Lepas Masa Lalu

Lepas Masa Lalu
#Lepas_Masa_Lalu


__ADS_3

...*...


"Mas, pulang sekarang! Aku mau bicara," isak Indah ditelpon.


"Ada apa, Ami?"


"Kita bicara di rumah ya, Mas. Sekarang aku sudah di jalan pulang."


"Iya, Mi. Aku pulang sekarang juga."


"Ok," pungkas Indah, menutup telponnya.


Gadis berkawat gigi itu terus tersedu, manakala mendapati kenyataan bahwa pemuda yang telah menghamili adiknya itu tidak lain adalah anak tirinya sendiri.


Selama ini memang Indah tidak mengetahui tentang Kevin, hal itu karena si anak kesayangan dari suaminya itu terlalu sibuk dengan dunianya, sehingga tidak pernah sekalipun datang ke kantor ataupun hadir di setiap acara yang diadakan perusahaan.


Hanya Keanu yang dia tahu, itu karena Keanu rajin mengantar Anggun ke kantor.


"Hhhh, hiks ... Apa yang harus aku lakukan ya Allah? Kenapa rumit begini? Sejatinya aku menaruh rasa hormat terhadap Bu Anggun, tapi aku manusia biasa Ya Allah, aku masih menyimpan rasa tidak ikhlas dan dendam terhadap pemuda bejat itu."


Di sepanjang perjalanan Indah terus menangis, hingga tak terasa akhirnya ia pun sampai di halaman rumahnya.


Segera ia turun dan langsung memasuki kamarnya, tidak lama berselang, Rahmat pun datang.


Rahmat memasuki kamar, ia mendapati sang istri tengah duduk di tepi ranjang sambil memandangi foto adiknya di layar ponsel. Pria berjas abu-abu itu menghampiri istrinya, lalu duduk di sebelahnya.


"Ada apa, Mi?"


"Aku ingin kita bercerai, Mas!"


"Istighfar, Mi! Setan apa yang menghasutmu? Sehingga Ami bisa bicara seperti itu."


"Aku nggak sudi punya suami, yang tidak lain adalah ayah dari pembunuh adikku!"


"Apa maksudmu, Mi?"


"Mas pura-pura tidak tahu kalau anak Mas itu yang sudah menghamili Silva dan memaksa adikku itu untuk menggugurkan kandungannya?"


Sekujur tubuh pria berusia lanjut itu bergetar hebat, peluh tiba-tiba datang tanpa bisa dicegah, bibir tebalnya gemetar, matanya berkaca-kaca. Ucapan istrinya barusan sungguh membuatnya sangat terkejut, kasus putranya memang sengaja ia abaikan, hal itu dilakukannya karena ia memang tidak mau ambil pusing dan karena rasa malu yang tidak dapat ia tutupi.


Rahmat yang sangat kecewa dengan tindak-tanduk putranya, bersikap masa bodoh saat Keanu memberi kabar bahwa Kevin ditahan oleh polisi. Ia sengaja membiarkan anak emasnya itu untuk berjuang sendiri, pengusaha sukses tersebut lebih memilih untuk menyibukkan dirinya dengan mengurus pekerjaan.


Untuk itu ia sama sekali tidak mengetahui kalau putranya itu, ada kaitannya dengan kematian adik ipar yang sangat disayanginya.


"Akan aku urus semuanya, Mi. Tapi aku mohon jangan meminta cerai dariku!"


"Aku nggak bisa hidup dalam bayang-bayang Kevin, setiap melihatmu, aku akan kembali mengingatnya. Dan itu akan membuat hatiku sakit dan sedih."


"Demi Allah, aku sama sekali tidak tahu soal Kevin dan Silva. Tolong jangan mengkambing hitamkan aku, Mi. Aku nggak akan pernah menceraikanmu, apapun yang terjadi."


Mendengar penuturan suaminya, tiba-tiba terbersit sebuah ide jahat di dalam benak Indah.


"Mas sungguh nggak mau bercerai denganku?"


"Iya, Mi. Aku sangat menyayangi dan mencintaimu, juga Naura."


"Kalau begitu, jadikan aku satu-satunya wanita di dalam hidupmu! Nikahi aku secara sah di mata hukum negara."


Sejenak Rahmat diam, sejujurnya ia terkejut dengan permintaan istrinya barusan.


Rahmat *** rambutnya kasar, tak lama ia pun bangkit dan berlalu meninggalkan istrinya yang masih duduk sambil tersedu.


Melihat suaminya pergi, Indah hanya  diam, sejatinya ia sangat tahu kemana suaminya itu akan pergi.


"Maafin aku, Mas. Aku bukan bermaksud ingin berbuat dzalim terhadap Bu Anggun, aku hanya ingin membalasnya. Bu Anggun harus tahu bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang sangat dicintai, Bu Anggun juga harus merasakan perih kehilangan hartanya yang paling berharga. Ya Allah, ampuni tindakan hamba ini. Sesungguhnya Engkau Maha mengetahui apa yang tengah aku rasakan saat ini."


...


Plaaaaaaaakkkk!


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi pemuda tampan berbaju tahanan, terlihat dari sudut bibirnya keluar darah segar.


"Anak nggak punya moral! Teganya kamu menghamili Silva dan memaksanya untuk aborsi," maki Rahmat, sorot matanya tajam ke arah putranya yang tertunduk lesu.


"Maafin aku, Pi. Aku sungguh sangat menyesal."


"Persetan dengan maafmu itu, kamu tahu siapa Silva? Dia adalah adik ipar Papi, adik istri siri Papi. Dia gadis yang sangat baik dan shaleha, bisa-bisanya kamu membawanya ke jalan maksiat."


"Ya, Pi ... Aku tahu itu, aku tahu Silva adik dari Mbak Indah, istri siri Papi. Untuk itu aku sengaja memacarinya, aku nggak suka Papi punya istri lagi, kasihan Mami, Pi. Makanya aku mau balas dendam dengan menghancurkan kehidupan adiknya. Tapi aku nggak ada niatan untuk membunuhnya Pi, aku juga nggak menyangka dia bisa hamil. Maafin aku, Pi. Aku sangat menyesal."


"Kurang ajar! Setan mana yang sudah merasukimu? Apa pernah Papi mengajarkan hal-hal yang tidak baik kepadamu? Kurang apa Papi dalam mendidikmu selama ini, hah! Segala keinginan dan ambisimu Papi turuti. Tapi balasanmu seperti ini, melemparkan kotoran ke wajahku dengan sengaja."


Rahmat menarik kasar pakaian yang dikenakan putranya, lalu mendorong tubuh kurus Kevin hingga membentur ke dinding.


"Katakan dengan jujur! Apakah Mami terlibat dalam rencanamu menghancurkan Silva?"


Kevin menunduk, ia tidak berani menatap pria di hadapannya.


"Kamu tuli?! Katakan padaku! Apa Mamimu terlibat dalam rencana busukmu terhadap Silva?"


"Eng-eng ... Nggak, Pi. Enggak ...."


"Aarrgh, bedebah kamu Vin! Bisanya kamu berbuat jahat seperti itu, Papi kecewa sama kamu! Papi tanya sekali lagi, apa Mamimu terlibat dalam rencana busukmu mempermainkan Silva? Kalau kamu bohong, maka kamu akan tahu konsekuensinya, namamu akan Papi coret dari daftar ahli waris, akan Papi pastikan kamu jadi gelandangan!"


"Maafin aku, Pi. Aku sangat menyesal."

__ADS_1


"Jawab!!!"


"Maafin aku, Pi! Huuuu."


"Aaarg ... Sekarang kamu harus tahu, bahwa Papi tidak akan menolongmu, kamu harus mendekam di dalam penjara ini, renungkanlah semua dosa-dosa yang sudah kamu lakukan di masa lalu. Bertaubatlah sebelum terlambat!"


Dengan wajah kesal, Rahmat meninggalkan putranya seorang diri.


"Papi ... Pi, jangan pergi tinggalin aku di sini Pi! Papiiiii, tolongin aku Piiii!"


Kevin berteriak histeris, dua orang petugas langsung masuk dan mengapit pemuda berambut coklat gelap itu, kemudian membawanya kembali masuk ke dalam sel.


Sementara Rahmat, dengan hati hancur mengemudikan mobilnya. Tujuannya adalah rumah yang ia tinggali bersama istri pertamanya, Anggun.


Sesampainya di rumah megah itu, Rahmat langsung masuk dan mendatangi sang istri di dalam kamarnya.


Melihat suaminya datang, wajah Anggun berseri-seri, ia langsung berlari dan segera memeluk pria yang sudah hampir satu bulan tidak pernah pulang tersebut.


"Papii, Mami rindu, Pi."


Dengan kasar, Rahmat mendorong tubuh istrinya menjauh darinya.


"Aku ke sini mau bicara serius denganmu!"


"Ada apa, Pi? Tentang Kevin? Tolong bebaskan dia, Pi! Dia nggak bersalah, cewek itu yang menjebak putra kita sehingga bisa masuk penjara."


"Jaga ucapanmu! Silva gadis yang baik, mana ada orang yang mau menjebak orang lain sampai harus kehilangan nyawanya?! Dasar manusia nggak berhati kamu, Mi! Kamu bersekongkol dengan si Kevin kan, hal itu kamu lakukan karena kamu tahu bahwa Silva itu adik dari istri siriku?!"


"Haha, kalau memang benar, Papi mau apa? Aku benci kamu poligami, Pi! Seenaknya kamu meninggalkan aku, demi si gigi tonggos berkawat itu. Cuih!"


"Ya Allah, tega sekali kamu Mi. Bisanya kamu bekerjasama dengan Kevin untuk berbuat keji, jangan-jangan dulu juga masalah si Feylin --"


"Ya, aku tahu dia hamil oleh Kevin, Kevin curhat semuanya sama aku, aku sebagai ibu yang sangat menyayangi putranya akan melakukan apa saja untuk melindunginya. Hahaha."


"Astaghfirullah, waktu itu kamu bilang Kevin tidak bersalah, wanita itu adalah gadis matre yang mencoba menjebak putra kita. Berarti aku selama ini sudah berbuat dzalim kepada Feylin dan putranya yang tidak lain adalah cucuku, tega sekali kamu Mi. Aku nggak menyangkanya."


"Haha ... Haha ...."


"Bodohnya aku bisa percaya saat kamu mengatakan kalau si Feylin itu wanita yang hanya ingin mengincar harta anak kita, mudahnya aku percaya pada semua bualan dan juga dustamu. Kamu ini manusia macam apa?! Kamu nggak merasa berdosa sedikit pun terhadap Silva dan Feylin, hah?!"


"Haha ... Haha, dosa? Aku nggak takut dosa! Aku punya banyak uang, maka akan kubeli penghapus dosaku, berapapun harganya, aku sanggup. Hahahaha!"


"Astaghfirullah, ya Allah!"


"Sejak kapan kamu bisa istighfar Pi? Haha!"


"Keputusanku menikah lagi dengan Indah ternyata nggak salah, dia wanita yang sangat shaleha dan selalu menuntunku untuk mendekatkan diri kepada Allah. Tidak sepertimu, yang selalu mengajakku untuk mengejar duniawi. Untung saja sebelum semuanya terlambat, aku sudah hijrah, bertaubat dan mulai memperbaiki diriku."


"Hijrah? Hahaha ... Jreng, jreng, jreng ...."


Anggun berjingkrak-jingkrak dengan gembira meledek suaminya, kedua tangannya menari-nari di atas kepala. Melihat hal itu, Rahmat menggeleng-gelengkan kepalanya, ia menghela nafas panjang.


"Maafkan aku sebelumnya, Mi. Aku terpaksa melakukan hal ini, aku sudah memutuskan untuk menceraikanmu, tapi aku tidak akan melepaskan tanggung jawabku terhadapmu dan Keanu. Setiap bulan akan aku berikan uang sesuai dengan hakmu dulu, walaupun statusmu bukan istriku lagi, dan untuk Keanu, aku akan membiayainya sampai dia tuntas menyandang gelar dokter spesialis sesuai dengan cita-citanya."


"Apa, Pi? Cerai?"


"Iya, Mi. Daripada aku nantinya berdosa karena tidak bisa bersikap seperti dulu, lebih baik kita sudahi saja. Itu akan lebih baik untukku dan untukmu. Rumah dan seluruh aset yang selama ini kamu nikmati, nggak akan aku ambil. Silahkan itu semua untukmu. Kamu jangan takut akan jatuh miskin, aku tahu kamu nggak bisa hidup tanpa uang. Untuk itu aku sangat mengerti dan tidak akan berbuat jahat kepadamu. Sedangkan untuk anak-anak kita, sudah aku siapkan sendiri, mereka akan mendapatkannya di saat yang tepat."


"Nggak ... Nggaaaaakkkkk, aku nggak mau cerai!"


Anggun meronta memukuli dada bidang suaminya, wanita bercucu satu itu tampak sangat terpukul sekali.


Rahmat diam membiarkan mantan istrinya tersebut melampiaskan kemarahan serta kesedihan kepadanya, dalam lubuk hatinya ia tidak tega melihat ibu dari kedua putranya seperti itu, tapi semua harus ia lakukan demi kebaikan bersama.


Setelah mereda, Rahmat membelai rambut istrinya, lalu ia pun berpamitan. Melihat suaminya berlalu, bak anak kecil yang kehilangan mainan, Anggun menangis sambil berguling-guling di lantai.


"Papiiiii, jangan tinggalin aku, Piiiii!"


Rahmat menarik nafas panjang, tekadnya sudah bulat dan ia tidak ingin menoleh lagi ke belakang.


Saat di ruang keluarga, ia melihat Kenzo tampak sedang berbicara kepada istrinya di sofa. Jaraknya yang jauh dari kamar utama, membuat mereka tidak bisa mendengar raungan tangis Anggun.


Dengan wajah penuh penyesalan, Rahmat mendekati keduanya.


"Kenzo, Feylin ...," panggilnya pelan.


Keduanya berdiri dan menyalimi Rahmat. "Nak, Papi ingin bicara dengan kalian berdua. Bisa?"


"Silahkan, Pi!" jawab Kenzo mempersilahkan ayah tirinya untuk duduk.


"Kenzo, Papi minta maaf atas sikap Papi selama ini, kamu adalah anak yang sangat berbakti dan baik. Papi, sungguh menyesal, Nak!" Rahmat menelangkupkan kedua tangannya.


"Pi, jangan begitu. Sebelum Papi mengucap maaf pun, aku sudah memaafkannya."


"Terimakasih banyak, Ken."


Keduanya berpelukan penuh haru, Fey pun tidak dapat menahan air matanya.


Beberapa saat kemudian, Rahmat menatap ke arah Fey. "Feylin, begitu juga kepadamu, Papi meminta maaf yang sebesar-besarnya, karena dulu Papi membiarkan Kevin mendzalimimu juga Kenzie. Kamu boleh memberi Papi hukuman apa saja, Papi sangat menyesal, kamu mau kan maafin Papi?!"


Tangis Fey pecah seketika, tanpa sungkan ia memeluk tubuh pria paruh baya di hadapannya.


"Aku sudah maafin Papi, aku bahagia akhirnya Allah membuka hati Papi."


"Terimakasih, Nak! Izinkan Papi menggendong dan mencium cucu Papi."

__ADS_1


Perlahan Fey melepaskan pelukan, ia tersenyum dan segera bangkit untuk mengambil putranya di dalam kamar.


Tak lama ia pun datang dengan menggendong Kenzie, lalu diserahkannya kepada Rahmat.


Dengan penuh kasih, Rahmat menciumi cucunya. "Masya Allah, tampan sekali cucuku. Terimakasih Nak Feylin, sudah menjaganya. Papi juga ucapkan banyak terimakasih kepada kamu Ken, karena sudah berbesar hati mencintai dan menyayangi Kenzie layaknya seorang ayah kandung."


Kenzo dan Fey mengangguk, lalu keduanya pun duduk mengapit Rahmat yang sedang memeluk erat cucunya.


Kenzie yang terbangun dari tidurnya, langsung berceloteh riang, membuat Rahmat dan kedua orang tuanya tertawa bahagia.


"Satu hal lagi yang ingin Papi utarakan padamu, Ken. Papi nggak bisa mempertahankan rumah tangga Papi dengan Mamimu, sebetulnya Papi enggan melakukan hal itu, tapi berhubung Mamimu sudah banyak sekali mengelabui dan bertindak di luar batas tanpa sepengetahuan Papi, untuk itu Papi terpaksa melakukannya."


"Apa nggak ada cara lain untuk menyelesaikan hal ini, Pi? Mami sekarang sedang sakit dan depresi, paling tidak berikanlah beliau ketenangan bathin dulu. Setelah reda, baru Papi pikirkan lagi."


"Maafin Papi, Ken. Mamimu baru saja mengakui kalau dia telah berencana dengan Kevin untuk menghancurkan hidup Silva, adik dari Indah. Dan satu hal lagi yang ia akui, tentang kehamilan Feylin dulu, jadi ternyata Mami sebetulnya tahu kalau Kevin adalah ayah dari Kenzie, tapi dengan sengaja ia menutup mata, telinga serta hatinya. Dan berucap kalau Feylin hanya berusaha untuk menjebak Kevin, saat itu Papi percaya. Seandainya Papi tahu, tentunya Papi akan menikahkan Feylin dengan Kevin saat itu juga, tapi semuanya sudah terjadi."


"Ya Allah, Mami ... Kenapa bisa Mami berbuat begitu keji?" rutuk Kenzo, sangat terpukul.


Begitu juga dengan Feylin, ia tampak sangat terkejut dengan pernyataan kakek dari putranya itu.


"Untuk itu, Ken. Papi mohon maafkan atas keputusan Papi ini, sejak hari ini Papi sudah tidak bisa menjaga Mamimu lagi, kalau untuk masalah biaya hidup Papi nggak kan lepas tanggung jawab. Papi akan tetap memberikan hak kepada Mamimu, sesuai dengan yang selama ini ia dapatkan. Tidak satu rupiah pun akan Papi kurangi."


Kenzo tertunduk lesu, air matanya berlinang membasahi pipi. "Aku nggak tahu harus bagaimana, Pi. Aku nggak bisa menyalahkan Papi dan nggak bisa juga membela Mami, karena terlalu banyak kesalahan yang sudah beliau perbuat selama ini."


"Tentang kesehatan Mami ... Nanti akan Papi hubungi teman Papi yang istrinya seorang psikiater, mudah-mudahan setelah konsul keadaan Mami akan membaik dan ia bisa segera bertaubat."


"Iya, baiklah Pi."


Usai menutup pembicaraan, akhirnya Rahmat pun berpamitan kepada Kenzo dan juga Feylin. Ia menyerahkan Kenzie kepada putra tirinya, Kenzo.


"Ini kartu nama Papi yang baru, di situ tertera alamat tempat tinggal Papi dengan Indah. Seringlah mampir ke sana, Nak! Ajak Kenzie ya! Jangan sampai, anak itu nggak kenal dengan kakeknya."


Fey menerima kartu nama itu, "insya Allah, Pi."


"Jangan sungkan kalau Kenzie butuh apa-apa, hubungi Papi ya! Pastikan cucu Papi ini mendapatkan yang terbaik."


"Iya, Pi. Jadi sekarang Papi dan Mbak Indah --"


"Insya Allah, Papi akan segera menikahinya secara sah di mata hukum negara. Wanita shaleha itu pantas mendapatkan yang terbaik di dalam hidupnya."


"Sampaikan salamku kepada Mbak Indah, Pi. Katakan kepadanya, untuk tidak membenciku. Aku tidak ada hubungan dengan kematian Silva."


"Insya Allah, nanti akan Papi sampaikan, Nak."


Selanjutnya, Kenzo dan Fey mencium punggung tangan Rahmat dengan takzim, dan mengantar kepulangan kakek dari Kenzie itu sampai di ambang pintu.


Sepeninggal Rahmat, Kenzo mengajak istrinya untuk melihat keadaan ibunya di kamar.


Betapa terkejutnya mereka saat mendapati Anggun tanpa busana sedang memanjat jendela, rupanya ia hendak loncat lewat jendela kamarnya yang berada di lantai dua.


"Mami, jangan lakukan hal itu, Mi!"


Dengan kuat, Kenzo langsung mengangkat tubuh mungil ibunya. Anggun meronta, meminta putranya itu agar mau melepaskan tangannya.


"Istighfar, Mi!" isak Fey, menutup tubuh mertuanya dengan selimut.


"Hahaha, hahahaha ... Huhuhu, huuuuu!"


Kenzo memeluk ibunya yang terus berubah-ubah emosionalnya, "Mi, nyebut Mi, nyebut!"


"Nyebuuuuuttt, hahaha," racau Anggun, sambil kembali tertawa terbahak-bahak.


"Mas, sebaiknya kita bawa Mami ke rumah sakit, Mas."


Kenzo mengangguk dan meminta istrinya itu untuk memberitahu supir, agar segera bersiap.


Dengan sigap, Fey yang sedang menggendong Kenzie segera keluar dari dalam kamar dan melangkah cepat menuju paviliun yang merupakan kamar tidur sang supir.


Lima belas menit kemudian, Kenzo dan juga Anggun sudah berada di dalam mobil.


Sesampainya di rumah sakit, dokter segera memeriksa keadaan Anggun.


Dokter terpaksa menyuntikkan obat penenang kepada Anggun, karena ia terus mengamuk dan meracau diselingi dengan tawa dan juga tangisan.


Setelah menjalani beberapa test, dokter yang menangani Anggun menyampaikan kepada Kenzo bahwa wanita berusia lima puluh tahun lebih itu harus mendapatkan perawatan di rumah sakit jiwa.


Mendengar putusan dokter, Kenzo menangis, hatinya benar-benar sangat hancur.


"Tidak ada jalan lain, Dok?"


"Percayalah, Pak. Ini adalah jalan yang terbaik, semua demi kebaikan Ibu anda. Kalau dirawat di rumah, takutnya nanti tidak terkontrol Pak, kami khawatir Bu Anggun akan bertindak lebih nekat lagi."


"Baiklah, Dok!"


"Tolong Ayah anda suruh datang kemari ya, Pak. Untuk menandatangani beberapa berkas rumah sakit."


"Baik, Dok. Akan saya telpon sekarang."


Kenzo berpamitan kepada dokter dan segera menelpon Rahmat.


Selang dua jam, Rahmat pun datang. Dengan berat hati, ia pun merelakan Anggun dipindahkan ke rumah sakit jiwa.


Di dalam mobil ambulance, Anggun terus bersikap gaduh, ia tidak berhenti cekikikan dan menangis.


Kenzo hanya bisa menatap nanar ke arah sang ibu yang sudah terganggu akal sehatnya, sementara Rahmat berada di dalam mobilnya, mengikuti mobil ambulance tersebut.

__ADS_1


***


-Bersambung-


__ADS_2