Lepas Masa Lalu

Lepas Masa Lalu
Lepas Masa Lalu


__ADS_3

Part - 21


Andi menarik paksa tangan Fey, menerobos kerumunan para tamu undangan yang riuh membicarakan skandal putrinya.


"Opu... Tunggu saya, Opu!" teriak Kenzo.


Sampai di pintu lift, barulah Kenzo bisa menghampiri istri dan mertuanya.


"Semua bisa dibicarakan, Opu. Jangan seperti ini, saya benar-benar menyesal telah menerima tawaran orang tua saya untuk acara resepsi ini. Demi Allah Opu, jangan pisahkan saya dari Fey. Saya sangat mencintainya."


"Argh, ndak usah kamu bicara soal cinta, percuma hanya cinta yang kamu bisa banggakan, nyatanya keselamatan dan kehormatan anakku ndak kamu pikirkan."


Tak lama pintu lift terbuka, Andi langsung masuk dan menarik tangan putrinya untuk ikut bersamanya, kemudian Kenzo, Khadijah, Sagina dan Arash pun mengikuti.


Di dalam lift suasana sangat hening, baik Kenzo maupun Andi, keduanya tidak ada yang saling berbicara.


Beberapa saat kemudian, mereka sampai di pelataran parkir.


"Nak Gina, Nak Arash, di mana mobil kalian? Kami ikut kalian saja."


"Saya mohon Opu, ikut ke mobil saya saja. Kita harus selesaikan masalah ini, saya gak mau berpisah dengan Fey. Saya mohon, Opu."


Arash mendekat ke arah Kenzo, kemudian ia memberanikan diri untuk berbicara, "maaf sebelumnya, Opu. Ucapan Kenzo ada benarnya, sebaiknya Opu dan Kenzo juga Fey membicarakan hal ini bersama, dengan kepala dingin. Jangan korbankan perasaan keduanya, mereka saling mencintai. Saya harap, Opu bisa mengerti."


Andi menatap tajam ke arah Kenzo dan Arash, lalu dengan kasar ia menghempaskan tangan putrinya.


"Fey, apa kamu masih perlu membicarakan hal ini dengan suamimu?"


Fey tertunduk, wanita bergaun pengantin cantik itu tidak tahu harus menjawab apa.


"Katakan Sayang! Katakan kalau kamu masih ingin bersamaku, kita bicara dan selesaikan masalah ini dengan baik. Aku janji setelah hari ini, baik Mami, Papi dan juga Kevin gak akan bisa lagi menyentuh kamu dan Kenzie."


"Bicara, Fey! Jangan sampai masalah ini berlarut-larut. Jangan biarin nafsu amarah nguasain lo, jangan biarin Kevin dan orang tuanya tertawa puas ngeliat rumah tangga lo hancur berantakan. Pertahankan tumah tangga lo, Fey!" bujuk Sagina, sambil memeluk tubuh sahabatnya.


Tidak ada jawaban terlontar dari bibir indah Fey, hanya isakan tangis yang terdengar.


Kenzo perlahan berjalan mendekati istrinya, Sagina langsung mundur beberapa langkah ke belakang tubuh sahabatnya.


Kedua tangan Kenzo merangkul pundak wanita yang terlihat sangat rapuh itu, tatapannya nanar tidak tega memandangi wajah cantik istrinya basah berlinang air mata.


"Kita harus bicara, supaya Opu mengerti dan mau kasih kesempatan aku untuk buktiin kalau aku bisa jaga dan lindungi kamu. Demi Allah, aku pun gak tahu kalau si brengsek Kevin datang diam-diam ke acara kita. Pasti ini adalah ulah Mami, beliau sengaja mengundang Kevin untuk menyakitimu."


"Aku sudah bilang sama kamu Mas, aku ragu dengan kebaikan Ibumu, tapi Mas bersikukuh membelanya dan malah menuduhku yang tidak-tidak. Apalagi saat Opu bicara di telpon agar kita menolak rencana mereka, tapi kamu juga yang bersikeras menyuruh Opu dan Mama datang kemari."


"Aku akui aku salah, maafin aku, aku gak peka dan terlalu larut dalam kebaikan semu mereka, aku terlalu senang karena akhirnya Mami sayang kepadamu, aku benar-benar menyesal, Sayang."


Kenzo berlutut di samping tubuh istrinya, melihat hal itu hati Andi merasa tidak tega, ia segera menyuruh menantunya itu untuk bangun.


"Baiklah, kita ke rumahmu untuk bicarakan semuanya."


Akhirnya Kenzo pun berhasil mengajak istri dan sang mertua pulang bersamanya.


Sesampainya di rumah, Fey langsung masuk ke dalam rumah dan mengunci diri di dalam kamarnya.


Ia tak kuasa menahan rasa sakit, malu dan marah, saat kembali mengingat kejadian di pesta resepsinya.


"Jahat sekali kamu, Vin. Hiks...."


Tok... Tok... Tok!


"Sayang, buka pintunya!" teriak Kenzo dari luar kamar.


"Jangan ganggu aku! Aku benci kamu dan keluargamu, huuuuu."


"Kita harus bicara! Jangan seperti ini, kumohon Sayang."


Fey tidak memperdulikan rengekan suaminya, ia lebih memilih menutup kepalanya dengan bantal.


...


"Kamu gak apa-apa, Nak?" tanya Rahmat, sambil memapah tubuh putra sulungnya ke kursi.


"Aku gak apa-apa, Pi. Tapi aku gak puas, karena belum seratus persen membuat si Kenzo dan cewek murahan itu malu di hadapan umum."


"Harusnya tadi Papi nahan si Ken, jangan diam aja melongo kaya patung! Kasihan Kevin jadi babak belur." sungut Anggun.


"Ah, kamu bisanya hanya menyalahkan, kamu ngapain aja? Malah sibuk selfie sama teman-teman sosialitamu. Bukan jalanin tugas masukin obat perangsang ke minuman si Fey, gak berguna!"


"Iya, maaf aku lupa Pi."


"Seandainya tadi kamu berhasil, pasti semua akan berjalan sesuai harapan kita. Gak kebayang si pelacur itu akan menggeliat terbakar gairah di atas pelaminan, itu akan menjadi point bagus agar semua tamu undangan tahu wanita macam apa yang dinikahi putramu yang gak tahu diri itu. Ditambah dengan ucapan si Kevin, sudah semua akan sempurna jadinya."


"Ya, maafin Mami, Pi!"


"Sudah, Mi, Pi... Lain kali akan aku kerjai lagi, aku gak rela kalau si Fey hidup bahagia sama Kenzo. Dia boleh nikah dengan siapa aja, asal jangan dengan orang terdekat aku. Apalagi aku sangat membenci Kenzo, selalu menentang Papi dan Mami. Untuk itu, aku akan membuat hidup mereka nggak tenang. Aku benci mereka berdua."


"Iya, Nak. Si Ken, selalu merasa dirinya hebat, pemuda keras kepala dan kurang ajar seperti dia memang harus diberi pelajaran. Lihat saja, akan aku laporkan masalah ini kepada pihak yang berwajib. Biar dia dipenjara!"


Mendengar penuturan suaminya, Anggun sangat terkejut, namun seperti biasa, ia tidak dapat mencegah ataupun melarang apa yang akan dilakukan suaminya itu. Demi harta, ia rela mengorbankan apa saja, termasuk putra sulungnya, Kenzo.


...


"Sudahlah, Nak. Biarkan dulu istrimu!"


"Tapi, Ma...."


"Kamu harus memahami hati wanita saat sedih, butuh waktu sendiri untuk menenangkan diri. Nanti, setelah reda, istrimu akan mau bicara dan juga mendengarkanmu."


"Apa yang diucapkan Mamamu benar, Nak. Sudah, tenang-tenang saja dulu. Yang penting semua sudah jelas, kalau memang kamu ndak terlibat dalam aksi kejahatan keluargamu."


"Iya, Opu. Terimakasih banyak atas pengertiannya, aku hanya belum tenang kalau belum bicara sama Fey."


"Nanti, akan tiba saatnya. Bersabarlah, Nak!"


"Iya, Opu."


Kenzo kembali duduk di sofa ruang tengah, bersama kedua mertua, juga kedua sahabatnya, Arash dan Sagina.


Dua jam kemudian, pintu kamar tidur utama terbuka. Fey keluar dengan menenteng handuk kimono menuju kamar mandi, Andi memberi isyarat kepada menantunya agar segera masuk ke dalam kamar.


Setengah jam kemudian, Fey kembali masuk ke dalam kamar, setelah membersihkan dirinya.

__ADS_1


Kenzo langsung mengunci pintu kamarnya dan mengantongi kunci tersebut, sesaat setelah istrinya masuk.


Fey diam, ia masih enggan untuk bicara dengan suaminya.


Kenzo lalu duduk di tepi ranjang, memandang istrinya yang sedang duduk di kursi depan meja rias sambil menyisir rambutnya.


"Yang, aku sangat menyesal dengan kejadian tadi. Aku minta maaf karena sudah memaksamu untuk percaya soal kebaikan Mami. Aku benar-benar gak menyangka Mami bisa berbuat tidak baik seperti tadi, maafin aku Sayang!"


Wanita berambut hitam panjang lebat itu terus diam, ia hanya melirik suaminya dari cermin.


"Hukumlah aku! Pukul aku, tendang aku sesukamu, tapi ... Jangan kamu tinggalin aku, aku sangat mencintaimu Sayang."


Fey memutar posisi duduk, menghadap ke arah suaminya.


"Aku lelah dengan semua ini, Ibumu sudah dua kali mempermalukan aku di depan umum. Mas sekarang percaya dengan ucapanku beberapa waktu yang lalu?! Aku sudah bilang berkali-kali kalau Ibumu hanya pura-pura baik sama aku, tapi Mas terus membelanya. Aku dan Opu sudah berapa kali meminta kepada Mas untuk membatalkan resepsi itu, tapi Mas yang memaksa kami untuk menyetujuinya. Setelah semuanya terjadi, Mas hanya minta maaf?! Apa dengan maaf, Mas bisa mengembalikan harga diriku yang hilang akibat hinaan dari adik tersayangmu itu?"


"Aku sungguh menyesal, Sayang. Tolong maafkan aku!"


"Aku gak yakin Mas bisa menjamin keamananku dan juga Kenzie, suatu hari nanti pasti pria keparat itu akan kembali berulah, tentunya dengan dibantu oleh Ibumu. Jadi, aku rasa percuma kalau aku maafin Mas dan berbaikan kembali."


"Jangan seperti itu, Sayang. Demi Allah, aku gak terlibat. Kalau kamu gak percaya, akan aku hajar si Kevin dan membawanya kemari untuk mengakui semua kesalahannya dan meminta maaf kepadamu."


Kenzo menatap wajah Fey, ia kemudian meraih kedua tangan istrinya itu, lalu menciumnya.


"Kita pindah dari Jakarta, kemana saja yang kamu mau."


Sejenak Fey diam, berusaha mencerna usulan yang diucapkan suaminya barusan.


Sementara Kenzo menyandarkan kepala di pangkuan istrinya, terisak dan terus mengucap kata maaf.


Beberapa saat kemudian, tiba-tiba pintu kamar mereka diketuk.


Tok ... Tok ... Tok!


"Kenzo, Fey, keluarlah sekarang!" teriak Arash dari luar kamar, suaranya terdengar panik.


Dengan segera, Fey dan Kenzo pun beranjak untuk membuka pintu.


"Ada apa?" tanya Kenzo.


"Di luar, ada Polisi."


"Bicara yang jelas, Rash!"


"Dua orang Polisi itu datang kemari mau menangkap lo, atas tuduhan penganiayaan terhadap Kevin di hotel tadi. Rupanya Ayah tiri lo gak terima, anaknya babak belur lo hajar."


Tungkai kaki Fey seketika bergetar saat mendengar kabar buruk yang dibawa oleh Arash, tubuhnya tumbang nyaris jatuh ke lantai, namun untung saja Kenzo segera menahannya dan lalu membopongnya, lalu menidurkannya di atas sofa di ruang tengah.


"Opu sekarang sedang bersama kedua Polisi itu, temui segera Ken!"


"Tapi, bagaimana dengan Fey?"


"Biar Gina yang urus, dia lagi di dapur. Segera gue panggil dia untuk kemari. Lo jangan khawatir."


"Ok, makasih Rash."


Dengan hati tidak menentu, Kenzo berjalan menuju teras rumahnya.


Melihat Kenzo datang, Andi dan kedua polisi yang sedari tadi sedang duduk di kursi itu langsung berdiri.


"Ada yang bisa saya bantu, Pak?"


"Maaf sebelumnya Pak Kenzo, kami datang kemari membawa surat perintah penangkapan atas nama anda, dengan tuduhan penganiayaan yang terjadi siang tadi di ballroom hotel Dinasti."


"Baik, Pak," jawab Kenzo pelan, "Opu, saya titip Fey dan Kenzie. Doakan saya ya Opu, semoga masalah ini gak berlarut-larut."


Dengan mata berkaca-kaca, Andi memeluk menantunya itu.


"Jangan khawatir, Nak. Opu dan Arash akan segera menyusulmu."


"Baik, Opu. Saya pamit, assalamualaikum."


Kenzo mencium punggung tangan mertuanya dengan takzim, setelah itu ia pun langsung diapit oleh kedua polisi tadi menuju mobil patroli yang terparkir di depan rumah.


Bisikan dari para tetangga yang melihatnya digiring oleh polisi, tidak dihiraukan oleh pria bertubuh jangkung itu. Ia tidak merasa malu dengan apa yang dialaminya, sebab ia yakin bahwa dirinya tidak bersalah.


Setelah Kenzo berlalu, Fey telah siuman dari pingsannya, dengan suara parau, ibu dari Kenzie itu pun menangis histeris memanggil-manggil nama suaminya.


"Sabar, Nak! Opu dan Arash akan ke kantor polisi sekarang."


"Fey ikut, Opu. Fey mau bertemu dengan Mas Kenzo."


"Tunggu di rumah, Nak! Kasihan Kenzie," bujuk Khadijah.


"Mamamu benar, Nak. Tunggu di rumah saja, jangan memaksakan diri. Biarmi Opu dan Arash yang berangkat."


"Opu benar, Fey. Lo di sini aja, nanti kalau sudah dapat kabar dari Opu dan Mas Arash, baru kita ke sana. Biar aku yang antar."


"Gue mau ketemu mas Kenzo, Giiinn."


"Iya, gue tahu. Tapi sekarang lo harus tunggu di sini, pikirin juga Kenzie. Jangan egois!"


Akhirnya, Fey pun menurut. Ia bersedia untuk tinggal di rumah, sementara ayahnya dan Arash segera berangkat untuk menyusul suaminya ke kantor polisi.


...


Fey sangat terpukul dengan apa yang telah terjadi, ia sangat frustasi, apalagi setelah suaminya dibawa ke kantor polisi, hal itu membuat jiwanya semakin terguncang.


Wanita berusia 27 tahun itu tidak mau keluar kamar, dan tidak juga mau makan, sungguh ironis memang.


Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, merasa menyesal karena telah tega mengabaikan suaminya saat meminta maaf kemarin.


Saat suaminya tidak berada di sampingnya, barulah ia mengerti dan memahami bahwa ia masih sangat mencintainya.


"Mas Kenzoo, maafin aku. Aku ingin bertemu kamu, Mas. Tapi sampai saat ini, Opu belum juga kembali. Aku gak tahu kamu ada di kantor polisi mana." gumamnya lirih, diselingi dengan isak tangis.


Krieeettt ...!


Sagina memasuki kamar tidur berukuran 5x5 meter itu, perlahan ia mendekati sahabatnya yang sedang berbaring menghadap ke jendela.


"Fey," panggilnya pelan.

__ADS_1


Fey bergeming, ia fokus menatap awan di langit lewat kaca jendela di hadapannya.


"Lo mau ketemu Mas Kenzo?"


Mendengar ucapan sahabatnya, Fey langsung berbalik dan mengangguk pelan.


"Lo bersiap ya, kita ke kantor polisi, Opu dan Mas Arash masih di sana. Alhamdulillah, sudah ada pengacara juga yang tangani kasusnya, kenalannya Mas Arash."


"Gue bisa ketemu Mas Kenzo?"


Sagina mengangguk, dan tersenyum bahagia saat melihat wajah sahabatnya itu kembali berseri.


"Lo sekarang mandi, terus masakin makanan yang enak buat laki lo, jam besuk masih tiga jam lagi. Jangan sampai telat, ok!"


Fey mengangguk dan memeluk Sagina, bibirnya tidak berhenti mengucap syukur sebab ia bisa bertemu dengan suaminya.


Usai mandi, Fey langsung ke dapur, memasak makanan kesukaan suaminya. Dengan dibantu oleh mamanya, satu jam kemudian masakan pun telah siap.


Kemudian, Fey dan Sagina berpamitan kepada Khadijah.


"Hati-hati di jalan, Nak!"


"Iye', Ma. titip Kenzie ya Ma."


"Iyo, Nak. Salam untuk suamimu."


"Insya Allah, Ma. Kami pamit, Ma. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Sagina mulai menyalakan mesin mobil, perlahan wanita berhijab itu pun mengemudikan mobilnya menuju kantor polisi.


Dengan hati berdebar, Fey duduk di kursi tunggu di dalam ruangan besuk tahanan. Ia sedang menanti suaminya yang sedang dijemput oleh petugas.


Tidak lama kemudian, muncul seorang petugas kepolisian bersama Kenzo yang masih mengenakan kemeja putih dan celana bahan navy, merupakan stelan pakaian yang dipakai saat resepsi kemarin.


Fey bangkit dari kursi, menatap nanar suaminya. Sesaat setelah petugas kepolisian itu pergi, ia langsung berlari dan memeluk suaminya. Tangisnya pecah.


"Maafin aku, Maass. Kemarin aku sangat egois sudah mengabaikanmu."


Kenzo tersenyum lega, akhirnya wanita yang sangat dicintainya itu sudi untuk menjenguk dan memberi maaf kepadanya.


"Sstt, sudah ... Jangan nangis lagi, kita duduk yuk!"


Perlahan Fey mengangguk.


"Gimana kabar Mas?"


"Alhamdulillah, Sayang. Kamu pucat sekali, pasti belum makan ya?!"


"Sudah."


"Jangan bohong!"


"Aku, aku kepikiran Mas terus."


"Aku baik-baik aja, kok. Sebentar lagi juga aku akan pulang, tenang saja. Jaga kesehatan dan jangan telat makan ya Sayang, lakukan itu demi aku dan anak kita!"


"Iya, Mas. Ini aku juga bawain makanan kesukaanmu, nanti dimakan ya."


Fey menyerahkan kotak makan susun kepada suaminya, Kenzo membukanya.


"Kita makan bareng ya!"


"Gak, itu untuk Mas aja."


Kenzo mengambil sendok dan kemudian menyodorkan sendok berisi nasi dan juga lauknya itu ke dekat mulut istrinya.


"Jangan bandel, buka mulutnya, ini aku suapin."


Dengan mata berkaca-kaca, Fey pun menurut. Suami tercintanya itu, dengan telaten menyuapinya.


"Mas makan juga dong!"


"Aku akan makan, setelah kamu kenyang. Aku gak mau kamu sakit, jangan buat aku sedih!"


"Hiks, Maass."


Fey menyandarkan kepala di bahu sang suami. Ia tidak dapat menahan haru atas perlakuan istimewa dari suaminya itu.


"Makan lagi, Sayang!"


"Aku sudah kenyang, untuk Mas saja."


"Gak mau suapin aku?" goda Kenzo, berusaha mencairkan suasana.


Fey tertawa kecil dan kemudian mengambil kotak nasi dan sendok dari tangan suaminya.


Kenzo makan dengan lahap, ia menghabiskan makanan buatan istrinya itu.


"Alhamdulillah, makasih ya Sayang. Aku sangat mencintaimu."


"Aku juga, sangat mencintaimu Mas."


Tak lam kemudian, seorang petugas kepolisian datang untuk menjemput Kenzo.


"Maaass, hiks."


"Jangan sedih, Sayang. Aku akan segera bebas, jaga kesehatanmu ya! Titip Kenzie!"


"Iya, Mas. Iya," rintih Fey, menutup mulut dengan kedua tangan saat melihat sang suami berlalu meninggalkannya, untuk kembali ke dalam sel.


***


Halah-halah, kasian amat babang Kenzo ditangkap polisi.


Akankah bebas?


Simak kelanjutannya ya Maakk.


Terimakasih.

__ADS_1


***


-Bersambung-


__ADS_2