Lepas Masa Lalu

Lepas Masa Lalu
Lepas Masa Lalu


__ADS_3

*Part10*


Kedatangan Fey dan Kenzo disambut hangat oleh Khadijah, sebagai seorang ibu tentunya ia merasa sangat bahagia saat melihat sang anak yang dirindukannya kembali pulang.


Terlebih lagi, setelah apa yang telah terjadi selama ini, wanita paruh baya itu kini dapat bernafas lega karena hubungan suami dengan putri semata wayangnya telah membaik seperti semula.


Fey dan sang ibu saling berpelukan, Khadijah menangis haru.


Dengan lembut, Fey mengusap pipi ibunya yang dibanjiri air mata. "Jangan menangis lagi Ma!"


Khadijah mengangguk dan kembali memeluk tubuh Fey yang kini lebih berisi dari sebelumnya.


Setelah puas melepaskan segala perasaan di hati, keduanya masuk ke dalam rumah menyusul Kenzo dan Andi yang sudah terlebih dahulu masuk.


"Mau makan sekarang kah?" tanya Radi dari dalam dapur.


Fey menoleh, dan sangat senang saat melihat sang tante yang turut andil dalam aksi perdamaiannya dengan sang ayah.


Wanita berlesung pipi itu beranjak dari duduknya, ia menghampiri Radi yang sedang membantu ibunya memasak.


"Tante, terimakasih banyak."


"Iyo', Sayang. Untung semuanya belum terlambat, semua bukan kebetulan, melainkan sudah rencana Allah."


"Iye, Fey sayang Tante."


Tubuh gemuk sang tante dipeluknya dengan erat.


Satu jam kemudian, semua masakan sudah tersaji di meja makan.


Kenzo, Fey beserta keluarga ramai berkumpul di meja makan untuk menikmati makan siang bersama.


"Mas mau kapurung?"


"Apa, tempurung? Minuman apa itu?"


Semua orang tertawa.


"Kapurung, Mas. Ini loh," terang Fey sembari mengaduk-aduk makanan yang dimaksud olehnya.


"Enak? "


"Kalau nggak enak, nggak mungkin juga jadi makanan favorit aku."


"Coba tuangin Sayang, dikit aja."


Fey mengisi piring kosong dan memberikannya kepada pria yang duduk di sampingnya.


Dengan mimik wajah yang heran, Kenzo mengaduk-aduk dan kemudian ia mencolek kekasihnya itu.


"Sayang, sayuran apaan ini? Kuahnya keruh, banyak banget isinya. Udang, ayam suwir, daging. Sayurannya juga segala ada, jagung, daun katuk, terong, jantung pisang, oyong, kacang panjang, daun melinjo.


Dan ini apaan yang kenyal-kenyal? Cilok kah?"


Fey dan yang lainnya tertawa.


"Sampai diabsen satu-satu isinya, hadeuh Mas Kenzo ini ya."


"Hehe."


"Cobain dulu, pasti ketagihan. Makannya sama dange, ikan bakar dan lawa' ini. Sambalnya jangan lupa."


"Lawak? Ngelucu?"


"Hehe, ini loh Maass."


"Oh, urap."


"Bukaan, ini ikan mentah dicampur ampas kelapa, enak banget. Cobain deh!"


"I-iya."


Mata Kenzo berkeliling memandang semua orang yang duduk bersamanya, mereka termasuk Fey, tampak lahap menyantap makanan khas Sulawesi itu.


Untuk menghargai tuan rumah, akhirnya Kenzo pun mencobanya, walaupun sebenarnya ia tidak ingin.


"Ya Allah."


"Ada apa Nak Kenzo?"


"Ini Opu, enak sekali ternyata kapurung ini, kecut, pedas, segar. Dan lawa'nya juga enak, gak bau amis.


"Haha, ini makanan favorit Fey."


"Oh iya?"


Fey mengangguk dan kembali menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


Dan Kenzo, dengan malu-malu ia meminta Fey menuangkan kembali kapurung ke dalam piringnya yang sudah kosong.


"Nah gitu, mau punya istri orang Bugis, harus cinta sama makanannya juga."


"Hehe, iya Mama."


Fey cekikian, tidak terima ditertawakan, Kenzo mencubit paha kekasihnya hingga wanita yang berdaster batik itu pun meringis kesakitan.


Andi mempersilahkan calon menantunya itu untuk beristirahat di kamar tamu, usai menyantap hidangan yang dibuat oleh istrinya.


Kenzo pun menurut, setelah melaksanakan sholat kemudian ia pun merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Bibirnya terus menyunggingkan senyuman kebahagiaan, atas apa yang telah terjadi hari ini.


Hatinya kini sedang dipenuhi dengan bunga-bunga cinta, usahanya dalam memperjuangkan niatnya tinggal beberapa langkah lagi.


Pikirannya melayang jauh ke depan, sambil menatap langit-langit kamar.


Ia sedang memikirkan cara yang baik memberitahu orang tuanya tentang rencana pernikahannya bersama Fey, wanita yang dicampakkan oleh sang adik, dan tidak kehendaki juga keberadaannya oleh kedua orang tuanya.


Lambat laun ia berfikir, tak terasa matanya meredup dan akhirnya pemuda bermata sipit itu pun memejamkan matanya.


Rasa kantuk yang datang sangat berat untuk ditolak, di atas tempat tidur beralaskan sprei bermotif polkadot biru-kuning itu, Kenzo melepaskan sejenak segala rasa lelahnya.


Sementara di luar kamar yang ditempati Kenzo beristirahat, tampak Fey dan sang ayah sedang duduk bersama. Mereka terlibat obrolan yang lumayan serius.


Andi, mempertanyakan perihal keseriusan putrinya itu dalam menerima niatan baik dari Kenzo.


Fey berterus terang tentang perasaannya, secara jelas ia pun menuturkan tentang ketakutannya akan kembali bertemu dengan Kevin.


Ia juga mengkhawatirkan hubungan Kenzo dengan orang tuanya akan renggang.


"Menurut Opu, ndak usah mengkhawatirkan hal-hal yang belum pasti. Kalau memang kamu yakin kepada Kenzo, ya maju saja. Opu lihat dia pemuda yang baik. Saat dia membelamu dan memintamu kepada Opu, di situlah terlihat jelas seberapa besar kesungguhannya."


"Fey pun sama sekali tidak menyangka, kalau Mas Kenzo akan bersikap begitu. Fey pun ikut terharu, sebagai wanita yang punya masa lalu yang kelam, Fey merasa sangat berharga karena dicintai pria baik sepertinya."


"Nanti sore, Opu akan baku omong sama Kenzo. Sekaligus menentukan kapan dia akan melamarmu, Opu inginkan ada pesta. Kamu ndak keberatan toh?"


"Haruskah itu Opu?"


"Ndak enak kalau ndak dipestakan, Nak. Teman-teman anggota dewan, dan para pejabat relasi Opu akan tersinggung nantinya, anak semata wayangnya menikah diam-diam tanpa ada undangan ke tangan mereka. Mau le'Nak?"


"Tapi, Opu jangan minta uang Panai tinggi kepada Mas Kenzo. Fey ndak tega."

__ADS_1


Andi tertawa dan mengacak rambut putrinya itu.


Saat sore hari tiba, usai mandi dan berganti pakaian Kenzo duduk bersantai bersama calon ayah mertuanya di teras rumah.


Untuk sejenak, keduanya berbincang tentang segala hal yang bersifat global.


Lama kelamaan, Andi mulai banyak bertanya tentang masalah yang bersifat pribadi kepada pemuda berkaus putih polos itu.


Kenzo menceritakan kisah hidupnya tanpa ada ada yang ia tutup-tutupi.


Begitu pula dengan kisah cintanya bersama Fey, ia jabarkan dengan jelas.


Andi manggut-manggut, dalam hatinya ia merasa kagum dan salut kepada pemuda yang duduk di sampingnya.


Biar bagaimana, Andi menginginkan yang terbaik untuk putrinya. Ia tidak mau putrinya jatuh ke tangan orang yang salah.


"Atur saja kapan kamu siap datang melamar. Usahakan dulu orang tuamu bisa datang, tapi seandainya ndak bisa biarmi jangan dipaksakan."


"Iya, Opu. Terimakasih atas pengertiannya."


Andi menepuk pundak Kenzo yang terlihat lega, matanya berbinar dengan raut wajah berseri-seri.


***


Hari minggu sore, Fey dan Kenzo berpamitan untuk kembali ke Jakarta.


Khadijah dan Andi mengantar kepulangan mereka sampai di bandara.


"Ajak Kenzie kemari, saat kamu pulang kampung lagi." ucap Andi, mengejutkan semuanya.


Dengan mata berkaca-kaca, Fey mengangguk dan memeluk sang ayah.


"Baik Opu, Fey sangat bahagia akhirnya Opu bersedia bertemu dengan Kenzie."


Andi mengelus rambut putrinya.


"Hati-hati di jalan, beri kabar begitu sampai di Jakarta. Salam untuk Nak Gina le'," ujar Khadijah.


"Iye, Mama. Kami masuk dulu ya."


Setelah menyalimi Andi dan Khadijah, sepasang kekasih itu pun masuk ke barisan antrian di depan pintu masuk bandara.


Di dalam pesawat menuju Jakarta, Fey tampak sangat bersemangat dan bahagia.


"Sayang," ucap Kenzo pelan.


"Hmm?"


"Weekend depan, kita ketemu orang tuaku ya?"


Raut wajah Fey berubah masam, ia membuang muka. Jelas sekali terlihat, jika ia keberatan.


"Jangan begitu, kita harus memulai yang baik dengan sesuatu yang baik juga."


"Mas sudah setuju, kita juga sudah sepakat kalau gak akan mempertemukan aku dengan mereka. Aku gak mau mereka menghinaku lagi, mustahil bagi mereka untuk tidak mengeluarkan sumpah serapahnya lagi."


"Ya sudah, sstt. Jangan menangis lagi ya, maafin aku."


Fey mengusap air matanya, dan kemudian memalingkan wajahnya ke arah jendela.


Menyadari kekasihnya ngambek, Kenzo langsung menarik pelan kepala Fey agar mau bersandar di bahunya.


"Jangan ngambek gitu ah, aku minta maaf ya."


Fey mengangguk dan menyandarkan kepalanya di bahu sang kekasih.


"Aku gak akan maksa lagi, biar nanti aku aja yang ngomong sama Mami dan Papinya Kevin."


"Iya, iya ... Sudah ya," pungkas Kenzo, mengelus-elus lengan Fey.


Tidak ada lagi obrolan diantara keduanya, mereka terlelap bersama.


...


Rutinitas Kenzo lebih banyak dilakukannya di Jakarta, usahanya di Bandung dan Bekasi hanya ia kontrol satu sampai dua kali dalam seminggu.


Ia sedang bersemangat mengumpulkan pundi-pundi rupiah, agar dapat memberikan uang panai yang besar saat menikah nanti.


Bukan karena tuntutan dari calon mertuanya, hal itu ia lakukan atas kemauannya sendiri. Ia tidak mau mempermalukan calon istrinya itu, sedikit banyak ia rajin mencari tahu adat pernikahan suku Bugis.


Uang panai merupakan akan menjadi tolak ukur dari penilaian keluarga, sanak saudara, kerabat dan tetangga nantinya.


Uang panai atau uang belanja untuk pengantin mempelai wanita yang diberikan oleh pengantin pria merupakan tradisi adat suku Bugis-Makassar di Sulawesi Selatan.


Uang panai ini sejak dulu berlaku sebagai mahar jika pria ingin melamar wanita idamannya. Namun, uang panai ini biasanya dibebankan kepada pria untuk melamar kekasih hatinya.


Pasalnya, nilai uang panai sebagai syarat adat untuk membiayai pesta perkawinan untuk pengantin wanita tidaklah sedikit. Nilainya bahkan bisa mencapai miliaran rupiah.


Uang panai memiliki kelas sesuai dengan strata sang wanita, mulai dari kecantikan, keturunan bangsawan, pendidikan, hingga pekerjaannya.


Apalagi mengingat calon istrinya itu seorang sarjana pendidikam dan calon mertuanya yang seorang anggota dewan, untuk itu ia tidak mau ada gunjingan dari orang-orang di sana nantinya.


Kesibukan Kenzo mengelola bisnisnya tidak serta merta membuatnya lupa untuk rutin mengantar jemput calon istrinya itu.


Sesibuk apapun, ia selalu mengosongkan waktunya saat pagi dan siang hari.


Kedekatan Fey dengan Kenzo rupanya sudah menjadi perbincangan hangat di sekolah. Hal yang membuat ramai untuk dibicarakan adalah status Kenzo yang merupakan kakak dari salah satu anak didik Fey.


Terlebih lagi, sosok orang tua Keanu sudah terkenal tajir dan menjadi anggota yayasan yang sering menyumbangkan dana yang tidak sedikit untuk kemajuan sekolah tersebut.


Berita panas tentang kedekatan Fey dan Kenzo, dimanfaatkan baik oleh Rianti, rekan sesama guru.


Sudah lama Rianti menyimpan rasa benci kepada Fey yang dianggapnya rival, selama ini ia selalu mencari cara orang yang dibencinya itu dapat dikeluarkan secara tidak hormat dari sekolah.


Untuk itu, saat gosip ini merebak, Rianti tidak mau melewatkan kesempatan yang dianggapnya sangat baik itu.


Apalagi, ia mengenal baik sosok konglomerat Rahmat dan istrinya, Anggun. Mereka adalah anggota yayasan sekolah dan merupakan orang tua dari anak muridnya Keanu, adik dari Kenzo.


Saat awal bulan tiba, pertemuan dengan para anggota yayasan dipergunakan Rianti dengan sebaik-baiknya.


Rianti yang sebagai sekretaris yayasan, sengaja mendekati Anggun yang turut hadir untuk mengikuti rapat rutin per tiga bulan yang diadakan sekolah.


Di dalam ruang rapat, sebelum acara dimulai, Rianti berhasil mengakrabkan dirinya kepada Anggun dengan baik.


Perlahan tapi pasti, pembicaraannya memasuki topik seputar gosip panas tentang Kenzo dan Fey.


"Jangan asal buat gosip Bu," protes Anggun, dengan nada kesal.


"Hubungan putra Ibu dengan guru matematika itu sudah menjadi rahasia umum, saya khawatir putra ibu hanya diperalat agar bisa hidup enak. Dia kan janda anak satu bu."


Anggun menyeringai, wajahnya merah padam menahan emosi.


"Bisa saya bertemu dengan guru Keanu yang menjalin hubungan dengan putra sulung saya itu, Bu?"


"Bisa, Bu. Dia mengajar kelas IPA, Bu."


"Pertemukan saya dengannya, saat rapat selesai."


"Dengan senang hati, Bu Anggun."


Rianti bersorak sorai di dalam hatinya, ia tahu betul kalau istri dari pengusaha frienchise restoran siap saji itu kesal dan tidak suka dengan kabar yang disampaikannya barusan.

__ADS_1


'Haha, tamat riwayatmu Ibu Feylin yang terhormat!'


Rapat berlangsung dengan lancar, dua jam kemudian semua peserta rapat yang merupakan pengurus serta anggota dari yayasan sekolah dimana tempat Fey mengajar mulai meninggalkan ruangan satu persatu.


"Bu Anggun, saya pamit duluan ke ruang guru. Segera saya kabari, kekasih putra ibu itu sudah ada atau belum."


Anggun mengangguk, bergegas Rianti mengayunkan kakinya menuju ruang guru yang terletak di lantai satu.


Bibir yang dipoles lipstick berwarna nude itu terus mengumbar senyum penuh arti, Rianti sudah tidak sabar menyaksikan rivalnya dilabrak oleh calon mertuanya.


"Yess, si Bu Feylin berada di sini," gumamnya saat melihat sosok yang dicarinya sedang duduk dan sibuk memeriksa kertas ulangan milik murid-muridnya.


Dengan cepat, perempuan licik itu mengirim pesan kepada Anggun.


[Kekasih putra ibu berada di ruang guru, mejanya dekat rak buku, ada papan namanya kok Bu, 'A. Feylin Rahim' orangnya memakai batik hitam-orange.]


Setelah memastikan pesannya sudah dibaca oleh Anggun, Rianti pun duduk dan berpura-pura menyalin hasil rapat tadi ke dalam leptop miliknya.


Lima belas menit kemudian, sosok Anggun memasuki ruang guru yang sudah ramai, seluruh staff pengajar telah berkumpul, bersiap untuk pulang.


Kedatangan istri dari pengusaha kaya Rahmat Dimitri itu disambut ramah oleh Kepala sekolah dan para staff pengajar.


"Ada yang bisa saya bantu, Bu?" tanya Kepala Sekolah kepada Anggun, yang tidak membalas tatapan wanita berjilbab coklat itu. Netranya sibuk mencari sosok wanita yang diceritakan oleh Rianti tadi.


"Saya mau ketemu dengan guru matematika, kelas IPA," jawabnya ketus.


"Bu Dian, tolong antar Bu Anggun meja Bu Feylin."


Bu Dian segera melaksanakan perintah kepala sekolah.


Betapa terkejutnya Anggun saat menyadari kalau wanita yang dimaksud oleh Rianti tadi adalah Fey, seorang gadis yang datang kurang lebih setahun yang lalu untuk meminta pertanggung jawaban anak pertamanya dari Rahmat, Kevin.


Fey pun merasakan hal yang sama, ia tidak menyangka kalau ibunda Kenzo mendatanginya. Ia segera berdiri, berusaha tenang dan bersikap ramah.


Anggun menatap wanita di hadapannya dengan tatapan benci, "kamu ...! Kamu lagi ...!" jari telunjuknya mengarah ke wajah Fey.


Fey menunduk, tetap bersikap menguasai serta mengontrol emosinya.


"Masih penasaran kamu, hah?! Setelah gagal menjebak Kevin, kini kamu ingin menjerat kakanya, Kenzo. Cuih!"


Teriakan Anggun membuat suasan di ruang guru menjadi hening, semua mata tertuju kepadanya.


"Ibu Kepala sekolah dan rekan guru yang lain, perlu kalian tahu kalau wanita yang ada di hadapan saya ini adalah bukam seorang wanita yang baik. Dulu dia menjebak anak kedua saya, dia mengaku hamil dan minta saya juga suami agar bertanggung jawab dengan menikahkan putra kami dengannya.


Setelah gagal, rupanya dia masih penasaran. Tak habis akal dia, kini dia berusaha menjerat putra sulung saya. Demo bisa hidup kaya raya, ckck.


Tidak pantas Bu, Pak ... Wanita seperti dia ada di sekolah elite seperti Bina Insani ini. Saya ingin dia dipecat dari sekolah ini, kalau pihak sekolah menolak permintaan saya ini, maka saya tidak segan untuk mundur dari kepengurusan yayasan sekolah, tentunya saya tidak akan mundur sendirian. Anggota yang lainnya akan saya ajak serta."


Fey bergeming, dadanya bergemuruh, air matanya sudah tidak dapat dibendung lagi.


Hancur sudah karier yang selama ini ia rintis, hancur sudah nama baik yang sudah ia jaga selama ini, bersamaan dengan rahasia masa lalunya yang selama ini ditutupnya rapat.


"Sabar, Bu Anggun," sela Ibu Kepala sekolah.


"Sudah habis kesabaran saya bila menghadapi wanita bejat seperti dia."


"Sudah cukup!" hardik Fey, "cukup anda mempermalukan saya di depan umum, tanpa anda mengancam pun dengan senang hati saya akan mengundurkan diri hari ini juga. Terimakasih." pungkasnya sembari menyambar tas dan berlari meninggalkan ruang guru yang menjadi riuh.


Rianti yang sempat terkejut dengan kenyataan yang dibuka oleh Anggun, merasa sangat puas dan bahagia.


Kini, rival yang sangat dibencinya itu sudah tiada. Tanpa bersusah payah, ia langsung mendapatkan apa yang diinginkannya.


'Selamat tinggal, Bu Feylin. Haha ...!'


Fey berlari tanpa memperdulikan Ibu Kepala sekolah yang mengejar keluar dan memanggilnya berkali-kali, sebagian murid yang masih berada di lingkungan sekolah menatap heran dan saling bertanya dengan pemandangan yang disaksikan.


Keanu yang masih berada di luar kelasnya, sehabis melaksanakan bimbel itu pun merasakan hal yang sama seperti teman-temannya, terlebih saat melihat sang ibu yang keluar dari ruang guru dengan wajah penuh dengan kemarahan.


Di luar gerbang sekolah, Fey langsung memberhentikan ojek yang kebetulan melintas di depannya.


"Apartemen Hijau Daun, Pak."


"Baik, Bu."


Tidak menunda waktu, sang driver ojek berompi orange itu pun melajukan sepeda motornya dengan cepat.


Kurang dari tiga puluh menit, Fey sudah sampai di apartemen.


Ia segera masuk ke dalam kamar dan menumpahkan segala kesedihan di atas tempat tidurnya.


Tangisnya terdengar pilu, Liya yang sedang menjaga Kenzie di ruang tengah tidak berani bertanya mengapa majikannya seperti itu.


Satu jam kemudian, pintu apartemen di ketuk oleh seseorang. Liya segera membukakam pintu, Kenzo yang datang.


"Mami Kenzie ada, Mbak?"


"Ada, Mas. Tapi," ujar Liya ragu.


"Tapi apa, Mbak?"


"Mami Kenzie pulang-pulang langsung masuk kamar dan saya dengar, Mami lagi nangis."


"Ok, makasih ya Mbak."


Kenzo langsung menerobos masuk ke dalam kamar Fey yang kebetulan tidak dikunci.


Saat melihat Kenzo masuk, Fey langsung memeluk kekasihnya itu.


"Ada apa, Sayang?"


Fey menggeleng, ia terus terisak.


"Menangislah sepuasmu, keluarkan semua kesedihanmu. Ada aku di sini."


Beberapa saat kemudian, suara isakan yang tadi terdengar perlahan mereda.


Kenzo mengambil segelas air putih yang tersedia di meja rias, dan kemudian memberikannya kepada Fey yang terlihat mulai tenang.


"Sudah tenang?"


"Iya." jawab Fey pelan.


"Sekarang, katakan ada apa?"


Wanita berbalut kemeja batik itu diam, ia merasa bingung harus bercerita atau tidak.


Dirinya merasa khawatir nantinya Kenzo akan marah besar kepada ibunya, ia tidak ingin menjadi penyebab keretakan hubungan antara ibu dan anak.


***


Tariikk nafaaaas, buang ...


Tahan emosinya ya mak, rehat sejenak sebelum lanjut ke part selanjutnya.


Koreksi, kritik dan sarannya saya tunggu.


Terimakasih banyak sudah meluangkan waktu untuk membaca cerbung ini.


***


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2