Lelaki Dinginku

Lelaki Dinginku
bab 10


__ADS_3

_________


" Kapok mu kapan mas? " Ejekku membuat mas Hanan menatapku dengan kesal.


Mas Hanan mencoba membujuk mbak Alya.


" Yank, maafin mas, kamu 'kan tau akhir-akhir ini kerjaan lagi banyak-banyak nya, " mas Hanan menaruh dagunya dipundak mbak Alya yang langsung ditepis wanita itu.


" Apa, sih, mas, malu tau?! " Ucapnya, sambil melirik sungkan kearah aku dan ibu, kami hanya mampu mengulum senyum.


" Iya, iya, makanya, maafin mas, ya? " Dia memohon seperti anak kecil yang sedang meminta izin ibunya mandi sungai.


" Lebay banget, sih, udah sana, " kata mbak Alya.


" Sudah, sudah, makan siang sudah siap, mending kita makan dulu, biar enak nanti ngobrol nya, "


Kami mengangguk, aku dengan mbak Alya membantu membawa hidangan ke meja makan.


" Mas, kamu itu kurang-kurangi lah sibuknya, masa sampe hari libur pun mesti diteror kerjaan juga, kasian lah istri sama anakmu, " ucap ibu.


Mas Hanan mendengus pelan, mbak Alya melirik kearahnya.


" Hanan juga sebenarnya nggak mau lah, Bu, hari libur pun harus kerja, tapi ya gimana, " mas Hanan menjawab dengan muka memelas.


" Udah lah, Bu, susah ngomong sama orang yang lebih pentingin omongan bos, " sinis mbak Alya.


" Loh, kamu kok ngomong gitu, sih, Bun? " Sentak mas Hanan sedikit meninggi.


" Lah, emang bener kan? Mas itu, lebih mentingin omongan bos nya mas itu, emang nya yang kerja disana cuma mas aja? Enggak kan? " Cecar mbak Alya.


" Mas itu kerja untuk kamu sama Umi, jadi jangan ngomong gitu, dong, seolah-olah mas ini udah nelantarin kalian, mas sibuk kan karena kerja, bukan yang lain, "


" Sekarang ini, mas lagi dikasih kepercayaan untuk nge handle kerjaan, masa ditolak? Ini kan untuk kebaikan kita juga, " sambung mas Hanan.


" Aku juga tau mas! Kamu itu kerja untuk aku sama Umi, tapi kita juga butuh waktu kamu, nggak melulu uang kamu! Selama ini kamu selalu minta aku ngertiin kamu, tapi pernah nggak, sekali aja kamu ngertiin perasaan aku? Pernah nggak mas? Ini bahkan lebih buruk dibanding aku tidak punya suami mas! " Pekik mbak Alya dengan mata berkaca-kaca, aku dan ibu terkejut mendengar ucapannya. mas Hanan pun tak kalah kaget, dia sampai membulatkan matanya.


Mbak Alya terlihat benar-benar emosi. pasalnya selama dia berumah tangga dengan mas Hanan, belum pernah kami mendengar dia berbicara dengan nada tinggi pada siapapun, terlebih pada mas Hanan yang notabenenya adalah suaminya.


" Ma-maaf Bu, Alya permisi dulu, " mbak Alya berlalu dengan setengah berlari dari ruang makan.


Ibu menghela nafas kasar.


" Sudah berapa kali ibu bilang, mas? Istrimu itu nggak salah, dia juga butuh waktu dari kamu, "


" Ibu ngerti, kamu ingin jadi ayah serta suami terbaik untuk keluarga mu, tapi kebahagiaan orang itu berbeda-beda, Alya benar, nggak melulu soal uang! Seharusnya kamu itu bersyukur memiliki istri seperti Alya, pernah nggak dia menuntut harus punya uang yang banyak? "


" Sekarang kamu pikirkan lagi, lebih penting waktu untuk keluarga mu, atau waktu untuk kerjaanmu, " ucap ibu dan berlalu, sepertinya ibu menyusul mbak Alya ke kamar.


Mas Hanan meremas rambutnya frustasi, aku mencoba menenangkan dengan mengusap punggungnya.


" Zia minta maaf, ya, mas, becandanya Zia udah kelewatan, udah bikin mas dan mbak bertengkar seperti ini, " ucapku tulus, aku benar-benar merasa bersalah.


" Nggak dek, yang salah itu bukan kamu, ini memang salahnya mas, nggak pernah ada waktu untuk keluarga, mas menyesal dek, " mas Hanan tergugu, aku pun ikut menangis disampingnya.


" Mas nggak sanggup kehilangan mbak mu dek, mas bener-bener nyesel, "


" Mas jangan khawatir, ibu pasti bisa tenangin mbak Alya, kok, " ucapku sambil memeluknya, mas Hanan yang sudah sedikit tenang pun mengangguk.


Kami sama-sama menoleh ketika melihat ibu sudah keluar dari kamar mbak Alya.


" Kamu masuk, gih, " perintah ibu.


" Minta maaf, tenangin pikiran nya, jangan kalau istri marah kamu malah tambah marah, yang ada makin tambah masalah. Kalau perlu bujuk dia sambil perlihatkan kalau kamu mencintai nya, membutuhkan nya dan kamu menyesal sudah memarahinya, "


" Perempuan itu, hatinya lembut, gampang nangis, gampang kecewa, gampang marah juga, jadi kamu sebagai lelaki harus bisa mengimbangi, jangan mentang-mentang kamu laki-laki jadi bisa berbuat seenaknya, kamu itu udah ngambil dia dari orang tuanya, jadi kamu bertanggung jawab penuh atas dia, lelaki mengalah untuk perempuan itu bukan buruk, bukan pula karena takut, tapi karena menghargai, "


" Anggap saja, kalau kamu menyakiti nya, sudah membuat dia menangis, itu artinya kamu juga sudah menyakiti ibu, karena ibu juga seorang perempuan, paham?! " Tegas ibu, aku dan mas Hanan hanya saling diam.


" Sana, rayu istrimu, tenangkan dia, kalau perlu kamu ambil cuti, bawa istri serta anakmu liburan, hitung-hitung sebagai permintaan maaf, karena sudah terlalu sibuk selama ini. coba bilang ke ibu, kapan terakhir kamu bawa anak dan istrimu liburan? " Mas Hanan hanya mampu terdiam tak bisa menjawab.

__ADS_1


" Sudah lama sekali, kan? " Mas Hanan mengangguk.


" Mas, nyenengin istri itu banyak loh, caranya, nggak mesti bawa liburan nya ke luar negri, nggak perlu jauh-jauh juga, ajak belanja sama jalan-jalan aja dia bahagia, coba deh, "


" Kalau anak istri seneng, rezeki akan menghampiri kamu, percaya deh, sama ibu, " ucap ibu.


Mas Hanan mengangguk, dia memeluk ibu dan meminta maaf, kemudian berlalu kekamar untuk menemui mbak Alya.


" Kita makan siang duluan, saja, " ajak ibu.


Aku sama ibu makan siang berdua saja, kata ibu biarkan mereka saling introspeksi diri dulu.


__________


" Anty, boleh mbak masuk? " Suara mbak Alya terdengar dibalik pintu.


Aku segera bangkit dari ranjang, menghampiri pintu dan membukanya.


" Kenapa mbak? Ayuk, masuk aja, " ajakku setelah membuka pintu.


Aku menarik tangan mbak Alya, dan segera menutup pintu serta menguncinya.


" Mbak udah baikan? " Tanyaku.


" Udah, tapi masih rada kesel aja, nggak tau deh kenapa. Beberapa minggu ini kayaknya mbak sering banget marah sama mas, padahal kadang masalah sepele. Bawaan nya pengen marah aja, mbak pusing deh, Anty, " keluh mbak Alya.


" Mbak lagi mens kali, makanya rada sensian, " ucapku sekenanya.


" M-mens? " Mbak Alya terkejut.


Aku bingung dengan respon mbak Alya, memang nya apa yang salah?


" Iya, mbak. Mbak lagi dapet, kan? " Tanya ku menyakinkan nya.


" Ta ... Tapi ... Mbak nggak lagi dapet, Anty. Bahkan mbak udah telat semingguan, " jawabnya dengan tergagap.


" Mbak kok kayak gugup gitu, sih? Kenapa? " Aku menatapnya yang mulai gelisah.


Mbak Alya malah bangkit.


" Anty, kamu nggak ngerti, sih. Udah ah! Bingung ngomong sama kamu " ucapnya kesal dan keluar begitu saja.


Kok jadi aku yang dikeselin, sih?


Aku akhirnya memutuskan menyusul mbak Alya turun. saat tiba didepan kamar nya aku mendengar suara dia yang sedang berbincang dengan mas Hanan, karena memang pintu sedikit terbuka, jadi aku bisa sedikit mendengar obrolan dari dalam.


" Mas beliin sekarang ke apotek! Aku mau cek sekarang pokoknya! " Ucap mbak Alya setengah memaksa.


" Iya, iya, mas beliin. Bunda istirahat dulu, aja, " jawab mas Hanan lembut.


Tiba-tiba saja ibu menepuk pundak ku.


" Ngapain kamu? Nguping? " Tanya ibu, aku langsung membalikan badan dan menutup mulut ibu dengan telapak tangan, takut ketahuan sama pemilik kamar.


Ibu menepis tanganku yang berada di mulutnya, dengan tatapan penuh tanya. Aku segera menarik tangan ibu menjauhi kamar mas Hanan dan mbak Alya.


" Duhh ... Ibu, untung aja nggak ketahuan. " Ucapku sambil mengusap dada.


" Emang kamu ngapain? Sampe kaget gitu, "


" Tadi mbak Alya ke kamar Zia. Dia cerita, katanya nggak tau kenapa beberapa hari ini sering marah-marah nggak jelas ke mas, dan hari ini itu puncaknya, " jelas ku.


" Terus? " Tanya ibu tak sabar.


" Zia bilang, kali aja mbak lagi mens! Ehh ... Malah dia kaget, terus bilang dia nggak lagi mens, malah telat seminggu an, " sambungku sambil melirik kearah kamar mbak Alya, takut tiba-tiba dia keluar.


" Terus tadi mbak Alya minta mas beli sesuatu di apotek, katanya mau ngecek, nggak tau deh apa maksud nya, " ibu malah tersenyum mendengar penuturan ku.


" Ibu kenapa malah senyum? " Tanya ku kebingungan, belum sempat ibu menjawab mas Hanan dan mbak Alya keluar dari kamarnya.

__ADS_1


" Ehh? Alya, sini nak, " ibu melambaikan tangan ke arah mbak Alya.


" Iya, Bu, " jawab mbak Alya seraya berjalan kearah kami dan diikuti oleh mas Hanan.


" Bu, titip Alya bentar, ya. Mas ada perlu keluar dulu, " ucap mas Hanan yang diangguki ibu.


" Ke apotek, ya, mas? " Aku menimpali, membuat mbak Alya terkejut, dan ibu malah melotot kearahku.


" Kebiasaan kamu, pasti tadi nguping, ya? " Katanya sambil menjewer pelan telingaku.


Aku hanya bisa menahan tawa, dan meminta maaf, mengatakan tak sengaja, karena kebetulan lewat dan pintu kamar dalam keadaan sedikit terbuka.


" Udah lah mas, buruan sana. Ntar apotek nya tutup kalau kesorean, " ibu mengingatkan mas Hanan agar segera berangkat, karena hari sudah mulai sore.


" Tau nih, berangkat sana. Abis ini kan ada yang mau dibahas, " kataku sambil mendorong badannya.


" Iya, iya. Bawel banget, sih, " sahutnya sambil berlalu keluar.


Aku, ibu, dan mbak Alya berbincang bersama diruang tv yang juga menjelma jadi ruang keluarga ini. Mbak Alya meminta maaf pada ibu atas perkataan nya tadi siang, katanya tidak sengaja dan meluncur begitu saja. Ibu kata sudah memaklumi, karena itulah harmoni nya rumah tangga. Tidak selalu berjalan mulus, tapi ada tiba dimana jalan yang dilalui dipenuhi kerikil dan terjal. Jadi ibu tidak ingin menyalahi mbak Alya, karena menurut nya sang mantu nya itu sudah sangat penurut dan baik selama jadi istri dari anaknya. Baru kali ini berontak, dan itupun murni kesalahan sang suami.


________


Malam ini kami berkumpul lagi dimeja makan, makan malam sudah terhidang dan masih hangat. Kami makan sambil sesekali berbincang, tapi sedikit lebih sepi, sebab tak ada Shaumi yang berceloteh ria seperti biasa jika sedang disini.


" Bu, abis makan kita langsung bahas saja keputusan Zia. Takutnya nanti mas sama Alya baliknya kemalaman, kasian juga Shaumi nungguin terus dari tadi, " ucap mas Hanan ketika sudah menghabiskan makan malamnya.


Ibu mengangguk setuju, begitu juga dengan aku dan mbak Alya.


" Kalo gitu kalian langsung kedepan dulu aja. Ibu mau minta bik Irah bikinin teh hangat dulu, "


" Alya mau minum susu? Ibu minta buatkan sekalian, ya? " Tanya ibu pada mbak Alya.


" Boleh Bu. Kalau nggak merepotkan, " mbak Alya menjawab.


" Yasudah, kalian kumpul didepan dulu saja, ya, " pinta ibu.


" Mbak sama mas aja dulu, Zia mau beresin meja dulu, nanti nyusul. " Kataku hendak mengangkat peralatan bekas makan kami tadi.


" Mbak bantu, ya, Anty. " Mbak Alya sudah menyentuh piring kotor, tapi dicegah ibu.


" Udah, sana. Tunggu ibu sama Zia selesai dulu, " akhirnya dia hanya bisa pasrah dan beranjak keruang tv dengan mas Hanan.


Setelah semua selesai, aku menyusul keruang tv. Ternyata ibu sudah disana, juga sudah ada teh dan camilan yang terhidang.


Aku langsung saja duduk sebelah ibu.


" Langsung saja, ya. Nggak usah lama-lama, kita langsung bahas aja. Soalnya waktu kan terbatas, mas sama mbak harus balik malam ini , " ucap mas Hanan mengawali.


" Dek? " Panggil mas Hanan menoleh kearah ku.


" Iya, mas. Langsung aja, " jawabku.


" Oke, gimana menurut Kamu tentang permintaan Hyan kemarin itu? " Tanya mas Hanan. Dadaku bertalu-talu, ragu, apa mas Hanan setuju dengan keputusan ku?


" Ahm ... Zia menyetujui nya mas. Bagaimana menurut mas? " Aku berucap seraya menunduk.


" Angkat kepala mu, dek. Tatap mas! Kamu sudah yakin dengan keputusan mu ini? " Tanya mas Hanan penuh ketegasan.


Aku mendongak, menatapnya sebentar. Kemudian menoleh kearah ibu dan mbak Alya, seolah meminta dukungan dari mereka. Ibu mengangguk dengan tatapan seolah meyakinkan ku.


" Mas tanya sekali lagi. Kamu beneran udah deal dengan keputusan mu? Nggak akan nyesel? Mas nggak akan bisa berbuat apa-apa kalau nanti ujung-ujungnya kamu mengatakan menyesal pada mas, dek! Sebab keputusan ini murni dari kamu sendiri, " Ah ... Aku mulai meragu.


Aku menghembuskan nafas kasar. Aku harus meyakinkan hati serta keluarga ku, jika keputusan yang kuambil sudah kupikirkan baik-baik.


Aku kembali menatap mas Hanan.


" Mas, Zia ... Ahm ... "


_________

__ADS_1


Lanjut nggak sih? Takutnya nggak ada yang baca, padahal udah capek ngetik 😥


__ADS_2