yang suka gak, sih sama cerita Hyan dan Sezia? Kalo suka boleh like dan komen, ya 🫢😚


_________


Aku mulai menapaki anak tangga dengan sedikit tergesa, takut tidak sempat ikut sarapan, setelah sampai dianak tangga terakhir aku terkejut sebab melihat seseorang sedang bercengkrama dengan Ibu diruang tamu.


Dia?


Keduanya menoleh ke arahku, aku yang sempat tertegun sejenak segera menetralkan diri agar tidak terlalu kentara.


" kebetulan Zia udah selesai, kita sarapan bareng, aja, ya, "


" yuk, nak Hyan, " ajak ibu,


" ehh.. jangan Bu, dia pasti udah sarapan, kok, ntar kelamaan, takutnya macet, mending berangkat sekarang aja, ya, " ucapku, sebenarnya hanya alibi ku saja, tidak etis saja kurasa jika harus sarapan bareng.


" Loh, masih ada waktu, kok, kamu kok malah buru-buru, Zi. " ucap ibu ketika mendengar jawabanku.


" takutnya telat, kan dia juga harus anter Zia sekalian, kasian lah, Bu, " aku masih saja beralibi.


" enggak, kok, lagian aku juga belum sarapan, sebab tadi langsung berangkat kesini, " ucapan Hyan malah membuat ku melongo tak percaya.


" nah.. kan, udah yuk, jangan kelamaan melongonya, entar laler singgah, loh, " kata ibu sambil memukul lengan ku, membuat aku segera menutup mulut, sedangkan Hyan terlihat tersenyum meski tipis sekali, ahh.. sungguh, itu malah membuat jantungku berdebar tak karuan.


ibu segera mengajak Hyan keruang makan, sedang aku malah ditinggal, huhh.. Ibu, anaknya sendiri malah dilupain.


Dimeja makan sudah terhidang beberapa menu, ada sambel cumi yang sudah ku request tadi, cah udang brokoli, ikan goreng dan juga lalapan serta sambel terasi, tidak lupa juga beberapa buah buahan.


Hyan segera menarik kursi setelah dipersilahkan oleh Ibu, sedang aku menarik kursi di samping ibu.


terlihat Hyan mulai menyendok kan nasi serta lauk ke piringnya, dan makan tanpa canggung, malah sesekali bercengkrama dengan ibu seolah sudah biasa, malah disini aku yang terlihat seperti tamu, aku hanya bisa makan dalam diam, sesekali melirik kearah pria didepan ku yang sedang asik mengobrol dengan Ibu.


aku segera menyudahi sarapan ku dengan meminum air putih, dan ternyata ibu juga Hyan pun sudah selesai, aku bangkit segera menuju dapur untuk mengambil bekal yang sudah disiapkan Bi Irah.


" Bi, udah disiapin yang Ibu minta tadi? " suara ibu mengejutkanku.


" sudah Bu, "


" Ini, Bu, " jawab Bi Irah sambil menyodorkan tempat bekal kearah Ibu.


" Buat siapa, Bu? " Tanyaku kebingungan menatap tempat bekal yang sudah berpindah ketangan Ibu.


" Nih, nanti kasih sama Hyan, ya, kebetulan dia juga suka sambel cumi, " jawaban Ibu membuatku memutar bola mata,


" Gak ,ah, ibu serahin sendiri aja, " balasku hendak berlalu, tapi urung sebab Ibu mencekal pergelangan tangan ku.


" Zia, jangan gitu, lah, "


" Udah, nih, pegang, Ibu kebelet, " kata ibu lagi sambil menyodorkan tempat bekal tersebut ketangan ku, kemudian ia segera berlalu sambil memegangi perutnya, aku tau itu pasti hanya alibinya saja, huhh... Dasar Ibu!


" Bilangin Hyan, Ibu lagi kekamar mandi, kalian langsung berangkat aja, ntar telat, " ucapnya sebelum menutup pintu kamar mandi, aku hanya bisa mendengkus kasar.


Aku kembali ke meja makan untuk mengambil map dan tas ku, setelah itu langsung keluar menuju teras, ternyata Hyan sudah menunggu disana.


Dia segera bangkit dan memasukkan ponsel nya kedalam saku setelah sadar kedatangan ku.


" Udah, ? Ibu mana? " Tanyanya.


" Ibu lagi dikamar mandi, langsung berangkat aja, katanya, " jawabku membuatnya mengangguk kan kepala.


Dia segera berjalan menuju mobilnya, membuka pintu dan segera masuk tanpa basa-basi dan membukakan pintu untukku, duuhh.. Zia, apa, sih, yang pikirkan?


Akupun segera menyusulnya, kemudian membuka pintu sampingnya dan langsung duduk disana.


Dia menghidupkan mesin dan mulai melajukan mobilnya meninggalkan perkarangan rumah.


Selama perjalanan kami hanya saling diam, tak ada satupun diantara kami yang ingin membuka suara, sungguh canggung berada di situasi seperti ini, tau gini mending berangkat sendiri aja, pikirku.


Perjalanan menuju kantor terasa jadi lebih lama bahkan membosankan, sebab berada satu mobil dengan orang yang baru kenal. Aku menyandarkan punggung dan menatap kearah samping untuk mengusir bosan.


" PT Royal Kedaung, kan? " Tanyanya tiba-tiba,


Aku hanya menoleh sekilas dan mengangguk, padahal ingin bertanya tau dari mana dia tempatku bekerja, aku kembali memalingkan wajah.


" Aku tau dari Bunda, " katanya lagi seolah tau isi hatiku, ohh .. sudah pasti Ibu yang memberi tau Tante Amel.


" Ohh .. iya, " jawabku singkat.


Mendengar jawabanku dia kembali fokus menyetir, hingga kami tiba di kantorku.


Aku merapikan tas, sebelum turun kuserahkan padanya bekal yang dititipkan ibu,


" Ini, dari ibu, " ucapku seadanya,


" Terimakasih, " jawabnya sambil tersenyum tipis,

__ADS_1


Aku hanya mengangguk dan segera turun, sebelum menutup pintu aku kembali melongok ke dalam.


" Terimakasih banyak, " kataku,


Aku segera menutup pintu, saat berbalik terdengar dia kembali memanggilku.


" Zia, " serunya membuatku kembali membalikkan badan,


" Nanti aku jemput disini, " singkat padat dan jelas, dia segera menutup pintu mobil sebelum sempat mendengar jawabanku.


Aku hanya mendengkus dan berjalan menuju kantor.


_________


" Pagi, bebb... "


Suara cempreng Nita menyambutku ketika membuka pintu ruangan, aku tersenyum seraya menggeleng, maklum dengan tingkah sahabatku satu ini.


" Bawa bekal, apa hari ini ? Aku laper tau, ga sih? Mana dikos an stok makanan cuma tinggal telor sama mie instan, doang, " cerocosnya saat aku menjatuhkan bokong dikursi.


" Emang biasanya punya stok apaan lu dikosan? " Ejekku padanya, dia malah memutar bola mata mendengar ejekanku.


" yeee... Biasanya juga kalo lagi banyak duit, atau orang tua lagi kagak banyak kebutuhan, gue juga nyetok bahan makanan kali, gitu amat, sih, lu, " balas Nita sambil melempar ku dengan kertas buku yang dia buat jadi bulatan.


Aku yang terkena lemparannya hanya bisa terkekeh, Nita memang tinggal ngekos disini, sebab dia merantau dan keluarganya tinggal dikampung. Nita sama denganku, dia juga sudah kehilangan sang Ayah, bahkan sejak dia masih SMA, sebab itu dia yang menjadi tulang punggung dikeluarganya apalagi dia sebagai anak sulung. Sebenarnya ibunya juga bekerja sebagai buruh cuci gosok dikampung, namun, karena kebutuhan rumah jauh lebih besar dibanding penghasilan, Nita memutuskan untuk merantau ke Jakarta, demi bisa memenuhi kebutuhan ibu serta adik-adiknya dikampung.


" Aku bawa sambel cumi, nih, ntar kita makan bareng, ya, " ujarku, mata bulatnya langsung berbinar ketika mendengar ucapanku,


" Sip, gitu, dong,"


" Ngasih makan anak yatim itu pahalanya besar, loh, sering-sering aja, ya, Zi? " Kelakarnya setengah bergurau.


" Ehhh... Emang yang anak yatim lu doang? Gue juga kan sama, gimana sih, lu?"


" Hhe..hhe.. kan beda, lu mah yatim, tapi berjaya, lah gue? " Kelitnya membuatku terbahak.


" Udah, ah, ada-ada aja lu,"


" Gue keruangan Buk Des, dulu, mau nganterin berkas, " pamitku padanya,


" Okey.. " sahutnya dan kembali melanjutkan pekerjaan nya.


________


Karena malas bergerak kekantin, akhirnya aku dan Nita memutuskan untuk makan diruangan saja, tentu saja setelah aku pesan makanan tambahan serta minuman.


" Zi, kamu gak pengen nikah, gitu? " Celetuknya tiba-tiba membuatku spontan menghentikan kunyahan dan menelan nya dengan cepat, kemudian meraih jus jeruk dan meneguknya beberapa kali,


" Kenapa? Kok tiba-tiba aja nanya gitu? Emang kamu udah kepikiran mau nikah? " Candaku sambil menatapnya.


" Pernah sih, kepikiran pengen nikah, biar ada yang nafkahin, jadinya kan, aku gak perlu kerja, capek juga gini terus, Zi, "


Kelakarnya sambil kembali memakan nasinya.


" Kamu punya pacar? Minta dia nikahin lah, " timpal ku,


" Emang kamu pernah liat aku jalan sama cowok? Mana ada aku punya pacar, lagian cowok mana sih, yang mau sama cewek miskin kayak, gue, mana harus ngehidupin keluarga, lagi, " balasnya dengan mulut penuh.


" Ehh... Sebenarnya ada sih, cowok yang aku suka, " sambungnya setelah menelan kunyahan nya.


" Oh, ya? Siapa? Cerita dong, kali aja cocok, " tanyaku antusias.


" Mas mu, " sahutnya cepat dan terbahak, sedang aku langsung mendelik kesal.


" Becanda doang, Zi, " lanjutnya lagi.


" Becanda mu gak lucu, " sungutku.


" Hahaha... yaa maaf, "


" Tapi, kalo mas mu pengen nyari istri kedua, kabarin gue, ya? Gue udah pasti mau, kok, kalo lakiknya mas mu, " celetuknya lagi dengan senyuman menyebalkan.


Aku yang benar-benar kesal kali ini, langsung menggetok kepalanya dengan pulpen yang ada dimeja, sedang dia hanya mengaduh kecil sambil tertawa.


" Jangan harap gue bakal mau kenal lagi sama, Lo! " Cetus ku kesal, dia memang paling bisa buat aku emosi, apalagi dia tau aku memang sangat tidak suka jika menyangkut orang ketiga.


" Ihh.. becanda atuh,bebb.. amit-amit jabang bayi dah gue jadi pelakor, " tukasnya.


" Ya makanya, becandanya jangan gituan, perkataan adalah do'a tau, " ucapku lagi masih dengan rasa kesal.


" Iya iya, sorry, " sahutnya dengan wajah memelas membuatku sedikit melupakan kekesalan.


" Iya, gue maafin, dah, bentar lagi jam istirahat Abis, " ucapku sambil membereskan kotak bekal dan membuang sampah makanan dan minuman yang tadi kami pesan, dibantu Nita.


________

__ADS_1


Aku memasukkan ponsel kedalam tas, dan membereskan sisa pekerjaan tadi dan menyusun nya dimeja kerjaku.


" Gue nebeng, ya, beb, " ucap Nita setelah selesai beberes.


" Emm... Hari ini gue gak bawa mobil, Nit, sorry, yah, " jawabku ragu,


" Loh, emang mobil Lo kemana? " Tanyanya lagi,


" Ya gak kemana-mana, dirumah, "


" Tapi tadi gue dijemput.. "


" Sama? " Tanyanya bingung.


" Ahh... Jangan-jangan dijemput cowok Lo, ya? Lo udah punya pacar? Siapa? Kok gak pernah cerita ke gue, sih? " Dengan suara cempreng nya, dia meghujani ku dengan pertanyaan nya, membuat beberapa orang disekitar kami menoleh, membuat aku segera menunduk kan pandangan, malu, dan segera berlalu tanpa menjawab Nita.


" Ihhh.. kok gue ditinggal, sih, "


"Zi, tungguin, " teriakan Nita memekakkan telinga, aku berlari kecil menuju parkiran.


Sesampainya diparkiran, Nita memukul pundakku, kesal sebab kutinggal begitu saja.


" Lo beneran? Gak mau cerita ke gue? Gue merajuk, loh, " rajuknya.


" Apa yang harus gue ceritain, Nit? " Aku makin menggodanya.


" Pura-pura gak tau lagi, Lo dijemput siapa tadi pagi? Terus pulangnya gimana? Dijemput lagi gak? " Tanya nya panjang lebar.


" Pertanyaan Lo banyak banget, gue jawab yang mana dulu, nih? " Lagi lagi aku menggoda nya.


" Jawab aja, kali, Zi, " Nita makin bersungut-sungut, membuatku sontak tertawa.


" Sebenarnya, tadi pagi itu, gue... "


Pembicaraan ku terhenti saat mendengar dering ponsel, aku segera merogoh tas dan melihat siapa yang menelepon, nomor tak dikenal? Aku segera mengangkat nya siapa tau penting.


' Assalamu'alaikum, dengan siapa? '


' Hyan, ' jawabnya singkat,


' aku udah diparkiran, ' sambungnya lagi.


' oke, aku kesana, ' aku segera mematikan ponsel tanpa menunggu jawaban nya, dan berjalan sambil celingukan mencari mobilnya.


Tiba-tiba sebuah mobil berhenti didepan ku sambil membunyikan klakson nya, dia membuka kaca dan melongok kan kepalanya,


" Masuk, " katanya yang terdengar seperti perintah,


Aku melihat kearah Nita yang kebingungan,


" Siapa? " Ucapnya setengah berbisik,


" Nanti aku ceritain, aku balik dulu, ya, " balasku dengan berbisik juga,


Dia menyatukan ibu jari dan telunjuk nya membentuk ' oke '.


" Tapi ingat, Lo hutang cerita ke gue, " bisiknya lagi, aku mengangguk dan segera masuk ke mobil.


________


Didalam mobil, kebisuan kembali mendominasi, aku berdehem untuk mengurangi kecanggungan.


" Baru balik kerja, juga? " Tanyaku basa basi,


" He'em... " Dia hanya menjawab dengan gumaman.


" kerja dimana? " Aku mencoba bertanya lagi,


" PT Wijaya Digital, " jawabnya singkat padat jelas, aku hanya mengangguk singkat mendengar jawaban nya.


Setelah itu kami hanya bisa saling diam lagi, hingga mobil terus melaju dan tiba dihalaman rumah, aku segera bersiap turun, saat membuka pintu terdengar suara dinginnya bertanya,


" Tiap hari pulangnya jam segini, kan? " Tanyanya datar tanpa menoleh padaku,


" Iya, "


" Aku turun dulu, makasih banyak, ya, " dia hanya menoleh dan mengangguk.


Aku hendak segera turun saat tangannya memegang lenganku, spontan kualihkan wajah pada nya,


" Ehh ... Em.. sorry, " ucapnya gugup sambil melepas tangan nya dari lenganku, sedang aku kembali memalingkan wajah yang ku yakini sudah memerah,


" Aku cuma mau balikin ini, bilangin makasih ke Ibu, " sambungnya sambil menyodorkan kotak bekal kearahku, segera kuraih kotak bekal tersebut dan turun dengan tergesa, kembali kututup pintu mobil dan berlari menuju rumah tanpa melihat lagi kebelakang, takut dia menyadari kalau ada yang sedang salah tingkah.


_______

__ADS_1


Cieee.... Ada yang salah tingkah nih ges...


Lanjut gak, nih?


__ADS_2