Lepas Masa Lalu

Lepas Masa Lalu
Lepas Masa Lalu


__ADS_3

Part - 6


...*...


Kehadiran Kenzo mampu membuat hidup putri tunggal dari anggota DPRD Makassar itu pun menjadi lebih bermakna.


Walaupun status mereka baru sebatas teman, namun hubungan keduanya sangat dekat dan akrab.


Beberapa kali Kenzo berniat untuk mengutarakan perasaannya kepada Fey, namun selalu diurungkannya.


Pria dengan tinggi badan 180 cm itu kini sedang menunggu waktu yang tepat, untuk 'menembak' wanita pujaan hatinya.


Semenjak dekat dengan Fey, membuat Kenzo menjadi lebih sering pulang ke Jakarta dan betah berlama-lama di kota yang macetnya sangat luar biasa itu.


Saat berada di Jakarta, dengan siaga ia selalu mengantar jemput guru dari adiknya itu.


Hampir setiap menjemput pulang, pengusaha muda yang menggeluti usaha di bidang kuliner itu selalu mengajak Fey untuk makan, bahkan tidak jarang pula mereka pergi berbelanja keperluan bayi berdua.


Keduanya sangat serasi, banyak orang yang menyangka mereka adalah pasangan suami istri yang tengah berbahagia, sedang menanti buah cintanya lahir ke dunia ini.


"Mas, hari ini kamu terakhir jemput aku."


"Loh, kenapa?"


"Aku sudah cuti mulai besok."


"Hmm, tapi aku masih boleh datang ke apartemen atau ajak kamu jalan?"


"Boleh."


"Makasih ya."


"Iya, sama-sama."


"Oh iya, bagaimana kalau sore ini kita makan seafood di Bandar Jakarta?"


"Yang di pinggir jalan aja yuk, terlalu mewah dan jauh kalau ke Bandar Jakarta. Rasa seafood di pinggir jalan pun enak kok, gak kalah sama di resto itu."


"Manut deh. Hehe."


"Sip, kita ke mana nih?"


"Sambil jalan aja, kalau kebetulan sudah ada yang buka, kita mampir deh."


"Ok."


Akhirnya lima belas menit kemudian, mereka berdua sampai di tempat tujuan.


Sebuah warung makan sederhana, yang menyajikan menu aneka sefood yang segar dan lezat.


Udang saus padang, cumi asam manis, cah kangkung dan es jeruk mampu memuaskan hasrat keduanya.


Usai makan, Kenzo meminta pelayan warung agar membereskan mejanya.


Dengan sigap, sang pelayan segera mengangkat piring serta gelas kotor dari meja yang beralaskan plastik bergambarkan produk minuman teh dalam botol terkenal berwarna orange.


Setelah meja makan rapi dan bersih, Kenzo memanggil Fey dan berbicara bahwa dirinya ingin mengutarakan sesuatu hal yang sangat penting.


"Ada apa, Mas? Kayanya penting banget."


"Iya, Fey. Sangat penting."


"Coba ceritain ada apa?"


Kenzo menarik nafas panjang, tiba-tiba saja kedua tangannya menjadi dingin.


Jantungnya berdegup kencang dan tidak beraturan.


Kata-kata yang sudah dirangkai dan sudah dihafalnya di luar kepalanya, mendadak buyar.


Lidahnya pun menjadi kelu dan terasa kaku.


"Mas baik-baik aja? Kok wajahnya pucat banget."


Pria berambut hitam lebat itu menggeleng, lalu ia kembali menarik nafas panjang.


Setelah dirasa siap, bibirnya yang sedari tadi gemetar itu pun mulai berbicara walaupun agak terbata-bata.


"Fey, aku mau bicara sesuatu hal sama kamu. Tapi aku minta, kamu jangan marah."


"Tentang apa?"


"Aku," Kenzo menyeka keringat yang membasahi dahinya. "Aku ...."


Fey menatap lekat wajah pria di hadapannya, lalu ia memberikan sebuah tisue kepada Kenzo.


Pemuda yang sedang dilanda rasa grogi yang teramat dahsyat itu pun meraih tisu dari tangan Fey, tanpa diduga, tangan Kenzo menggenggam lembut jari jemari Fey yang tampak terkejut dengan respon dari pria yang selama ini cukup dekat dengannya itu.


"Fey, aku mau mengungkapkan perasaanku sama kamu. Aku harap kamu gak akan marah dan lalu menjauhiku. Rasa ini gak bisa aku tahan lebih lama lagi, semakin aku pendam, semakin aku tersiksa, Fey. Setiap waktu aku menantikan saat ini, saat dimana aku bisa bicara dari hati ke hati denganmu.


Rasa ini tumbuh di saat pertama kali aku melihatmu, tanpa aku sadari semakin hari rasa ini terus bertumbuh dan memenuhi hatiku.


Fey, aku sangat mencintai juga menyayangimu. Dari lubuk hati yang paling dalam aku ungkapkan semuanya.


Aku gak peduli dengan masa lalu dan keadaanmu sekarang. Apapun adanya kamu, aku gak memandang itu.


Kebersamaan kita, selalu mampu membuatku bahagia. Wajahmu, selalu menghiasi mimpiku. Untuk itu, aku beranikan diri utarain semuanya sama kamu.


Feylin, mau kah kamu menerima cintaku ini?"


Mendengar pernyataan panjang lebar dari Kenzo, membuat hati Fey bahagia sekaligus sedih.


Wanita yang sebentar lagi akan melahirkan itu menundukan kepalanya, air matanya tak tertahan.


Fey menangis.


Kenzo merubah posisi duduknya.


Tangan kanannya merangkul bahu wanita yang duduk di sampingnya itu sambil mengelusnya perlahan.


"Ssstt, maafin kalau ucapanku tadi bikin kamu sedih."


Tanpa berucap, Fey merangkul pinggang dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang Kenzo.


Hanya isakan yang keluar dari mulut wanita bergelas sarjana pendidikan itu.


Kenzo mengelus rambut panjang Fey.


"Maafin aku ya, kalau aku lancang."


Fey menggeleng, "aku sangat bahagia, tapi sedih."


Pria yang menjadi partner bisnis Arash itu melepaskan rangkulan, kedua tangannya memegang bahu Fey.


"Fey, aku sangat mengerti dengan perasaanmu saat ini. Kamu harus tahu, kehamilanmu bukan penghalang bagiku untuk mencintaimu. Kalau kamu bersedia, aku akan menemui orang tuamu untuk memintamu menjadi istriku selepas kamu melahirkan nanti.


Demi Allah, cintaku sama kamu tulus. Sangat tulus. Aku ingin menjadi suami sekaligus ayah dari anak yang sedang kamu kandung itu."


"Tapi, Mas ... aku gak siap menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi nanti."


"Bismillah, asalkan kamu yakin akan ketulusan cintaku, maka segala keraguan dan ketakutanmu itu akan sirna."


"Kasih aku waktu untuk memikirkan semuanya."


"Baiklah, aku gak akan maksa kamu untuk menjawabnya sekarang. Paling tidak aku sekarang sudah lega, karena aku udah utarain semuanya sama kamu."


"Iya, Mas."


"Kapan pun kamu siap untuk menjawab, kabari aku ya."


Fey mengangguk perlahan, Kenzo kembali merapatkan tubuhnya untuk merangkul wanita yang kini tampak rapuh itu.


Dirinya dapat merasakan keresahan juga kegelisahan yang dirasakan oleh Fey.


"Jangan takut, Fey. Aku akan membahagiakanmu selalu. Aku cinta kamu dan juga bayimu itu," bisik Kenzo lembut.


Hati Fey kembali terenyuh saat kata-kata manis itu terucap.


Ia tidak menyangka kalau akan ada pria yang benar-benar tulus mencintainya.


Jauh di lubuk hatinya, Fey pun menaruh hati kepada Kenzo.


Namun keadaan lah yang membuatnya harus berpikir ribuan kali, dalam menerima cinta pria yang kini tengah merangkulnya dengan hangat dan penuh kasih.


***


"Menurut gue, sebaiknya lo terima Mas Kenzo, Fey. Dia cowok baik dan mencintaimu apa adanya."


"Gue merasa gak pantas buat dia, Gin. Terlebih nantinya, gue akan bersinggungan sama keluarga besarnya, gue gak siap dicibir dan dihina oleh kedua orang tuanya."


"Peduli amat sama penilaian orang lain, kalau gue jadi lo, gue gak akan mikirin hal itu. Asalkan Mas Kenzo bersedia mencurahkan sayang dan cintanya buat gue itu sudah lebih dari cukup."


"Enteng lo ngomong kaya gitu, karena lo gak merasakan apa yang gue rasain."


"Come on, Fey. Bertindaklah sesuai logika, jangan selalu mengandalkan perasaan. Mundurlah hidup lo kalau terus begitu. Hidup lo masih panjang, jangan cengeng.


Jadi cewek harus tegar dan kuat, kalau lo selalu pesimis kaya gini, gimana mau punya masa depan cerah? Mau sampai kapan sih hidup lo terus dibayang-bayangin sama masa lalu? Jangan nengok ke belakang, tatap masa depan yang harus lo perjuangin dari sekarang.


Jangan melulu meratapi keadaan, Mas Kenzo itu mencintai lo, bukan kasihan atau iba. Semua sudah diatur Allah, Fey."


Fey menangkupkan kedua tangannya, ia terisak.


Melihat hal itu, Sagina merasa iba dan mulai melunak.


Perempuan yang kini hobi memakai daster itu pun, berjalan mendekat ke arah sahabatnya yang duduk di sofa ruang tengah.


Perlahan ia mengelus punggung Fey, dan berusaha menenangkannya.


"Maafin gue kalau tadi bicara keras sama lo, gue sayang sama lo, Fey. Gue mau yang terbaik buat lo. Jujur, sekarang gue selalu gelisah dan khawatir sama lo nanti setelah gue menikah nanti. Lo kan tahu, planing gue nikah sama Mas Arash sudah semakin serius.


Bila nanti gue berjodoh dan nikah sama Mas Arash, maka gue akan tinggal di rumah yang mau dia beli untuk kami. Otomatis lo akan sendiri, gue takut gak bisa selalu menemani lo setiap waktu, Fey.


Untuk itu, lo harus berfikir realistis. Semua sudah diatur sama Allah, tiba-tiba saja Allah mengirim cowok yang mencintaimu pasti ada alasannya. Kumohon mengertilah."

__ADS_1


Fey mencerna setiap ucapan sahabatnya itu, isakannya mulai reda. Ia membuka kedua tangan yang sedari tadi dipakai untuk menutup wajahnya.


"Seandainya gue bisa setegar dan sekuat lo, Gin."


"Belajar! Bisa karena biasa. Gue sayang sama lo, Fey. Gue gak mau lo kesepian dan kembali bersedih nantinya."


Keduanya saling berpelukan.


"Makasih ya, Gin. Lo selalu jadi sahabat yang terbaik buat gue."


"Pertimbangkan niat baik Mas Kenzo ya, Fey. Percaya sama gue, dia akan membuat lo dan si baby bahagia."


Fey mengangguk, "ya Gin."


"Ya sudah, gue mau mandi dan bersiap ke hotel. Hari ini jadwal bokap ketemuan sama Mas Arash, lo mau ikut?"


"Gak, tar gue jadi obat nyamuk."


"Haha, gak gitu juga kali. Yuk lah ikut, daripada di rumah terus bete."


"Mau beres-beres rumah, Boss. Gak liat ini rumah udah kaya kapal pecah, punya partner joroknya minta ampun."


"Hehehe, peace." Sagina mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya, cengengesan memamerkan giginya yang gingsul.


...


Pagi beranjak siang.


Usai bebenah, Fey segera membersihkan tubuhnya.


Selesai mandi dan memakai daster kesayangan, ia pun duduk bermalas-malasan di sofa sambil menonton televisi.


Ting ...


Fey meraih ponsel yang tergeletak di atas meja kaca di samping sofa.


[Hai, sudah makan siang?]


Isi pesan yang dikirimkan oleh sang pujaan hati, membuatnya tersenyum bahagia.


[Hai juga, Mas. Belum, hehe.]


[Makan di luar, yuk!]


[Males keluar, lelah habis beres-beres rumah.]


[Kasihan, aku bawain makanan ke sana ya, kita makan sama-sama.]


[Ngerepotin, ah.]


[Demi kamu, apapun akan aku lakukan.]


[Hehe...]


[Kok ketawa, mau gak?]


[Boleh, deh.]


[Mau aku bawain apa?]


[Apa aja, deh.]


[Ok, tungguin ya.]


[😊]


Masih tersenyum-senyum sendiri, Fey menatap layar ponselnya.


Semalaman ia berfikir untuk mencoba membuka hatinya untuk pria lain.


Ia sudah memutuskan, akan mencoba untuk menuruti nasihat sahabatnya.


Tekadnya untuk move on dari bayangan masa lalunya yang kelam sudah bulat.


Kini, Andi Feylin Rahim wanita keturunan Bugus tulen itu telah siap menyongsong masa depan yang indah bersama pria yang dicintainya, yaitu Kenzo.


Dengan harapan, pria yang baru-baru ini mengungkapkan cintanya itu dapat melindungi serta memberikannya kebahagiaan yang sejati.


Lamunan Fey buyar, saat suara nada dering ponselnya berbunyi.


Sebuah panggilan dari pria yang sedari tadi sedang dipikirkannya, ia segera menjawab panggilan tersebut.


"Iya, Mas. Aku buka pintu sekarang," ucapnya sambil berjalan menuju pintu depan.


Benar saja, saat pintu dibuka, sang pujaan hati telah berdiri dengan tangan penuh dengan tentengan kantung berisi makanan.


"Nungguin lama ya?"


"Hehe, malahan cepat banget Mas. Belum satu jam sudah sampai di sini."


"Aku pesan dulu, jadi pas aku datang sudah tinggal ambil."


"Yuk masuk, Mas!"


"Yuk."


"Banyak sekali makanan yang kamu bawa, Mas."


"Bumil biasanya banyak makan, hehe."


"Hehe, makasih banyak ya."


"Iya, sama-sama. Sini aku bantuin tuang ke piring saji."


"Ok, sebentar aku ambil dulu piringnya."


Kenzo tampak sangat bahagia dengan aktifitas sederhana yang ia lakukan di dapur bersama Fey.


Ia senyum-senyum sendiri manakala tiba-tiba berkhayal sudah menjadi suami istri.


Tak hentinya, Kenzo mencuri pandang ke arah sang wanita yang tengah sibuk membuka kotak makanan dari dalam kantung plastik.


Satu persatu piring saji yang sudah terisi makanan, ditata rapi oleh Fey di atas meja makan.


Soto ayam, daging gepuk, cumi goreng tepung krispi, bihun kecap cabai hijau, paru goreng, komplit dengan kerupuk udang yang tersaji sungguh sangat menggugah selera.


"Mari kita makan, Mas!"


Kenzo tersenyum dan mengangguk.


Tidak hentinya pria bermata sipit itu, menatap wanita yang sedang sibuk menuangkan nasi ke dalam piringnya.


"Ini Mas, jangan ngelamun."


"Aku gak ngelamun, aku lagi liatin kamu."


"Jangan gitu, aku malu."


"Kamu cantik, selalu berhasil membuat aku merindu setiap waktu."


"Gombal."


"Serius, saat pertama kali aku liat kamu, aku langsung jatuh hati. Pepatah mengatakan jatuh cinta pada pandangan pertama itu ternyata benar, Fey."


"Sudah jangan merayu terus, mari kita makan."


"Hehe, iya."


Suasana menjadi hening kemudian, hanya terdengar suara sendok dan garpu yang saling beradu.


Kenzo ingin sekali menunjukan rasa cinta serta perhatiannya lebih jauh kepada Fey, namun ia takut hal itu dapat membuat wanita yang sedang ditaksirnya itu malah menjadi takut dan risih kepadanya.


Sedangkan Fey, ia merasakan grogi yang luar biasa. Seandainya bisa di loudspeaker, mungkin Kenzo dapat mendengar detak jantungnya yang terpacu hebat dan tidak menentu.


Kedua tangan Fey gemetaran, saking gugupnya.


"Makan yang banyak, Fey!" Kenzo berbasa-basi, memecahkan keheningan.


"Mas juga, dong!"


"Aku gak bisa makan banyak, karena nanti usahaku bikin kotak-kotak mini di perut ini bisa gagal, hehe."


"Hmm, rajin nge-gym rupanya."


"Hehe, iya nih. Supaya lebih sehat aja tadinya, cuma setelah jadi hobi, kok jadi kepingin punya body kaya pelatihku."


"Aku dukung deh."


"Makasih ya, oh iya Fey ... prediksi melahirkan kapan?"


"Menurut Dokter, sekitar dua mingguan lagi. Satu sebelum hari H prediksi bersalin aku harus kontrol, mengecek kualitas dan kuantitas air ketuban, posisi bayi dan fisikku."


"Aku antar kamu, ya."


Sejenak Fey terdiam.


"Aku antar kamu, ya." Kenzo mengulangi ucapannya. "Kamu gak keberatan kan?"


"Nggak, Mas. Tapi aku gak enak, selalu merepotkanmu."


"Jangan berpikir seperti itu, aku bahagia bisa ada di saat kamu butuhkan. Jangan sungkan dan jangan ragu."


"Makasih banyak, Mas."


Kenzo menatap lekat Fey, yang mulai salah tingkah dibuatnya.


"Bagaimana Fey?"


"Bagaimana apa, Mas?"


"Apakah kamu mau menerima cintaku?"


"Entahlah, Mas," jawab Fey datar. "Sini piringmu, biar aku bawa ke tempat cuci piring."

__ADS_1


"Eh, ini."


Raut wajah Kenzo menyiratkan rasa kecewa yang tidak dapat disembunyikan.


Fey meninggalkannya ke dapur dengan menenteng piring dan gelas kotor.


Kenzo menarik nafas panjang, ia beranjak dari kursi makan dan berjalan menuju sofa di ruang tengah.


Tidak lama kemudian, datanglah Fey dengan membawa nampan berisi dua buah gelas sirup leci dan satu buah toples kacang atom.


"Cuci mulut, Mas."


"Wow, makan lagi. Hehe, makasih ya."


"Huum."


Fey menaruh gelas dan toples di atas meja kaca samping sofa.


Lalu ia pun duduk di sisi sofa sebelah kiri, sedangkan Kenzo duduk pada sisi sebelah kanan, bagian tengah diisi oleh bantal kursi dengan motif shabby.


Keduanya diam, hanya suara dari televisi yang terdengar.


Mata keduanya menatap kosong layar televisi layar datar berukuran 40" di depan mereka.


"Fey, aku pamit pulang aja ya."


Mendengar hal itu, Fey merasa kecewa.


Ia ingin mencegah dan masih betah berlama-lama dengan Kenzo, tapi bingung cara mengutarakannya.


"Diminum dulu sirupnya," cegah Fey halus.


"Aku masih kenyang, takutnya juga kamu mau istirahat."


Kenzo bangkit, Fey ingin kembali menahannya namun ragu dan malu.


"Aku gak ngantuk kok, Mas," jawabnya lagi, berharap Kenzo dapat mengerti kalau dia masih ingin bersamanya.


"Tapi ...." Ucapan Kenzo tertahan.


"Mas Kenzo marah karena aku belum memberi jawaban?"


"Nggak sama sekali, Fey. Aku akan sabar nunggu kok." Senyum kembali terulas dari bibir Kenzo.


Fey kemudian berdiri, keduanya saling berhadapan beradu pandang.


"Mas ... Aku," ucap Fey ragu.


"Aku apa, Fey?"


"Aku, eh aku ...."


"Katakanlah, Fey!"


Fey menunduk, suasana hatinya kembali mendung. Bulir bening kembali membasahi pipinya yang putih.


"Hey, ada apa apa?" tanya Kenzo, melangkah maju mendekati Fey.


Wanita berdaster batik itu menggeleng.


"Aku minta maaf kalau ada ucapanku yang membuatmu sakit hati, jangan menangis Fey."


"Maafin aku, Mas," isak Fey, "aku gak mau kamu pergi, tinggalah di sini lebih lama."


Kenzo terkejut dengan apa yang didengarnya barusan, ia memberanikan diri untuk merengkuh kedua bahu wanita yang sedang tertunduk di hadapannya.


"Tapi, Fey ...."


"Hiks, jangan pergi Mas. Aku-aku ...." Fey kembali terisak. "Aku juga mencintaimu, Mas."


Manik Kenzo berubah bahagia, ia mendongakan wajah Fey.


"Betul itu, Fey?"


Fey mengangguk, "tapi, aku takut."


"Tidak ada yang perlu kamu takutkan, orang tuaku dan siapapun itu, gak akan mampu menghalagi niatanku untuk mencintaimu. Aku sangat mengerti akan kekhawatiranmu, percayalah Fey aku akan selalu melindungi dan menjagamu."


Mata Fey berkaca-kaca, ia mengucap syukur di dalam hatinya karena Allah telah mengirimkan seseorang yang sangat tulus mencintainya.


"Kamu gak malu dengan kehamilanku ini?"


"Apapun dan bagaimana pun keadaan kamu, aku gak peduli. Yang penting buatku, kamu bahagia sama aku. Izinkan aku melakukan hal itu."


Fey tersenyum sambil menangis, sebuah tangis haru akan ketulusan hati sang pemuda tampan di hadapannya.


Tanpa sungkan, Fey memeluk tubuh Kenzo.


"Aku bersedia menerima cintamu, Mas."


Kenzo tersenyum bahagia, ia mengecup ubun-ubun wanita yang kini sudah menjadi kekasihnya itu.


"Makasih ya, Sayang."


Sambil tersenyum, Fey menganggukan kepalanya. Matanya terpejam, merasakan ketenangan yang tiada terkira.


***


"Maaaas, tolong telpon Mas Kenzo. Fey, sudah mau melahirkan," teriak Sagina panik.


"Iya, Sayang. Sebentar." Segera Arash menghubungi sahabatnya itu. "Cepat ya, Bro. Gue masih di bandara, belum ambil tas. Gak akan keburu kayanya."


"Iya, thanks infonya," jawab Kenzo singkat.


Tanpa menunda waktu, Kenzo langsung tancap gas menuju apartemen.


Sesampainya di sana, Kenzo langsung membawa Fey ke rumah sakit bersalin terdekat.


"Kenapa gak hubungi aku aja?"


"Hpmu sibuk terus tadi, makanya aku telpon Gina, aku kira dia sudah di jalan pulang, taunya masih di bandara."


"Maafin aku ya, tadi aku terima telpon dari teman yang urus resto cabang baru di Bekasi."


"Iya, Mas gak apa-apa. Duh mulesnya datang lagi," Fey meringis menahan sakit.


"Ya Allah, yang kuat ya Sayang. Sebentar lagi sampai kok."


Tidak sampai dua puluh menit, mereka pun akhirnya sampai.


Fey segera dibawa ke ruang bersalin dengan menggunakan kursi roda.


Kenzo sibuk mengurus registrasi.


Dengan hati cemas dan khawatir, ia berjalan bolak-balik di depan ruang bersalin.


Berkali-kali ia melirik jam tangannya, sudah tiga puluh menit Fey di dalam sana, tanpa ada kabar berita.


Setelah lelah berdiri, Kenzo pun duduk di kursi tunggu yang tersedia, kepalanya ia sandarkan ke dinding.


Rasa cemas yang dirasakannya sangat luar biasa, mulutnya komat-kamit memanjatkan doa agar Fey dan bayinya selamat dan sehat.


"Broo," panggil Arash dari kejauhan, berlari kecil ditemani sang kekasih, Sagina.


Kenzo berdiri, wajahnya terlihat bahagia dengan kehadiran kedua sahabatnya itu.


"Sudah ada kabar, Mas?" tanya Sagina.


"Belum, Gin."


"Ya Allah, selamatkan Fey dan bayinya," ucap Gina sembari menempelkan wajahnya ke kaca pintu.


"Tenang, Sayang. Insya Allah, Fey dan bayinya sehat dan selamat."


Sagina dan Kenzo mengamini ucapan Arash.


"Eh, bentar. Aku mau telpon mamanya Fey dulu ya," pamit Sagina menjauh dari calon suami dan kekasih sahabatnya itu.


Panjang lebar Sagina berbicara dengan ibunda Fey, usai menelpon wajah Sagina tampak sedih.


"Ada apa?" tanya Arash.


"Opunya Fey, masih keras kepala," ucap Sagina. "Mas, bisa kita bicara berdua?" tangan Arash ditariknya.


"Ada apa?" tanya Arash lagi.


Sagina berbisik.


"Gila! Segitunya itu Opu sama si Fey."


"Tapi gak ada pilihan lain, Mas. Itu satu-satunya jalan agar Opunya Fey mau maafin dan nerima Fey kembali."


"Orang tua keras kepala, sudah biarkan saja, jangan pernah memohon lagi untuk datang kemari. Fey sudah punya kita."


"Sstt, pelankan suaramu Mas!"


"Aku emosi, bisa-bisanya Opunya si Fey itu bertindak kejam begitu, ckck!"


"Jangan sampai Fey dan Mas Kenzo tau ya, Mas."


"Iya, Sayang. Pembaca setia kasih tau jangan?"


"Jangan sekarang, nanti gak kejutan. Biarlah untuk saat ini semua ini menjadi rahasia kita berdua."


Sagina menangkupkan kedua tangannya, terisak.


Apa yang diucapkan oleh ibunda Fey di telpon, sungguh membuatnya bingung dan kalut.


Dari kejauhan, Kenzo merasa heran dengan pemandangan di hadapannya.


Sahabatnya, Arash sedang memeluk kekasihnya, yang terus menangis.


Ia merasa bingung mengapa Sagina tiba-tiba menangis, sesaat setelah menelpon orang tua Fey. Ingin bertanya, tapi sungkan.

__ADS_1


...*...


**Bersambung**


__ADS_2