
Part - 25
Tok ... Tok ... Tok!
Krieeeettt ...
"Abi Naura," sebut Fahri, saat seorang pria berjas hitam memasuki ruang perawatan sang kakak.
"Bagaimana keadaan Ami Naura, Ri?" tanya pria paruh baya, yang tidak lain adalah kakak iparnya Fahri.
"Sedang dalam pengaruh obat penenang, Bi. Ami Naura tampaknya masih terguncang atas meninggalnya Silva."
"Ya Allah, kasihan sekali. Pelakunya sudah tertangkap?"
"Sudah, Bi. Dua hari yang lalu, laki-laki pengecut itu sebentar lagi akan mendapatkan hukuman atas perbuatan bejatnya. Pengacara yang Abi Naura datangkan, sudah mengurus semuanya, dan kabarnya lagi, si dukun beranak yang telah mengaborsi kandungan Silva sudah ditangkap juga."
"Syukurlah kalau begitu, maafkan aku ya Ri tidak ada saat Silva dimakamkan, pekerjaan di luar kota sungguh sulit ditinggalkan."
"Iya, Bi. Kami mengerti kok, yang terpenting doanya tidak putus untuk Silva, Bi."
"Insya Allah, Ri. Setiap habis sholat, aku akan kirim hadiah doa untuk Silva."
"Makasih banyak, Bi."
"Iya, sama-sama. Oh, iya Ri ... Kamu pulang saja, biar aku yang jaga Ami Naura. Kasihan kan kamu harus kerja besok pagi."
"Abi capek nggak?"
"Nggak, tinggal aja. Ami Naura pasti sangat membutuhkan aku di sini, mudah-mudahan setelah ada aku, dia bisa lebih tenang dan legowo."
"Iya, Bi. Kalau begitu aku pamit dulu ya."
"Ok, makasih ya Ri, sudah jaga Ami Naura."
"Iya, Bi. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Fahri mencium punggung tangan kakak iparnya, setelah itu ia pun keluar dari ruangan, dengan langkah gontai ia berjalan menuju pelataran parkir rumah sakit.
Sementara di dalam ruang rawat inap, pria yang dipanggil oleh Fahri dengan panggilan 'abi Naura' dengan sabar menunggui istrinya yang masih tertidur. Beberapa saat kemudian, bibirnya tersenyum manakala mendapati sang istri terbangun dari tidurnya.
"Mas," panggilnya pelan.
"Iya, Sayang. Aku ada di sini, maafin aku ya baru bisa pulang, aku beresin dulu kerjaan, supaya bisa menemanimu tanpa ada gangguan soal pekerjaan."
"Nggak apa-apa, Mas. Aku sangat ngerti, Mas sudah makan?"
"Sudah, Sayang. Bagaimana dengan keadaanmu saat ini?"
"Fisik aku sehat, Mas. Hanya saja, hati aku yang sangat sakit."
"Aku tahu, Fahri sudah menceritakan semuanya. Aku tahu perasaanmu saat ini seperti apa, terlebih si kembar Silva dan Selvi adalah adik kesayanganmu. Tapi, menyimpan dendam itu nggak baik untukmu, kan kamu yang banyak ajarkan aku tentang ilmu agama, masa iya Ami mau berbuat hal yang tidak baik."
"Tapi, Mas. Aku --"
"Sudah, Sayang. Jangan biarkan syaitan menghasutmu, ikhlaskan Silva, buat dia tenang di sana. Doakan selalu adik kita itu, agar mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya."
"Hiks. Terimakasih ya Mas, Mas sudah buat aku lebih tenang dan bisa meredam amarah ini."
"Iya, Sayang. Seharusnya aku yang berterimakasih sama Ami. Karena Ami sudah banyak mengajariku banyak hal. Aku sangat mencintaimu, Mi. Untuk itu aku mohon, jangan berbuat yang tidak-tidak ya! Kasihan Naura dan Selvi. Dan tentunya aku akan sangat bersedih kalau Ami kenapa-kenapa."
"Aku janji, Mas. Aku nggak akan seperti itu lagi, maafin aku ya."
"Iyaa, sudah-sudah jangan menangis lagi. Mulai detik ini, tata kembali hatimu, tegar dan ikhlas demi orang-orang yang sangat menyayangimu!"
"Iya, Mas."
***
Hari berganti hari, waktu bergulir begitu cepat. Kondisi Anggun semakin kacau saja, terlebih saat putra kesayangannya terancam hukuman berat akibat perbuatannya.
Di saat seperti itu, tidak pernah sekali pun Kenzo dan Fey meninggalkannya. Keduanya memutuskan untuk tinggal menemani Anggun yang selalu mengamuk saat tengah malam tiba.
Biasanya saat malam beranjak larut, Anggun selalu menangis meraung-raung sambil menyebut nama putra keduanya, yaitu Kevin. Setelah puas menangis, lalu ia pun tertawa terbahak-bahak sambil berjoget-joget.
Kenzo selalu menangis tiap kali menyaksikan sang ibu kumat, beberapa kali ia mencoba untuk membawanya ke psikiater, namun usahanya tidak pernah berhasil karena ibunya tersebut selalu menolak ajakan putranya itu.
"Aku sudah kehabisan cara untuk bawa Mami berobat, Yang," keluh Kenzo, saat sarapan bersama istrinya.
"Hanya Papi yang bisa melakukan hal itu, Mas. Tapi rasanya itu sangat sulit, karena Papi sudah lupa pulang dan tidak perduli dengan Mami."
"Huff, iya. Aku ingin marah sama Papinya Kevin, tapi semua itu nggak ada gunanya aku rasa, toh semua yang sudah terjadi di dalam keluarga mereka adalah akibat dari perbuatan mereka di masa lalu."
"Iya, Mas. Dengan emosi nggak akan menyelesaikan masalah, yang ada malah menambah runyam masalah."
"Betul ucapanmu, Sayang. Hmmm, oh iya aku baru ingat, kamu kenal kan sama istri muda Papi? Siapa itu namanya?"
"Mbak Indah?"
"Iya, Mbak Indah. Coba kamu hubungi dia, Yang! Dekati dan sampaikan tentang kondisi Mami, siapa tahu dia bisa membujuk Papi untuk pulang. Kata kamu, dia kan orang baik, pasti dia nggak akan keberatan melakukan apa yang kamu minta."
"Baik, Mas. Aku akan coba, setelah sarapan aku coba telpon dia ya."
"Iya, Sayang. Mudah-mudahan saja, dia mau berbaik hati."
"Amiin, ya Allah. Ya sudah, habiskan sarapannya, Mas!"
"Iya, Sayang. Jam sembilan nanti aku ke kantor polisi lagi ya, kata pengacara hari ini ada agenda baru, yaitu pemeriksaan si dukun beranak yang mengaborsi kandungan Silvania."
__ADS_1
"Ok, Mas. Tapi ingat ya, jangan lupa makan siang kalau memang sampai sore, jangan sampai maag Mas kambuh!"
"Iya, Sayang. Kamu ingetin aku ya!"
"Huum, Mas."
Lima belas menit kemudian, usai sarapan, Fey bangkit dari kursinya dan mengambil piring juga gelas kotor di atas meja makan dan kemudian membawanya ke wastafel cuci piring.
Setelah membersihkan semuanya, wanita beranak satu itu pun segera mengambil ponsel dan menelpon Indah, istri muda ayah mertuanya.
"Baik, Mbak. Habis duhur saya ke rumah Mbak Indah, tolong share lokasinya ya! Assalamualaikum ...."
Dengan wajah berseri, Fey menghampiri suaminya yang sedang mengajak putranya bermain di halaman rumah.
"Maass," panggil Fey sambil tersenyum.
"Nyambung, Yang?"
"Alhamdulillah, Mbak Indah angkat telpon aku. Aku sudah sampaikan maksud dan tujuanku sama dia, katanya datang saja ke rumah untuk ngobrol lebih banyak."
"Jam berapa kamu mau ke rumahnya? Biar aku antar."
"Habis duhur, Mas."
"Nanggung banget waktunya."
"Katanya Mbak Indah nggk bisa kalau pagi ini, ada urusan penting dia bilang."
"Oh gitu. Bagaimana kalau pas aku ke kantor polisi nanti, kamu ikut. Nanti selesai makn siang, kita ke rumah Mbak Indah."
"Hmm, baiklah Mas. Tapi ... Kenzie jangan diajak ya, kasihan."
"Iya, biar di rumah saja dijaga sama Bibik."
"Ok, kalau gitu sini Mas Kenzienya, biar aku mandiin. Ini sudah jam setengah delapan."
Fey berjalan mendekati suaminya, lalu sambil bercanda ia pun menggendong putranya yang sudah mulai pintar berjalan itu.
Saat Fey dan putranya akan berlalu, Kenzo spontan menarik pelan tangan sang istri dan bibirnya didekatkan ke telinga istrinya.
"Habis Kenzie, Papinya ya," bisik Kenzo nakal.
"Papinya mau apa?"
"Mau dimandiin juga," bisiknya lagi, kini sembari mengecup telinga istrinya yang tertawa kecil.
"Ckck, udah gede juga."
"Jadi nggak mau mandiin aku?"
"Enggak!"
"Ya udah kalau gitu, mandi bareng aja yuuuukkk!"
"Mandi lagi, aku keramasin deh, hehe."
"Nakal banget sih Papinya Kenzie ini, manfaatin kesempatan dalam kesempitan," protes Fey, sambil mencolek pipi suaminya.
"Hehe, nakal sama istri sendiri nggak apa-apa dong! Lagian kalau malam mau mesra-mesraan susah, nggak tenang takut Mami kenapa-kenapa."
"Hehe, ya udah kalau gitu, ikut aku ke kamar!"
"Asiiikkkk."
"Jangan seneng dulu, aku mau minta tolong Mas untuk bantu siapin pakaian Kenzie, hehe."
"Siap grak, habis itu kan Kenzie bobo, nah giliran aku boboin Maminya. Haha."
"Maaaassss, iiihhhh."
Kenzo tertawa saat melihat istrinya itu mendelik ke arahnya, lalu berlalu pergi sambil bersungut.
Waktu menunjukkan pukul 09.00 tepat, Kenzo dan juga Fey telah bersiap untuk berangkat ke kantor polisi.
Setelh memastikan Kenzie dan Anggun aman, mereka pun segera meninggalkan rumah dengan mobil sedan abu metalik milik Kenzo.
Setelah menempuh perjalanan satu jam lebih, akhirnya pasangan suami istri yang belum dikarunia momongan itu pun sampai di pelataran parkir sebuah kantor polisi.
"Mas, aku nggak mau ketemu si Kevin."
"Iya, Sayang. Nanti kamu tunggu di ruang tunggu saja ya, atau mau aku anterin ke warung nasi Padang di seberang itu?"
"Enggak ah, aku nunggu di dalem aja."
"Ok, yuk kita turun!"
"Iya."
Keduanya pun turun dan berjalan memasuki gedung bercat krem itu.
Kenzo bergegas masuk untuk menjenguk adiknya, sedangkan Fey duduk di kursi yang ada di ruang tunggu.
Satu jam kemudian, tiba-tiba pintu ruang pemeriksaan terbuka dan tak lama keluar seorang wanita berkerudung marun bersama seorang pria tinggi yang mengenakan jas serta dasi.
Fey langsung berdiri dan berjalan mendekat ke arah wanita itu, "Mbak Indah!"
"Mbak Andi?"
"Mbak lagi apa di sini?"
__ADS_1
"Aku, ini ada urusan Mbak. Mbaknya lagi apa di sini?"
"Eng, aku lagi nganter suami Mbak. Dia lagi jenguk si Kevin."
"Kevin anak Mas Rahmat?"
"I-iya, Mbak."
"Ada masalah apa Mbak dengan Kevin?"
"Hmm, dia ...."
Indah melirik kepada pria yang berdiri di sampingnya, lalu kemudian ia pun memberi kode agar pria tersebut meninggalkannya bersama Fey.
"Duduk dulu yuk, Mbak Andi!"
"Euh, iya Mbak."
Keduanya pun duduk bersama di kursi di dalam ruang tunggu.
"Kebetulan sekali Mbak, kita ketemu di sini."
"Mbak Andi mau bicara soal Bu Anggun di sini?"
"Saya rasa iya, Mbak. Nggak apa-apa kan?"
"Boleh, Mbak. Silahkan Mbak bicara!"
"Tolong bujuk Papi supaya mau pulang dan ajak Mami berobat ya Mbak! Karen nggak ada lagi orang yang bisa bujuk Mami, selain Papi."
"Hmm, baiklah Mbak! Saya akan coba, selama ini juga saya selalu ingatkan beliau untuk pulang ke rumah Bu Anggun. Tapi beliau sangt keras kepala, 1001 alasan selalu diucapkan setiap kali saya meminta beliau untuk pulang."
"Alhamdulillah, Mbak. Makasih banyak ya!"
"Sama-sama, Mbak."
Tak lama berselang, muncul Kenzo bersama sang pengacaranya. Fey lalu memperkenalkan suaminya itu kepada Indah.
Baik Indah maupun Kenzo, keduanya sama-sama terkejut saat kembali bertemu di ruang tunggu.
"Loh, jadi Pak Kenzo ini adalah suami Mbak Andi, dan itu artinya dia --"
Belum usai melanjutkan ucapannya, tubuh Indah langsung tumbang, tidak sadarkan diri.
"Mba ... Mbaaaak!" teriak Fey histeris.
Dengan sigap Kenzo dan sang pengacara mengangkat tubuh Indah, dan membaringkannya di atas sofa.
"Maas, ada apa ini?"
"Ibu Indah ini ... Dia adalah,"
"Dia siapa Mas? Jangan setengah-setengah gitu kalau bicara Mas!"
"Ibu Indah itu adalah kakak dari korban aborsi itu, Yang. Kami tadi bertemu di ruang besuk."
"Astaghfirullah, kenapa harus Mbak Indah?"
Fey terduduk lemas di kursi, air matanya tak dapat ia tahan.
"Semua rahasia Allah, Yang. Setelah Bu Indah mengetahui semuanya, aku nggak yakin kalau dia masih bersedia untuk membujuk Papi pulang."
"Iya, Mas. Aku juga berpikir kaya gitu."
Sepuluh menit kemudian, Indah pun siuman. Ia duduk bersandar di sofa, tangannya memijat-mijat kening.
"Mbak, bagaimana keadaan Mbak?"
"Jangan dekati saya, Mbak!"
"Tapi, Mbak ...."
"Setelah saya tahu siapa si Kevin itu, maafkan saya kalau saya nggak bisa memenuhi permintaan Mbak tadi."
"Jangan begitu, Mbak! Kasihan Mami."
"Lebih kasihan aku, aku harus kehilangan adik karena ulah adik iparmu itu, Mbak!"
Kenzo mendekat ke arah Indah, ia menelangkupkan kedua tangannya di depan dada, "saya mohon Bu Indah, tolonglah Mami saya, supaya dia sembuh. Hanya Papi yang bisa mengajaknya berobat."
"Saya nggak peduli! Permisi."
Dengan kasar Indah menghempaskan tangan Fey yang berusaha merangkul tubuhnya. Kemudian wanita bertubuh tinggi langsing itu pun berlalu meninggalkan ruangan.
"Mbaaakkk!" teriak Fey, berusaha mengejar.
"Sayang ... Sayang! Sudah-sudah, hati dan pikirannya masih panas, jangan bicara sekarang. Percuma."
"Huhuhuuuu, kenapa semuanya jadi kacau begini Mas?"
"Ssssttt, sudah Sayang, sudaaahh!"
Kenzo mendekap tubuh sang istri, dan berusaha untuk menenangkannya.
***
Maaf ya Maak saya baru sempat posting kelanjutan cerita ini, karena kepentingan di dunia nyata yang sangat menyita waktu dan juga tenaga.
Terimakasih banyak atas kesetiaannya membaca cerbung ini, semoga anda semua diberkahi oleh Allah.
__ADS_1
***
-Bersambung-