Lepas Masa Lalu

Lepas Masa Lalu
Lepas Masa Lalu


__ADS_3

Part - 3


...*...


"Fey pamit ya Ma, sekali lagi Fey minta maaf, Ma."


"Iya, Sayang. Jangan meminta maaf terus, walau hati Mama sakit dan kecewa, tapi Mama tidak akan putus mendoakanmu."


"Fey sayang Mama."


Setelah puas memeluk ibunya, Fey kemudian mencium punggung tangannya berkali-kali.


"Ini ambillah!" Khadijah menyelipkan sebuah amplop putih ke dalam tas slempang kecil putrinya.


"Makasih banyak, Ma."


"Hemat-hemat ya Nak, nanti kalau sisa uang belanja terkumpul kembali Mama kirim'ka lagi uang untukmu. Karena ndak mungkin'ka Mama kirim uang dengan cara memintanya kepada Opu."


"Iye', Mama. Ndak apa-apa, Fey sangat berterima kasih karena Mama ndak marah seperti Opu. Insya Allah kalau Fey sudah bekerja, Fey akan rajin kirim uang untuk Mama."


"Ndak usah pikirkan Mama, Nak. Urus saja dirimu dan anakmu itu, jangan berbuat macam-macam. Perbaiki akhlak dan akidahmu, Nak. Dengar baik-baik nasihat Mamamu ini le'!"


"Iye', Mama. Nasihat'ta akan selalu Fey ingat dan lakukan."


"Jangan tinggalkan salat le', Nak. Ingat selalu dan mohon ampunan kepada Allah."


"Iye', Mama. Fey pamit."


"Iyo, hati-hati di jalan. Nak Sagina, sekali lagi tante titip Feylin ya."


"Iya, Tante. Saya juga pamit ya Tante."


Khadijah mengangguk, lalu memeluk keduanya.


Kepergian Fey dan Sagina, diantarnya sampai di batas pagar.


Taksi online yang dipesan Sagina pun tiba.


Lambaian tangan serta isak tangis sang ibu, mengantar kepergian Fey.


Sungguh sesal yang tidak dapat dibendung.


Di dalam mobil, Fey pun menenggelamkan wajah di pundak Sagina yang selalu setia menemaninya.


...*...


"Maaf, Mbak. Saya gak sengaja."


"Duh, Mas. Bisa bawa mobil gak sih?"


"Iya, Mbak maaf. Saya akan bertanggung jawab."


"Haruslah! Lecetnya cukup parah ini, mana bagian depan mobilnya juga jadi penyok kaya gitu."


"Iya, iya Mbak. Saya akan membayar semua biaya perbaikannya."


"Mana KTP, SIM dan STNKnya?!"


Pria berkaca mata hitam itu pun langsung memberikan semua yang diminta oleh gadis tomboy di hadapannya.


"Arash Al Sudais, sepertinya kamu bukan tampang orang culas."


"Maksud Mbak?"


"Gak, ayo ikut aku! Semua ini aku yang pegang, sampai kamu membayar semua biaya kerusakan mobilku di bengkel."


"Baik, Mbak. Silahkan jalan duluan, saya akan mengikuti Mbak dari belakang."


"Ok."


Gadis dengan anting-anting di hidung itu langsung masuk dan menancap gas menuju bengkel terdekat.


Sesampainya di bengkel, mereka berdua turun dan memanggil montir untuk memeriksa kerusakan mobil si gadis berambut hampir cepak itu.


"Atas nama siapa Mbak? Akan saya buatkan notanya."


"Sagina."


Setelah mencatat nomer handphone, montir itu pun memberikan nota putih kepada Sagina.


"Mana uangmu, Mas?"


"Berapa totalnya, Mbak?"


"Nih liat aja sendiri di notanya!"


"Oh iya Mbak, ini saya bayar lunas."


Arash menyodorkan uang sesuai dengan nominal yang tertera di dalam nota yang diberikan oleh Sagina kepadanya.


"Tolong stempel atau kasih tanda lunas Mas, di nota ini."


"Baik, Mbak. Seminggu kami kerjakan ya Mbak."


"Lama banget, Mas. Dua hari bisa gak?"


"Duh, gak bisa Mbak. Karena ada mobil yang masuk lebih dulu, harus kami kerjakan juga."


"Huft, okelah kalau begitu. Tapi semua harus balik kaya semula ya, ngerjainnya jangan asal. Kalau aku temuin ada yang gak sesuai, gak akan segan aku akan balik dan minta si Masnya untuk ngerjain ulang."


"Siap, Mbak."


"Ok, cepat stempel atau tandai lunas dulu. Aku buru-buru nih."


Sang montir yang gelagapan dengan sikap arogan Sagina itu pun langsung menstempel tanda lunas di nota putih sesuai dengan permintaan.


"Ok, Mas Arash. Ini saya kembalikan KTP, SIM dan STNKnya. Makasih banyak karena sudah mau bertanggung jawab."


"Iya, Mbak. Maafkan ya, karena tadi saya menabrak mobilnya."


"Ok, sudahlah. Yang penting sekarang semuanya sudah beres."


"Sekarang Mbak mau kemana? Mari saya antar."


"Saya sudah pesan taksi online, sebentar lagi sampai kemari."


"Hmm, baik kalau gitu Mbak. Saya duluan ya."


"Iya."


Dan mereka berdua pun berpisah di depan bengkel mobil, Arash berlalu mengendarai mobil Rush putih.


Sedangkan Sagina, sedang duduk di kursi depan bengkel menunggu taksi online.


...


"Ini kunci kamar kost Fey, Mi."


"Iya, Sayang. Lemari pakaiannya Umi bayarin aja ya, supaya gak ribet dibawa-bawa."


"Gak usah, Mi. Sudah biarkan untuk penghuni kost baru aja."


"Yakin?"


"Iya, Mi."


"Ya sudah, makasih banyak ya Fey. Kalau Umi boleh tahu, Nak Fey pindah kemana?"


"Ke apartemen teman, Mi. Kebetulan dia tinggal sendirian, ada kamar kosong jadi daripada mubazir."


"Alhamdulillah, rezeki orang yang baik dan shaleha seperti Nak Fey akan selalu terbuka."


"Amiin, terima kasih banyak ya Umi untuk perhatian dan kebaikannya selama ini. Fey mohon maaf kalau banyak salah dan khilaf."


"Sama-sama, Nak Fey. Umi juga minta maaf ya, jangan lupain umi, walaupun sudah bukan anak kost umi, seringlah main ke sini."


"Insya Allah, Mi. Kalau gitu, Fey pamit ya."


"Iya, Nak. Hati-hati di jalan."


"Makasih, Mi. Mari, assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Evelyn mengantar kepergian Feylin sampai ke ambang pintu ruang tamu.


Ada sebersit rasa sedih saat gadis muda itu mengembalikan kunci kamar kost kepadanya.


Mungkin karena sudah hampir lima tahun Feylin menjadi anak kostnya, ditambah kepribadian Feylin yang ramah dan sopan, sehingga hal itu membuat Evelyn sangat menyayanginya.


"Hayoo, lagi ngapain Mbak di lawang pintu? Nanti susah jodohnya loh."


"Ish, kamu ini ngagetin mbakmu saja. Kamu tuh yang susah jodoh. Mbak sih sudah laku. Hihi."


"Habisnya ngelamun ngeliatin pagar, ckck."


"Itu tadi lagi ngeliatin anak kostnya Mbak, dia habis antar kunci. Dia pindah ke apartement temennya."


"Spesial banget kayanya, sampai baper kaya gitu."


"Iya, dia baik banget orangnya. Tadinya ...."


"Tadinya apa?"


"Mau mbak jodohin sama kamu, haha."


"Ckck, Mbak ini ya. Memangnya aku Siti Nurbayan."


"Nurbaya."


"Kalau cewek Mbak, cowok ya Nurbayan. Haha."


"Penyanyi lagu dangdut itu dong."


"Hapal banget artis favoritnya, hehe."


"Haha, kamu mau kemana?"


"Biasa Mbak, ketemu teman lama. Dia teman ngeband aku waktu jaman SMA dulu."


"Jangan malem-malem pulangnya ya! Tak gembok kalau kamu pulang telat."


"Gembok aja Mbak, aku bisa tidur di hotel."


"Haha, gayamu cah bagus."


"Haha, aku pamit yo Mbak. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, hati-hati Rash bawa mobilnya, jangan ngebut tar kamu nabrak mobil orang lagi, keluar duit lagi."


"Hehe, iyoo Mbakku."


Sambil cengengesan, Arash pun berjalan menuju mobil.


Melihat tingkah adiknya seperti itu, Evelyn menggelengkan kepalanya.


"Arash-Arash, tingkahmu itu yoo kaya bocah abege bae, ckck."


...


"Hai, Bro!" sapa Arash kepada kawan lamanya.


"Weeehh, big bos baru nongol nih. Mana oleh-oleh dari Malaysia?"


"Wedew, baru dateng udah ditodong."


"Haruslah, secara tiga tahun gawe di sana, masa iya gak dapet oleh-oleh sama sekali."


"Haha, ada. Tenang aja. Gimana kabar lo?"


"Alhamdulillah, Baik."


"Lo sendiri bagaimana?"


"Alhamdulillah, baik juga."


"Gimana kabar lo sama si Emprit? Mana undangannya?!"


"Gak jadi, doi dijodohin ortunya sama dokter gigi."


"Beuh, tajir dong. Pantesan aja doi nendang lo, haha."


"Gak kaya gitu juga, Prita mau sama gue. Tapi ya itu, ortunya terlalu matre minta mas kawin dan uang yang jumlahnya sama dengan yang diberikan si dokter itu, bahkan lebih kalau bisa. Ya gue mundur, gak sanggup gue."


"Gila, itu ortunya si Emprit mau dagang kali. Anaknya dilego kaya gitu, ckck. Untunglah lo gak jadi sama dia, kalau jadi tar yang ada rumah tangga lo dirongrong terus. Secara si Emprit itu kan anak sulung, adeknya banyak lagi."


"Ya belum jodoh juga kali Zo, by the way lo kapan nikah?"


"Hehe, belum ada yang cocok Rash."


"Jangan pilih-pilih lah, tar jadi jomblo akut tahu rasa lo!"


"Haha, harus selektif. Harus yang nyangkut di hati, seumur hidup kita bakalan hidup sama pasangan kita, jadi gue mau memantapkan hati gue sama cewek yang bakalan gue nikahin nanti."


"Mantap. Gimana bisnis Bokap yang lo kelola, lancar?"


"Gue gak kelola frienchise bokap lagi, Rash. Dua tahun yang lalu gue pindah ke Bandung, dan buka restoran seafood."


"Beuh keren, mantap banget. Gue ngelamar jadi chefnya bisa gak?"


"Justru itu gue ngajak lo ketemuan hari ini, mau ngajak join. Hehe."


"Seriusan?"


"Yoi, mau gak? Tapi lo kelola yang di Jakarta, gue gak betah di sini gerah plus macet."

__ADS_1


"Modal fifty-fifty ya?! Biar enak bagi hasilnya."


"Okelah, kalau memang maunya lo kaya gitu. Gue gak masalah."


"Ok, gue juga kebetulan baru resign dari resto tempat gue gawe kemarin. Pengen istirahat dulu."


"Pas kalau gitu, cukdilamtib."


"Yoi, Bos Kenzo."


"Haha, bas-bos geli banget kuping gue."


"Haha."


Selanjutnya kedua teman yang sudah lama tidak bertemu itu pun terlibat dalam obrolan yang seru, mengenai rencana serta konsep bisnis yang akan dirintisnya.


...*...


Fey menghempaskan tubuhnya yang berbalut kebaya serta kain batik ke atas sofa merah, di ruang tivi apartemen Sagina.


Matanya basah, karena sedih kedua orang tuanya tidak menghadiri acara wisudanya.


"Opu, Mama ... Fey kangen kalian."


Drrrrtt ... Drrrrtt ...


Ponselnya bergetar, sebuah panggilan masuk dari sahabatnya, Sagina.


"Halo, Gin."


"Lo udah sampai?"


"Udah."


"Jangan sedih ya, lo harus ngertiin situasi Bonyok lo saat ini kaya apa."


"Iya, Gin."


"Gue balik telat. Mau nganterin Bonyok gue ke Bandara dulu, mereka mau langsung balik lagi ke Padang."


"Iya, Gin. Salam ya buat Tante Melinda dan Oom Hendri."


"Iya, lo baik-baik ya di situ. Kalau mau makan order go food aja. Ok."


"Iya, jangan khawatir. Makasih ya."


"Ya udah dulu ya, ini gue lagi nyetir. Mau masuk tol."


"Ok, hati-hati di jalan."


"Bye."


Sambungan telpon terputus.


Fey menaruh ponselnya di atas meja kaca di hadapannya, ia menarik nafas panjang dan kemudian beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Dibawah shower, gadis muda yang perutnya sudah mulai membuncit itu pun menumpahkan segala kegundahan hatinya.


Dia menangis sejadi-jadinya.


Kini, setelah menyandang gelar Sarjana Pendidikan, Fey siap untuk bangkit dari keterpurukannya.


Ia akan mencoba melamar sebagai staff pengajar di sekolah swasta.


Menjadi guru, adalah cita-citanya sejak kecil.


Maka kini tekadnya sudah bulat, bahwa kehamilannya itu, tidak membuatnya mundur untuk tetap menggapai segala asa dan harapan di dalam kehidupannya.


"Bismillah ... kamu harus kuat Fey!"


...


"Bu Andi Feylin Rahim, selamat bergabung di Sekolah Menengah Atas Bina Insani. Ini berkas kontrak kerja yang harus anda tandatangani, silahkan dibaca dulu Bu."


Wanita dengan stelan blazer hijau muda yang tidak lain adalah Fey itu pun tersenyum dan segera menandatangani berkas kontrak tanpa membacanya terlebih dahulu.


"Mulai besok anda mengajar kelas tiga IPA ya Bu, dengan mata pelajaran Matematika sesuai dengan posisi yang kosong."


"Terimakasih banyak Bu, atas kesempatannya. Saya akan berusaha mengabdikan diri dengan ilmu yang saya miliki di sekolah ini dengan sebaik-baiknya."


"Amiin, alhamdulillah kalau begitu. Sekali lagi saya ucapkan selamat dan sukses Bu Andi."


"Panggil saja saya Feylin, Bu."


"Baiklah, Bu Feylin."


Dengan wajah berseri, Fey meninggalkan ruang kepala sekolah.


"Alhamdulillah, terimakasih ya Allah. Semoga ini menjadi awal yang baik untukku."


Besok babak awal kehidupannya akan dimulai, ia sangat optimis akan bisa melewati hari-hari barunya itu dengan penuh sukacita.


"Diterima?" tanya Sagina, saat sahabatnya memasuki mobil.


"Alhamdulillah."


"Yeeeee, asyiiiikkk. Kita mau makan-makan di mana?"


"Gajian aja belum, hihi."


"Gue yang traktir, tapi nanti kalau lo udah nerima gaji, lo wajib kudu harus traktir gue. Hehe."


"Sip."


"Makan di mana kita?"


"Terserah lo."


"Ke resto baru di jalan Jensud aja yuk, lagi promo diskon 50% semua menu, khusus hari ini."


"Wokelah."


Tidak menunggu lama, Sagina pun langsung tancap menuju resto yang telah mereka sepakati bersama untuk merayakan keberhasilan Fey menjadi guru.


Tiga puluh menit kemudian, kedua sahabat itu pun sampai di tempat tujuan.


Sebuah restoran dengan konsep modern, dan desain interiornya yang minimalis.


"Penuh, Gin."


"Lo tunggu di mobil! Biar gue yang masuk cari meja kosong."


"Sip." jawab Fey sembari mengacungkan jempol ke arah sahabatnya.


Tubuh mungil Sagina bergerak cepat menembus antrian yang cukup lumayan panjang.


"Mas, ada meja kosong gak?" tanyanya kepada seorang pelayan berseragam kuning-orange.


"Full semua Mbak, kalau mau menunggu bisa, nanti begitu ada yang kosong langsung saya booking kan."


"Estimasi perkiraan waktu kurang lebih satu jam, Mbak."


Sagina menggigit bibir bawahnya.


"Bookingkan untuk satu meja ya, Mas."


"Ok."


"Baik, Mbak. Atas nama siapa?"


"Sagina Fransiscka."


"Silahkan Mbak tulis no handphonenya, agar kami mudah mengabari."


Sagina menuruti permintaan sang pelayan restoran.


Usai menuliskan nomer handphone, gadis tomboy dengan anting berjejer rapi di telinga kiri dan kanannya itu pun melangkahkan kakinya keluar.


Tapi naas, secara tidak sengaja pakaiannya tersiram minuman jus buah naga, sehingga kemeja putih yang dikenakannya menjadi kotor.


"Maaf, Mbak. Saya sungguh gak sengaja." ucap seorang pelayan wanita sembari memberikan tissue.


"Hadeuh, Mbak gimana sih kalau jalan! Baju saya jadi dekil kaya gini, mana kemeja putih lagi. Ish!"


"Sekali lagi maafkan saya, Mbak. Suasana di sini sedang padat pengunjung, jadi saat saya akan berbelok, si Mbaknya berbalik tiba-tiba."


"Maksud kamu, saya yang salah? Hah!"


Teriakan Sagina mengundang perhatian semua pengunjung yang sedang bersantap siang.


Sang pelayan wanita menunduk, tubuhnya gemetar.


"Panggil manager atau owner restoran ini!"


"Ba-baik, Mbak."


Sambil menitikkan air mata, pelayan itu pun berjalan cepat masuk untuk memenuhi permintaan Sagina.


Lima menit kemudian, wanita berusia dua puluhan berseragam kuning-orange itu pun kembali bersama seorang pria bertubuh atletis, tampak janggut halus menghiasi dagunya yang belah.


"Ehm, selamat siang Mbak. Ada yang bisa kami bantu?"


Sagina membalikkan tubuhnya, bukan main ia terkejut saat bertatapan dengan pria berkulit sawo matang yang pernah dijumpainya beberapa waktu yang lalu.


"Mas Arash?"


"Mbak ...."


"Sagina."


"Iya, Mbak Sagina. Ada yang bisa saya bantu Mbak?"


"Sudahlah, gak apa-apa. Saya gak jadi makan di sini."


"Loh, kenapa Mbak?"


"Gak lihat baju saya, Mas? Kotor, saya tampak seperti pembunuh berdarah dingin dengan noda jus buah naga yang ditumpahkan si Mbak itu."


Arash tertawa kecil.


Tak lama kemudian ia pun berbisik, menyuruh pelayan yang sedang berdiri di sampingnya untuk membawakan sweater miliknya.


"Baik, Pak."


Sagina masih berdiri mematung, mendengarkan permohonan maaf dari pria di hadapannya.


Beberapa saat kemudian, si pelayan datang membawa sebuah sweater berwarna abu-abu dan menyerahkannya kepada Arash.


"Pakailah ini, Mbak!"


Sagina mengernyitkan dahinya.


"Untuk menutupi noda jus naga yang seperti darah itu. Nanti kalau sudah bersih, Mbak bisa mengembalikannya kepada saya."


Sagina tersenyum sekilas, dan kemudian menerima pemberian Arash.


"Toiletnya di mana?"


"Di ujung sana, Mbak."


"Ok."


Tanpa menunda waktu, gadis yang mengenakan sepatu boots kulit berwarna coklat susu itu pun berjalan menuju toilet.


Sepuluh menit kemudian, Sagina kembali dengan mengenakan sweater yang diberikan oleh Arash tadi.


Arash tersenyum, lalu mendekat ke arah gadis yang membalas senyumannya.


"Mbak, sebagai permohonan maaf kami. Mbak boleh menikmati menu yang ada di sini, free."


"Wow, serius?"


Arash mengangguk.


Lalu kemudian mempersilahkannya untuk duduk di kursi yang sudah kosong, dan sengaja di booking untuk Sagina.


"Makasih, Mas Arash."


"Sama-sama, Mbak."


"Gina saja."


"Ok."


"Sip."


"Kamu mau pesan apa Gin?"


"Menu best sellernya apa?"


"Kepiting saus lada hitam dan steak bebek."


"Ya sudah, saya pesan keduanya. Minumnya nanti dikabari, saya mau menelpon teman yang sedang menunggu di mobil."


"Ok, Gin. Mohon ditunggu ya!"


"Ok. Makasih, Mas ...."


Arash mengangguk sambil kembali tersenyum.


Sepeninggal sang owner restoran, Sagina langsung menghubungi Fey.


"Masuk bumil! Meja 12."


Tidak sampai lima menit, tampak Fey memasuki restoran dan duduk di hadapan sahabatnya.

__ADS_1


"Sejak kapan lo demen pake sweater? siang ini lagi HOT. Anda damang?"


"Berisik! Tar gw ceritain di apartement."


"Hihi, ok-ok."


"Lo mau minum apaan?"


"Jus buah naga aja."


"Gak, yang lain aja! Gara-gara buah itu, gue jadi kelihatan kaya orang bego pake sweater gedombrang."


"Haha, jadi lo ketumpahan jus. Haha."


"Berisik Nenek Lampir! Udah buruan pesan yang lain."


"Ok, galak banget si Bondol ini ya. Ya udah Avocado float aja, banyakin serbuk Milonya."


"Okeh."


Sagina pun melambaikan tangan dan memesan minuman untuknya juga Fey.


...


Waktu menunjukkan pukul sembilan malam, Sagina berpamitan kepada Fey untuk tidur terlebih dahulu.


Seampainya di kamar, Sagina langsung membaringkan tubuhnya di atas kasur empuk beralaskan sprei dengan motif klub sepakbola kesayangannya.


Sesaat akan terpejam, tiba-tiba ponselnya berdenting. Menandakan sebuah pesan WA masuk.


[Assalamualaikum, Sagina Fransiscka.]


Sagina mengernyitkan dahinya, nomer yang tidak dikenalnya tiba-tiba mengirmkan pesan seperti itu.


[Waalaikumsalam, maaf ini siapa?]


[Yang empunya sweater abu,😁]


[Oalah, Mas Arash. Tahu no aku darimana?]


[Kan ada di buku tamu yang mau booking meja, hehe.]


[Hihi, sweaternya nanti ya aku balikinnya kalau udah dicuci.]


[Santai aja, Gin. Aku minta maaf ya atas insiden tadi siang. Semoga kamu gak kapok.]


[Hehe, iya Mas. Gak apa-apa, makanannya enak dan gratis, wkwk.]


[Next kalau kamu kesini, aku kasih free lagi deh.]


[Jangan lah, nanti tekor rugi bandar.]


[Pengecualian, hanya buat kamu.]


[Maksudnya?]


[Lupakan. Ya sudah, save ya no ku ini. Aku mau lanjut bebenah warung makan.]


[Warung makan kok banyak banget pelayannya, restoran kalee.]


[Hehe, selamat istirahat ya Gin.]


[Ok, kamu juga selamat bertugas. Semangat!]


Sagina meletakkan ponselnya di atas meja samping tempat tidurnya.


Entah mengapa, ia sangat bahagia saat Arash menghubunginya barusan.


Bibirnya terus tersenyum membayangkan kejadian tadi siang di restoran.


...*...


Pagi itu, Fey tampak tengah bersiap untuk berangkat bekerja.


Dengan dress coklat selutut dan blazer tangan panjang berwarna gold motif bungan marun, sungguh membuatnya tampak cantik dan anggun.


Ia sangat bersyukur, karena pihak yayasan dari sekolah tempat dimana ia akan mengajar di sana, tidak mempermasalahkan kehamilannya.


Tentunya, Fey tidak berterus terang dengan statusnya yang belum bersuami.


Wanita berambut panjang itu mengaku janda, ia berujar kalau sang suami mengalami kecelakaan yang merenggut nyawanya.


"Buruan Bumil! Lama bener dagh ah dandannya."


"Hehe, hari pertama mengajar Bu. Harus perfect."


"Halah, ribet banget jadi cewek pesolek. Banyak banget ritualnya."


"Biarin, daripada lo cewek jadi-jadian, haha."


"Kampreeett. Udah buruan gue tunggu di mobil!"


"Okeh, Bos."


Sambil bersungut, Sagina pun berlalu meninggalkan Fey yang tengah duduk sembari memakai flat shoes berwarna gold.


...


"Pfuh, rasanya ringsek banget ni badan."


"Jangan ngeluh! Baru seminggu jadi guru, udah bilang capek."


"Bukan ngeluh karena capek kerja, tapi capek naik turun tangga. Kelas IPA berada di lantai 3. Bayangin aja sama lo Bondol."


"Haha, anggap aja lo lagi olahraga. Semangat, huh-hah, huh-hah."


Ledek Sagina sambil lari ditempat dan memaju mundurkan kedua tangannya.


Ting ... Tong!


"Bukain, Fey! Gue mau nerusin olahraga malem gue dulu, haha." ledeknya lagi.


"Dasar lo, nyebelin."


Dengan gontai, Fey berjalan menuju pintu.


"Assalamualaikum, apa betul ini kediamannya Sagina?"


"Waalaikumsalam ... i-iya betul, Mas. Maaf Mas ini siapa?"


"Arash, Mbak. Yang tempo hari ketemu di restoran seafood, ingat?"


"Oh iya, sorry Mas Arash saya lupa."


"Saginanya ada?"


"Ada, silahkan masuk Mas!"


"Saya tunggu di sini saja, Mbak."


"Ok, tunggu ya sebentar saya panggilin orangnya."


"Iya, Mbak."


Fey masuk meninggalkan Arash yang berdiri di ambang pintu.


"Bondoolll, ada yang nyariin."


"Siapa?"


"Ah blaga bego, pacar lo lah. Gitu ya sekarang main rahasia-rahasiaan sama gue."


"Pacar apaan sih?"


"Liat aja sendiri, cowok plontos manis bertubuh tinggi tegap dengan janggut tipis, ganteng banget cong. Hihi."


"Arash?!"


"Hooh."


"Hah?!"


"Bisaan aktingnya, udah janjian juga."


"Diem bumil, gue gak pernah kasih alamat apartement gue sama doi. Kok doi tahu?"


"Ya kali dia makan tempe, jadi sekarang dia tahu."


"Sialan."


"Udah buruan lo samperin, si Babang ganteng. Tar keburu kabur, jadi jomblo akut tahu rasa lo."


"Iye, bentaran gue minjem daster lo dulu ya. Masa iya gue nemuin dia pakai hot pant sama kemben kaya gini."


"Haha, ok."


Lima menit kemudian, Sagina pun muncul dari dalam kamar Fey dengan menggunakan dress babydoll selutut milik sahabatnya.


Jantungnya berdegup kencang tidak beraturan saat berjalan menuju pintu.


"Hai," sapa Sagina.


"Hai, Gin. Sorri ganggu malam-malam."


"Santai aja kali, eh ... silahkan masuk, Mas!"


Arash tersenyum dan berjalan mengekor di belakang Sagina.


"Mas tahu dari mana tempat tinggal aku?"


"Dari ini." Arash mengeluarkan dompet kulit hitam milik Sagina.


"Itu kan dompet aku, kok bisa ada sama Mas Arash?"


"Gak kerasa kah terjatuh waktu kamu tadi mampir ngembaliin sweater?"


"Ya ampun, jatuh waktu aku ngeluarin sweater kali ya."


"Bisa jadi."


"Maaf ya, Mas. Aku jadi ngerepotin."


"Santai aja, aku senang karena jadi tahu tempat tinggal kamu. Hehe."


"Hehe."


Suasana selanjutnya menjadi hening, baik Arash maupun Sagina sama-sama terdiam.


"Ehm, kok pada diem?" ucap Fey memecah suasana. "Ini teh manis hangatnya, silahkan diminum Mas!"


"Eh, iya Mbak. Makasih."


"Panggil saja Fey, aku seumuran kok sama Gina."


"Hehe, ok Fey."


"Ya sudah, aku pamit ya kembali ke dalam."


"Ok, makasih ya Fey teh manisnya."


"Sama-sama, Mas."


Sesaat sebelum masuk, tubuh Fey berhenti di dekat sahabatnya.


Ia merunduk dan berbisik, "Jangan sok manis, biasanya juga beringas kaya macan, hihi."


Sagina melotot dan mencubit paha Fey.


"Wadaw, pedes banget. Hihi."


"Udah buruan masuk, biang rusuh." usir Sagina pelan.


Dan Fey pun terkekeh sambil berlalu meninggalkan sahabatnya yang sedang salah tingkah menghadapi Arash.


"Hmm, Gin. Aku pamit ya."


"Oh iya, Mas. Makasih ya udah mau nganterin dompet aku."


"Iya, sama-sama. Oh iya, Gin ...."


"Kenapa Mas?"


"Next time, kalau aku mau mampir kemari lagi boleh?"


"Hehe, silahkan."


"Alhamdulillah, kalau begitu aku pulang dulu ya."


"Ok. Hati-hati di jalan."


"Thanks, oh iya satu lagi hampir aku lupa."


"Ada apa, Mas?"


"Kamu ... kamu terlihat lebih anggun memakai dress kaya gini, daripada jeans robek dan sepatu boots. Dan warna lipstik yang kamu pakai sekarang juga bikin kamu terlihat lebih cantik."


Wajah Sagina merona merah, ia tersipu malu lalu tertunduk tidak dapat berkata apa-apa.


Melihat hal itu, Arash tersenyum dan kemudian mengucap salam sesaat sebelum berlalu meninggalkan Sagina.


"Waalaikumsalam ...," jawab Sagina pelan.


...*...


**Bersambung**

__ADS_1


__ADS_2