
Part - 1
...*...
Tubuh Fey gemetar, saat melihat dua garis merah muncul di alat test kehamilan yang ia beli di apotik dua hari yang lalu.
"Bagaimana ini? hiks," gumamnya lirih.
Air matanya bercucuran, manakala membayangkan wajah orang tuanya yang akan menanggung malu atas aib yang sebentar lagi akan diketahui oleh banyak orang.
Peluhnya tidak terbendung, membasahi wajah serta seluruh tubuhnya.
Tidak banyak yang dapat ia perbuat, gadis manis berkemeja coklat susu itu pun hanya bisa menangis meratapi nasibnya sambil duduk meringkuk di atas keramik lantai kamar mandi di dalam kamar kostnya.
Setelah kurang lebih dua jam ia meluapkan segala rasa penyesalan yang menyeruak di dalam dadanya.
Rasa penyesalan yang sia-sia belaka dan hanya akan membuang waktunya saja, akhirnya gadis bermata belok itu pun akhirnya bangkit dari duduknya.
Ia mendekat ke arah bak mandi, dan sejenak kemudian ia mengguyurkan air ke seluruh tubuhnya.
Berkali-kali ia memukul permukaan air di dalam bak mandi dengan menggunakan gayung berwarna merah muda berbentuk hati, hatinya merintih dan bergejolak.
Setelah puas melampiaskan segala rasa sedih, sesal dan takut yang sedang menderanya. Fey pun segera menanggalkan semua pakaiannya yang basah, lalu ia meraih kimono handuk yang tergantung di belakang pintu kamar mandi.
Kemudian gadis bertubuh tinggi semampai itu pun segera keluar dari kamar mandi, dengan langkah gontai ia berjalan menuju lemari pakaian dua pintu yang terletak di sudut kamar kostnya.
Bergegas ia mengambil pakaian yang akan dikenakannya, setelah rapi ia pun langsung menyambar tas slempang serta ponsel yang disimpannya di atas meja belajar di samping lemari pakaian berwarna hitam miliknya.
Dengan langkah cepat, Fey berjalan menuju motor maticnya yang terparkir di halaman rumah kost yang merupakan sebuah rumah tua bergaya klasik namun tetap terlihat mewah karena desain interiornya yang apik.
Di halaman rumah kostnya yang cukup luas itu, ia bertemu dengan Evelyn si ibu kost.
Dia menyalimi wanita berjilbab syar'i, yang usianya sekitar empat puluhan itu.
"Gak kuliah, Fey?"
"Ehm, enggak Umi. Sudah selesai, tinggal tunggu waktu untuk wisuda, insya Allah tiga bulan lagi."
"Hoho, sudah selesai toh. Masya Allah, gak kerasa yah."
"Iya, Umi sih jarang kesini. Sibuk terus sama si kecil."
"Iya, nih. Hehe, maklumlah ... usia sudah menuju kepala empat, tapi baru dikasih anak sama Allah, jadi ya gitu kesenangan. Waktu lebih banyak dihabiskan di rumah ngurusin si kecil."
"Pastinya, Umi. Sekarang si gembil Uwaisnya kok ga ikut Mi?"
"Sedang paud, biar dia bisa bersosialisasi. Secara di rumah kan gak ada temannya dia itu, tetangga kiri kanan dan depan rumah Umi sudah gak ada yang punya anak kecil."
"Betul banget, Mi. Pastinya Uwais sangat senang masuk ke Paud."
"Jangan ditanya, Fey. Habis salat subuh, dia sudah merengek minta dipakaikan baju seragam dan minta cepat-cepat diantar ayahnya."
"Hihi, oalaaahh. Pintarnya."
"Iya lucu dia itu, tapi kadang kesal juga. Pagi-pagi pasti nangis, karena gak sabar tunggu waktu untuk berangkat ke sekolahnya."
"Hehe, rumah ramai jadinya ya Mi."
"Heboh banget, ya sudah Nak Feylin berangkat sana! Takut terlambat."
"Santai kok, Mi. Aku mau ke rumah teman."
"Hati-hati di jalan ya, jangan ngebut bawa motornya."
"Iya, Umi. Makasih ya, selalu perhatian sama aku."
"Sama-sama, Nak Feylin."
Usai mencium punggung tangan Evelyn, Fey pun menstarter motornya dan kemudian melaju meninggalkan ibu kostnya yang masih berdiri menatap kepergiannya.
...*...
Siang itu, langit Jakarta tampak mendung.
Awan putih tebal menggelayut di langit, menutup cahaya sang surya yang hangat.
Suara gemuruh petir terdengar tertahan, sepertinya tidak lama lagi kota metropolitan yang selalu dilanda kemacetan itu akan segera diguyur hujan.
Fey melajukan motor matic merahnya dengan kecepatan yang lumayan tinggi, selang satu jam kemudian ia pun sampai di tempat tujuan.
Sejenak netranya memandang bangunan megah yang terhalang pagar hitam tinggi di hadapannya, sebuah rumah mewah bergaya modern itu adalah rumah dari kekasih yang sudah menanamkan benih di dalam rahimnya.
__ADS_1
Setelah menarik nafas panjang, Fey berjalan menuju pagar.
Di sana ia bertemu dengan seorang satpam yang selalu berjaga, tanpa berlama-lama satpam yang sudah mengenal Fey itu pun mempersilahkannya masuk.
Dengan sopan, Ali mengantar kekasih dari anak majikannya itu sampai di depan pintu rumah.
"Saya tinggal ya, Non," pamitnya.
"Terimakasih banyak, Pak Ali."
"Sama-sama, Non Fey."
Fey menyunggingkan senyuman kepada Ali yang selama ini selalu memperlakukannya dengan baik.
Gadis berambut panjang itu, memang sering bertandang ke rumah kekasihnya.
Terkadang ia datang sendiri, terkadang juga dijemput oleh Kevin, sang kekasih yang merupakan anak kedua dari seorang pejabat tinggi sekaligus pengusaha pemilik frienchise restoran siap saji mirip KFC yang terbilang sangat sukses dan sudah memiliki cabang di seluruh Indonesia.
Fey nekat mendatangi Kevin, karena ia ingin menceritakan tentang kehamilannya secara langsung.
Dengan wajah yang dibuat setenang mungkin, akhirnya ia pun memencet bel yang terletak di samping pintu rumah bercat putih itu.
Setelah tiga kali memencet bel, akhirnya pintu rumah pun terbuka.
Seorang asisten rumah tangga yang sudah mengenalnya, manggut kepadanya seraya sambil mempersilahkannya untuk masuk.
"Seperti biasa, Non Fey silahkan langsung saja ke kamar Den Kevin. Orangnya masih tidur."
Fey mengangguk, "makasih banyak, Bik Lastri. Aku ke kamar Kevin dulu ya."
"Monggo, Non."
Dara cantik berkulit kuning langsat itu pun menaiki satu persatu anak tangga, beberapa saat kemudian ia pun sampai di depan pintu kamar Kevin.
Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Fey yang sudah biasa datang langsung memasuki kamar tidur kekasihnya itu.
Di dalam kamar tidur yang luas dan sangat mewah itulah, Fey merelakan kesuciannya direnggut oleh Kevin, seorang anak mamih yang ia kenal di pesta ulang tahun sahabatnya dua tahun yang lalu.
Ketampanan serta ketajiran Kevin, mampu membuai Fey.
Sikap dan perlakuan pemuda berusia 22 tahun itu, mampu meyakinkan seorang Fey untuk menyerahkan mahkota yang paling berharga miliknya.
Perlahan, mahasiswi yang beberapa bulan lagi akan diwisuda itu pun berjalan mendekat ke ranjang mewah berukuran besar.
Di sana terlihat Kevin, yang masih tertidur kelap berselimutkan badcover yang tebal dan hangat.
Fey berdiri membungkuk, lalu ia mengguncang pelan lengan pria yang sangat dicintainya itu.
"Vin, bangun!"
Kevin mengerjapkan matanya, tak lama kemudian ia menggeliat.
Bibirnya tersenyum, saat melihat sang kekasih berada di dalam kamarnya.
"Hai Beib, kangen ya sama aku? Sampai nyamperin ke sini."
"Aku mau ngomong sama kamu, urgent."
"Cium aku dulu!"
"Ini bukan saatnya untuk bercanda, Vin."
"Come on, Beib. Jangan terlalu serius begitu."
"Shut up, Vin. Aku ingin nyampein sesuatu hal yang sangat penting."
"Ok, sebentar aku mandi dulu ya. Tunggu di sini, jangan kemana-mana!"
"Ok."
Kevin mengacak rambut Fey, lalu menciumnya.
"Kalau haus atau lapar, kamu telpon Bik Lastri di dapur. Biar nanti dia yang antar kemari."
"Ok. Cepatlah Vin!"
"Yes, Beib. Five minute, ok."
Fey mengangguk.
Benar saja, lima menit kemudian Kevin pun keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
Tubuhnya yang atletis dan putih, sungguh terlihat semakin segar dalam keadaan basah seperti itu.
Fey sempat berdecak kagum memandangi sosok kekasihnya, namun semua itu segera ditepis manakala teringat tentang kehamilannya.
Setelah memakai kaus dan celana pendek, Kevin pun duduk di samping Fey di atas sofabed yang terletak di dekat pintu masuk kamarnya.
"Tell me, Beib!"
"I'm pregnant, Vin."
Mata Kevin terbelalak, wajahnya memerah.
Sungguh ia tidak menyangka, kalau perbuatan terlarangnya bersama sang kekasih harus berujung seperti itu.
"Aborsi!"
"Aku gak mau, tambah berdosa nantinya."
"Daripada kita malu, aku belum selesai kuliah. Papi dan Mami aku juga pasti gak akan setuju, dan pastinya akan sangat murka kepadaku."
"Lalu, aku harus bagaimana? Aku takut, sedih dan bingung."
Fey menangis tersedu, Kevin yang kalut mengacuhkan kekasihnya.
Pemuda bermata sipit itu pun bangkit dan berjalan menuju jendela kamar yang menghadap ke halaman belakang, netranya menatap air berwarna biru di dalam kolam renang yang berukuran cukup luas itu.
Berkali-kali ia menghela nafas panjang, berusaha untuk tetap tenang dalam menyikapi masalah besar yang kini sedang menimpa dirinya.
Tangan kanannya mengepal, lalu dipukulkan ke tembok di sisi kusen jendelanya.
Nafasnya naik turun, ia pun sama seperti Fey yang kalut dan bingung atas musibah yang disebabkan oleh perbuatan bodohnya selama satu tahun terakhir ini.
"Argh, Shit!" teriaknya.
Sementara Fey yang masih duduk sambil menangis si sofa, belum beranjak dari duduknya.
Wajahnya tenggelam di atas sandaran tangan sofabed yang berwarna biru toska.
Terdengar isakan juga lengkingan yang memilukan.
"Aku belum siap menikahimu, pastinya itu akan danger untuk masa depanku. Sorry, Beib. Jalan teraman untuj kita, gugurkan kandunganmu. Aku akan mencari tahu, dukun beranak atau bidan yang mau melakukan hal itu. Aku jamin kamu akan baik-baik saja, dan kita bisa menjalani kehidupan kita seperti biasa lagi."
Wajah Fey mendongak, menatap tajam ke arah Kevin yang masih memandang pemandangan dari balik kaca jendela di hadapannya.
Tidak lama kemudian, gadis berhidung bangir itu pun melangkahkan kaki dan berhenti tepat di samping pria yang menurutnya sangat pengecut itu.
"Kamu worry sama masa depanmu, sementara aku bagaimana? Perut ini semakin lama akan semakin membesar, pastinya aku yang akan menanggung malu lebih banyak dibanding kamu, Vin. Please, berpikirlah jernih. Ini perbuatan kita lakukan atas dasar suka sama suka, satu hal yang perlu kamu ingat ... Kamu adalah pria pertama dan satu-satunya yang menyentuh tubuh ini. Buktikan janji manismu saat pertama kali berhasil merenggut mahkotaku! Jangan jadi pengecut seperti ini."
Kevin menatap nanar gadis berwajah oval yang selama ini sangat dicintainya, rasa takut kehilangan masa depannya yang dipenuhi dengan fasilitas mewah, ternyata lebih besar dibandingkan dengan rasa cintanya yang selama ini digadang-gadang sangat dahsyat terhadap Fey, kekasihnya.
Kevin meraih kedua tangan gadis pujaannya, lalu menciumnya berkali-kali.
"I'm sorry, Honey. I can't marry you."
Plaaaakkkkk!
Sebuah tamparan mendarat mulus, di pipi kiri Kevin yang kini sedang tertunduk bingung.
"Bang*at kamu, Vin. Teganya kamu membiarkan aku menanggung aib yang kita lakukan bersama, laki-laki macam apa kamu, hah?!"
Kevin bergeming, bibirnya kelu untuk dapat menanggapi semua ucapan gadis cantik yang sedang meluapkan kemarahan kepadanya.
"Kini, aku tahu laki-laki macam apa kamu ini. Lembek, pengecut, anak Mami dan ... menjijikan, cuih!"
Mendengar umpatan yang terlontar dari mulut Fey, sontak membuat Kevin terbakar amarah.
Refleks tangan kanannya menarik kerah kemeja yang dikenakan kekasihnya itu.
Fey terbatuk saat lehernya merasakan sakit, setengah tercekik.
"Menjauhlah dariku! Kamu pun tampak sama menjijikan di mataku. Mulai detik ini, kita gak punya hubungan apa-apa lagi. Jadi jangan pernah kamu menganggu aku lagi!"
Usai mengumpat, Kevin pun melepaskan cengkraman tangannya dan dengan kasar ia mendorong tubuh kekasihnya itu hingga tersungkur ke lantai.
Sambil menahan sakit, perlahan Fey berusaha bangkit dan dengan sempoyongan ia pun berjalan meninggalkan kamar lelaki yang baru saja mencampakkannya.
Gadis malang itu berlari menuruni anak tangga, ia tidak memperdulikan penampilannya yang berantakan.
...*...
**Bersambung**
__ADS_1