Lepas Masa Lalu

Lepas Masa Lalu
Lepas Masa Lalu


__ADS_3

Part - 22


"Pak Kenzo terancam hukuman selama 1 tahun 4 bulan, Bu," ujar pria berdasi, yang tidak lain adalah seorang pengacara yang menangani kasus Kenzo.


"Bisakah suami saya bebas, Pak? Dia gak bersalah, dia hanya membela saya."


"Akan saya upayakan, walaupun agak sulit, Bu. Karena banyak saksi yang menyaksikan kejadian tersebut, para saksi yang dihadirkan kebanyakan dari pihak mereka mengatakan bahwa suami ibu yang menyerang duluan, Kevin si korban gak melakukan perlawanan sama sekali, Ayah anda dan Pak Arash mau maju menjadi saksi saja ditolak, saya curiga ada persekongkolan ini Bu. Yang memberatkan lagi adalah dengan adanya bukti rekaman cctv, yang menjabarkan jelas semua kejadiannya, saat saya menyaksikan memang benar kesan yang ditangkap adalah Pak Kenzo secara membabi buta menyerang adik tirinya, hal itu diperkuat juga dengan hasil visum korban."


"Ya Allah, bagaimana ini?"


"Semua bukti, ditambah hasil visum memberatkan Pak Kenzo, Pak Rahmat sangat apik menyusun rencananya, hal ini membuat posisi suami anda terpojok. Pak Kenzo sulit lepas dari jeratan hukum. Kecuali ...."


"Kecuali apa, Pak?"


"Kecuali, kalau Pak Rahmat mencabut tuntutannya, Pak Kenzo akan bisa bebas."


"Ya Allah," Fey menutup wajah dengan kedua tangannya.


"Sabar, Nak. Tetap tenang! Insya Allah semua akan baik-baik saja."


"Tapi, Opuu... Aku gak akan bisa tenang, kasihan Mas Kenzo kalau harus mendekam di dalam penjara, tega sekali Ayah tirinya dan si Kevin itu."


"Opu tahu, Nak. Tapi biarlah Pak Burhan yang bekerja dan mencari cara untuk membebaskan suamimu, percayakan semuanya kepada beliau."


"Aku mau pamit keluar sebentar, Opu, Mama."


"Mau kemana, Nak?"


"Ada urusan sebentar. Ndak lama kok."


"Baiklah, Nak!" Andi mengizinkan putrinya pergi.


"Iyo, Nak. Hati-hati'moko di jalan, jangan ngebut bawa mobilnya."


"Iye, Opu, Ma. Fey pergi dulu, mari Pak Burhan."


"Mari Bu Feylin."


Usai menyalami kedua orang tuanya, Fey segera melangkah keluar menuju mobil sedan milik suaminya yang terparkir di garasi rumah.


Pagi menjelang siang itu, awan menyelimuti langit, sehingga sang surya seperti malu-malu untuk muncul menampakkan sinarnya yang hangat.


Tak lama hujan pun turun, kemudian terdengar suara gemuruh petir dengan kilat terlihat sesekali.


Dibawah rintik hujan, mobil yang dikendarai oleh Fey melaju kencang membelah jalanan ibu kota yang cukup lengang.


Satu jam kemudian, sampailah ia di pelataran parkir sebuah gedung bertingkat.


Tidak membuang waktu, Fey langsung turun dari mobil dan memasuki lobi gedung yang merupakan sebuah kantor milik ayah tiri suaminya, yaitu Rahmat.


"Met siang, Mbak. Saya mau bertemu dengan Pak Rahmat, owner perusahaan ini."


"Maaf, apakah Ibu sudah buat janji dengan beliau?"


"Saya menantunya, apa perlu saya buat janji dengan ayah mertua saya?"


"Ma-maaf, Bu. Silahkan tunggu sebentar, akan saya hubungi dulu Mbak Indah, sekretarisnya Pak Rahmat."


"Indah?"


"Iya, Bu. Mbak Indah adalah sekretarisnya Pak Rahmat."


"Indah yang pakai hijab dan giginya pakai kawat itu kan?"


"Iya, betul Bu. Apakah anda kenal dengan beliau?"


"Ya, sudah cepat Mbak!"


"Iya, baik Bu."


Fey berjalan menjauhi meja receptionist, dan lalu dudul di sofa yang telah disediakan.


"Ibu Feylin, silahkan masuk! Anda sudah ditunggu di ruangan Pak Rahmat. Ruangannya ada di lantai 3, anda bisa naik lift yang ada di ujung ruangan ini. Nanti anda akan diantar oleh Mbak Indah."


"Baik, Mbak. Makasih banyak."


Dengan langkah cepat, Fey berjalan menuju lift. Ia sudah tidak sabar ingin buat perhitungan dengan ayah tiri dari suaminya itu.


Ting...


Pintu lift terbuka, Fey keluar dan langsung berjalan di lorong menuju ruangan Rahmat.


Dari kejauhan, ia melihat sosok wanita yang dikenalnya.


Ya, wanita itu tidak lain Indah, pelanggan hijabnya dulu, sekaligus istri dari Rahmat.


"Terimakasih ya Allah, Engkau mempermudah jalanku."


Dengan optimis, Fey mempercepat langkahnya menuju meja Indah.


"Hai, Indah."


Indah mendongak, lalu langsung tersenyum seraya berdiri dan kemudian memeluk Fey.


"Mbak Andii, hai apa kabar?"


"Alhamdulillah, baik Mbak. Kerja di sini toh?!"


"Iya, Mbak. Mbak sedang apa di sini?"


"Aku lagi ngelamar kerja, hari ini ada janji interview dengan Pak Rahmat," kilah Fey berbohong.


"Hihi bisa aja, kata receptionist ada menantu Pak Bos mau bertemu dengan Pak Bos, jangan-jangan Mbak ini menantunya Pak Rahmat, betulkah?"


"Iya, Mbak. Berarti Mbak Indah ini adalah mertuaku, ya kan?"


Wajah Indah memerah saat Fey melontarkan pertanyaan seperti itu.


"Hehe, iya Mbak. Tapi kok Mas Rahmat gak cerita ya kalau beliau baru menikahkan putranya."


"Semua penuh misteri, Mbak."


"Hmm ... Saya baru ngerti kenapa dulu saat bertemu, Mbak Andi langsung pulang."


"Ya begitulah, Mbak Indah tahu kalau Pak Rahmat sudah punya istri?"


Indah menunduk dan perlahan ia pun mengangguk.


"Ya Allah, Mbak. Kok bisa, mau sama dia?"


"Beliau sangat baik, beliau yang membiayai sekolah keempat adikku. Yang dua orang sudah lulus sarjana, kami adalah anak yatim piatu, saat Ayah lari dengan wanita lain, Ibu nekat bunuh diri, lalu setelah itu Ayah pun bangkrut dan ditendang oleh selingkuhannya. Lalu beliau kembali kepada kami, sakit-sakitan, kami kewalahan dalam hal keuangan, untuk biaya berobatnya kami sampai harus menjual rumah yang kami tempati, yang merupakan warisan dari mendiang Nenek dari Ibu."


"Sudah punya anak dengan Pak Rahmat?"


"Hmm, sudah Mbak. Perempuan, Alesha namanya, usianya mau 3 tahun."


Mata Fey terbelalak, ia tidak menyangka kalau hubungan Rahmat dan sekretarisnya itu sangat serius.


"Masya Allah, sudah besar. Sudah berapa lama kalian menikah?"


"Kami sudah 5 tahun menikah, Mbak."


"Wow, cukup lama juga. Kita akan banyak bicara, tapi nanti. Aku mau bertemu dulu dengan Pak Rahmat, Mbak."


"Baik, tapi Mbak...." wajah Indah berubah seperti cemas dan mengkhawatirkan sesuatu.


"Tenang aja, Mbak. Aku keep silent, jangan takut terbongkar."


"Makasih, Mbak." Indah mengulas senyum kepada Fey.


Lalu kemudian ia pun mengantar Fey menuju ruangan Rahmat. Sampai di ambang pintu, Indah berpamitan kepada menantu dari suaminya itu untuk kembali ke mejanya.


Di dalam ruangan, Rahmat mempersilahkan tamunya untuk duduk.


"Gak usah berbasa-basi, Pak. Saya datang kemari, dengan maksud agar anda mencabut tuntutan terhadap suami saya."


"Haha, kenapa? Kamu kesepian tidur sendirian, hah?!"


"Jaga bicara anda!"


"Wanita sundal sepertimu, gak pantas mengingatkanku seperti itu."


"Sundal? Anakmu yang bejat, bukannya bertaubat atas dosanya di masa lalu, ini malah semakin menjadi, ayah macam apa anda ini?"


"Hati-hati kamu kalau bicara! Sekali lagi kamu memaki Kevin, aku gak segan...."


"Mau apa? Mau mukul saya? Silahkan, saya gak gentar! Saat itu terjadi, anda yang akan saya jebloskan ke dalam penjara."


"Katakan cepat apa maumu! Jangan bertele-tele, buang waktu saja."


"Saya mau anda cabut tuntutan dan bebaskan suami saya!"


"Dia pantas menerimanya, sudah lama aku ingin memenjarakan anak nggak tahu diri itu."

__ADS_1


"Anda yang gak tahu diri, bukan suami saya."


"Suamimu itu, manusia gak tahu bersyukur, dia aku pungut dari kemiskinan, aku sekolahkan hingga kini bisa sukses, tapi gak pernah sekali pun dia menghormatiku."


"Pantaslah dia nggak hormat, anda saja bersikap seperti itu."


"Sudah cukup! Pergi kamu dari ruangan ini!"


"Saya akan pergi, setelah anda mencabut tuntutannya."


"Jangan mimpi, aku mau bikin manusia gak tahu diri itu, membusuk di dalam penjara."


"Betul anda gak mau melakukan apa yang saya minta?"


"Mau apa kamu? Mau mengancamku?"


"Jika dengan permintaan baik-baik gak bisa, tentu saja saya punya cara lain. Saya akan bongkar perselingkuhan anda dengan sekretaris anda itu."


Rahmat terkejut bukan main dengan ancaman wanita di hadapannya, matanya menatap nyalang penuh emosi.


"Awas saja, kalau kamu sampai berani membongkar pernikahanku dengan Indah! Keselamatan Indah adalah yang utama bagiku. Aku gak mau dia dicelakain oleh Maminya Kevin."


"Haha, sangat mencintai Indah ternyata anda itu. Wah-wah, hebat! Pesona Ibu Anggun sudah luntur ternyata, ckck."


"Jangan banyak membual Fey, segera tinggalkan ruangan ini!"


"Tenang saja Pak Rahmat yang terhormat, dengan senang hati saya akan pergi. Saya tunggu 1x24 jam, kalau anda belum cabut tuntutan, maka skandal perselingkuhan anda akan jadi berita panas di kantor ini, juga siap membakar istri dan putra tersayang anda. Bukti percakapan kita ini, sudah saya rekam. Anda mau dengar pernyataan anda tadi?"


Fey mengacungkan ponselnya ke atas, wanita dengan rambut ekor kuda itu tertawa sangat puas sekali.


Lalu kemudian ia kembali memperdengarkan isi rekaman, dan mengulangi pernyataan Rahmat tentang kekhawatirannya kepada Indah.


"Awas saja, kalau kamu sampai berani membongkar pernikahanku dengan Indah! Keselamatan Indah adalah yang utama bagiku. Aku gak mau dia dicelakain oleh Maminya Kevin."


"Awas saja, kalau kamu sampai berani membongkar pernikahanku dengan Indah! Keselamatan Indah adalah yang utama bagiku. Aku gak mau dia dicelakain oleh Maminya Kevin."


"Awas saja, kalau kamu sampai berani membongkar pernikahanku dengan Indah! Keselamatan Indah adalah yang utama bagiku. Aku gak mau dia dicelakain oleh Maminya Kevin."


"Saya ulangi pernyataan anda sebanyak tiga kali, apa masih kurang jelas Pak?"


Mata Rahmat merah dan membulat sempurna, ia kalah telak dan tidak menyangka kalau istri dari anak tirinya itu sangat cerdik.


"Saya permisi dulu, Papi Mertua, haha."


Suara tawa Fey terdengar memenuhi ruangan, setelah pintu tertutup, Rahmat langsung menggebrak meja kerja seraya berteriak, meluapkan segala kekesalan dan kegagalannya.


***


"Benarkah itu, Pak Burhan?"


"Benar, Bu. Pak Rahmat pagi tadi telah mencabut tuntutannya, dan setelah semua berkas di kantor kepolisian selesai ditangguhkan, maka Pak Kenzo bisa bebas."


"Alhamdulillah, ya Allah. Tolong kabari saya tentang waktu kebebasannya Pak, saya dan orang tua mau menjemputnya."


"Baik. Sudah dulu ya, Bu. Saya mau masuk ke dalam ruangan lagi, masih ada yang harus saya selesaikan, Pak Kenzo juga ada di ruangan pemeriksaan."


"Iya, Pak. Salam rindu saya untuk Pak Kenzo ya Pak, hehe."


"Hehe, siap Bu."


Usai menutup telpon, Fey langsung berlari ke dapur dan memeluk sang ibu yang sedang sibuk memasak.


"Ada apa anak Mama kayanya bahagia sekali?"


"Papinya Kenzie, Ma."


"Ada apa dengan menantu Mama?"


"Dia bebas."


"Masya Allah, terimakasih atas kebaikanMu ya Allah."


Ibu dan putrinya itu saling berpelukan, rona bahagia terpancar di wajah keduanya.


"Ada apa ini? Suara kalian hampir membangunkan Kenzie." ujar Andi heran melihat dua wanita yang sangat dicintainya itu tampak sedang bergembira.


"Papi Kenzie bebas Opuuu, orang sombong itu akhirnya mencabut tuntutannya," teriak Fey.


"Alhamdulillah, tapi ... Bagaimana bisa si orang kaya yang gila itu mencabut tuntutannya?"


"Mungkin dia dapat hidayah," jawab Fey, menutupi rahasia Rahmat. Ia masih menaruh rasa hormat terhadap orang yang sudah mendzaliminya itu, selain itu dirinya tidak ingin kedua orang tuanya tahu borok ayah tiri suaminya.


"Ajaib sekali."


Fey dan kedua orang tuanya bersamaan mengucap syukur kehadirat Allah atas segala karunia yang telah diberikan.


"Masak yang spesial, Ma. Sambut menantu kita dengan meriah dan hangat."


"Iye', Opu. Kebetulan di kulkas masih ada daging dan ayam, aku mau masak parede daging dan dangkot ayam."


"Mantap, Ma. Bantu Mamamu memasak, Nak! Jangan lupa'eh rapikan kamarmu, rapi-rapi memang dan semprotkan pengharum ruangan, kalian pasti sudah rindu itu. Haha," ledek Andi, menggoda putrinya.


"Opuuuu, jahat banget," sungut Fey, wajahnya merah merona tersipu malu.


Khadijah tertawa melihat putrinya,  salah tingkah gara-gara digoda oleh suaminya.


...


Arash, Fey dan ayahnya tampak cemas menanti kedatangan Kenzo, mereka duduk di ruang tunggu kantor polisi.


Andi melirik benda bulat berwarna hitam di pergelangan tangan kanannya, sudah tiga puluh menit ia menunggu.


Tidak lama kemudian, terdengar suara deritan pintu terbuka. Ketiganya langsung berdiri. Berharap Kenzo dan pengacaranya yang muncul.


Benar saja dugaan mereka, Burhan sedang berjalan bersama dengan Kenzo.


Hati Fey sungguh bahagia saat pria berkumia tipis itu sedang berjalan mendekat ke arahnya, tanpa malu wanita berkemeja biru itu langsung memeluk tubuh dan mencium pipi suaminya.


"Maaass, aku rindu."


"Aku juga, Sayang. Bagaimana kabarmu?"


"Sangat baik."


"Alhamdulillah."


"Ehmmm," sela Andi, membuat keduanya tersadar bahwa ada orang lain di sekitar mereka, dengan malu-malu Fey dan Kenzo pun melepaskan pelukan.


Kenzo segera mencium punggung tangan mertuanya, dengan penuh rasa haru, Andi pun memeluk menantunya itu.


Dan Arash, dengan wajah berseri memeluk sahabatnya, sembari mengucapkan selamat atas kebebasannya.


Lalu kemudian, mereka pun berjalan menuju pelataran parkir.


"Terimakasih banyak Pak Burhan," ujar Fey sambil bersalaman dengan sang pengacara.


"Sama-sama, Bu."


"Kami pamit, Pak." timpal Kenzo menyalami Burhan.


"Mari, Pak Kenzo. Hati-hati di jalan!"


Begitu pula dengan Andi dan Arash, ia pun menyalami Burhan, dan kemudian mereka masuk ke dalam mobil.


Mobil sedan milik Kenzo yang dikemudikan oleh Arash pun melaju meninggalkan kantor polisi.


Di sepanjang perjalanan pulang, Kenzo asyik bercerita tentang pengalamannya selama tiga hari di dalam sel.


Sesekali mereka terlihat tertawa, tergugu dengan kelucuan yang diceritakan oleh Kenzo.


...


"Masya Allah, Kenzoooo, Mama sangat bahagia melihatmu pulang, Nak." seloroh Khadijah, memeluk menantu kesayangannya.


"Bagaimana kabar Mama?"


"Alhamdulillah sehat, Nak."


"Di mana Kenzie, Ma? Aku sangat rindu."


"Ada di dapur sama Gina."


"Aku ke dapur dulu ya, Ma. Sudah tidak tahan ingin menciumnya."


"Iya, Nak."


Kenzo melangkah cepat menuju dapur, Sagina menyambutnya dengan penuh suka cita, dan kemudian menyerahkan Kenzie kepada ayah sambungnya.


Di teras rumah, Khadijah mempersilahkan Arash untuk masuk untuk bergabung makan bersama.


"Nanti saja, Ma, tunggu Kenzo selesai mandi," ujar Arash sembari menghempaskan tubuhnya ke atas sofa di ruang tamu.


"Baiklah, Nak. Kalau gitu, Mama tinggal dulu ya!"

__ADS_1


"Iya, Ma, silahkan."


Tak lama, Sagina pun datang dan menemani kekasihnya berbincang.


Kenzo yang menggendong putranya, tidak dapat menahan rindu, ia terus menciumi dan menggigit pipi montok Kenzie.


"Mas, mandi dulu sana! Bau acem," ucap Fey, sambil tertawa dan menutup hidungnya dengan tangan.


"Hehe, bau acem juga ngangenin loh."


"Huh, pede!"


"Kenapa tadi pagi titip salam rindu lewat Pak Burhan? Haha."


Fey tersipu malu, ia lalu menggelayut manja di tangan suaminya.


"Lihat Zie, Mamimu malu-malu, pipinya merah kaya mochi isi stroberi, hihi."


Seolah mengerti, bayi bertubuh gemuk itu turut tertawa bersama ayahnya.


Waktu beranjak menuju petang, Kenzo bersama istri, mertua dan kedua sahabtnya melaksanakan sholat maghrib berjamaah.


Usai sholat, semuanya berkumpul di ruang makan untuk makan malam bersama.


Parede daging, dangkot ayam, udang bakar dan sayur tumis sawi, wortel menjadi menu makan malam kali itu.


Setelah makan malam selesai, Kenzo bersama sahabat dan ayah mertuanya duduk bersantai di teras rumah.


Mereka berbincang tentang segala hal, mulai dari bisnis, politik dan olahraga.


Malam semakin larut, Arash dan Sagina pun berpamitan untuk pulang. Begitu pula dengan Andi, rasa kantuk yang menyerangnya sudah tidak dapat ditahan lagi, akhirnya ia pun berpamitan kepada anak dan menantunya untuk istirahat.


Kini, tinggalah dua insan yang sedang berbahagia, sedang duduk bersama sambil memandang indahnya bulan purnama.


"Mas."


"Hmm."


"Aku mau bicara tentang Papinya Kevin."


"Bicaralah, Sayang. Ada apa dengan orang kaya itu?"


"Papinya Kevin, hmmm."


"Ada apa?"


"Duh, gimana ya mulai ceritanya."


"Cerita aja, aku dengerin."


"Papinya Kevin, dia ... Dia punya istri lagi."


"Astaghfirullah, dapat kabar berita dari siapa, Yang?"


"Bukan dari siapa-siapa, secara gak sengaja aku bertemu dan berkenalan dengan istri barunya, namanya Indah. Dan baru-baru ini, aku baru tahu kalau Mbak Indah ini adalah sekretarisnya Papinya Kevin."


"Kamu ke kantor Papinya Kevin?"


"Iya, Mas. Niatku awalnya mau memintanya untuk mencabut tuntutan, tapi saat sampai di kantornya, aku malah ketemu sama Mbak Indah. Aku manfaatin moment itu untuk menekan Papinya Kevin, agar mau melakukan apa yang aku minta."


"Masya Allah, Sayang. Aku sangat terharu dengan perjuanganmu."


"Kan aku pernah bilang dulu, apapun akan aku lakuin buat suamiku tercinta."


"Terimakasih ya, Sayang. Aku sangat bangga punya istri sepertimu. Cerdas, walaupun pemarah, hehe."


"Hehe, walaupun pemarah, tapi Mas tetap cinta kan?"


"Iya dong, Sayang."


"Jangan duakan aku, kaya Papinya Kevin menduakan Mamimu ya Mas."


"Insya Allah aku nggak akan begitu, Sayang. Aku gak habis pikir kenapa Papinya si Kevin itu tega mengkhianati Mami aku."


"Maaf Mas, kalau aku dirasa lancang dan gak sopan. Aku rasa saat ini Mamimu sedang menjalani karmanya, secara dulu dia sudah tega ninggalin Ayah dan juga Mas. Nah sekarang, perlahan-lahan Allah mulai memberikan hasil yang ditanam oleh Mamimu dulu."


"Ucapanmu ada benarnya, tapi tetap saja aku sebagai anaknya merasa kecewa dan sakit hati atas perlakuan Papinya Kevin terhadap Mamiku, seharusnya dia jangan berselingkuh di belakang Mami. Kasihan Mami, aku semakin benci kepada pria bejat itu."


Menyadari suaminya mulai berubah mood, Fey segera mengalihkan pembicaraan. Ia sengaja bersikap manja demi bisa membuat suaminya kembali seperti semula.


"Mas, kita bobo yuk!"


Kenzo bergeming, ia melempar pandangan jauh ke atas langit.


"Aku rindu kamu, Mas," bisik Fey di telinga sang suami, lalu dengan nakal ia pun mencium tengkuk leher suaminya. "Jangan begitu, aku sedih kalau Mas mengabaikan aku malam ini. Kalau Mas diam terus, aku ngambek lagi nih." Fey merajuk, mengeratkan pelukannya. Kenzo akhirnya luluh, ia lalu tersenyum.


"Maafin aku ya, terbawa emosi."


"Iya, yuk ke kamar! Di sini dingin, anginnya sudah mulai kencang."


"Aku gendong ya!"


Fey tertawa, lalu ia pun mengangguk.


Dan, Kenzo pun langsung membopong tubuh istrinya itu masuk menuju ke dalam kamar.


Kemudian membaringknnya di atas tempat tidur.


"Yang ...."


"Ya, Mas."


"Kamu ...."


"Kenapa Mas?"


"Kamu ...."


"Ya, aku kenapa?"


"Kamu ... Berat, haha."


Fey langsung terperanjat mendengarnya, ia marah melempar bantal ke arah suaminya dan kemudian menarik selimut. Kenzo tertwa sangat puas, kedua tangannya memegangi perut.


"Duuhh, gitu aja ngambek. Aku cuma bercanda," rayu Kenzo, duduk di bibir ranjang, membelai rambut istrinya.


"Tapi, jangan ngatain aku gendut."


"Yeee, yang ngatain kamu gendut siapa, Sayang?"


"Ah, tadi bilang katanya aku berat, kalau aku berat berarti aku ini gendut."


"Haha, iya maaf-maaf. Jangn ngambek dong, Sayang!"


"Bodo ah, aku mau tidur jangan ganggu aku!"


"Jangan gitu dong! Jangan tidur dulu! Masa tega biarin aku sendiri."


"Bodo!"


"Ya udah kalau gitu, aku mau telpon Pak Rahmat, supaya laporin aku lagi. Enakan tidur di penjara, rame-rame. Walaupun cuma dialasin tiker. Di sini apa, kasurnya empuk dan wangi juga nggak enak."


Fey tak dapat menahan tawa, betul-betul suaminya itu pandai sekali merajuk. Segera ia membalikkan badannya, menatap sang suami yang sedang cengengesan.


"Jangan sembrangan bicara! Amit-amit jangan sampai Mas masuk ke sana lagi."


"Kalau gitu, jangan cuekin aku dong! Masa iya aku tidur sendiri, hehe."


"Habisnya jahat banget ngatain aku gendut, aku benci kamu."


"Benar-benar cinta, kaya aku sama kamu."


"Ah masa?"


"Iya, aku cinta mati sama cewek keturunan Bugis ini. Dari awal ketemu, aku udah bertekad kalau kamu harus jadi istriku."


Fey tersipu malu, ia pun melingkarkan tangannya ke leher sang suami.


"Oh suamiku, aku sangat bahagia bisa menjadi istri pria hebat sepertimu."


Kenzo tersenyum, lalu kemudian ia pun mulai mencumbui istrinya. Melepas rindu yang selama ini terpendam karena terpisah oleh jarak dan waktu.


***


Alhamdulillah ya sesuatu banget, akankah Fey dan Kenzo membalas dendam?


Simak terus yoo😍😘


Terimakasih.


***


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2