
_____________
Tanpa kata Hyan segera menarik pergelangan tanganku, dia segera berjalan cepat menjauh dari pak Faroz, dengan tanganku yang masih di genggamannya. bahkan dia tidak menghiraukan panggilan ibu dan juga Nayna yang masih tertinggal dibelakang bersama pak Faroz.
aku meringis ketika merasakan cengkraman tangannya yang sedikit kuat. saat tiba diparkiran aku segera melepas tanganku secara paksa, dia sedikit terkejut dengan aksiku. aku melihat tangan ku yang sedikit memerah karena cengkraman tangannya yang terlalu kuat tadi. dia hanya melirik sekilas lalu melengos. bahkan meminta maaf saja tidak.
" saya tidak suka kamu dekat-dekat dengannya, " aku mengernyit mendengar nya.
" loh? kenapa? " tanyaku.
dia menatapku dengan kesal, dia ini apa-apaan, sih. sejak bertemu pak Faroz dari awal tadi, sikapnya sedikit berubah. tiba-tiba perhatian, tiba-tiba kesal, tiba-tiba marah, mau nya apa sih? kalo cemburu kan tinggal bilang.
" kenapa kamu tanya? Kamu itu sebenarnya ingin nikah dengan siapa? dengannya? oohhh ... aku tau! pantesan kamu agak berat saat aku minta resign, jadi ini alasannya? Kamu takut nggak bisa ketemu dia lagi, kan? " sinis nya.
aku hanya bisa geleng-geleng kepala melihatnya, tak habis pikir dengan pikiran buruknya itu. sok tahu sekali dia, padahal untuk berbicara dengan pak Faroz saja aku jarang-jarang, ini dia malah nuduh seolah-olah kami ada hubungan.
aku baru akan buka mulut menjawab perkataan nya tadi, tapi aku urungkan sebab melihat bunda dan Nayna yang datang dengan tergesa-gesa. tak mau mereka berdua tau jika kami sedang selisih paham.
" sayang, kamu nggak apa-apa, kan? " tanya bunda lembut seraya melirik Hyan.
aku menggeleng dan memaksakan senyum, tak mau bunda curiga.
" beneran mbak? terus tadi mas ngapain narik mbak Zia gitu? " cecar Nayna.
Hyan hanya diam tak menjawab, mukanya juga datar-datar saja. aku mendengus melihatnya, entah setan apa yang merasuki nya hari ini, sehingga berubah, dari yang tak pernah bicara jadi seperti ini.
aku tak memperdulikan nya sedikit pun, aku masih kesal karena tuduhannya tadi. bisa-bisanya dia berkata seperti itu, padahal dia bisa bertanya baik-baik padaku, tanpa harus menuduh.
" yaudah, kalau gitu kita makan malam dulu. deket-deket sini banyak kafe, ayok! " ajak bunda, kamu semua mengangguk.
kami semua masuk, Hyan mulai melajukan mobil membelah jalanan kota dimalam hari.
aku menyandarkan tubuh, dan memalingkan wajah ke samping, menatap keindahan kota pada malam hari.
Nayna dan bunda sibuk bercerita dibelakang, aku tak menimpali sedikit pun. entahlah, mood ku sedang tak baik saat ini.
tak lama mobil berhenti di sebuah cafe, bunda dan Nayna segera turun. aku hendak menyusul setelah melepas seat belt.
" maaf, "
satu kata yang meluncur dari mulutnya membuatku menoleh menatapnya. ada penyesalan dimatanya, aku hanya mengangguk sekilas dan bergegas turun, menyusul bunda dan Nayna yang sudah duluan masuk ke dalam cafe.
Kami sudah duduk dikursi masing-masing, pesanan juga sudah tersedia. Kami mulai menyantap makanan sambil sesekali bercerita, kami juga membahas tentang acara yang tinggal dua minggu lagi. Sebenarnya, dua minggu itu waktu yang singkat untuk mengadakan sebuah acara pernikahan, sebab banyak yang harus diurus. Mulai dari catering, decor, undangan dan masih banyak lagi. Tapi lagi-lagi bunda mengatakan dia yang akan menghandle semuanya, dan aku hanya perlu menyiapkan diri saja.
Sejak tadi lelaki disamping ku ini tak berbicara sepatah kata pun, bahkan hingga kami selesai makan dan akan pulang, dia masih betah berdiam diri tanpa suara, aku pun tak terlalu ambil pusing.
" Mbak, berarti pak Faroz itu bisa dibilang temennya mbak juga, dong? Kan sering kerumah katanya, " Nayna bertanya saat kami sudah didalam mobil.
" Mmm ... Mau bilang temen takutnya dikira sok dekat, tapi emang sih, dulu waktu masih kuliah dia sering kerumah, kan temannya mas Hanan, " aku menjawab tanpa menoleh.
" Kayaknya dia menyimpan rasa sama mbak, deh. Keliatan dari caranya menatap mbak kalo lagi ngomong, "
__ADS_1
Plakk!
Bunda memukul paha Nayna sedikit keras, membuat sang anak memekik kecil. Hyan yang semula biasa saja tampak mulai memasang wajah datar.
" Kamu ini ngomong apa, sih? " Tanya bunda, sedangkan Nayna hanya menutup mulut dan cengengesan.
" Becanda Bun, maaf ya, mbak. Mas jangan cemburu, loh. Kan sudah jelas mas pemenangnya mbak Zia. Dua minggu lagi sah, kok! " Nayna berucap begitu entengnya, bikin orang salah tingkah saja.
Aku sempat menoleh dan menatap Hyan yang ternyata juga sedang menatapku, kudapati dia tersenyum tipis. Aku segera mengalihkan pandang darinya, malu karena ketahuan sedang menatapnya.
________
" Nggak mampir dulu, Bun? " Aku menoleh kebangku belakang.
" Nggak usah, sayang. Udah malem, kapan-kapan lagi, ya? Kamu langsung masuk, dan istirahat, " kata bunda mengingatkan ku.
" Yaudah, kalo gitu hati-hati, " balasku.
Aku segera turun dan menutup pintu, Nayna membuka kaca dan melambaikan tangan, aku pun membalas lambaian nya. Setelah mobil Hyan menghilang dari pandangan ku, aku segera melangkah masuk.
Ternyata ibu sedang menungguku diruang tv, terlihat dia yang langsung bangkit ketika melihat aku masuk.
" Loh, Bu. Belum tidur? Sudah malam, loh, " kataku ketika melihat ibu yang masih menonton.
" Ibu nungguin kamu pulang, mana bisa ibu tidur kalo anak-anak ibu belum pulang dari luar? " Sahut ibu.
Aku lupa! Itu memang sudah jadi kebiasaan ibu, bahkan alm ayah juga sama. Mereka akan menunggu anak-anak nya sampai dirumah, baru mereka masuk kamar. Dan sekarang pun ibu melakukan hal yang sama, padahal sekarang sudah jam sepuluh lewat.
" Yaudah, sekarang Zia kan udah pulang. Ibu tidur, ya? Nggak baik tidur terlalu malam, Bu, " kataku.
" Yaudah, kamu langsung naik , gih. Ibu matiin tv dulu, " kata ibu.
" Zia kedapur dulu, Bu. Mau ambil minum, "
Ibu mengangguk dan segera mematikan tv, sementara itu, aku beranjak kedapur, kemudian mengeluarkan botol minumku dari kulkas dan langsung meneguknya. Entah kenapa aku merasa begitu gerah dan haus, jadi minum air dingin akan lebih segar pikirku.
Keadaan rumah sudah sepi, mas Hanan mungkin juga sudah tidur menemani mbak Alya, karena memang dia kurang sehat. Aku bahkan lupa menanyakan Shaumi, apakah dia sudah dijemput mas Hanan dari rumah neneknya. Tadi siang memang dia pulang dengan dijemput bapaknya mbak Alya, karena rumahnya yang dekat dengan sekolahan Shaumi.
_______
Aku beberapa kali menguap, lelah juga seluruh badan. Setelah berganti baju menjadi piyama tidur, aku segera merebahkan badan, mata rasanya sudah sangat berat ingin tidur.
Ting!
Mata yang baru saja terpejam terpaksa melek lagi. Aku meraba-raba kasur sampingku, untuk mencari keberadaan ponselku. Setelah dapat aku segera membuka dan melihat siapa yang mengirim pesan tengah malam begini.
' Langsung istirahat, jaga kesehatan dengan tidak begadang. Maaf sekali lagi untuk yang tadi. Good night, '
Aku langsung terjaga sepenuhnya saat membaca isi pesan yang dikirim oleh Hyan. Aku menatap tak percaya, berkali-kali kukucek mataku, ingin memastikan ini nyata ada nya, bukan mimpi. Dan ternyata benar, pesan ini benar-benar dikirim oleh Hyan sendiri. Aku bingung harus apa, apa yang harus kubalas. Berkali-kali aku mengetik, tapi kuhapus lagi, sampai akhirnya aku memutuskan untuk gengsi sedikit, jadi aku hanya membalas pesan nya dengan sangat singkat. ' iya ' hanya tiga huruf yang kukirim padanya, setelah pesan dibaca, kulihat dia langsung offline.
Hatiku berbunga-bunga ketika mendapat pesan darinya, entah harus bagaimana aku mendeskripsikan suasana hatiku saat ini, yang pasti aku sudah seperti orang gila, yang senyum-senyum sendiri, dan memandang isi pesannya berulang kali.
__ADS_1
Aku kembali merebahkan badan, mencoba memejamkan mata. Tapi aneh! Setelah mendapat pesan dari Hyan, kantuk yang sejak tadi bersarang tiba-tiba lenyap begitu saja, berganti dengan perasaan senang.
Menit terus berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 12 malam, namun mataku masih juga tak bisa terpejam. Berkali-kali aku bangkit untuk minum air putih, kemudian mencoba tidur lagi dan tetap tak bisa, berakhir dengan hanya balik kanan, balik kiri. Entah berapa lama aku seperti itu, hingga tak sadar jam berapa aku tertidur.
Sial memang! Gara-gara pesan yang dia kirim aku jadi telat tidur. Dan dia mungkin sudah langsung tertidur setelah mematikan ponselnya.
__________
Ternyata memang Shaumi belum dijemput mas Hanan kemarin, karena katanya sedang banyak kerjaan. bahkan dia lembur, dan baru pulang tak berapa lama sebelum aku pulang.
hari ini suasana hatiku begitu cerah, secerah matahari pagi ini hihi. pasalnya, setelah semalam menerima pesan permintaan maaf dari Hyan, pagi ini dia juga berulah lagi, kalian tau dia mengirim pesan seperti apa?
' sudah bangun? aku berangkat kantor lebih cepat hari ini, karena mulai hari ini aku sedikit sibuk, maaf jika tidak sempat mengabari, jangan lupa sarapan '
jika kalian yang dikirim pesan seperti itu, kalian akan berekspresi seperti apa? kalau aku jangan ditanya, sejak membuka mata, aku masih senyum-senyum karena mengingat pesan yang dia kirim semalam. eee ... malah ditambah lagi dengan pesan barunya pagi ini. makin menjadi-jadi lah aku senangnya. maklum gais ... aku belum pernah dekat dengan lelaki manapun, dan sekalinya dekat langsung jadi calon suami.
" dek, lagi bikin apa? " tanya mas Hanan yang sudah siap dengan setelan kerjanya.
suara mas Hanan dibelakang membuyarkan lamunanku. aku sedikit tersentak.
" ehh ... ng ... ini, mas. mbak Alya kepengen roti bakar katanya, jadi Zia bikinin deh, " sahutku.
mas Hanan manggut-manggut mendengar jawaban ku, kemudian dia menarik salah satu kursi yang ada didapur dan duduk disana.
" maaf ya, dek. kalo mbak mu terlalu merepotkan kalian, " ucap mas Hanan terlihat sungkan.
" loh, ya nggak merepotkan lah mas, mbak kan lagi hamil, jadi kita maklum, kok. lagian ibu dan Zia malah senang kalo mbak mau minta tolong ke kita, " ucapku sambil menyiapkan roti dan susu hangat untuk mbak Alya.
mas Hanan menghembuskan nafas berat.
" iya, tapi mas kadang-kadang nggak enak sama kalian, dek. terutama sama ibu, mas sudah sering kali merepotkan nya, "
aku memandangnya lekat, kenapa, sih, dengan mas Hanan? drama banget pagi-pagi gini.
" sudahlah mas, nggak usah berpikir gitu. intinya kita nggak merasa direpotkan oleh mbak atau pun mas, kok, "
" mas sudah sarapan? ntar telat loh, " kataku.
" iya dek, mas sarapan nya nanti aja dikantor, " katanya seraya bangkit.
aku hendak berlalu meninggalkan mas Hanan, dan akan mengantar roti dan susu untuk mbak Alya.
" dek, " panggil mas Hanan membuatku menghentikan langkah.
" kenapa mas? " aku bertanya.
" Ng ... Kamu ... masih sering komunikasi dengan Nita? "
pertanyaan mas Hanan tentang nita yang tiba-tiba membuat ku mengernyit heran. aku menatap curiga kearah mas Hanan, tapi dia langsung mengalihkan pandang dan terlihat salah tingkah.
" ngapain kamu tiba-tiba nanya tentang Nita? " selidik ku.
__ADS_1
detik kemudian mas Hanan tak mengeluarkan suara untuk menjawab pertanyaan ku, membuat rasa curiga ku semakin menjadi-jadi. aku menatap tajam kearahnya tapi dia tak sama sekali membalas tatapanku.
_________