
__________________
Apa-apaan ini? Jantungku serasa mau copot saja rasanya, dia sudah menikah dan punya anak? Semangatku yang sejak tadi membara luntur seketika bersamaan dengan jawaban yang meluncur dari mulut Bu Tari. Aku memasang tampang datar dan menoleh kearah Bunda, dia malah menahan tawa melihatku yang sudah tak bersemangat.
" Kalo anak Ibu sudah menikah, gimana kita bakal jadi besan? " Obrolan perjodohan ini sudah tak menarik perhatianku lagi.
Bu tari malah terkekeh mendengar pertanyaan Bunda.
" Beneran ibuk mau besanan dengan saya? Keluarga kita nggak setara, loh, buk. " ucap buk Tari rendah diri.
" Dikeluarga saya nggak ada istilah cari yang setara buk, yang penting dari keluarga baik-baik, saya kenal ibu kan sudah lama, jadi tau lah bagaimana kebaikan ibu, " sanggah Bunda. Saat ini aku sudah tak fokus sama sekali dengan perbincangan dua wanita paruh baya itu, aku memutuskan memainkan ponsel untuk mengusir rasa sesak yang tiba-tiba merayap.
" Ibu bisa aja! " sahut Bu tari terkekeh. " Ohya Bu! Yang saya maksud tadi itu, anak laki-laki saya yang sudah nikah. Sedangkan adiknya masih gadis, itu fotonya! " Bagai menemukan mata air dipadang pasir, serrr ... Dadaku yang sejak tadi bergemuruh panas, menjadi dingin seperti baru saja disiram dengan air. Mendengar ucapan Bu Tari membuat semangatku yang tadinya sempat luntur bangkit kembali. Aku melirik bunda dengan senyuman, senyum yang tak bisa kuhilangkan karena terlampau senang.
" Wahh ... Kebetulan sekali bu, anak saya kayaknya tertarik banget dengan anak gadis ibu itu, " kata Bunda cekikikan.
Aku segera menunduk dan menggaruk tengkuk yang tidak gatal. Pulang dari sini aku harus memaksa bunda untuk mempercepat perjodohan ini.
" Ohya? Nak Hyan memangnya mau dijodohin? Secara kan nggak mungkin nak Hyan nggak punya pilihan sendiri, diluar sana pasti banyak wanita cantik yang bahkan setara dengan keluarga kalian yang mau, " ucap Bu Tari yang membuatku segera mendongakkan kepala.
" Ehem ... Saya cuma mau menuruti permintaan Bunda saja, Bu. Jika memang bunda ingin perjodohan ini, saya terima. Karena saya yakin, pilihan bunda tidak mungkin salah, " sahutku sambil melirik kearah bunda yang sudah melayangkan tatapan protes nya.
" Masha Allah ... Nak Hyan berbakti sekali, insyaallah nanti ibu sampaikan rencana perjodohan ini pada anak ibu, Zia. Mudah-mudahan dia juga mau, " ambigu sekali jawaban calon mertuaku ini.
" Kalau tidak mau dipaksa dong, Bu." jeritku dalam hati saja. Ya kali berani ngomong langsung begitu? Gengsi dikitlah ...
Aku dan bunda hanya saling lirik dan mengangguk, setelah itu bunda langsung mengajak pamit, padahalkan aku ingin lama-lama disini, mana tau nanti ketemu sidia.
Aku kembali mengedarkan pandangan kedalam rumah saat kami sudah berada dekat pintu, mana tau nanti dia muncul dari dalam.
" Zia nya mana Bu Tari? Kayaknya ada yang berharap ketemu, nih! " sindir Bunda, membuatku salah tingkah dan langsung melangkahkan kaki dengan cepat menuju mobil dan langsung masuk. Bunda sukanya ya gitu! Bikin malu anak bujangnya aja.
____________
Sepanjang perjalanan pulang, bibirku tak henti tersenyum, aku merasa beruntung kali ini karena menuruti keinginan Bunda.
" Bun, beneran ini perjodohannya? " Aku bertanya tanpa mengalihkan fokusku dari stir.
__ADS_1
" Kamu maunya gimana? Kalo kamu nggak suka, yaudah! Bunda nggak akan maksa juga, " ucap Bunda.
Aku segera mengalihkan pandang pada wanita disampingku itu.
"Ya jangan gitulah, Bun. Kalo emang bunda yakin dia itu perempuan baik-baik dan cocok dengan Hyan, ya Hyan terima! " Aku masih gengsi mengakui bahwa perempuan itu adalah cinta pertamaku, sosok yang selama ini aku cari dalam diam, juga kuselipkan diantara doaku.
" Tumben kamu nggak nolak?! " tanya bunda dengan tatapan menyelidik.
" Bukan gitu, Bun. Hyan juga capek kali, tiap hari denger sindiran bunda dan juga Nayna terus. Jadi Hyan putusin sekarang terima setiap keputusan Bunda, termasuk perjodohan ini. Hyan cuma pengen bahagiakan bunda aja, pengen jadi anak berbakti juga. Mungkin dengan Hyan menerima perjodohan ini, bunda makin bahagia, " ucapku dengan nada yang dibuat-buat. Seolah-olah aku sudah sangat pasrah dengan keputusan bunda. Padahal keinginan sendiri.
Bunda menghela nafas mendengar jawabanku, mungkin kaget. Tumben bujangnya ini nurut dengan perkataannya.
"Yaudah, lagian bunda juga sudah sangat suka dengan anak gadis buk Tari itu, beberapa kali ketemu pas dia nganter ibu nya ke pengajian, anaknya cantik, sopan lagi, " jawaban bunda sontak membuatku melebarkan senyum, kalau tak mikir gengsi dan malu, aku sudah berteriak senang sejak tadi.
____________
" Hari ini kita ketemu sama Bu Tari dan juga anaknya, ya? Kamu bisa, kan? " tanya bunda saat kami sedang sarapan. Aku mengerutkan kening, pura-pura berpikir. Kan malu kalo langsung bilang iya.
" Gimana? Bunda sudah janji soalnya, kalo kamu nggak bisa bunda batalin, aja! " Mendengar bunda akan membatalkan, aku langsung saja mengiyakan.
" Hyan bisa, kok. Rapatnya ditunda aja, dulu! " sahutku.
" Mau dijodohin? Tumben! Biasanya juga nolak, katanya belum tertarik menikah, sekarang kenapa tiba-tiba aja mau, Bun? " tanya ayah, aku hanya diam saja tanpa berniat menjawabnya.
" Tau tuh! Tiba-tiba aja langsung mau pas ngeliat fotonya, alasannya malah bilang capek karena kita sindir terus, padahal emang dianya aja yang mau! " ledek bunda dengan tawa yang sudah menggema dari mereka bertiga. Senang sekali menertawakan anak sendiri. Untung mood ku sedang baik saat ini.
" Ketemu nya jam berapa? Hyan mau kekantor dulu bentar, ngecek laporan karyawan, " tanyaku tanpa menghiraukan ledekan mereka.
" Nanti bunda hubungi, " bunda menjawab setelah mengentikan tawanya.
Aku mengangguk dan segera bangkit untuk menyalami ayah dan juga bunda, kemudian setelah itu segera bergegas keluar menuju mobil dan berangkat kekantor.
___________
Setelah memarkirkan mobil, aku masuk ke kafe yang sudah dijanjikan bunda. Perlahan berjalan sambil mencari keberadaan wanitaku itu, tak lama dia memanggil dengan melambaikan tangan.
" Kenalin dulu, ini namanya Zia, anaknya Bu Tari, " aku terus melirik perempuan cantik didepanku yang sejak tadi menunduk sambil memainkan ponselnya. Jantung berdebar saat dia mendongakkan wajahnya, mata itu ... Wajahnya tidak jauh berbeda dengan dulu, hanya saja sekarang sudah mulai dipoles tipis-tipis, tapi tetap saja kesan alami melekat diwajahnya. Apalagi ketika melihat alis tebalnya itu, jika tidak memikirkan gengsi, aku tidak akan berpura-pura tak mengenali nya.
__ADS_1
Seperti ada binar keterkejutan diwajah nya saat menatapku, apa dia mengenaliku? Mana mungkin ... Bahkan saat sekolah dulu saja kami tidak pernah berbicara, bahkan sekedar bertegur sapa pun tak pernah. Jadi mana mungkin dia mengenaliku.
Au segera mengulurkan tangan padanya.
" Hyan, " dia segera menyambut uluran tanganku.
" Zia, " suaranya yang lembut mampu membuat aliran darahku berdesir hebat, apalagi saat bersentuhan dengan telapak tangannya yang halus ini.
Bunda dan Bu Tari terus berbincang-bincang, sesekali Zia ikut menimpali. Tapi tidak denganku, entah karena rasa gugup yang amat sangat terasa, aku menyibukkan diri bermain ponsel, agar tak terlihat sedang salah tingkah. Aku masih tak percaya saja, perempuan yang selama ini selalu kuselipkan dalam doaku itu berada tepat didepanku saat ini, ingin sekali mengajaknya bicara, tapi bibir ini seperti terkunci, bahkan untuk menutupi rasa itu, aku memasang tampang datar.
" Ohiya, Zia kerja, kan? " tanya bunda.
Dia mengangguk dan menjawab iya, sehingga bunda bertanya lagi.
" Kerja dimana? Nanti biar enak gitu, kalau pulang kan bisa dijemput, Hyan, " ternyata ucapan bunda mengejutkannya, kulihat dia tersedak dan terlihat salah tingkah, sedang aku menoleh sebentar pada bunda, " mau banget bundaa ... " jeritku dalam hati.
" Emm ... Nggak usah Tan, Zia biasa bawa mobil sendiri, kok! " tolaknya namun tetap terdengar sopan. Aku yang masih berpura-pura sibuk bermain ponsel ingin sekali menyanggah rasanya.
" Panggil Bunda aja, sayang, " dihh bunda gercep juga nih ...
" Sesekali kan bisa dijemput Hyan, kalo nggak gitu kapan kalian kenalannya, " Nahh ... Aku suka gaya bunda. " Iya, kan Hyan? " bunda menyenggol lenganku, aku menoleh dan tersenyum tipis padahal aslinya lebar banget.
" Iya, terserah bunda, lah, " ucapku seolah-olah pasrah, padahal dalam hati emang kepengen banget.
" Tuh, nak Hyan aja sudah setuju, kamu gimana? " Kulirik dia saat mendengar pertanyaan Bu Tari, dia malah membulatkan matanya yang membuat gemas seketika, aku tersenyum melihatnya begitu.
" Ehh ... Nggak usah .. bikin repot aja, lagian ibu kan tau Zia biasa bawa mobil sendiri, " tolaknya secara halus, ingin sekali aku menjawabnya, tapi apa daya, gengsiku lebih besar saat itu juga.
" Udah, nggak apa-apa kok. Hyan juga kan sudah setuju, kali aja cocok, jadi deh Bunda besanan dengan Bu Tari. Iya, kan Bu? " kata bunda membuatku bersorak dalam hati.
Dia terlihat salah tingkah, kulihat ada rona merah yang terbit diwajahnya, dia segera menunduk kan wajah, padahal ingin sekali aku menatapnya seperti ini dalam diam.
" Nak Hyan nggak masalah, kan kalo harus antar jemput Zia? Soalnya ibu suka khawatir, apalagi dia seringnya lembur, pulang malam terus, mana sendirian lagi, " dia terlihat menghembuskan nafas kasar.
Tenang Bu, mulai sekarang Zia nggak bakal pulang sendiri lagi, Hyan yang bakal menemani nya setiap hari.
" Iya, ibu tenang aja, Hyan yang bakal antar jemput Zia, kok! " ucapku meyakinkan. " Tapi kalo Zia nggak mau mending nggak usah dipaksa, dia juga keliatannya keberatan, " sambungku, sambil melirik gadis didepanku itu sekilas, cantik!
__ADS_1
" Yaudah, deh! Terserah ibu, " mendengar ucapannya, Bu tari dan juga bunda menghela nafas lega, begitu juga denganku yang tersenyum dalam hati. Okey sayang! Ehh? Okey Zia! Mari kita mulai pendekatan nya, tapi aku tidak akan melepaskan mu, karena ini adalah penantianku selama ini. Akan kubuat kamu jatuh dalam pelukanku.