Lepas Masa Lalu

Lepas Masa Lalu
Lepas Masa Lalu


__ADS_3

Part - 23


Tok ... Tok ... Tok!


"Permisiii."


Hening, tidak ada sahutan dari dalam rumah berdinding kayu yang sudah lapuk itu.


Tok ... Tok ... Tok!


Pemuda bertubuh tinggi, dengan rambut berwarna coklat kemerahan itu kembali mengetuk pintu.


"Permisii, Mak Unah," panggilnya sambil menempelkan wajahnya ke kaca jendela.


"Vin, sebaiknya kita pulang saja, aku takut," rengek gadis berkaca mata, sembari menarik paksa bagian bawah kemeja yang dikenakan pemuda itu.


"Nanggung, sudah jauh-jauh kita kemari, kamu takut apa? Kan ada aku yang temani kamu."


Krieeeeetttt ...!


Pintu dibuka oleh seorang wanita paruh baya yang mengenakan kebaya berwarna coklat, kainnya tipis menerawang sehingga pakaian dalam yang bentuknya menyerupai rompi hasil jahitan sendiri itu pun terlihat jelas, dengan bawahan kain sarung batik yang diikat pada bagian depannya, penampilannya khas orang tua zaman dahulu.


Wanita itu memicingkan mata kepada kedua muda-mudi yang berdiri di ambang pintu rumahnya, tangan kanannya sibuk menggosok-gosokkan daun sirih ke giginya.


"Aya perlu naon (ada perlu apa)?"


"Eng, begini Bu ...."


"Panggil saya Enin!"


"Eh iya maaf, Enin. Maksud dan tujuan kami datang kemari, adalah ...." Pemuda bermata agak sipit itu menunjuk ke arah perut gadis yang berdiri di sampingnya.


"Hayu asup (mari masuk)!"


Sepasang muda-mudi itu pun berjalan masuk ke dalam rumah, mengikuti wanita tua yang akrab dipanggil Enin, lalu keduanya duduk di lantai yang beralaskan tikar yang sudah usang.


"Saha ngaran dia jeung ti mana (siapa nama kamu dan dari mana)?"


"Maaf Enin, saya kurang lancar berbahasa Sunda, Enin bisa bahasa Indonesia?"


"Siapa nama kamu dan dari mana?"


"Hmm, saya Kevin, dan ini kekasih saya Silvania, kami dari Jakarta. Kami kesini bermaksud mau minta tolong Enin untuk menggugurkan kandungan Silvania, bisakah Nin?"


"Berapa bulan usia kandungannya?"


"Berapa bulan, Sil?"


"Menurut Dokter kandungan, kandungan saya ini masuk bulan kelima, Nin."


"Coba kesini, duduk di samping saya, Neng!"


Silvania beringsut, berpindak duduk ke samping Mak Unah. Tangan sang dukun beranak itu meraba-raba perutnya.


"Kandungannya lemah, pernah nyoba digugurin sendiri ya, Neng?"


Silvania mengangguk pelan.


"Minum jamu apa waktu ngegugurin dulu?"


"Bukan jamu, Nin. Tapi, jus nanas muda dicampur ragi, dan obat pencahar dosis tinggi."


"Beranian amat, Neng. Gak sayang nyawa apa?"


"Terpaksa, Nin. Dan karena panik juga, tapi gak berhasil, bayi ini masih bertahan di kandungan saya sampai sekarang."


"Kenapa kalian berani berbuat, tapi gak berani bertanggung jawab?"


Keduanya menunduk, baik Kevin maupun Silvania, tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan dukun beranak berwajah judes itu.


"Giliran udah hamil, mengambil jalan pintas dan menambah dosa."


"Kami khilaf, Nin. Tolonglah kami!"


"Ada harga tinggi yang harus dibayar untuk melakukan aborsi ini, kamu sanggup?"


"Berapa pun biayanya, saya sanggup Nin. Sebutkan saja nominalnya!"


"Semakin besar kandungan, semakin besar harga yang harus dibayar."


"Saya paham, Nin. Sebutkan saja berapa!"


"Lima juta, sanggup?!"


Kevin merogoh waist bag coklatnya, dan mengeluarkan satu gepok uang pecahan lima puluh ribuan, lalu menyodorkannya ke hadapan Enin.


"Ini, saya bayar cash Nin. Tolong gugurkan kandungan kekasih saya!"


Wanita berusia setengah abad lebih itu tersenyum, matanya berbinar saat melihat lembaran biru di depannya.


Dengan cepat, ia mengambil uang tersebut, lalu menciumnya.


"Persiapkan diri, Neng! Sebentar saya ambilin kain sarung, dan ramuan peluntur kandungan."


"I-iya, Nin."


Mak Unah bangkit dari duduknya, terdengar bunyi gemeretak dari kedua lututnya. Tubuhnya yang bungkuk, masih terlihat segar dan kuat. Iia berjalan menuju dapur, yang hanya disekat oleh sebuah lemari kayu yang sudah reyot dan berdebu.


Tak lama kemudian, ia kembali muncul dengan membawa kain sarung dan segelas ramuan penggugur kandungan buatannya sendiri.


"Ini minum Neng! Terus, ganti celana lepisnya sama sarung ini, jangan pake cangcut ya!"


"Iya, Nin. Tapi, yakin akan berhasil kan Nin?"


"Asal kamu nurut sama saya, jangan banyak protes dan jangan histeris saat proses urut nanti. Saya butuh ketenangan, dan juga harus waspada dari warga sekitar, jangan sampai ada yang tahu. Karena selama ini, mereka hanya tahu kalau saya hanya tukang urut ibu hamil, bayi dan dukun beranak biasa."


"Iya, Nin. Saya akan nurut semua yang Enin bilang tadi."


"Waktu kalian kesini tadi, ada orang yang liat?"

__ADS_1


"Nggak, Nin. Karena sengaja saya parkir mobil saya di jalan raya, dan saya lewat jalan setapak lewati kuburan cina," ujar Kevin menjelaskan.


"Kok kamu tahu ada jalan setapak menuju rumah saya?"


"Saya dikasih tahu teman, Nin. Beberapa bulan yang lalu, dia menggugurkan kandungannya juga di sini."


"Hmm, yang pacarnya orang bule itu bukan?"


"Iya, Nin. Pacar si bule, Lestari, itu teman saya."


"Ckck, kalian orang kota maunya enak saja. Seandainya saya gak butuh uang, saya nggak mau melakukan pekerjaan ini. Tapi berhubung sekarang orang-orang lebih memilih Bidan dan Dokter, jadi kalau saya gak ambil pasien gugur, bisa-bisa saya mati kelaparan."


"Iya, Enin. Kami sangat berterimakasih sebelumnya, karena Enin bersedia membantu kami."


"Saya gak berniat membantu kalian, saya hanya mencari uang untuk saya makan. Camkan itu!"


"I-iya, Nin," jawab Kevin ketakutan, melihat Enin menyeringai sinia kepadanya.


"Sudah panas belum perutnya, Neng?"


"Iya, Nin. Perut saya mulas dan panas, perih."


"Siap-siap, sekarang! Tiduran di dipan (tempat tidur dari kayu) itu," perintah sang dukun beranak sambil menunjuk sebuah tempat tidur kayu di sudut ruangan, dibawah jendela.


Kevin membantu kekasihnya untuk berdiri, lalu memapahnya menuju dipan.


Sementara Enin, bergegas ke dapur untuk mengambil peralatan yang diperlukan.


Lima menit kemudian, Enin kembali dengan membawa baskom berisi air dan beberapa helai kain lap bersih.


Lalu ia duduk di samping Silvania, tepatnya di samping perut dekat kemaluannya.


Kemudian, disingkapkan itu kaos yang dikenakan oleh Silvania, sampai ke dada. Tampak perutnya dengan jelas, lalu dikucurkan beberapa tetes minyak kelapa hangat dan mengusapkannya ke seluruh bagian perutnya.


Sejenak Enin memejamkan matanya, lalu ia pun melafalkan jampi-jampi entah apa namanya, mulutnya komat-kamit sambil menempelkan kedua telapak tangan di perut buncit Silvania.


Setelah matanya terbuka, ia menatap Silvania yang sedang meringis sambil memegangi tangan kekasihnya, Kevin.


"Kita mulai ya, Neng. Ini akan terasa sakit, kamu harus tahan dan jangan pernah menjerit. Kalau dirasa gak kuat, kamu gigit kain lap bersih ini. Kalau kamu berontak dan motah (gak mau diam), saya gak mau tanggung jawab kalau proses aborsi ini gagal."


"I-iyaa, Niin, hsssss, pfuh!"


"Jangan takut, Sil. Aku temani kamu," bisio Kevin, sambil mengelus rambut kekasihnya.


Silvania menatap wajah kekasihnya, ia tersenyum sekilas.


Enin menyingkap kain sarung yang dikenakan Silvania, lalu melebarkan kedua kakinya selebar-lebarnya.


Perlahan kedua tangannya mengurut dan menekan perut Silvania, gadis berusia dua puluhan itu mengangkat kepalanya, matanya merah berurai air mata, menahan rasa sakit yang sedang dirasakannya.


"Sakiiiittttt," rintihnya pelan.


Peluh membanjiri sekujur tubuhnya, Kevin pun menyeka keringat yang membasahi kening sang kekasih dengan sapu tangan yang dibawanya.


Rasa panas di perutnya terasa semakin hebat, rahim Silvania mendidih dan bergemuruh tidak karuan.


"Iya, Niinn. Cepatlah, Niinnn! Sakiiittt sekali iniiiii, haduuuhhhh."


Tangan kiri Enin menekan kuat perut atas Silvania, sambil mendorongnya kuat hingga ke bawah, sementara tangan kanannya merogoh organ vital gadis itu untuk dapat mengeluarkan janinnya.


Silvania mengerang hebat, matanya terbelalak sehingga otot-otot matanya itu terlihat sangat jelas. Jemarinya *** kasar lengan kekasihnya yang berusaha untuk menenangkannya.


Darah segar mengucur deras dari dalam organ vitalnya, proses aborsi pun selesai dilakukan. Lambat laun Silvania pun kehilangan kesadarannya, ia pingsan.


"Sudah selesai, Cu. Ini janin saya masukin ke kantong kresek, kamu buang sendiri ya! Sekarang biarin dulu Neng Silvania, gak lama lagi dia akan sadar."


"Iya, Nin. Makasih banyak."


"Ya, sama-sama. Oh iya, kamu bawa soptek atau pempers dewasa?"


"Iya, bawa Nin. Ada pembalut panjang, di tas Silvania."


"Bagus, nanti kalau Neng Silvania udah sadar, suruh pakai ya!"


"Iya, Nin."


"Ini saya bersihkan dulu darahnya, kain alasnya juga kamu bawa ya, terserah mau dibuang atau dicuci."


"Baik, Nin. Satukan saja dengan janin tadi."


"Iya," pungkas Enin, sambil menyeka area organ vital Silvania yang masih mengeluarkan darah segar.


Waktu beranjak malam, selepas isya, setelah kondisi Silvania membaik, Kevin dan kekasihnya berpamitan.


Pria bertubuh tinggi itu, memapah sang kekasih yang masih terlihat lemas. Wajahnya tampak berseri dan lega, hatinya bahagia karena akhirnya masalahnya telah selesai.


Ia tidak menyadari, bahwa masalahnya itu sebenarnya baru saja akan dimulai. Badai akan segera menimpanya, seperti apa kenaasan yang akan dia terima? Hanya Allah dan author yang tahu, hehe.


***


Fey dan Kenzo terlihat sangat sibuk menata barang-barang di rumah barunya, setelah tragedi yang menimpa keluarga kecil mereka, Kenzo memutuskan untuk memboyong istri dan putranya pindah ke Bandung.


Di kota kembang tersebut, mereka tinggal di sebuah apartemen sewaan. Kenzo tidak mempunyai cukup dana untuk membeli rumah, harapannya adalah meng-over kredit rumah yang sempat ia tempati saat baru menikah dengan istrinya. Lalu uangnya itu akan ia pergunakan untuk membeli rumah yang terjangkau olehnya.


Sebagai istri yang baik, Fey tidak pernah mengeluh ia tinggal dimana, yang penting baginya adalah bisa tinggal bersama suami yang sangat dicintainya.


"Aku ngerasa malu sama kamu, Sayang."


"Malu kenapa, Mas?"


"Ya, pindah dari rumah cicilan, malah masuk ke apartemen sewaan."


Fey meletakkan bingkai foto yang akan dipasang di dinding kamarnya, ia berjalan mendekati sang suami, dan melingkarkan kedua tangan di pinggang suaminya.


"Jangan bicara gitu ah, yang Mas harus tahu, aku nggak akan mempermasalahkan tempat tinggal yang aku dapatkan seperti apa. Aku sangat bahagia seperti ini, selalu merasa dicintai dan diperhatikan oleh suami hebat sepertimu."


Kenzo mengecup kening istrinya, "kamu juga istri yang hebat, makasih ya Sayang."


"Iya, Papi Kenzie yang paling tampan sedunia."

__ADS_1


"Haha, akhirnya ... Istriku ini mengakui kalau aku tampan."


Kenzo memeluk istrinya dan mencumbunya dengan nakal, Fey memberontak dan mencubit perut sang suami yang tidak mau berhenti menciuminya.


"Wadaaww, sakiiitt Yang"


"Habisnya ciumin aku terus, kapan mau selesainya kalau daritadi ciumin aku melulu?"


"Hehe, habisnya kamu itu kaya buah durian, bikin aku pengen terus nyiumin dan bikin ketagihan."


Fey tertawa mendengar suaminya berkelakar, kemudian keduanya pun kembali pada rutinitas sebelumnya, melanjutkan pekerjaan untuk menata kamar mereka.


Ketika sedang asyik bebenah, tiba-tiba ponsel Kenzo berdering.


"Halo, Kean ... Ada apa?"


"Siapa, Mas?" bisik Fey.


"Keanu, " jawab Fey tanpa suara.


Fey manggut-manggut, lalu kembali meneruskan pekerjaannya.


"Kak," panggil Keanu dengan suara panik, "Kak Kevin ...."


"Kenapa Kevin, Kean?"


"Kemarin sore dia ditangkap oleh Polisi, Kak."


"Innalillahi, kenapa bisa Kean?"


"Aku nggak tahu apa kasusnya, Mami kasihan Kak, dia pingsan berkali-kali. Kakak bisa ke Jakarta nggak?"


Kenzo diam, tidak menyahut.


"Halo, Kak. Kak Ken bisa pulang nggak?"


"Ada Papi, biar dia saja yang urus."


"Itu dia, Kak. Papi sudah satu minggu nggak ada pulang. Makanya aku telpon Kak Ken, aku khawatir Mami kenapa-napa Kak."


"Tapi, Kean ... Kamu kan tahu Mami ka aku kayak apa."


"Aku tahu Kak, kesampingkan dulu masalah itu, Kak. Aku mohon sekali, aku nggak tega sama Mami, juga Kak Kevin nggak ada yang dampingin, mau hubungin pengacara Papi, tapi aku nggak tahu caranya. Sekarang cuma Kak Ken yang bisa diandalkan."


"Aku bicarakan dulu dengan Kak Feylin ya, Kean."


"Iya, Kak. Aku mohon dengan sangat Kak. Ini saja aku sudah ada di Jakarta, semalam aku langsung berangkat dari Malang. Padahal aku nggak boleh izin kuliah lama-lama, banyak materi dan praktikum yang harus aku ikuti. Dosen pembimbing aku semua disiplin dan ketat, Kak."


"Begitu memang Kean, kalau fakultas kedokteran. Harus disiplin supaya tidak sia-sia dan lulus dengan nilai yang baik. Secara materi yang dipelajari seabrek."


"Iya, Kak. Aku besok sudah harus balik ke Malang, Kak. Jadi, Kak Ken harus dan wajib datang kemari! Walaupun Mami begitu, kita sebagai anak harus banyak maklum dan mengerti. Manusia tempat salah dan dosa, Kak. Maaf kalau aku terkesan menceramahi, Kakak."


"Iya, Kean. Aku terharu kamu bisa berpikir sampai sejauh itu, ucapanmu menyadarkanku tentang pentingnya berbakti. Thanks, Bro!"


"Sama-sama, Kak. Kapan Kak Ken dan Kak Feylin akan berangkat?"


"Insya Allah, malam ini."


"Alhamdulillah, makasih Kak."


"Iya, Kean. Kabari aku kalau ada apa-apa, aku mau siap-siap dulu."


"Sip, Kak. Salam untuk Kak Feylin ya. Sampai ketemu di rumah."


"Iya, Kean. Nanti aku sampaikan salamnya."


"Assalamualaikum."


"Walaaikumsalam."


Kenzo duduk di bibir ranjang, wajahnya menatap kosong ke lantai.


"Ada apa, Mas?"


"Kevin, dia ...."


Kenzo menceritakan kepada istrinya apa yang disampaikan oleh sang adik, Fey sungguh terkejut mendengar berita tidak baik tersebut.


"Bagaimana, Sayang?"


"Bagaimana apanya, Mas?"


"Kamu bersedia ke Jakarta? Atau mau tinggal di sini saja?"


"Aku ikut, Mas. Kita temani Mami, kalau Papi sudah pulang, baru kita pulang kembali ke Bandung. Tapi nanti ...."


"Tapi nanti apa, Sayang?"


"Kita tinggal di apartemen Gina ya! Aku nggak mau tinggal di rumah itu."


"Iya, aku setuju. Kamu hubungi dulu Ginanya, untuk minta kunci cadangan apartemennya."


"Nggak usah, aku juga kan pegang kuncinya, hehe. Lagian nggak enak ganggu Gina yang lagi bulan madu."


"Ok deh, kalau gitu. Yuk kita bersiap!"


"Iya, Suamiku Sayang."


Kemudian, mereka pun beranjak untuk membawa segala keperluan yang akan dibawanya ke Jakarta.


***


Waduh, si Kevin kena kasus apa ya?


Simak part selanjutnya yaa, Mak.


***


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2