Lelaki Dinginku

Lelaki Dinginku
bab 15


__ADS_3

__________


Sejak kejadian semalam, aku jadi bulan-bulanan ibu dan mas Hanan. Bahkan mbak Alya pun ikut menggodaku, meskipun masih terlihat lesu.


Pagi-pagi sekali ibu sudah sibuk didapur, dibantu Bi Irah. Saat kutanya, katanya ingin membuat camilan, untuk disuguhkan pada om Hadi dan bunda nanti.


" Zi, tolong anterin susu sama roti ini kekamar mbakmu. Kali aja dia udah lapar, " pinta ibu.


Aku membawa nampan yang sudah diisi ibu dengan segelas susu hangat dan beberapa potong roti selai. Sesampainya dikamar, ternyata mas Hanan sedang memijit kaki mbak Alya. Aku meletakkan nampan diatas meja kecil kamar itu.


" Mas kok belum siap-siap? Sini, biar Zia aja yang pijitin, " aku mendekat kesofa santai dekat ranjang, dimana mbak Alya yang sedang selonjoran.


" Nggak usah, mas aja. Kamu mandi dulu sana, katanya kan calon mertuamu datang pagi ini, " katanya sambil mengedipkan mata padaku.


" Ihh ... Apa sih, mas? " Sahutku malu-malu.


" Nggak guling-gulingan lagi? " Godanya, membuat mbak Alya menyemburkan tawa. Aku hanya bisa menahan malu.


" Ehh ... Dek, sini dulu, " panggil mas Hanan, aku segera berjalan kearahnya.


" Apa mas? " Tanyaku polos.


" Emang semalam kalian ngomongin apa ditelfon? Kok sampe segitunya kamu salah tingkahnya? " Mas Hanan bertanya sambil tersenyum jahil.


" Nggak ada, ih!! Mas kepo tau? " Sahutku pura-pura kesal.


" Udah ngebahas ritual itu tuh kali, mas, " sahut mbak Alya, sontak saja mengundang tawa dari suaminya.


" Iihh ... Emangnya kalian? Mikirnya kejauhan, " aku memberengut.


" Loh, emang mbak bilang apa? Ritual itu tuh kan maksudnya shalat bareng abis ijab, " mbak Alya menjawab sambil menahan tawa, begitu juga mas Hanan.


" Hayoo ... Anty, Anty pikir mbak bakal bahas apa? " Ledek mbak Alya. Aku semakin kesal dibuatnya.


" Tau ah!! " Aku menyahuti dengan muka cemberut.


Segera saja kutinggalkan kamar sepasang suami istri itu, biasanya cuma suaminya aja yang ngeselin, sekarang kok bininya juga, sih? Huhh ... Untung sayang!


_________


Aku yang lagi ikut ngantri diwarung bakso siang ini, dikejutkan oleh suara seseorang yang lumayan familiar. Aku menoleh kebelakang, dan ternyata benar saja. Pak Faroz sudah berada dibelakangku, dengan senyum khasnya.


" Ehh? Pak ... Mau pesen bakso juga? " Kataku setengah terkejut, Sebab melihat pak Faroz ikut antri diwarung bakso pinggir jalan ini, secara kan dia seorang pemilik perusahaan.


Pak Faroz ini bos ku, tepatnya mantan bos. Makanya aku sedikit kaget melihatnya disini, aku pikir orang-orang seperti dia tidak akan level makanan pinggir jalan.


Aku membeli bakso atas perintah mas Hanan, katanya istrinya sedang ngidam bakso disini, memang warung ini tempat langganan kami biasanya dengan mbak Alya. Siapa sangka malah bertemu sang mantan bos yang humble itu disini.


" Mmm ... Iya, tapi aku belum pesan. Kamu udah pesan? " Tanyanya seperti orang kebingungan, jadi curiga. Jangan-jangan ... Apa?


" Saya sudah pesen pak, mungkin sebentar lagi siap. Bapak mau makan disini? " Tanyaku.


" Ehmm ... I-iya, " katanya sambil menggaruk tengkuk.


Aku hanya mengerutkan kening melihat ekspresi nya.


" Kamu ... Kamu mau temani saya? Sebenarnya saya belum pernah makan ditempat seperti ini. Tapi, karena tadi ngeliat kamu disini makanya saya mampir, " ucapnya lirih.


Tuh, kan!? Apa aku bilang, mana biasa horang kaya seperti pak Faroz ini makan diwarung bakso pinggir jalan seperti ini.


Aku membulatkan bibir mendengarnya. Ehh ... Tapi, katanya tadi karena ngeliat aku makanya mampir, kan? Kenapa, ya?


" Jadinya, bapak mampir ini, mau makan bakso, atau karena ada urusan dengan saya? " Tanyaku, sebab penasaran dengan alasannya tadi.


" Hmm? Oh ... Ituu ... Enggak kok, tapi ... "

__ADS_1


Aku mengerutkan kening, sebenarnya pak Faroz ini kenapa, sih? Tadi katanya karena ngeliat aku, terus kalo nggak ada urusan dengan aku, ngapain pake mampir segala? Aneh! Sekarang dia malah nggak jelas jawab nya, seperti orang salah tingkah.


Aku hendak bertanya lagi, tapi mang Anto pemilik warung memanggilku, karena pesanan ku sudah selesai. Aku segera mengambil dan membayar nya, lalu menghampiri pak Faroz lagi.


" Saya duluan pak kalo gitu, pesanan saya sudah selesai. Mari, " pamitku, seraya menunduk sopan.


" Ehh ... Tunggu, " dia mencekal pergelangan tanganku.


Aku yang sedikit kaget dengan perlakuan nya, refleks menyentak tanganku hingga cekalannya terlepas.


" M-maaf. Saya nggak bermaksud ... " Dia meminta maaf, tapi langsung kupotong.


" Oh enggak kok, pak. Saya yang seharusnya minta maaf, sudah kasar. Soalnya kaget, " potong ku seraya menunduk dengan wajah memerah.


" Bukan, bukan salah kamu. Saya yang terlalu berlebihan. Padahal bisa manggil aja, tanpa harus menyentuh, sekali lagi saya minta maaf, Zia, " pak Faroz menimpali.


" Iya, pak. Tidak apa-apa, " sahutku.


" Kalau begitu, ada apa bapak memanggil? " Tanyaku lagi.


" Hmm ... Bisa temani saya makan dulu? Saya ingin mencobanya, tapi sungkan karena nggak ada teman, " katanya membuatku mengernyit.


Aku menahan senyum, memangnya kenapa dia sungkan kalo makan sendiri? Aku memandangnya sembari berpikir sebentar, kemudian menganggukkan kepala.


Dia tersenyum begitu sumringah, segitu senengnya ditemani sama cewek cantik. Hihi


" Yasudah, ayok, " ajaknya begitu antusias.


Pak Faroz segera memesan dua porsi bakso dan dua gelas es teh manis, kemudian mencari meja kosong. Setelah dapat dia segera mengajak aku duduk disana, dia menarik satu kursi dan mempersilahkan aku untuk duduk, sedangkan dia memilih duduk di depanku.


Sembari menunggu pesanan bakso kami sampai, dia mengajakku berbincang-bincang. Pak Faroz memang begitu humble, dia terbiasa ramah dengan siapa saja, termasuk padaku serta teman-teman kantor lainnya. Padahal kami adalah bawahannya.


Tapi aku saja yang terlalu sungkan padanya, bagaimana tidak? Dia pemilik perusahaan, bahkan punya banyak usaha lain, semacam cafe, restoran, dan juga butik.


Pak Faroz menatap mangkok didepannya dengan wajah bingung, kemudian beralih menatapku.


" Bapak yakin mau makan? " Tanyaku.


" Loh, kenapa? Ini halal, kan? " Dia bertanya dengan sedikit berbisik, mungkin takut orang mendengarnya.


Aku hampir saja menyemburkan tawa, kalau saja tidak ingat sedang dimana. Jadi aku hanya bisa menahannya saja.


" Pasti lah, pak. Maksud saya itu, bapak kan nggak biasa, takutnya nanti malah kenapa-kenapa. Apalagi ini makanan murah, kalau dibandingkan makanan yang biasa bapak makan, " ucapku sambil tertawa pelan.


" Kamu ini, saya kira kenapa, " balas nya seraya terkekeh.


" Yaudah, silahkan dimakan pak, dijamin enak, kok, " aku mempersilahkan.


Dia hanya mengangguk. Aku mulai meracik bakso milikku, dengan menambah sedikit saos sambal, kecap, kemudian beberapa sendok sambal dan terakhir perasan jeruk nipis.


Sebelum mulai memakannya, aku kembali melihat pak Faroz, dia belum meracik baksonya, saat kutanya, katanya tidak mengerti, lagi lagi aku menahan tawa melihatnya kepolosan nya. Perkara makan bakso doang dibikin ribet!


Aku menawarkan diri untuk meracik bakso milik pas Faroz, dia hanya mengangguk pasrah saja. Mungkin takut aku mengejeknya lagi.


Akhirnya aku menyingkirkan dulu mangkok bakso seraya menelan ludah, padahal udah pengen ambil ancang-ancang. Duhh ... Ribet kalo makan ditempat ginian sama orang kaya ternyata.


Setelah baksonya sudah kubumbui dengan cinta ehh salah dong hehehe, aku menyodorkan kembali pada pak Faroz, dia mulai mencicipi kuahnya sedikit, aku hanya memperhatikan nya, takut dia tidak suka dan memunt*hkan nya seperti di film-film, kan berabe!


Dia mengernyit, kemudian menyendok lebih banyak kuahnya lagi, dan menyeruput nya. Dia tersenyum lebar, dia mengatakan sangat enak, aku tertawa mendengarnya. Bagaimana tidak? Dia sudah mengatakan enak, padahal baru nyoba kuahnya doang, terbukti kan, bakso langganan ku ini memang dabesstt.


Pak Faroz makan begitu lahap, katanya ini pertama kali dia nyoba bakso pinggir jalan gini. Dan ternyata lebih enak dari bakso-bakso yang pernah dia makan ditempat mahal.


Kami makan sambil berbincang ringan, sudah seperti teman saja. Sampai tiba dimana pak Faroz bertanya alasan aku untuk resign, memang saat aku ajukan surat pengunduran diri waktu itu, aku tidak menjawab alasan pastinya.


" Sebenarnya apa alasan kamu resign? Apa karena kamu nggak betah? "

__ADS_1


Pak Faroz bertanya di sela-sela makannya, aku menggeleng sebagai jawaban, sebab mulutku masih penuh dengan bakso.


" Terus? " Dia bertanya lagi.


Duhh ... Nggak sabaran banget, sih. Mulutku kan masih penuh, gimana mau jawab coba?


Akhirnya aku mengunyah dan menelannya dengan cepat, kemudian meneguk teh dingin yang mulai mencair esnya itu, tinggal calonnya aku aja yang belum mencair hahaha.


" Sebenarnya saya resign atas permintaan calon suami saya pak, " jawabku seadanya.


Uhukk uhukk ...


Pak Faroz batuk-batuk, aku yang kaget segera bangkit dan menepuk-nepuk pelan punggungnya, dia segera meneguk minumannya dengan cepat, setelah batuknya reda dia mengangkat tangannya, seolah mengatakan dia tak apa-apa.


Aku kembali duduk dikursi ku, hendak melanjutkan makan ku. Kulihat raut wajah pak Faroz sudah berubah, sedikit memerah dan ... Entah! Aku pun tak mengerti, seperti orang yang sedang menahan sesuatu. Mungkin efek tersedak tadi kali, ya?


" Jadi, kamu sudah punya calon? " Tanya nya dengan suara datar.


Aku mendongak, kemudian mengangguk.


Terdengar helaan nafas darinya, kenapa tuh? Apa jangan-jangan dia sesak karena tersedak tadi?


Aku segera menyudahi makanku, teringat sekantong bakso yang teronggok disisi meja, pasti sudah mulai dingin. Bisa-bisa mas Hanan mengomeliku nanti, mana ponselku juga tinggal lagi.


" Pak, saya duluan, ya. Soalnya ini pesenan mbak saya, takutnya keburu dingin, " kataku seraya bangkit dan hendak membayar.


" Yaudah, bareng saya aja. Lagian ini juga gara-gara saya yang ngajak kamu makan dulu, jadinya kelamaan, " sahutnya.


" Biar saya bayar dulu baksonya, kamu tunggu disitu, " sambung nya lagi.


" Biar saya bayar sendiri aja, pak, " dia tidak mendengarkan ucapanku, malah berlalu langsung ke kasir untuk membayar. Mayaann ... Gratis!! Hihihi


" Ayok, " katanya padaku yang sedang menunggu didepan warung.


" Pak, saya pulang sendiri aja. Rumah saya Deket kok, jadi saya jalan aja, " tolakku.


" Sekalian aja, biar cepat, " dia segera berjalan menuju mobilnya, dan membukakan pintu untukku, membuatku mau tak mau akhirnya naik juga.


Didalam mobil tak ada perbincangan ringan seperti diwarung tadi, pak Faroz hanya fokus untuk mengemudi, sedangkan saya duduk saja dengan menenteng kantong kresek.


Bayangkan saja ... Bayangin aja dulu gaiss. Aku duduk didalam mobil mewah, dengan menenteng kresek hitam, pakaian ku? Jangan tanya! Kalian pernah disuruh emak kewarung? Pasti keluarnya cuma pake kulot, kaos longgar dan jilbab instan, kan? Terus tinggal tambahin perona bibir dikit aja, biar nggak pucet amat kek orang tipes. Dan sekarang ini outfit aku persis begitu, dah kek anak jalanan yang kebetulan dibantu sultan aja gue.


Tak terasa mobil sudah berhenti dihalaman, aku mengucapkan terimakasih pada pak Faroz, dia hanya mengangguk menanggapi. Kenapa nih orang? Biasanya juga nggak gini, apa jangan-jangan diwarung tadi dia ... Ahh Zia! Nggak usah mikir aneh-aneh lu.


Aku segera turun dan menutup pintu, pak Faroz membunyikan klakson mobil dan mulai melajukan mobilnya.


Aku berjalan menuju rumah, tapi ada satu mobil yang sangat kukenali terparkir didepan, dia disini?


Dan ... Loh? Pak Faroz tau dari mana rumahku disini? Duhh ... Kok ngelag sih? Dahlah ... Pusing mikirinnya.


Baru saja melangkah menuju teras, aku dikejutkan dengan suara seseorang.


Hyan? Jadi dari tadi dia diteras? Terus dia ngeliat dong aku diantar pak Faroz. Duhh ... Makin ribet deh!


" Diantar siapa? " Tanyanya to the point.


" Anu ... ee ... " Aku tak bisa menjawab, dan itu entah kenapa, tiba-tiba saja lidahku Kelu berhadapan dengannya.


" Ingat! Kamu itu sudah dalam lamaran seorang pria. Jadi, jangan pernah berhubungan dengan laki-laki lain diluar sana lagi! " Ucapnya tegas dengan wajah datar.


Baru saja aku mau menjawab, tapi dia sudah berlalu dengan cepat menuju mobilnya.


Aku hanya bisa menggaruk kepala yang tidak gatal, apa dia marah?


_________

__ADS_1


__ADS_2