Lepas Masa Lalu

Lepas Masa Lalu
Lepas Masa Lalu


__ADS_3

*Part8*


Fey meronta saat tubuhnya dipeluk oleh Kenzo, namun tangan kekar kekasihnya itu lebih kuat dari tenaganya, sehingga ia tidak berhasil lepas dari dekapan sang kekasih.


"Kamu kenapa, Sayang? Katakan apa salah aku?"


"Kenapa Mas bawa aku ke rumah itu?" isak Fey, "pengecut yang sudah menghancurkan hidupku tinggal di rumah itu."


"Siapa? Apa maksudmu? Aku benar-benar gak mengerti."


"Ayah dari Kenzie, adalah ... Kevin."


Mata Kenzo terbelalak, wajahnya merah padam.


"Kevin?"


"Iya, dan kamu rupanya kakak dari pengecut itu."


Fey kembali meronta, meminta kekasihnya itu untuk melepaskan pelukannya.


"Urungkan niatmu untuk menikahi aku, aku gak sudi punya suami dari keluarga Kevin. Apalagi orang tuamu sudah pernah mengusirku."


"Benarkah itu?"


"Ya, aku pernah ke rumahmu untuk bertemu kembali dengan Kevin, namun Papi dan Mamimu bilang Kevin tinggal di Singapura. Lalu aku berterus terang kepada mereka tentang kehamilanku, dan Mas tahu apa reaksi mereka? Mereka malah melindungi si pengecut itu, aku dihinanya ... Mereka menawarkan sejumlah uang kepadaku dengan syarat, aku harus melupakan dan menjauhi Kevin." air mata Fey tumpah di dada Kenzo.


Kenzo pun turut menangis, ia tidak menyangka kalau alasan adik keduanya pindah ke Singapura adalah demi untuk lari dari tanggung jawab.


Pria berkemeja hijau botol itu ikut merasa kecewa atas sikap orang tuanya yang melindungi anak kesayangan mereka.


"Maafkan aku, Sayang. Kumohon, jangan putuskan hubungan ini. Kita menikah tanpa memberitahu orang tuaku, aku tidak mau berpisah denganmu."


"Aku gak mau, Mas. Aku mau hubungan kita berakhir malam ini juga."


Kenzo mempererat dekapannya, ia tidak memperdulikan Fey yang terus meronta dan berontak dengan cara memukulinya.


"Aku gak bisa hidup tanpa kamu, Sayang. Hanya kamu yang aku punya."


"Aku gak sudi, punya suami yang sedarah dengan si pengecut itu. Cukup dia yang menyakiti aku, lepaskan aku Mas!"


"Kevin memang adikku, tapi ... Ayahku dan Kevin berbeda."


Tangis Fey mereda, seolah memberikan kesempatan kekasihnya untuk bicara.


"Saat aku berusia delapan tahun, ibuku minta cerai sama ayah. Ibu tidak tahan hidup miskin, karena ayah sakit-sakitan, semua aset habis untuk biaya berobat, cuci darah, rupanya ibu meminta cerai demi dapat menikah dengan Papinya Kevin, yang merupakan mantan pacar ibu saat kuliah dulu.


Semenjak kami hidup susah, ibu berselingkuh dengan Papinya Kevin, yang saat itu statusnya masih suami orang lain.


Setelah ibu menikah, aku diterlantarkan.


Aku berjuang sendiri untuk makan dan juga bantu biaya berobat ayah, dengan cara berjualan keliling menjajakan es lilin yang aku buat sendiri. Dan di sekolah, aku berjualan di kantin saat istirahat tiba, tapi pada saat ayah meninggal, dengan terpaksa ibu membawaku tinggal bersamanya. Aku gak pernah dianggap oleh ibu, dia selalu saja membanggakan Kevin, walaupun tidak pernah ada prestasi yang ditorehkan oleh anak manja itu.


Saat aku beranjak dewasa, aku memutuskan untuk mandiri, merintis usahaku di Bandung, bukan di Jakarta. Aku gak betah di Jakarta, karena keadaan di rumah yang terus membuatku selalu menjadi kambing hitam setiap Kevin melakukan kesalahan.


Tapi semenjak aku kenal kamu, aku jadi betah di Jakarta. Aku tahan semua sindiran juga cibiran ibu yang sepertinya sangat membenciku. Aku gak tahu kenapa ibu tidak menyayangiku.


Jadi aku mohon, Sayang. Jangan tinggalin aku! Jangan renggut kebahagiaan yang aku rasakan selama ini, hanya kamu dan Kenzie yang mampu membuat hidupku berarti.


Tidak banyak mauku, aku ingin merasakan hidup bahagia. Punya keluarga, yang bisa menjadi tempatku berkeluh kesah. Apa aku salah?"


Kenzo rapuh, tanpa rasa malu ia menangis dan mencurahkan kemelut kehidupannya yang tidak pernah diceritakan sebelumnya kepada Fey.


Pundak si pemuda tampan yang selama ini selalu tampak ceria itu, naik turun seiring dengan isak tangisnya.


Bak seorang wanita, Kenzo sesenggukan.


"Aku gak peduli siapa ayah biologis Kenzie. Semenjak awal aku mencintaimu, tekadku sudah bulat untuk mencintai dia juga. Kini, hidupku aku dedikasikan untuk kalian berdua. Hanya kamu dan Kenzie. Aku dan Kevin beda ayah, jadi jangan pernah samakan moral kami. Aku sangat mencintaimu, Feeeeyyyy," rintih Kenzo dengan suara paraunya.


"Mas, hiks ...," ucap Fey mengeratkan tangannya ke pinggang sang kekasih yang kini sedang berada di titik terendah.


Sesaat suasana menjadi hening, keduanya saling terdiam. Fey berusaha menenangkan diri dan hatinya.


Otaknya sedang berpikir keras sambil mencerna apa yang tadi Kenzo utarakan.


Hati kecilnya tidak dapat berbohong, bahwa ia tidak ingin berpisah dengan pria yang selama ini selalu mencurahkan perhatian serta cinta kepadanya juga Kenzie.


Namun, saat dirinya mengetahui bahwa Kenzo adalah kakak tiri Kevin, rasa takut dan trauma akan bertemu kembali dengan Kevin selalu menghantuinya.


Perlahan, Kenzo melonggarkan dekapan.


Fey mendongak dan menatap wajah sang kekasih.


"Jangan tinggalin aku, Sayang."


"Beri aku waktu untuk berfikir, Mas. Aku benar-benar shock dan stress."


"Aku berjanji, akan menjauhkanmu dari Kevin. Kita tinggalin Jakarta setelah menikah nanti, aku akan pastikan kamu dan Kenzie aman."


"Semua ini gak mudah buatku, aku mohon beri aku waktu."


"Baiklah, Sayang. Tapi janji dulu sama aku, bahwa kamu gak akan meninggalkanku!"


"Please, Mas. Beri aku waktu!"


Akhirnya Kenzo bersedia menuruti permintaan kekasihnya, setelah merapikan diri, ia pun berpamitan untuk pulang.


Fey enggan beranjak dari tempat tidurnya, Kenzo keluar kamar sendiri.


"Rash, Gin, aku titip Fey ya!" ucap Kenzo, kemudian duduk di sofa bersama kedua sahabatnya.


Semua yang telah terjadi, diceritakannya secara gamblang dan detail kepada Sagina juga Arash.


"Jangan banyak pikiran, Mas. Ntar aku bantu bujuk si Fey," ujar Sagina.


"Thanks, Gin. Semoga dia gak berubah pikiran."


"Tenang ya, Bro. Semua pasti akan baik-baik aja," tambah Arash menenangkan.


"Semoga, Rash," sahut Kenzo, pelan. "Aku pamit ya."


Dengan langkah gontai, Kenzo meninggalkan apartemen milik Sagina, pikirannya kalut dan hatinya sangat hancur, sehancur-hancurnya.


***


Satu bulan sudah Fey dan Kenzo tidak saling bertemu.


Fey selalu saja menghindar setiap kali kekasihnya itu datang ke apartemen, dan sekolah.


Tidak jarang, Fey harus bersembunyi di dalam pos satpam sekolah, saat melihat Kenzo datang untuk menjemputnya pulang.


Namun bukan Kenzo namanya, bila menyerah begitu saja.


Ia tidak kehabisan akal, selepas melaksanakan salat jum'at, siang itu tepatnya satu jam sebelum jam mengajar Fey selesai, ia sudah standby menunggu kekasihnya pulang di penjual bakso yang letaknya persis di samping halte bis dekat gedung sekolah, tempat Fey mengajar.


Siang itu matahari bersinar sangat terik, namun Kenzo menahan rasa gerahnya dengan tetap memakai sweater kupluk lengkap dengan masker dan kacamatanya.


Kali ini ia tidak ingin gagal lagi, dalam menemui kekasih yang selalu saja menghindar darinya.


Diliriknya lagi benda bulat di pergelangan tangan kanannya, waktu menunjukkan pukul 14.15, itu artinya kurang lebih lima belas menit lagi Fey akan keluar dari gedung sekolah menuju halte untuk menunggu taksi online.


Kenzo bangkit dari bangku plastik merah, lalu membayar minuman yang dipesannya dan segera berjalan menuju halte.


Ia duduk di kusi besi panjang yang terdapat di halte tersebut, menunggu kedatangan wanita yang sudah membuatnya tergila-gila.


Pintu gerbang sekolah dibuka, seluruh siswa dan siswi berseragam putih abu berhamburan keluar.


Sepuluh menit kemudian, suasana sekolah sudah mulai sepi.


Terlihat beberapa staff pengajar mulai keluar meninggalkan gedung satu persatu.


Kenzo berdiri dan menengok ke dalam gedung sekolah, mengintai yang dinantinya sudah ada atau belum.

__ADS_1


Tidak perlu waktu lama, dari kejauhan ia melihat sosok anggun yang berjalan menuju pintu gerbang sekolah.


Dari balik masker, Kenzo tersenyum manakala melihat sang pujaan hati yang ditunggu sejak tadi akhirnya terlihat.


Kenzo kembali duduk, bersikap seolah-oleh seorang yang sedang menunggu angkutan umum.


Lima menit kemudian, Fey datang dan duduk di ujung kursi besi.


Kenzo melirik, Fey celingukan seperti sedang mencari-cari seseorang.


Setelah yang dicarinya tidak ada, lalu kemudian Fey pun mengeluarkan ponselnya untuk memesan taksi online.


Kenzo bangkit, lalu berjalan mendekati kekasihnya yang sedang sibuk membuka aplikasi untuk memesan taksi.


Fey yang sedang khusyu menatap layar ponsel, tidak menyadar ada pria yang sedang berdiri tepat di sampingnya.


Kenzo membuka masker dan kacamatanya, lalu dengan cepat ia menyambar ponsel yang sedang dipegang Fey.


Ibu dari satu anak itu sempat terkejut dan hendak berteriak, namun segera diurungkannya saat menyadari sosok yang sudah merampas ponselnya itu ternyata adalah pria yang selama ini ia hindari.


Mata nyalang Fey menatap ke arah Kenzo, wajahnya terlihat kesal. Ia pun berdiri dan berkata, "kembalikan handphoneku, Mas!"


Kenzo tidak menghiraukan ucapan kekasihnya, dengan cuek ia memasukkan benda pipih berwarna putih itu ke dalam saku celananya.


Tanpa mengucapkan sepatah kata, pria jangkung itu pun menarik paksa tangan Fey untuk mau berjalan mengikutinya.


Fey ingin meronta, namun ia tidak mau mengundang perhatian orang-orang di sekitar sekolahnya. Apalagi sebagian staff pengajar yang merupakan rekan kerjanya itu masih berada di sekolah, satu persatu terlihat keluar dari gedung sekolah dengan menggunakan mobil dan ada juga yang mengendarai motor.


Kenzo membawa kekasihnya itu berjalan menuju mobil yang diparkirnya di depan minimarket yang berjarak kurang lebih lima puluh meter dari gedung sekolah.


Setelah sampai di mobil, Kenzo membuka pintu mobilnya dan mendorong pelan tubuh Fey untuk masuk.


Beberapa saat kemudian, tanpa sepatah kata Kenzo masuk ke dalam mobil dan segera melajukan sedan kesayangannya itu dengan cepat.


Tidak ada percakapan diantara keduanya.


Mobil yang dikemudikan Kenzo memasuki jalan tol luar kota, Fey tidak tahu kekasihnya itu akan membawanya ke mana, yang jelas jalan yang dilaluinya sekarang bukanlah jalan menuju apartemen.


Satu jam setengah kemudian, mobil pun memasuki kawasan bandara.


Fey mulai panik dan gusar, "kenapa kita ke bandara, Mas?"


Kenzo diam tidak menjawab, ia tetap fokus ke depan.


"Mas, jawab aku! Kenapa Mas bawa aku ke bandara?"


Kenzo bergeming. Ia menahan tawa, merasa lucu dengan mimiki wajah panik wanita di sampingnya.


Akhirnya mobil terparkir di pelataran parkir terminal 1A, bandara Soekarno - Hatta.


"Ayo Sayang kita turun!"


"Aku gak mau turun, sebelum Mas bilang tujuan kita ke sini."


"Jangan berdebat sekarang, sudah tidak waktu lagi. Ayo, turun Yang."


Kenzo membukakan pintu mobil untuk Fey yang masih kebingungan.


Keduanya menyebrang menuju depan terminal, netra Kenzo menatap ke sekeliling, mencari seseorang.


Dari kejauhan sepasang muda-mudi melambaikan tangan ke arahnya, Kenzo kembali menggenggam tangan Fey dan mengajaknya untuk menghampiri kedua orang yang sedari tadi dicarinya.


"Sagina, Mas Arash?" tutur Fey heran. "Kalian sedang apa di sini? Dan kenapa koperku ada di sini?"


Sagina tersenyum dan berdiri di samping sahabatnya, "sebentar lagi lo akan tau."


Kenzo memberikan kunci mobilnya kepada Arash, "titip ya, Bro!"


Arash mengangguk dan mengacungkan jempol, "beres, Bro."


"Hati-hati di jalan, Mas Kenzo, Fey."


Fey semakin bingung, dengan teka-teki tanpa silang yang sedang direncanakan Kenzo dan kedua sahabatnya.


"Mas, kita mau kemana? Gin?"


Sagina memeluk sahabatnya, "ikutlah bersama Mas Kenzo! Jangan khawatirkan Kenzie, dia akan baik-baik bersama kami dan Liya."


Liya adalah baby sitter yang menjaga dan mengurus Kenzie, saat Fey sudah mulai aktif bekerja.


"Mari, Sayang. Gin, kami titip Kenzie ya!"


"Siap, Mas. Hati-hati di jalan. Kabari kami begitu sudah sampai di sana!"


Kenzo mengangguk dan tersenyum, kemudian ia merangkul pundak Fey dan menuntunnya untuk berjalan bersama menuju pintu keberangkatan.


Lima belas menit kemudian, keduanya telah duduk di ruang tunggu, menunggu panggilan untuk menaiki pesawat.


"Mas mau menemui Opu dan Mama?"


Kenzo menatap wajah sang kekasih yang terlihat sendu, "iya, Sayang. Aku sudah nekat, apapun akan aku lakukan demi bisa menikahimu."


"Aku belum siap, Mas. Urusan dengan orang tuamu saja belum selesai, sekarang mau berurusan dengan ayahku. Aku takut Opu akan kembali mengusirku."


"Kalau kamu gak mau ketemu sama orang tuaku, berarti aku yang harus menemui orang tuamu. Bagiku gak masalah orang tuaku tidak merestui, toh Papi itu bukan Papiku. Aku bisa menikah tanpa mereka, laki-laki gak perlu wali nikah.


Tapi, aku harus ketemu Opu untuk meminta restunya. Hasilnya nanti seperti apa, aku sudah siap."


"Tapi tetap saja, Mas. Aku takut."


"Jangan takut! Apapun yang terjadi nanti, aku akan selalu melindungi dan menjagamu."


"Hiks," isak Fey.


"Jangan menangis, aku ada di sini. Sstt," bujuk Kenzo, merangkul tubuh kekasihnya.


Tidak lama kemudian, informasi tentang keberangkatan pesawat pun terdengar.


Keduanya beranjak dan berjalan untuk memasuki pesawat yang akan membawa mereka terbang menuju kota kelahiran Fey, yaitu Makassar.


Sepanjang perjalanan, Kenzo tidak pernah melepaskan rangkulannya, ia terus menyemangati serta meredakan kegelisahan kekasihnya itu.


Dua jam kemudian, mereka sampai di bandara Sultan Hassanudin. Kenzo lalu memesan taksi bandara, untuk membawanya ke hotel terdekat.


"Besok pagi baru kita ke tempatmu, malam ini kamu tenangkan diri dulu di hotel."


"Kita ke rumah Tanteku saja, Mas. Dekat kok dari sini," sahut Fey, kemudian meminta sang supir taksi untuk memutar arah menuju daerah dimana rumah tantenya berada.


Tidak sampai lima belas menit perjalanan, keduanya sampai di sebuah pekarangan rumah sederhana bercat dinding orange cerah.


Fey memencet bel, tidak lama pintu dibuka oleh seorang anak perempuan tanggung yang merupakan sepupunya.


"Mama, ada Kakak Fey," teriak sang anak sembari memeluk kakak sepupu yang sudah lama tidak datang mengunjunginya.


"Hai, Esse. Apa kareba?"


"Baje-baje Kak, mari masuk!"


Fey tersenyum, anak perempuan bernama Esse itu menarik tangan kakak sepupunya masuk ke dalam rumah.


Tidak lama muncul seorang wanita berambut ikal sebahu, bermata belok dan berkulit sawo matang, beliau adalah adik dari ayahanda Fey yang berusia empat puluhan, "Fey?"


"Iye', Tante."


Tante dan keponakan yang sudah lama tidak bertemu itu pun saling berpelukan.


Radi, sang tante mempersilahkan Kenzo masuk.


Setelah melepas lelah sejenak, dengan meminum teh manis hangat dan kue bagea khas Sulawesi. Fey pun mengutarakan maksudnya datang ke tempat itu bersama kekasihnya.


"Baiklah, Nak. Fey tidurlah dengan Esse, dan kita (kamu) nak Kenzo, bisa tidur di kamar depan."

__ADS_1


Keduanya mengangguk bersamaan.


"Terimakasih banyak, Tante," ucap Kenzo.


"Iye', Nak. Besok Tante akan temani kalian ke rumah Opu."


"Tabe' Tante sebelumnya, sebaiknya Tante ndak usah temani kami besok. Fey ndak mau nanti Opu salah paham, lalu marah kepada Tante. Biarmi' kami yang temui Opu."


Radi menghela nafas, "Tante sih ndak masalah Opu mau marah sama Tante, tapi kalau memang itu kemauanta' (kemauanmu), baiklah."


"Iye' Tante."


"Ya sudah, kalian makan dulu, lalu istirahat.


Ada parede daging di dapur, sambala cobek-cobek dan dange (pengganti nasi, berbentuk persegi panjang kecil, terbuat dari sagu), kalau memang malas makan nasi."


"Iye'. Nantipi' Fey makan, sekarang mauka' mandi dulu."


"Kamu mau pakai daster Tante?"


"Ndak usahji'. Fey bawa baju ganti di koper."


"Ya sudah, Tante istirahat duluan ya. Agak demam juga ini badan, masuk angin kapang (mungkin)."


"Minumki' obat, Tante. Na tumbangka' nanti badanta' kalau ndak minum obat."


"Aih ndak biasaka' Tante minum-minum obat, sudahmi' tadi dikerik sama si Esse. Dibawa tidur juga sembuh'i."


"Iye'palle, selamat istirahat Tante."


"Iyo, mariki' Nak Kenzo."


"Iya mari, Tante."


Radi masuk ke dalam kamarnya, sementara Fey mengantar Kenzo menuju kamar Ridho, putra sulung tantenya.


"Habis mandi kita makan bersama ya, Mas."


"Iya, Sayang."


Untuk pertama kalinya, Fey mengulas senyum kepada Kenzo.


"Nah gitu dong senyum, aku senang liatnya."


"Ya sudah, aku ke kamar Esse dulu ya."


"Ok."


Dan selanjutnya, keduanya memasuki kamar yang berbeda. Sama-sama saling membersihkan diri dan berganti pakaian.


Dua puluh menit kemudian, Fey sudah berada di dapur, memanaskan parede daging buatan tantenya.


Tidak lama kemudian, muncul Kenzo dan duduk di kursi makan.


"Mas mau coba makan pakai dange?"


"Enak?"


"Iya enak, coba ya. Nanti aku ajari cara makannya supaya terasa nikmat di mulut."


"Hehe, iya."


Setelah kuah parede mendidih, Fey menuangkannya ke dalam mangkuk kaca berukuran sedang dan menyajikannya di meja makan.


Fey mengajari Kenzo cara memakan dange.


"Dangenya di sobek, lalu di celupkan ke kuah di piring, taruh potongan daging dan sambalnya seperti ini," ujar Fey mencontohkan.


Namun saat Fey akan melahap dange beserta pelengkapnya ke dalam mulut, tiba-tiba saja tangan Kenzo menahannya, lalu mengarahkan jemari Fey ke mulutnya.


"Enak banget ya, sambalnya kecut segar. Apalagi makannya langsung dari tangan kamu, Sayang."


Wajah Fey merah merona, tersipu malu.


...


Keesokan harinya, usai sarapan pagi bersama. Fey dan Kenzo berpamitan kepada Radi.


"Salam untuk Mama dan Opumu le'Nak!"


"Insya Allah, Tante. Doakan kami."


"Bismillah, Nak. Insya Allah, Allah akan memudahkan urusan kalian berdua."


"Amiin," ucap Fey dan Kenzo bersamaan.


Usai mencium punggung tangan Radi, keduanya berjalan menuju mobil taksi online yang sudah menunggu di depan rumah.


Jalanan tampak lengang, sehingga tidak sampai dua puluh menit, mereka pun sudah tiba di tempat tujuan.


Dari dalam mobil, Fey melihat sang ibu yang sedang sibuk menyapu halaman, sedangkan sang ayah menyirami tanaman hias yang tumbuh subur di pekarangan rumah.


Fey *** tangan kekasihnya, "Mas, itu mereka, kedua orang tuaku. Aku takut, Mas."


Dengan tenang, Kenzo mengelus punggung sang kekasih, "Bismillah, jangan takut. Ada aku."


Fey mengangguk, lalu menarik nafas panjang.


Sepasang suami istri paruh baya itu menghentikan kegiatannya, mereka sejenak tercenung melihat mobil Avanza hitam memasuki pekarangan rumah mereka.


Dengan ragu, Fey turun dari mobil dan langsung berlari menuju Khadijah, sang ibu.


Sambil menangis, Fey mencium punggung tangan ibunya dengan takzim, lalu kemudian memeluknya.


"Masya Allah, Feylin ... Anakku."


Khadijah menciumi wajah putri semata wayangnya, Kenzo berdiri mematung memandangi kedua wanita di depannya.


Menyadari yang datang adalah putrinya, Andi, ayah Fey langsung masuk ke dalam rumah dengan wajah penuh amarah.


"Opu masuk, Ma."


"Sudah, biarmi'. Nanti kita baku omong (bicara) di dalam."


Fey mengangguk dan memanggil Kenzo agar mendekat.


"Ma, ini Mas Kenzo."


"Assalamualaikum, Tante."


"Waalaikumsalam, Nak. Panggil Mama saja, Nak! Na'seringka Fey menceritakan perihal Nak Kenzo di telpon, Mama sangat bersyukur hari ini kita bisa bertemu."


"Saya juga sangat bahagia, bisa bertemu dengan Mama."


"Mari masukki' Nak!"


Ketiganya berjalan bersama, memasuki rumah.


"Pergiko' (pergi kamu) anak tidak tahu malu!" teriak Andi, ia menepis tangan Fey saat hendak menyaliminya.


Fey menangis histeris memeluk sang ibu.


"Opuu, kita jangan begitu! Jauh-jauh anak datang, bukan disambut baik, malah dicaci. Maluka' sama Nak Kenzo."


"Bah, bisa-bisanyako' bilang malu. Nah lebih malu aku, yang dicoreng namanya oleh anak sialan ini. Kalau ndak kuat iman, sudah kubunuh dia!"


***


Duuuhh, Opu kok kaya gitu?


Gimana selanjutnya nasib Fey dan Kenzo?

__ADS_1


Pantengin part selanjutnya, 😊😘


-Bersambung-


__ADS_2