
*Part8*
"Kalau kematian Fey bisa buat Opu memaafkan Fey, lakukan saja. Demi Allah, Fey ikhlas. Fey sudah bertaubat, tolong ampuni segala dosa-dosa Fey, Opuuu."
Fey bersimpuh dan merangkul kaki sang ayah.
Bak singa yang siap menerkam mangsanya, Andi menyeringai, kemudian berteriak serta mendorong kakinya ke samping sehingga tubuh putrinya itu tersungkur.
"Sebaiknya ko' pergi dari rumah ini! Kedatangan ko' hanya buatku pusing dan malu saja."
Khadijah duduk bersimpuh di samping Fey, yang menunduk sambil menangis.
"Lunakkan hatita' Opu, kita bicara baik-baik dan dengarkan maksud dan tujuan Fey juga Kenzo datang kemari. Jangan kita hakimi sendiri, Allah saja Maha Pengampun."
Andi yang keras kepala, tidak terima saat istrinya terus membela Fey. Dengan wajah beringas, pria berusia setengah abad lebih itu menarik kasar kerah kemeja yang dikenakan oleh sang putri, ia hendak menyeret anak semata wayangnya itu keluar dari rumah.
"Ampun, Opuuu. Ampuuuunnn," Fey menangkupkan kedua tangannya.
Tanpa rasa iba, Andi mulai menyeret tubuh putrinya yang terus memohon ampun kepadanya.
Melihat kekasihnya diperlakukan semena-mena, Kenzo berjalan cepat menghampiri.
"Maaf sebelumnya, Oom. Jangan bertindak diluar batas, tolong lepaskan Fey!"
Andi menghentikan aksinya, ia menoleh ke arah Kenzo.
Tanpa rasa takut, Kenzo maju dan melepaskan cengkraman tangan Andi, dan merapikan kemeja yang dipakai sang kekasih.
"Saya memang orang luar di keluarga ini, tapi saya tidak terima kalau ada orang yang memperlakukan Fey seperti tadi, walaupun orang itu adalah orang tuanya sendiri. Maafkan ucapan saya kalau dianggap tidak sopan dan lancang, Oom."
Andi menatap nyalang ke arah pria muda di hadapannya, "kamu tidak berhak mencampuri urusanku!"
"Semua yang berhubungan dengan Fey, akan menjadi urusan saya, Oom. Walaupun harus berkorban nyawa, saya akan melindunginya. Jikalau memang Oom tidak menginginkan Fey di sini, jangan bersikap kasar seperti itu. Saya tidak ikhlas dunia akhirat Oom."
Andi masih bergeming, ia ingin tahu lebih lanjut pemuda macam apa yang akan menjadi pendamping putrinya kelak.
"Jika Oom sudah tidak menginginkan Fey berada di sini, saya akan membawanya pergi saat ini juga.Namun sebelum saya membawanya pergi, tolong maafkan dia dan restui saya untuk menikahinya. Saya ingin meneruskan tugas Oom dalam menjaga, melindungi serta mencintai Fey."
Suara Kenzo mulai terdengar parau, sesaat kemudian ia pun tidak dapat menyembunyikan kesedihannya.
Pemuda berusia tiga puluhan itu berjalan perlahan ke samping Andi, tanpa rasa ragu ia meraih tangan calon mertuanya itu.
"Oom, maafkan kalau sikap saya kurang berkenan di hati Oom, maafkan kalau ucapan saya dianggap tidak bisa diterima oleh Oom. Yang jelas saat ini, saya meminta restu Oom agar Andi Feylin Rahim, putri semata wayang Oom bisa saya nikahi secara sah secara agama dan hukum."
Punggung tangan pria paruh baya itu dicium oleh Kenzo dengan takzim.
"Saya restui, dan cepatlah pergi dari sini!" ujar Andi singkat, segera menarik tangannya dan berlalu pergi meninggalkan ketiganya.
"Opuuu ... Opuuuuu!" teriak Fey berlari menyusul ayahnya yang masuk ke dalam kamar.
Tanpa henti Fey memanggil nama sang ayah sembari menggedor dan menaik turunkan gagang pintu, namun usahanya sia-sia, Andi tidak memperdulikan.
Setelah menyerah, Fey duduk bersimpuh di depan pintu, bibirnya tidak berhenti memanggil ayahnya.
Kenzo menghapus air matanya, ia langsung berjalan menghampiri, lalu turut bersimpuh di hadapannya.
"Ayo, Sayang!"
"Aku gak mau pergi tanpa maaf dari Opu, Mas."
"Suasana masih tidak baik, jangan memaksakan diri. Restu Opu untuk menikahimu telah kukantongi, nanti kalau kemarahan Opu sudah reda, kita bisa kemari lagi."
Tangis Fey pecah, seperti anak kecil, ia meraung-raung.
"Sssttt, istighfar Yang!" rangkul Kenzo menenangkan.
Tidak banyak yang dapat Khadijah lakukan, ia hanya bisa menangis.
"Maass, aku mau Opu maafin aku."
"Iya, aku tahu. Tapi untuk saat ini gak mungkin Sayang, yang terbaik saat ini adalah kita kembali ke Jakarta. Kita biarkan Opu tenang."
"...."
"Aku sangat mengerti perasaanmu, aku juga ikut merasakan sakitnya. Jangan seperti ini, pikirkan Kenzie, Sayang!"
"Hiks, iya Mas." isak Fey sembari menenggelamkan wajahnya ke dada Kenzo.
"Kita pulang ya?!"
Fey mengangguk, keduanya pun berdiri dan segera merapikan pakaian.
"Mama ... Fey pamit ya,"
Khadijah memeluk erat putrinya, dalam dekapan tangisnya kembali tumpah.
__ADS_1
"Saya juga pamit ya, Ma."
"Mama titip Fey ya, Nak Kenzo. Jaga dan cintai dia dengan sebaik-baiknya."
"Mama jangan banyak pikiran ya, insya Allah saya akan memberikan yang terbaik untuk putri Mama. Jaga kesehatan, Ma."
Tanpa sungkan, Khadijah pun memeluk kekasih dari putrinya itu.
Beberapa saat kemudian, taksi online pun datang.
Setelah mencium punggung tangan Khadijah, Fey dan Kenzo menaiki mobil Suzuki Ertiga putih yang akan membawa mereka ke Bandara, untuk kembali ke Jakarta.
"Tenangkan hati dan pikiranmu, Sayang. Banyak berdoa sama Allah, agar Allah bisa segera melunakkan hati Opu."
"Iya, Mas."
"Jangan sedih lagi, ya! Ada aku di sini."
"Kapan Mas mau nikahin aku?"
"Sayang sudah siap?"
Fey mengangguk.
"Sesampainya di Jakarta, akan aku urus semuanya. Kamu mau bertemu dulu dengan kedua orang tuaku?"
Fey terdiam.
"Aku gak keberatan kalau memang kamu gak mau, biar nanti aku saja yang bicara kepada mereka."
"Makasih ya, Mas."
"Iya, Sayang."
Tiga puluh menit kemudian, keduanya sampai di Bandara.
Mereka masih harus menunggu tiga jam, untuk itu Kenzo mengajak Fey untuk bersantai sejenak di sebuah restoran siap saji.
"Makan ya, Sayang!"
"Aku gak lapar."
"Tapi, aku lapar."
"Ya udah, Mas aja yang makan."
Fey tersenyum, "jangan ngambek dong, Mas. Iya, aku juga makan."
"Nah, gitu dong."
Tidak lama kemudian, makanan yang dipesan pun datang.
Kenzo makan dengan lahapnya, sedangkan Fey hanya mencubit-cubit nasi dengan jarinya.
Melihat hal itu, Kenzo gemas dan segera mengambil piring milik kekasihnya itu.
Tanpa memperdulikan orang di sekitarnya, Kenzo mengambil nasi beserta ayam, lalu menyuapi Fey yang sempat menolaknya.
"Aku gak suka kamu kaya gini, sedih boleh, tapi tetap harus jaga kesehatan," sungut Kenzo.
"Jangan marah ya, Mas. Maafin aku."
"Sudah, makan saja. Jangan minta maaf terus," ucap Kenzo lagi, ketus.
"Iya," jawab Fey pelan.
Akhirnya nasi dan ayam di piring pun habis, Kenzo kembali melanjutkan makannya yang tertunda.
Fey menatap kagum pria di hadapannya, ia sama sekali tidak menyangka kalau cinta yang selama ini diucapkan oleh Kenzo ternyata nyata dan bukan hanya isapan jempol belaka.
Usai minum air mineral botol, Fey mencolek lengan Kenzo. Pria tampan itu menaik turunkan alisnya, tanpa menjawab wanita berkemeja merah marun itu tersenyum dan mengambil piring sang kekasih.
"Mas malu gak kalau aku suapin?"
Kenzo tertawa, "kamu mau cium bibir aku juga, aku gak malu."
"Nanti kalau sudah nikah, boleh."
"Ya udah, besok kita nikah. Aku kepingin dicium bibir di depan umum sama kamu Sayang. Haha."
Fey menepuk lengan kekasihnya, wajahnya tersipu malu.
Dengan mesra, Fey menyuapi Kenzo. Tanpa merasa risih kepada para pengunjung yang duduk di dekat mereka mencuri-curi pandang sambil tersenyum.
Selesai sudah acara suap-suapan, kini keduanya sedang berjalan-jalan melihat-lihat outlet yang menjual oleh-oleh khas Makassar dan Toraja.
__ADS_1
Kenzo membeli beberapa buah tangan untuk Sagina, Arash dan juga Liya, baby sitternya Kenzie.
Saat sedang asyik memilih, Fey pamit kepada Kenzo untuk menerima telpon di luar outlet yang full musik khas Bugis.
Tidak lama kemudian, ia pun kembali memasuki outlet tersebut.
"Siapa Yang?"
"Tante Radi."
"Apa katanya?"
"Beliau tanya, kita ada di mana?"
"Mau mampir dulu ke rumahnya? Masih ada waktu dua jam untuk pamit."
"Sudah pamitan kok barusan di telpon, beliau ngerti kok, Mas."
"Ya sudah, kalau gitu."
"Iya, jadi apa aja yang mau dibeli?"
Fey dan Kenzo melanjutkan kegiatan berbelanjanya, keduanya asyik berburu oleh-oleh satu outlet ke outlet lainnya.
Satu jam kemudian, acara membeli buah tangan pun selesai.
Kini mereka tengah mengantri untuk masuk dan chek-in.
Namun saat antrian mereka sudah di depan, tiba-tiba saja terdengar suara teriakan yang memanggil nama Fey.
Semua orang terkejut dan menoleh ke asal suara, termasuk Fey dan Kenzo.
Mata Fey terbelalak, saat melihat sosok pria paruh baya dengan kemeja coklat dan mengenakan kopiah haji berwarna putih sedang berdiri di ujung antrian.
Tangis Fey pecah, dan meminta petugas bandara agar mempercepat pemeriksaannya.
Setelah Fey dan Kenzo masuk, keduanya langsung berlari keluar lewat pintu pintu keluar di samping pintu masuk.
"Opuuuuuu," teriak Fey histeris, isak tangis, tawa bahagia bercampur menjadi satu.
Wajah Andi yang garang, berubah menjadi teduh dan menenangkan.
Ia memeluk tubuh putrinya dan tanpa ada lagi rasa ego, pria yang rambutnya sebagian sudah mulai memutih itu pun meminta maaf sambil menangis.
"Opu jangan minta maaf, Fey lah yang seharusnya minta maaf sama Opu. Fey sangat bahagia, Opu menyusul Fey kemari."
"Mariki' pulang, Nak! Opu rindu padamu."
Kenzo yang berdiri di belakang sang kekasih tersenyum bahagia melihat pemandangan mengharukan seperti itu.
Perlahan Fey melepaskan pelukannya, ia menoleh ke arah Kenzo.
"Mas, keberatan gak kalau kembali ke rumah?"
Bibir Kenzo mengulas senyum, "gak Sayang, gak sama sekali."
Andi menatap calon menantunya, "kemari calon menantuku. Peluk Opumu ini, Nak!"
Dengan mata berbinar, Kenzo menuruti permintaan calon mertuanya.
"Opu bangga sama punya calon menantu sepertimu, terimakasih le'Nak sudah menjaga dan melindungi Fey."
"Jangan berterimakasih, Oom. Saya sangat mencinta Fey, jadi sudah seharusnya saya melindungi serta menjaganya."
Andi melepaskan pelukannya, tanpa diduga ia menampar pelan pipi Kenzo.
"Panggil aku Opu! Awas kalau nanti panggil Oom lagi, ndak kunikahkanko' dengan Fey."
"Iya, baik Opu."
Ketiganya tertawa bahagia.
***
Jangan protes kalau part ini pendek,😁😂
Yang penting pas baca diakhir, bibir pembaca semua tersenyum, ya kan?
Hehe ....
Ada apa di part selanjutnya? Pantengin terus yoo, inga-inga ting!
Jangan lupa koreksi, kritik dan sarannya ya, atas waktunya saya haturkan terima kasih.
***
__ADS_1
-Bersambung-