Lelaki Dinginku

Lelaki Dinginku
bab 2


__ADS_3

____________


" Kenalin dulu, ini namanya, Zia, anaknya Bu Tari, " ucapan Tante Amel seketika membuatku mendongak.


Deg!


Aku tertegun sejenak ketika melihat sosok didepan ku saat ini.


Dia mengulurkan tangan, aku pun menyambutnya.


" Hyan, " ucapnya,


Suara itu, jadi dia yang akan dikenalkan Ibu?


" Zia, " balasku dan segera melepas jabatan tangan itu.


Dia tidak mengenali ku, apa mungkin aku salah orang?


Ahh.. gak mungkin salah orang, bahkan namanya juga sama, dia kakak kelasku saat SMP dulu, satu-satunya laki-laki yang saat itu aku kagumi, namun setelah dia tamat, aku tak pernah menjumpainya lagi, entah dimana dia melanjutkan sekolah bahkan kuliah.


Pembicaraan dua wanita ini berlanjut, bahkan aku kadang diajak ikut larut dalam obrolan mereka, namun lelaki didepan ku itu tidak terganggu sedikitpun, dia hanya sibuk memainkan ponselnya.


" Oh, iya, Zia kerja, kan? " Tanya Tante Amel.


" Iya, Tante, " aku menjawab sambil mengangguk.


" Kerja dimana? Nanti biar enak, gitu, kalau pulang kan bisa dijemput, Hyan, "


Ucapan Tante Amel membuatku tersedak ludah sendiri, sedang yang disebut hanya menoleh sebentar pada Ibunya, kemudian kembali sibuk pada ponsel ditangannya.


" Emm.. gak usah, Tan, Zia biasa bawa mobil sendiri, kok, " aku menjawab sambil melirik sedikit kearah Hyan,


" Panggil Bunda, aja, sayang, sekali-kali kan bisa diantar jemput, kalo gak gitu, kapan kalian kenalannya? "


" Iya, kan, Hyan? " Lanjutnya sambil menyenggol lengan sang anak, sedang yang ditanya hanya tersenyum tipis.


" Iya, terserah Bunda, lah, " jawabannya mampu membuat jantungku berdebar tak karuan. Apa itu artinya dia menyetujui dikenalkan denganku?


" Tuh, nak Hyan aja setuju, kamu gimana? Besok kalo kerja langsung bareng aja, " ucapan Ibu membuatku langsung membulatkan mata.


" Ehh... Gak usah, Bu. Bikin repot aja, Ibu kan tau, Zia biasa bawa mobil sendiri, " aku berbicara seolah tidak setuju, padahal sih mau-mau aja.


" Udah, gak apa-apa, kok, Hyan kan udah setuju, gak usah sungkan, gitu. Kali aja cocok, terus jadi deh Bunda besanan sama Bu Tari, iya, kan, Bu? "


Ibu dan Tante Amel langsung tertawa senang, sedangkan Hyan? Dia hanya mengulum senyum tipis, sementara aku langsung menunduk, takut dia tau rona yang terbit diwajahku.


" Nak Hyan, gak masalah kan kalo harus antar jemput Zia? Soalnya Ibu suka khawatir, dia sering lembur, pulang malam terus, mana sendirian lagi, " Ibu berbicara lagi, seolah ingin meyakinkan aku kalau Hyan memang sudah setuju.


Aku hanya bisa membuang nafas kasar. Malu gitu, masa iya, hari ini baru pertemuan pertama, besoknya langsung diantar jemput.


Hyan mengangguk dan tersenyum pada Ibu.

__ADS_1


" Iya, Ibu tenang saja, saya yang akan mengantar jemput Zia, saya juga gak keberatan, kok, " ucapnya.


" Tapi, kalo Zia gak mau mending gak usah dipaksa, sepertinya dia keberatan, " sambungnya seraya melirik kearahku, aku yang merasa terpojok akhirnya hanya bisa mendengkus pelan.


" Yaudah, deh, terserah Ibu, "


Mendengar jawabanku, Ibu dan Tante Amel menghembuskan nafas lega.


__________


Pertemuan hari itu berakhir, Hyan sudah sejak 20 menit yang lalu berpamitan sebab ada urusan, akhirnya kami memutuskan segera beranjak dari cafe, aku sempat menawarkan diri untuk mengantar Tante Amel, tapi dia menolak dengan alasan akan dijemput sang suami, lalu aku dan Ibu pun langsung berpamitan pulang.


Disepanjang jalan menuju rumah, aku menggerutu kesal pada Ibu, masih dengan hal yang sama seperti dicafe, sebab Ibu memaksa berangkat kerja bareng dengan Hyan, aku benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana besok jika harus satu mobil dengan pria itu.


Ibu hanya terkekeh mendengar aku terus menggerutu.


" Udah, lah, Zi, sesekali nyenengin Ibu, Ibu pengen kamu itu dapetin laki-laki yang baik, insyaallah, Hyan itu laki-laki baik dan bertanggung jawab, dia juga dari keluarga baik-baik, ini bukan masalah kaya miskinnya, tapi melihat respon Bu Amel terhadap kita aja Ibu yakin mereka pasti orang-orang yang baik, Zi, kamu ngerti kan maksud Ibu? "


Mendengar perkataan Ibu, aku hanya bisa pasrah, toh, melawan juga gak ada gunanya.


________


Sesampainya di rumah, Ibu langsung bergegas turun sebab melihat sebuah mobil yang sudah parkir didepan,


" Aduhh... Cucu Ibu berkunjung ternyata, mana gak ngabarin lagi, " Ibu berucap sambil menutup pintu mobil, aku hanya menggelengkan kepala melihatnya.


Ketika tiba didalam rumah, Shaumi langsung berlari menyambutku, aku pun mengembangkan tangan dan memeluk gadis 5 tahun itu.


" Shaumi, kok, udah lama gak kesini, sih? Anty kangen, tau? " Ucapku seraya menciumi gemas pipi gembul nya itu, sedang yang dicium hanyak terkikik geli.


" Habis dari ketemu calon besan dan calon mantu, mas, " jawaban Ibu sontak membuatku membulatkan mata, mas Hanan dan mbak Alya saling lirik sambil mengulum senyum.


" Ehhem... Jadi ada yang mau sold out, nih, ceritanya? Tapi gak mau cerita-cerita ke mbak dan mas? Tega banget, sih, Anty, " mbak Alya malah ikut-ikutan menggoda, aku semakin salah tingkah dibuatnya.


" Gitu, ya, sekarang? Gak nganggap mas dan mbak mu lagi? "


" Gak pernah pacaran dan bawa laki kerumah tiba-tiba mau nikah aja, Anty pinter, ih, bikin surprise nya, "


Mas Hanan menaik turunkan alis nya, bermaksud menggodaku, tidak ada yang salah juga dengan respon mereka, seperti yang mas Hanan katakan tadi, aku belum pernah pacaran, bahkan sekedar dekat dengan diantar pulang pun gak pernah, jadi memang bisa dikatakan ini pertama kalinya aku berkenalan dengan lelaki.


" Apa, sih, mas mbak, Ibu juga, ini kan idenya Ibu, malah dikira Zia yang ngebet pengen nikah, " aku menoleh kearah Ibu, dia malah senyam-senyum, bikin aku gak bisa marah aja.


" Jadi ini idenya Ibu? Ya gak salah, sih, mungkin Ibu khawatir, umur udah 23 tapi gak pernah bahas cowok, kali aja Ibu takut kamu gak normal, "


Mas Hanan tertawa terbahak bahak setelah mengucapkan kalimat menyebalkan itu, Ibu dan mbak Alya malah ikut-ikutan menertawakan ku, aku menghentakkan kaki kemudian mengejar mas Hanan dan memukulinya dengan tas yang kubawa saat keluar tadi.


" Udah, ih, sini sini, duduk dulu, kamu juga mas, jangan gitu ngomong nya, perkataan adalah do'a, loh, amit-amit mah, anak-anak Ibu insyaallah gak gitu, "


Ibu menarik tangan ku, kemudian mengajak kami semua duduk di sofa ruang tamu.


" Mas becanda, dek, tapi mas berharap kamu beneran jadi sama yang ini, umur kamu juga udah pas kalo nikah, iya, kan, Bun? " Tanyanya pada sang istri.

__ADS_1


" Iya Banget, mas, tapi kita kan harus tau dulu seluk beluk si laki, bagus kalo baik, kalo gak? Kamu mau adik kita satu-satunya ini jadi korban? " Mbak Alya menjawab sambil merangkulku, iya, kami memang sedekat ini, bahkan seperti saudara kandung, tidak ada ceritanya dikeluarga kami seperti cerita-cerita dinovel, yang mana ipar, dan mertua adalah musuh besarnya menantu, Alhamdulillah Ibu tidak membedakan antara menantu dan anak kandung, malah dia memperlakukan mbak Alya lebih spesial dibandingkan kami anak-anaknya, mbak Alya pun begitu, sangat menghargai Ibu sebagai mertua nya, juga aku sebagai ipar satu satunya.


" Betul, sih, Bun, " mas Hanan membenarkan ucapan mbak Alya sambil mengangguk anggukkan kepalanya.


" gimana, Bu? Ibu kenal nya dari mana? terus menurut Ibu dia laki laki yang baik, gak? yang dikatakan Alya benar, Bu, kita gak boleh salah pilih calon untuk Zia, karena ini menyangkut masa depannya juga, " mas Hanan mencecar Ibu dengan pertanyaan.


" udah, kalian tenang saja, insyaallah Hyan adalah laki-laki yang baik dan bertanggung jawab, dia juga dari keluarga baik-baik, kok, Ibu kenal dengannya karena Bundanya itu teman pengajian Ibu, " Ibu mencoba meyakinkan mas Hanan.


" Alhamdulillah, kalau memang begitu, tapi lebih baik jangan terlalu tergesa-gesa, Bu, biarkan mereka saling mengenal satu sama lain dulu, itu sih, saran dari Hanan, "


Ibu menganggukkan kepala dan tersenyum.


" udah cukuplah bahas itu, gak liat, nih, bocah dibawah umur udah kebingungan sejak tadi dengan pembahasan kita? " ucapku sambil mencubit gemas pipi Shaumi, mendengar perkataan semua yang ada disana malah tertawa.


Kami pun mengalihkan pembicaraan, saling bercanda dan menggoda hingga tertawa bersama, momen yang seperti ini sudah sangat jarang kami nikmati, sejak mas Hanan memboyong keluarga kecilnya pindah kerumah yang sudah dibeli sejak masih sendiri dulu.


________


" mbak nginap, kan? " tanyaku pada mbak Alya ketika kami sedang didapur untuk menyiapkan makan malam dengan dibantu Bi Irah.


" gak bisa dong, Anty, besok mas mu kan kerja, Shaumi juga sekolah, mana gak bawa baju ganti lagi, " mbak Alya menjawab pertanyaanku tanpa menghentikan pekerjaannya memotong wortel untuk dibuat capcay.


" yaahh.. mbak gimana, sih, Zia kan kangen? " rengek ku pada mbak Alya.


" gimana lagi? bilangin mas mu itu, jangan sibuk terus di kantor, " mbak Alya menjawab sambil menjawil pipi ku.


" mas Hanan itu susah dibilangin, mbak, malah sejak sebelum nikah dia juga sibuk terus, mana sering lembur lagi, tapi ya namanya juga kerja, kan, itu juga buat mbak dan Shaumi, " ucapku dengan senyuman.


" iya, Zi, Alhamdulillah banget mah, mbak dapet mas mu, bertanggung jawab dan sayang banget sama keluarga, " aku tersenyum mendengar ucapan mbak Alya, mudah mudahan nanti rumah tanggaku bisa seperti mereka juga, ehhh.. apanih? ada yang kebelet nih keknya.


" ditungguin malah ngegosip, ngomongin apaan, sih, kalian ini? " kami kaget, sebab tiba-tiba saja mas Hanan sudah disini, malah langsung mengecup kepala istrinya, diihhh... pamer kemesraan banget, mana diliatin Bi Irah lagi, liat aja tuh, dia aja langsung malingin muka.


" kenapa cemberut? pengen? nikah atuh, neng " mas Hanan menggodaku.


" apaan, sih, sok bener, " cibirku,


" udah, ah, mas, jangan gangguin kita, mending mas nemenin Shaumi sama Ibu, sana, ntar kalo udah mateng Bunda panggil, " mbak Alya yang merasa risih mendorong pelan punggung mas Hanan agar keluar dari dapur.


" mas disini, aja, Bun, kan pengen liatin Bunda masak, " mas Hanan malah semakin menggoda mbak Alya membuat Ibu muda itu semakin kesal.


" yaudah, kalo gitu gak usah makan aja, biarin aja mas laper gitu, " ancam mbak Alya, aku dan Bi Irah hanya bisa saling lirik dan tersenyum menyaksikan dua insan itu malah saling debat.


" iya iya, masak yang enak, ya, sayangnya mas, " mas Hanan berucap sambil mengecup pipi mbak Alya membuat wanita itu sontak memukul lelaki usil itu, aku dan Bi Irah menahan tawa melihatnya, sedang mbak Alya terlihat salah tingkah karena ulah suaminya.


Kami kembali melanjutkan memasak, menu makan malam kali ini ada capcay sayur dengan udang, balado ikan dan ayam goreng untuk si bocil gembul.


setelah semua selesai, aku dan mbak Alya segera menyiapkan semua untuk dihidangkan.


" mbak, panggilin Ibu sama mas Hanan, dulu, ya, " pintaku pada mbak Alya yang langsung diangguki olehnya.


makanan sudah terhidang, semua juga sudah duduk dikursi masing-masing, kami pun langsung mengambil hidangan yang ada dan mulai makan sambil sesekali bercengkrama dan saling melempar canda.

__ADS_1


_______


Lanjut gak, sih?


__ADS_2