Lepas Masa Lalu

Lepas Masa Lalu
Lepas Masa Lalu


__ADS_3

*Part13*


Di dalam mobil taksi online, Fey bergidik saat mengingat kembali pertemuannya dengan Indah.


Tidak disangka, buyer yang sudah beberapa kali membeli produknya itu adalah seorang istri simpanan Papinya Kevin.


Hatinya merasa miris sekaligus bahagia, ia merasa gembira karena Mami Kevin yang juga calon mertuanya itu, sedang mendapatkan karma dari apa yang diperbuatnya. Tinggal menunggu tanggal main, kapan semua rahasia tentang pernikahan lain suaminya itu terbongkar.


...


Rahmat Dimitri, Papi Kevin, merangkul mesra pundak istri mudanya. Sementara tangan kirinya menenteng kantongan besar berisi 10 lusin jilbab yang dibeli oleh sang istri dari mantan kekasih putra sulungnya.


"Aku masih kepikiran sama Mbak Andi, Mas."


"Sudahlah, Sayang. Jangan dipikirkan lagi, bisa saja dia lagi buru-buru atau lagi gak enak badan."


"Tapi aku masih aneh aja, saat dia lihat Mas Rahmat, mukanya langsung pucat kaya lihat hantu."


"Ye, ada-ada saja. Hehe," Rahmat mengeles, berusaha untuk tetap tenang, walaupun sebenarnya jantungnya berdebar kencang.


Indah tersenyum, saat tangan pria berusia lima puluh tahunan yang masih tampak gagah dan tampan itu mengelus-elus pipinya.


...


Malam itu, Fey sedang menina bobokan Kenzie di dalam kamarnya, saat matanya ikut terpejam, tiba-tiba suara ponsel membuatnya kembali terjaga.


Panggilan dari ayahnya, bibir tipis itu mengulas senyum bahagia.


"Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam, Opu. Bagaimana kabarta dan Mama di sana? Kangen'ka."


"Alhamdulilah, kami sehat-sehat, Nak. Kamu dan Kenzie bagaimana kabarnya?"


"Alhamdulillah, sehat juga Opu."


"Ndak gangguji'ka?"


"Ah ndak'ya, ada apa Opu?"


"Hmm, bagaimana ya cara mulai bicaranya, Opu bingung Nak."


"Bicara saja, ada apa?"


"Bagaimana hubunganmu dengan Kenzo?"


"Masih belum ada kabar, Opu. Fey sangat merasa bersalah sama Mas Kenzo."


"Sudah mencoba menghubunginya?"


"Iye' sudah, nomernya aktif tapi dia ndak mau merespon kontak dari Fey. Mauku itu, beritahu bagaimana kabarnya, ada dimana. Fey sangat tersiksa, hiks."


"Begitu memang Nak, laki-laki. Ambil keputusan dengan logika, saat harga dirinya mulai terganggu dia akan tega melakukan apa saja. Sama dengan Opu dulu."


"Fey sangat menyesal, Opu. Sudah meragukan kesungguhan cintanya. Sekarang nasi sudah menjadi bubur, terlambat semuanya untuk diperbaiki."


"Sabar, Nak. Sabar."


"Terimakasih banyak, Opu. Fey sedikit lega setelah berbicara dengan Opu."


"Iye, Nak."


"Kembali ke semula Opu, apa yang mau hendak kita bicarakan dengan Fey?"


"Ini tentang permintaan Opu dan Mama, Nak. Kami di sini memikirkanmu, dalam keadaan tidak bekerja, menumpang di tempat orang lain dan sedang bermasalah juga dengan Kenzo.


Kami sangat khawatir dengan keadaanmu, kami mau kamu pulang Nak! Berkumpul'miki lagi di sini, supaya hati tenang. Nanti Opu carikan pekerjaan sebagai guru atau kamu ikut seleksi CPNS, insya Allah Opu bisa bantu."


"Fey juga merasa tidak enak Opu kepada Sagina, karena sudah lama menyusahkannya. Namun Sagina selalu menahan Fey untuk pulang, dia ndak mau kesepian."


"Ah, na'sebentar lagi dia mau menikah. Setelah itu, dia akan dibawa suaminya, lalu kamu yang akan kesepian."


Fey diam, ucapan sang ayah ada benarnya.


"Pikir-pikir'le, lebih baik tinggal di sini. Susah senang kita kumpul, kalau memang nanti kamu dapat lagi pekerjaan, kan bisa Mama yang jaga Kenzie. Ndak usah gaji orang lain, belum tentu juga bagus cara kerjanya. Banyak kejadian ndak baik di berita, kami sangat cemas."


"Iye' Opu, nanti Fey coba pikirkan lagi."


"Iyo, ada satu hal lagi yang ingin Opu sampaikan."

__ADS_1


"Apa itu, Opu?"


"Ada yang mau melamarmu, pemuda baik dan sudah Opu kenal. Mama juga setuju, Opu sudah ceritakan kondisimu sama dia, dia bersedia. Bagaimana menurutmu, Nak?"


Fey merasa jengah dengan kabar berita terakhir yang disampaikan sang ayah. Ini kali kedua, ayahnya mengutarakan ingin mencarikannya jodoh.


"Fey belum siap menikah, Opu."


"Mau menunggu Kenzo yang tidak jelas kabarnya? Sampai kapan, Nak?"


"Ndak tahu, Fey bingung."


"Semakin lama usiamu semakin matang, Nak. Kenzie semakin besar bertumbuh, baik dia maupun kamu butuh seseorang yang bisa memberi ketenangan dan agar mendapatkan perlindungan. Terlebih, pemuda yang ingin melamarmu ini, tidak keberatan jika kamu nanti mau bekerja."


"Beri Fey waktu."


"Secepatnya Opu tunggu'le."


"Iye."


Usai menjawab salam, Fey menaruh kembali ponselnya di atas meja.


Malam itu ia gelisah, dia mencoba kembali menghubungi Kenzo. Namun lagi-lagi, kekasihnya itu tidak mau merespon panggilannya.


Akhirnya Fey mengirim sebuah pesan melalui WA.


[Mas, Opu tadi telpon aku, kasih kabar bahwa aku sudah ada yang mau melamar. Beliau meminta kepastian tentang keputusaku, dan aku pun kini meminta kepastian darimu tentang statusku.]


Pesan dikirim, dan dengan sabar Fey pun menunggu balasan dari kekasihnya.


Satu jam, dua jam, pesan tak kunjung berbalas. Fey mengecek status pesan di WA-nya, dua ceklis biru, itu artinya Kenzo sudah membaca pesannya.


Hati Fey bagai teriris, ia merasakan sakit yang begitu hebat saat Kenzo dengan sengaja membiarkannya tersiksa selama berbulan-bulan.


Bulir bening membasahi matanya, dalam keheningan malam ia terisak. Ia menatap wajah teduh putranya, lalu kembali teringat akan ucapan ayahnya tentang masa depan jagoan kecilnya itu.


"Maaasss, tega sekali kamuuu, hiks."


Fey menenggelamkan wajahnya ke bantal, dan perlahan-lahan matanya pun akhirnya terpejam.


Saat alarm untuk bangun dan menunaikan sholat subuh terdengar dari ponselnya, Fey mengerjapkan matanya yang terasa perih dan berat.


Kemudian ia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan menunaikan sholat, setelah sholat ia lalu membuatkan susu untuk Kenzie.


Benar saja, Kenzo membalas pesan WA-nya. Ada secercah sinar kebahagiaan terpancar dari wajah Fey. Dengan hati berdebar ia pun membuka pesan dari kekasihnya itu.


[Aku tidak bisa mencegahmu untuk bahagia, aku akan merelakanmu untuk hidup tenang dengan orang lain, tanpa gangguan dari Mami dan juga Kevin seperti yang kamu takutkan selama ini. Opu sangat mencintaimu, jadi yakinlah dengan pilihannya.]


Air mata Fey luruh saat selesai membaca pesan dari Kenzo, ia tidak habis pikir mengapa kekasihnya itu tega berucap seperti itu.


Ada sebersit rasa kecewa di hati Fey, akan sikap yang diambil oleh Kenzo. Pria yang selama ini ditunggunya seolah cuek dan terlihat seperti sudah tidak mau memperjuangkan cinta yang selama ini mereka perjuangkan.


Walaupun Fey tidak bisa menyalahkan atas perubahan sikap kakak dari mantan pacarnya dahulu itu, tapi tetap saja rasa kecewa itu pasti ada. Manusiawi memang.


Fey menangkupkan kedua tangan ke wajahnya, ia kembali tersedu.


Setengah jam kemudian, ia pun menelpon ayahnya, dan mengatakan kalau ia menyetujui perjodohan ini.


Ayah Fey terdengar sangat bahagia.


Sedangkan Fey menyembunyikan kesedihannya, ia tidak mau membuat orang tuanya kembali mencemaskan keadaannya.


...


Sagina sangat sedih saat sahabatnya menyampaikan niatnya untuk pulang bersama Kenzie. Gadis Minang ini seolah tidak rela akan ditinggalkan oleh Fey, ia terus memeluk dan merajuk.


"Usaha online yang lo rintis lagi maju, Fey. Lo buktiin sama Opu, kalau penghasilan dari berjualan online itu jangan dianggap sepele."


"Tapi setelah lo menikah, gue gimana?"


"Ya udah kalau gitu, gue rela mutusin Mas Arash, gak masalah buat gue kehilangan pacar, asal jangan kehilangan sahabat."


"Ckc, jangan sembarangan! Lo harus terbiasa dengan keadaan setelah gue pulang nanti."


"Gue bakal kangen banget sama lo."


"Banyak cara kok supaya kita bisa saling ketemu, jaman udah canggih non. Ok, Gin ... Izinin gue?"


"Ya Allah, Feeyyy. Gue gak rela sebenarnya, tapi mau gimana lagi. Semua ada plus minusnya, dan gue harus menghargai semua keputusan yang sudah lo ambil."

__ADS_1


"Makasig sahabat gue yang terbaik, walaupun kita sering kaya kucing dan anjing. Tapi gue sangat bahagia, karena punya sahabat yang sangat sempurna kaya lo."


"Jangan lupain gue, Fey! Selalu jaga komunikasi, kasih info kalau mau ganti nomer handphone. Kalau nanti lo ngilang, gue bakalan masukin foto lo di berita orang hilang acara televisi, hehe."


"Sialan, lo."


"Hehehe, gue sayang lo, Fey."


"Gue juga, Gin. Makasih banyak ya  selama ini lo selalu ada buat gue, dalam susah maupun senang. Semoga Allah selalu memberikan berkah dan kebahagiaan buat lo."


"Amiin, makasih banyaj doanya Fey.


Gue juga doain semoga lo dan suami lo nanti hidup bahagia. Lupain Mas Kenzo, ok!"


"Iya, walaupun itu sulit. Aku akan mencobanya."


"Yakin pasti bisa, jangan menyerah nyisanak."


"Hehe, iya."


Malam itu mereka lewati bersama, bercengkrama berdua dengan menonton film dan bercerita tentang kejadian-kejadian lucu yang pernah mereka lalui.


Karena setelah Fey pulang dan menikah, masa-masa seperti itu akan mereka rindukan.


***


Semua pakaian dan barang-barang milik Fey beserta putranya sudah selesai dimasukan ke dalam koper.


Ia menatap ke sekeliling ruangan apartemen Sagina, air matanya terjatuh.


Banyak kenangan yang sulit untuk dilupakan, kebersamaannya bersama Sagina, dan kebersamaannya bersama kekasih hatinya, Kenzo.


Fey menarik nafas panjang, berusaha untuk menjalani takdirnya dengan lapang dada dan legowo.


Seandainya saja, waktu itu Kenzo menjawab pesn Fey dengan kata-kata yang dapat membuat hatinya tenang dan bertahan untuk menunggu, pasti ia akan menolak perjodohan ini.


Fey sudah merelakan masa depannya tidak bersama dengan Kenzo, mungkin semua sudah jalan dari Allah untuk kebaikan bersama.


"Selamat tinggal semuanya," gumamnya pelan. Lalu kemudian ia pun segera menggeret kopernya keluar dari apartemen menuju mobil, dimana Sagina dan juga Arash telah menunggunya.


Sagina terus saja menggendong Kenzie, ia enggan untuk berpisah. Seandainya diizinkan, ia ingin sekali merawat dan membesarkan malaikat kecil yang selama ini sudah mewarnai hidupnya.


Fey tiba di pelataran parkir, Arash segera membantunya memasukan dua koper ke dalam bagasi mobil.


Setelah semua selesai, Fey pun memasuki mobil.


Mobil melaju cukup pelan menuju bandara, Sagina meminta kekasihnya untuk mengemudikan mobil dengan lambat, ia ingin memanfaatkan sisa waktu bersama sahabat yang sudah dianggapnya saudara itu.


Dua jam kemudian, mobil pun sampai di tempat tujuan. Dan itu artinya Fey dan Kenzie harus segera masuk untuk check-in, karena waktu keberangkatan tinggal satu jam lagi.


"Kabari gue terus, jangan sedih dan jalani semuanya dengan bahagia ya Fey!" isak Sagina, menciumi wajah sahabatnya.


"Huuu, Gin. Iyaaa. Maafin ya selama ini gue dan Kenzie selalu ngerepotin lo, dan makasih banyak atas kebaikan dan kemurahan hati lo kepada kami. Gue akan rindu sama lo, Giiiiinnn," jawab Fey dengan suara parau.


"Sama-sama, gue juga minta maaf kalau suka marah dan ngomelin lo, jangan lupa pas gue nikahan lo dateng ya."


"Insya Allah, lo juga dateng ya ke pernikahan gue."


"Insya Allah juga, gue dan Mas Arash akan usahain untuk datang, keep contact ya sahabat rasa saudara."


"Hiks ...."


Fey kembali memeluk Sagina yang menangis tersedu, Arash menyaksikan keduanya ikut terharu. Sementara Kenzie tertidur lelap digendongnya.


"Mas Arash, aku dan Kenzie pamit ya," pamit Fey menyalami Arash.


Selanjutnya Fey dan Kenzie pun masuk ke dalam, dari kejauhan Sagina dan Arash melambaikan tangan, tanda salam perpisahan.


Setelah Fey dan putranya sudah tidak terlihat, Sagina langsung menangis histeris di dalam pelukan kekasihnya.


***


Duh, berasa gak tega ini ngetiknya, kaya berat ngarahin cerita perpisahan ini.


Bagaimana selanjutnya kisah Fey, akankan Kenzo berubah pikiran lalu menyusulnya? Atau pria tampan yang kini sedang menghilang itu akan diam dan pasrah kehilangan cintanya?


Jawabannya ada di part selanjutnya.


😊☺

__ADS_1


***


-Bersambung-


__ADS_2