Lelaki Dinginku

Lelaki Dinginku
bab 12


__ADS_3

____________


Ditengah kegugupanku, Hyan berjalan mendahuluiku menuju pintu. Aku pun hanya bisa mengekor dibelakangnya.


" Assalamu'alaikum ... " Hyan mengucap salam setelah membuka pintu.


" Wa'alaikum salam ... Akhirnya, yang ditunggu datang juga, " Tante Amel begitu antusias dengan kedatangan kami.


" Selamat datang sayang. Ayuk, duduk dulu. Kamu mau minum apa? " Tante Amel menyambutku dengan senyuman hangat.


" Ahm ... Nggak usah repot-repot Tante, " aku tersenyum sungkan.


" Duhh ... Jangan panggil Tante lagi. Panggil Bunda saja, kayak Hyan juga Nayna, ya? " Pintanya.


Memang sejak awal pertemuan dia meminta aku memanggilnya dengan sebutan Bunda. Namun aku yang terlalu sungkan, takut dikira sama anaknya caper atau sok dekat.


Aku hanya mengangguk menanggapi permintaan nya.


" Bentar, ya. Zia tunggu sini dulu, Bunda minta bibik buatin minum, " pamitnya.


Sebelum berlalu kedapur dia sempatkan memanggil Nayna untuk menemaniku.


" Hai mbak, udah lama? " Sapa Nayna.


Aku berdiri menyambut gadis cantik itu, dan tanpa sungkan Nayna langsung memelukku dengan hangat.


Kami kembali duduk, Nayna mulai berceloteh. Ternyata Nayna setipe dengan aku, banyak bicara. Aku jadi berasa punya teman, apalagi Nayna berbincang seolah sudah lama kenal.


Bunda sudah kembali dengan nampan ditangan nya, dia meletakkan diatas meja dan mempersilahkan aku minum. Aku meraih gelas dan menyesapnya sedikit.


" Sayang, Hyan bilang kamu sudah setuju dengan permintaan nya kemarin, ya? " Bunda bertanya padaku.


" Iya, Bun. Setelah Zia pikir-pikir tidak ada salahnya juga. Sekalian bisa nyantai dirumah setelah 3 tahun bekerja, " jawabku seadanya.


" Iya, sih. Padahal bunda sama ayahnya Hyan nggak masalah, mau kamu kerja atau enggak. Itu kan haknya kamu, mungkin Hyan juga ada alasan dibalik permintaan nya itu, " ucapnya.


Aku mengangguk, kami bertiga kembali berbincang-bincang layaknya teman lama yang baru berjumpa. Sungguh, ini diluar ekspektasi ku, bisa disambut dengan baik dan hangat oleh keluarga Hyan. Semoga ini bukan diawal saja dan mudah-mudahan aku bisa tetap seperti ini, seperti mbak Alya yang kami terima dengan sangat tulus, tak perlu sungkan dengan mertua serta iparnya.


_________


Aku melirik jam ditangan, sudah jam 17:47.


Baru saja aku mau bertanya dimana Hyan, orang nya sudah muncul dari arah tangga.


Aku terpaku menatap sosok itu, dia sudah mengganti pakaian ternyata. Dia terlihat lebih santai, dengan mengenakan celana jeans selutut, dan atasan kaos yang kutafsir tidak murah itu serta memakai jam tangan yang mungkin juga barang branded.


Suara deheman membuatku seketika memalingkan wajah dan segera menunduk, malu saat ketahuan menatapnya. Sesaat sebelum kupalingkan wajah, aku mendapati Hyan tersenyum tipis, tapi mampu membuatku terpesona.


" Tatap-tatapan nya nanti aja, kalo sudah halal, " kelakar Nayna.


Gadis itu membuatku makin salah tingkah, sedang Hyan tetap berjalan kearah kami dengan wajah datarnya.


" Bun, Hyan antar Zia dulu. Takut nanti kemalaman, " katanya.


" Loh? Makan malam disini dulu aja, nak, " kata Bunda.


" Ahm ... Nggak usah Bun, lagian nanti ibu khawatir. kenapa pulangnya telat, " tolakku.


" Kamu ini, biar bunda yang kasih tau. Nanti bunda yang telfon ibumu, ya? "

__ADS_1


Aku beralih menatap Hyan, berharap dia bisa membantuku, yang ditatap malah melengos seolah tak tau apa-apa.


Aku kesal dibuatnya.


" Duhh ... Bukan gitu Bun, tapi ... " Belum habis aku bicara Nayna sudah menimpali.


" Nggak ada tapi-tapian mbak, udah, makan malam sini aja, " timpalnya. " Sekalian nginap juga boleh. Iya, kan, mas? " Nayna menaik turunkan alis nya pada Hyan.


Bunda menepuk paha gadis itu, membuatnya sedikit meringis tapi setelahnya terkekeh.


" Becanda Bun, kali aja mas Hyan pengen. Ehh? " Candanya lagi.


Aku melihat muka Hyan yang memerah, entah malu atau marah sebab candaan adiknya itu.


" Tuh kan, ada yang merona, nih, " Nayna makin melancarkan aksinya untuk menggoda sang kakak, sedang aku hanya bisa mengulum senyum.


" Apa sih, bocah! " Hyan melengos kesal.


" Yaudah, kalo gitu aku mau kekamar dulu. Lanjutin kerjaan, " ucapnya masih dengan ekspresi kesal.


Bunda dan Nayna malah terbahak melihatnya.


" Ternyata manusia es kalo salah tingkah menggemaskan, ya Bun? " Ucap Nayna yang disambut tawa oleh bunda dan juga aku.


" ya gitu, deh. Bunda belum pernah loh liat Hyan salah tingkah, sampe merah gitu wajahnya, " kami tertawa lagi.


" Iya tau, mbak. Dulu Nayna sempet berpikir kalo mas itu nggak suka cewek. Soalnya dia nggak pernah bawa atau kenalin cewek mana pun, padahal temennya Nayna banyak yang minta kenalan. Tapi katanya nggak ada yang menarik hatinya, " ucapan Nayna membuat ku dadaku berdebar, seperti ada kupu-kupu beterbangan didalam perut.


Aku menggigit bibir bawahku untuk menutupi senyum yang tersungging, mendengar perkataan Nayna mau tidak mau, membuatku salah tingkah.


" Terus tau-tau nya, malah paling oke dijodohin sama mbak, kayaknya jatuh cinta beneran, ya Bun? " Lagi-lagi ucapan gadis cantik ini mampu membuatku malu.


" Ahh ... Mungkin dia mau dijodohin karena udah capek sendiri kali, lagian nggak mungkin jatuh cinta lah. Ini kan pertama perkenalan kita, " aku menolak geer, takut kenyataan nya berbeda malah bikin nyelekit.


" Buktinya habis pulang nemenin Bunda berkunjung kerumah mbak, dia langsung oke aja, padahal baru liat foto, loh, " ucapan Nayna kali ini membuatku bingung.


" Berkunjung? Memang bunda pernah kerumah sebelum rencana perjodohan ini? " Tanya ku beralih pada bunda.


" Iya, sayang. Dua Minggu sebelum bunda dan ibu mu ngerencanain ini, bunda pernah datang kerumah mu. sebenarnya waktu itu bunda lagi ada urusan didaerah sana, kebetulan Hyan yang nemenin. Jadinya bunda ajakin mampir, awalnya dia nolak juga, tapi karena bunda paksain akhirnya nurut juga tuh anak, " kekeh bunda.


Aku hanya mengangguk menanggapi.


Saat sedang asik berbincang, terdengar salam dari luar. Ternyata om Hadi sudah pulang.


Bunda segera menyambut om Hadi, meraih punggung tangannya untuk dicium, sang suami membalas dengan mencium keningnya. Kemudian mengambil alih tas kerja ditangan suaminya.


Apa aku juga akan seperti itu nantinya? Ehh sorry, kelewat baper.


" Eh? Kedatangan calon mantu, Bun? " Kata om Hadi setengah bercanda ketika melihatku.


Aku meraih tangan om Hadi dan menciumnya.


" Om bisa aja, " sahutku dan tersenyum sungkan.


Om Hadi tersenyum dan mengusap kepala ku.


" Nayna, susulin mas mu. Suruh turun, kita makan malam bareng, " pinta bunda.


" Mbak Zia kan ada Bun, " godanya.

__ADS_1


Aku mencolek lengannya, sebab malu jika harus bercanda didepan om Hadi.


" Kamu ini, belum juga jadi istri mas mu. Udah digodain, apalagi kalo udah jadi. Bikin mbak mu sungkan kemari aja, " kata bunda.


Gadis itu hanya cengengesan, dan berkata akan memanggil Hyan dulu.


Aku digandeng bunda keruang makan, kami menarik kursi masing-masing.


Nayna turun dan menarik kursi disamping kanan ku. Dia mengatakan Hyan akan menyusul.


Akhirnya bunda mengajak kami makan duluan.


Kami makan sambil berbincang, sudah lama sekali rasanya aku merindukan makan seperti ini, dimeja yang sama dengan anggota keluarga lengkap, aku disini bahkan diperlakukan begitu hangat layaknya keluarga sendiri. Aku bersyukur bisa berada ditengah-tengah keluarga ini, apalagi ditengah gempuran mantu, ipar dan mertua yang saling bermusuhan, aku malah dapat yang seperti keluarga sendiri.


Hyan tiba-tiba datang dan menarik kursi disamping kiri membuatku tersedak, semua orang terkejut bahkan Nayna dengan spontan menepuk-nepuk pelan punggung ku.


Bunda segera mengulurkan segelas air putih padaku, bersamaan dengan itu Hyan pun melakukan hal yang sama. Melihat aku yang kebingungan bunda malah menarik kembali tangan yang berisi gelas tadi, membuat aku mau tak mau menerima gelas dari tangan Hyan.


" Lain kali hati-hati, aku kan nggak minta kamu suapin, " katanya datar tanpa menoleh padaku.


Aku merasakan hawa panas diwajah, mungkin sekarang wajah ku sudah seperti kepiting rebus mendengar perkataan nya. Sedang yang lain malah mengulum senyum.


Aku segera meneguk air putih untuk meredakan tenggorokan ku yang terasa perih, kemudian melanjutkan makan dengan dengan perasaan tak menentu.


" Cuek-cuek tapi perhatian, ya, mbak? " Bisik Nayna menggodaku.


Aku pun reflek menoel pinggangnya membuat Nayna menahan tawa.


Semua sudah melanjutkan makan, perbincangan pun makin panjang, laki-laki disampingku hanya makan dalam diam, seperti tidak mendengar apa yang kami bicarakan. Masing-masing dari kami menyudahi makan malam ini, aku berinisiatif untuk segera mengangkat piring kotor kedapur.


" Zia jangan, kamu duduk aja. Nanti ada bibik yang bersihin kok, " larang bunda.


" Nggak apa-apa kok Bun, lagian Zia sudah biasa dirumah, " jawabku.


" Duhh ... Memang lah kamu mbak, calon istri idaman, " canda Nayna.


" Makanya kamu belajar, biar jadi calon yang idaman, " Hyan menyahuti ucapan Nayna.


" Emang menurut kamu mbak Zia idaman mas ? " Godanya.


" Pasti lah, " jawabnya enteng. Semua orang yang ada disini bersorak ria, Nayna dan bunda yang paling heboh.


Aku bisa menangkap raut terkejut diwajahnya, mungkin kaget kenapa bisa berbicara seperti itu. Namun setelah itu dia mulai bisa menguasainya, dia kembali memasang wajah datar, dan segera berlalu.


Tanpa sadar senyum tersungging dari bibirku.


________


Sejak kejadian dimeja makan tadi, hingga saat mengantarku pulang tak ada sepatah katapun yang terucap dari bibirnya.


Aku memberanikan diri membuka suara.


" Mmm ... Aku sudah ajukan pengunduran diri tadi. Jadi, mulai besok aku tidak perlu kekantor lagi, " kataku.


" Hhm ... Bagus lah, " jawabnya sambil mengangguk anggukkan kepala.


Setelah itu kami saling diam lagi, aku juga tidak tau harus ngomong apa. Jadi, aku hanya diam sambil menikmati pemandangan kota pada malam hari.


Selama perjalanan, hanya keheningan yang tercipta. Perjalanan kali ini juga terasa lebih panjang serta membosankan, untuk mengusir kejenuhan aku memainkan ponsel. Hanya buka aplikasi scroll-scroll terus keluar lagi, buka lagi keluar lagi, yaa ... pokoknya kalian ngerti lah, biar terlihat seperti ada kesibukan gitu. kalian juga pasti pernah gitu, kan?

__ADS_1


__________


__ADS_2