Lepas Masa Lalu

Lepas Masa Lalu
Lepas Masa Lalu


__ADS_3

*Part - 17*


Plaaaakkkk ...!


Sebuah tamparan mendarat di pipi Kenzo, Fey menatap tajam pria yang duduk di hadapannya.


"Jangan ucapkan itu lagi padaku! Semua sudah terlambat, seharusnya Mas ucapkan hal tadi saat aku mengabari kalau aku akan pulang karena akan dijodohkan. Bukan sekarang."


Kenzo diam, menatap nanar kekasihnya.


Dengan hati yang pilu, Kenzo langsung menarik tubuh Fey, lalu mendekapnya erat.


"Menikahlah denganku!"


Bahu Fey naik turun, tangisnya semakin menjadi.


"Terlambat, semua sudah terlambat. Gak ada gunanya kamu bicara seperti itu. Aku akui, aku bersalah karena selalu meragukan kesungguhanmu. Tapi, kamu juga tega Mas, karena bisa-bisanya menghilang dan gak pernah menghiraukan semua panggilan dan pesan dariku. Kamu menutup semua akses untuk dapat aku hubungi. Sekarang, setelah aku dipinang oleh pria lain, dengan mudahnya kamu mengucapkan kata itu. Kamu dan Kevin, sama saja."


"Maafkan aku! Menikahlah denganku! Maka, aku akan memintamu langsung kepada Opu."


"Jangan buat aku menjadi anak durhaka untuk yang kedua kalinya. Kenapa kamu tiba-tiba muncul di hadapanku? Kenapa? Kamu jahat, Mas. Jahat! Tega sekali kamu membiarkan aku menjalani hidup seperti ini. Kalau tidak ada Kenzie, mungkin aku sudah mengakhiri hidup ini."


Kenzo mengusap rambut Fey yang terurai, "ssstt, jangan menangis lagi."


"Aku gak mau menikah dengan pria pilihan Opu, tapi semuanya tidak bisa aku tolak. Sejatinya, cinta, hati dan raga ini hanya untukmu, Mas. Aku gak menyangka, kamu sangat egois dan tega."


Perlahan Kenzo melepaskan pelukan, lalu menelangkupkan kedua tangannya di wajah wanita yang tampak rapuh karena ulahnya itu.


"Maafin aku, sekarang aku ingin menikahimu. Apakah kamu bersedia?"


"Aku mau pulang."


"Jawab aku!"


"Gak ada yang harus aku jawab, rasanya percuma juga kalau aku mengiyakan pertanyaanmu barusan. Toh, kamu juga sudah punya calon pendamping penggantiku."


"Jawab saja 'YA'! Maka, aku akan mewujudkan hal itu untukmu."


Fey menggeleng, "aku gak mau menyakiti Opu, calon suamiku dan juga calon istrimu. Biarlah kita hidup masing-masing, mungkin suatu hari nanti aku akan terbiasa hidup tanpamu."


"Menikahlah denganku! Aku tidak benar-benar akan menikah dengan wanita lain, aku hanya mencari cara agar terlihat tegar di matamu, sesungguhnya aku pun sama sepertimu, rapuh dan terbelenggu rindu. Namun ego dan gengsi di dalam hatiku ini terlalu hebat menguasai, sehingga aku tega membiarkanmu sendiri."


Tangis Fey mereda, "tapi, mustahil bagiku bisa menikah denganmu. Jangan siksa aku lagi, kita gak mungkin bersatu."


"Gak ada yang gak mungkin."


"Opu pasti akan benar-benar membunuhku."


"Tidak akan! Aku jamin itu tidak akan terjadi."


"Maaf, Mas aku gak bisa. Nama baik keluargaku dan calon suamiku adalah yang terpenting. Kita sudahi pertemuan ini, kita sudah bicara panjang lebar seperti ini, bagiku sudah lebih dari cukup. Semua percuma dan aku rasa sangat sia-sia."


Fey bangkit dari sofa, memanggil Mira untuk membantunya membuka gaun. Setelah itu, ia benar-benar pergi meninggalkan Kenzo duduk sendirian.


Di dalam mobil, Fey tidak berhenti menangis. Sagina terus menenangkan sahabatnya itu.


"Sudah, Fey. Sudah, jangan banyak pikiran. Ingat acara pernikahan lo sebentar lagi, jaga kesehatan jangan sampai drop."


"Kenapa dia datang? Seenaknya ngajak gue nikah, dikira dia pernikahan itu main-main apa?"


"Sudah, sudah ... Ssstt."


"Gue juga kenapa sih harus pingsan? Jadinya gue terkesan sangat lemah di mata dia, dia semakin besar kepala dan menilai kalau gue ini tak berdaya tanpa dia."


"Kenyataannya memang kaya gitu kan?! Selalu Kenzo yang ada di otak lo, lo gak perduliin perasaan orang tua lo yang sedih ngeliat lo terus-terusan murung dan gak bersemangat. Malu diliat orang cuy!"


"Lo gak ngerti sih sama perasaan gue, perjalanan cinta lo mulus-mulus aja sama Mas Arash. Jadi dengan mudah lo ngatain gue kaya gitu, coba kalo lo jadi gue."


"Kalo gue jadi lo, gue akan mikirin semua dengan otak gue. Kalo ada apa-apa langsung baper, terus nangis. Ckck! Sampe gak mau makan kaya semalem, hadeuh! Sama aja lo gak sayang sama anak dan bonyok lo."


Sagina mulai meninggikan nada suaranya, Fey langsung diam, tidak ingin memperkeruh keadaan.


***


Sejak pertemuannya dengan Kenzo, Fey menjadi sering melamun sendiri.


Hobinya sekarang adalah mengurung diri di dalam kamarnya, tidak memperdulikan hiruk pikuk semua orang yang berada di rumahnya.


Semua orang sibuk mempersiapkan dekorasi untuk mempercantik rumah calon pengantin.


Segala persiapan untuk acara sakral Fey dan Kenzo telah dilaksanakan dengan baik.


Di dalam rumah calon pengantin telah berdiri Sarapo. Sarapo adalah bangunan tambahan yang didirikan di samping kiri/kanan atau depan rumah yang akan ditempati melaksanakan akad nikah.


Dan tepat di depan pintu masuk ke dalam ruangan, telah berdiri pula sebuah Baruga. Baruga merupakan bangunan terpisah dari rumah yang ditempati bakal pengantin dan dindingnya terbuat dari jalinan bambu yang dianyam yang disebut “walasuji”.


Di dalam sarapo atau baruga dibuatkan pula tempat yang khusus bagi pengantin dan kedua orang tua mempelai yang disebut “Lamming”.


Serangkaian upacara adat mappanre temme, telah dilaksanakan dengan khidmat. Fey tampak cantik mengenakan gaun pengantin khas Bugis berwarn hijau terang, ia duduk melantai di atas karpet, diapit oleh dua orang anak perempuan yang memakai pakaian adat baju bodo dengan warna senada dengannya.


Usai acara mappanre temme, Fey kembali masuk ke dalam kamarnya, ia membuka gaunnya dan kembali berganti pakaian dengan pakaian biasa.


"Dik, setelah maghrib bersiap kembali memakai gaun merah, untuk upacara malam mappacci."


"Iye', Kak Mir. Terimakasih banyak."


"Iye', Dik. Kakak pulang sebentar, ambil semua perlengkapan untuk acara mappaccinya."


Fey mengangguk dan mempersilahkan penata riasnya itu untuk pulang.


Sesaat setelah Mira pergi, tiba-tiba listrik padam. Rupanya petugas PLN sengaja memutus hubungan listriknya, hal itu dilakukan untuk menambah daya listrik, guna acara pesta nanti.


Fey mencari-cari sesuatu yang bisa digunakan untuk mengipasi wajahnya yang masih full makeup.


Akhirnya di dalam laci meja riasnya, ia mengambil sebuah undangan kosong tanpa plastik.


Ia mengipas-ngipaskan undangan itu, mengarah ke wajahnya.


Setengah jam kemudian, listrik pun kembali menyala, lampu dan AC di kamar Fey kembali aktif.


Kartu undangan yang sedari tadi dipegangnya, langsung saja ia simpan di atas meja rias.


Selanjutnya, seperti biasa Fey kembali melamun sendiri.


Bayangan Kenzo kembali hadir menari-nari di dalam ingatannya.


Fey menatap wajahnya di cermin, sesaat tersenyum sinis, merutuk diri atas kebodohannya di masa lalu.


Mendadak ia kembali histeris, ia *** kartu undangan pernikahan miliknya, lalu membuangnya ke lantai.


Setelah itu, Fey pun beringsut duduk di lantai bersandar ke tembok.


Matanya menatap nyalang ke lantai keramik, tapi pandangannya terhenti ke undangan yang ia buang tadi.


Ia heran saat melihat logo inisial nama di sampul depan undangan pernikahannya.


"Kenapa FK? Seharusnya FR."


Fey semakin bingung, ia baru menyadari, bahwa ada yang tidak beres dengan pernikahannya itu.


Dengan penasaran, undangan yang dibuangnya tadi, kembali ia pungut.


Ia mencoba melihat inisial nama tersebut dari dekat, "benar FK, Kak Rio kan namanya Rio Pandjaka, lalu K yang tertulis di sini siapa? Kenzo? Gak mungkin!"


Dengan tangan gemetar, perlahan ia membuka kartu undangan dengan perpaduan warna merah muda dan abu itu, air matanya tidak dapat dibendung, manakala mendapati bukan nama Rio yang tertulis, melainkan nama pria yang berhasil membuatnya gila, yaitu Kenzo William.


Ia bingung dengan apa yang sedang dialaminya? Bagaimana bisa, nama Kenzo yang tercantum di undangan tersebut? Semudah itukah Rio melepaskannya untuk Kenzo? Dan bagaimana bisa sang ayah merestui putrinya itu menikah dengan Kenzo?


Pikiran Fey bercabang-cabang, sekujur tubuhnya bagai tersengat listrik, untuk beberapa saat ia duduk termenung sambil memegang kartu undangan pernikahan miliknya.


"Bagaimana bisa semua ini terjadi? Mimpikah aku?


Ditepuk-tepuk pipinya, terasa nyata, ia yakin itu semua nyata.


Secepat kilat, ia membuka kembali ponselnya. Ia membuka blokir kontak Kenzo. Tanpa pikir panjang, ia pun langsung menghubunginya.


"Assalamualaikum," sapa Kenzo tenang.


"Waalaikumsalam, Mas."


"Ada apa?"


Fey terisak, "tolong jelaskan, Mas!"


"Ada apa? Apa yang harus ku jelaskan?"


"Aku akan menikah sama siapa?"

__ADS_1


Kenzo sangat terkejut, tapi ia berusaha untuk tenang.


"Ya dengan pilihan Opu, sam siapa lagi?"


"Jangan permainkan aku! Katakan jujur!"


"Ya aku gak tau, kenapa tanya sama aku?"


"Kenapa di undangan tertulis namamu? Bukan Kak Rio?"


"...."


"Jawab aku, Mas!" pekik Fey.


"Gak ada yang harus aku jawab, kamu sudah tau jawabannya."


"Tapi ...."


"Tapi apa, Sayang? Kan sewaktu di rumah rias, aku sudah bilang sama kamu, kalau aku akan menikahimu dengan restu Opu dan keluarga besarmu."


"Mustahil, semua bisa dirubah secepat itu."


"Kalau Allah sudah berkendak, gak ada yang mustahil. Bukti nyatanya sudah kamu lihat sendiri."


Fey terisak, dirinya benar-benar bingung dengan apa yang dialaminya.


"Sayang? Jangan menangis, maafin aku sudah merahasiakan semua ini darimu. Aku hanya ingin membuatmu bahagia, besok aku yang akan mengucap ijab kabul atas namamu, bukan Rio."


"Bagaimana bisa, Mas?"


"Besok aku jelaskan semuanya, ya."


"Jadi, aku akan menikah sama kamu, Mas?"


"Iya, Sayang. Aku gak main-main dengan ucapanku waktu di rumah rias itu."


"Tapi, kenapa Mas gak jujur saja sama aku?"


"Maunya aku jujur, tapi para pembaca setia cerbung ini ngelarang aku, katanya nanti gak seru. Kalau sekarang, udah gak bisa lagi mereka larang-larang aku, karena kamu sudah tahu lebih dulu."


"Kamu dan emak-emak ketjeh, sama jahatnya sama aku."


"Kita semua kepingin kamu bahagia, Sayang."


"Tapi jangan kaya gini caranya."


"Tapi, kamu bahagia?"


"I-iya, Mas."


"Aku juga, aku sama sepertimu, aku gak rela kalau cinta, hati dan ragamu itu dimiliki oleh pria lain, selain aku."


"Maafin aku ya, Mas. Selalu meragukan kesungguhanmu."


"Iya, Sayang."


"Mas, apa aku lagi bermimpi?"


"Nyata, Sayang."


"Seandainya jika ini mimpi, aku gak mau bangun. Aku ingin tidur selamanya."


"Jadi putri tidur dong, jangan sedih lagi ya. Insya Allah, kita besok resmi menjadi suami istri."


Fey tidak dapat berkata-kata, tangisnya semakin tersedu. Kali ini tangis bahagia yang membuat kabut hitam yang menyelimutinya selama ini sirna, berganti dengan pelangi cinta yang beragam warna.


"Masya Allah, aku sangat terharu dengan kejutan cinta darimu, Mas. Terimakasih."


"Aku yang harus berterimakasih, karena kamu sudi menungguku, tidak mengisi hatimu yang selama ini menjadi tempatku, untuk pria lain."


"Hiks, iya Mas. Saat kamu pergi, disitu aku baru sadar bahwa aku gak bisa hidup tanpamu."


"Aku minta, jangan bersedih lagi ya Sayang! Jalani upacara mappacci malam nanti dengan wajah berseri!"


"Iya, Mas. Aku janji."


"Sampai jumpa besok ya, Sayang."


"Iya, Mas. Mas ...."


"Ya, Sayang."


"Aku juga sangat mencintaimu calon istriku."


"Makasih ya, Mas."


"Iyaa, jangan blokir kontak aku lagi ya!"


"Iya, hehe. Aku janji. Sudah dulu ya, ada yang datang."


"Iya, Sayang."


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Krieeeeettt ...!


Sagina memasuki kamar dengan menggendong Kenzie yang tertidur pulas. Lalu bocah gemuk itu dibaringkannya di atas tempat tidur.


Fey langsung menarik tangan Sagina, dan mendorong tubuh mungil sahabatnya itu merapat ke tembok.


"Lo sekongkol ya sama Mas Kenzo?"


"Maksud lo?"


"Pura-pura bego, lo. Dasar jahil."


"Apaan sih?"


"Gue udah tau semua, ini apa?"


Sagina cengengesan saat Fey membuka undangan pernikahannya.


"Nyengir lo kaya kuda, berhasil ya lo semua nyiksa gue."


"Nyiksa membawa nikmat, cuy."


"Tega banget, lo."


"Bukan gue yang tega, semua ini murni ide Opu."


"Apa? Opu?"


"Iya, jadi begini ceritanya ...."


Sagina panjang lebar membeberkan semuanya.


"Gileee bener, semua kompak. Hebat kalian semua."


"Maafin gue, Fey. Kita semua lakuin ini, karen terlalu sayang sama lo. Kita pengen kebahagiaan yang lo rasain lebih indah lagi. Jangan marah ya!"


"Gue bahagia, thanks sahabat gue tersayang."


Sagina tersenyum lega, walaupun kejutannya sudah terbongkar sebelum hari H, tapi ia sangat bahagia karena kini sahabatnya telah mengetahui semuanya.


"Hapus air mata lo, bersiap untuk malam mappacci."


"Iya, Gin. Aku sangat bahagia."


"Lo pantas bahagia."


...


Selepas adzan isya, Fey telah bersiap untuk mengikuti acara mappacci. Dengan gaun berwarna merah dan emas, ia tampak sangat anggun dan cantik.


Aura kecantikannya terpancar, kini wajahnya terlihat bersemangat, dari dalam kamarnya ia mendengar MC mulai berbicara memandu acara.


Prosesi Mappacci pernikahan adat Bugis yang pertama dilakukan dengan penjemputan mempelai atau yang biasa disebut 'padduppa' dalam adat Bugis untuk menuju pelaminan.


Saat calon pengantin wanita sudah berada di pelaminan, pengantin akan dipersilahkan duduk berdekatan di sisi para pendamping.


Tak lupa, semua perlengkapan yang dibutuhkan pun telah dipersiapkan dengan baik.


Sebuah bantal atau pengalas kepala yang diletakkan di depan calon pengantin, yang memiliki makna penghormatan atau martabat, kemuliaan dalam bahasa Bugis berarti mappakalebbi.


Selain bantal, ada juga sarung sutera sebanyak 7 lembar yang disusun di atas bantal. Ini menyimbolkan akan sebuah harga diri.

__ADS_1


Lalu, pucuk daun pisang yang diletakan diatas bantal yang melambangkan kehidupan yang berkesinambungan dan lestari.


Di mana, di atas pucuk daun pisang tersebut diletakkan pula daun nangka sebanyak 7 atau 9 lembar sebagai permakna sebuah harapan.


Di hadapan calon pengantin pun diletakkan sebuah piring yang berisi wenno (beras yang disangrai hingga mengembang), hal ini diartikan sebagai simbol berkembang dengan baik.


Selanjutnya adalah Tai bani, patti atau lilin yang bermakna sebagai suluh penerang atau simbol kehidupan yang senantiasa rukun.


Sementara daun pacar atau pacci sebagai diartikan sebagai simbol dari kebersihan dan kesucian sang mempelai wanita yang akan segera menempuh hidup baru di keesokan harinya.


Daun pacci yang menjadi bahan utama sebelumnya sudah dihaluskan dan disimpan dalam wadah bekkeng. Ini mengartikan kesatuan jiwa atau kerukunan dalam kehidupan keluarga dan kehidupan masayarakat.


Fey telah berada di dalam sarapo, sisi kiri dan kananya diapit oleh dua orang anak kecil berpakaian adat bugis.


Suasana haru menyelimuti upacara tersebut, Fey menangis saat harus berbicara kepada ayah dan ibunya.


"Opu, Mama ... Maaf-kanlah atas segala kesalahan dan khilaf Fey selama ini. Terlalu ba-nyak luka dan duka yang ananda torehkan di hati Opu dan juga Mama. Hiks ... Fey belum dapat membalas segala yang sudah kalian lakukan untuk Fey, Fey selalu berdoa kepada Allah, semoga Opu dan juga Mama selalu diberikan kesehatan, umur panjang, keberkahan serta kebahagiaan yang hakiki di dunia maupun di akhirat kelak.


Opu, Mama ... Terimakasih atas kasih sayang, cinta dan juga didikannya selama ini. Tidak pernah berhenti kalian mencurahkan kasih sayangnya kepada Fey, siang dan malam kalian tidak pernah letih untuk selalu menguntai kata menjadi doa kepada Allah hanya untuk kebaikan dan kebahagiaan Fey. Sampai kapan pun, Fey tidak akan pernah bisa membalas kebaikan serta cinta kasih Opu dan juga Mama, meski nyawa Fey beri-kan.


Opu, Mama ... Malam ini, Fey meminta restu serta kesediaan kalian kepada Fey untuk dapat menikah besok. Fey akan menikah dengan pria yang sangat Fey cintai, yaitu Kenzo William. Berikan kami berdua restu kalian, dan doakan agar rumah tangga kami kelak mendapatkan keberkahan serta kebahagiaan di dunia maupun akhirat."


Kedua orang tua Fey, tidak dapat menahan tangis mereka. Keduanya yang duduk mengapit sang putri, sama-sama berurai air mata.


Usai berbicara, Fey pun dipeluk oleh Andi dan juga Khadijah secara bergantian.


Acara selanjutnya adalah peletakan pacci di telapak tangan calon pengantin.


Yang maju ke depan untuk meletakkan pacci berjumlah delapan belas orang atau sembilan pasangan suami istri.


Dimana kesembilan pasangan tersebut, akan dipanggil dan mereka maju secara bergantian.


Uniknya pada prosesi upacara mappacci adalah jumlah orang yang meletakkan pacci ke tangan calon pengantin wanita disesuaikan dengan stratifikasi sosial calon mempelai itu sendiri.


Untuk golongan bangsawan tertinggi jumlahnya 2 x 9 orang atau dalam istilah Bugis duakkaséra. Bagi golongan bangsawan menengah sebanyak 2 x 7 orang atau duappitu. Sedangkan untuk golongan yang berada di bawahnya bisa 1 x 9 atau 1 x 7 orang.


Cara pemberian pacci ke tangan calon mempelai dengan mengambil sedikit daun pacci yang telah dihaluskan dan dibentuk bulat, lalu diletakkan daun dan diusap ke tangan calon mempelai. Dimulai dengan telapak tangan kanan, kemudian telapak tangan kiri, lalu disertai dengan doa semoga calon mempelai kelak dapat hidup dengan bahagia.


Selain meletakkan pacci dan memberikan doa, pasangan suami istri yang maju ke depan itu pun mengambil beberapa butir beras, lalu melemparkannya ke arah calon pengantin.


Setelah semua prosesi inti malam mappacci telah dilaksanakan, ramah tamah pun dilakukan.


Semua tamu undangan yang duduk melantai, mulai menikmati hidangan yang disiapkan di meja prasmanan yang berada di hadapan mereka.


Setelah para tamu undangan pulang, Fey yang sudah berganti pakaian, menghampiri ayahnya yang sedang bermain gaple atau domeng di teras rumah bersama para tetangga dan saudara.


"Opu, tabe menggangguta. Bisaji masuk sebentar?"


"Ada apa, Nak?"


"Hehe, ndak ada apa-apaji. Hanya mauka bicara sebentar."


"Iyo."


Andi berpamitan kepada bapak-bapak yang menjadi lawan mainnya.


Fey menuntun sang ayah masuk ke dalam kamar utama, sesampainya di sana, Andi langsung dipeluknya.


"Terimakasih, Opu."


"Iyo, Nak. Sama-sama, janganki menangis lagi, Sayang. Sudah saatnya kamu bahagia."


"Iye', Opu. Fey terlalu bahagiaka, jadinya menangis."


"Anak Opu satu-satunya, dengarkan Opu Nak. Besok kamu akan menjadi istri Kenzo, jaga sikapmu le'Nak! Jangan sebentar-sebentar bilang pisah, karena menikah itu beda dengan pacaran. Buatlah bahagia suamimu, seperti yang Mamamu lakukan. Berbakti kepada suami itu kunci menuju syurga, selama perintah suami sesuai kaidah islam, maka wajib kamu ikuti."


"Insya Allah, Opu. Fey akan melakukan apa yang Opu katakan. Terimakasih Fey ucapkan sekali lagi, karena Opu selama ini telah menjadi Ayah yang terbaik. Maafkan kesalahan Fey di masa lalu."


"Jangan ungkit lagi dosa masa lalu, kita tatap masa depan yang indah."


"Iye', Fey sayang Opu."


Fey dan ayahnya kembali berpelukan, malam itu merupakan malam yang penuh makna bagi keduanya.


Keduanya mengucap syukur kepada Allah atas segala karunia yang diberikan ke dalam kehidupan mereka.


Setelah lega, Fey pun keluar dari kamar ayahnya, menuju ke dalam kamarnya untuk beristirahat.


Ia tidak sabar menunggu hari esok, hari bersejarah dalam hidupnya.


Ia tidak sabar menunggu pangerannya datang untuk mengikrarkan janji sucinya di depan penghulu.


Malam itu ia gelisah, matanya sulit terpejam. Fey tersenyum, saat memandang wajah sahabat dan putranya yang sudah tertidur pulas.


Ting ...!


[Pasti belum tidur ya, Yang?]


Sebuah pesan dari Kenzo, yang langsung membuat bibirnya tersenyum.


[Kok tau? Kamu anaknya dukun ya?]


[Iya, dukun pelet. Hehe.]


[Hehe, Mas bisa aja. Kok belum tidur Mas?]


[Susah tidur, bayangin kamu terus.]


[Weleh-weleh, pintar gombal sekarang, hehe.]


[Sah dong, gombal sama calon istri.]


[Lebih sah, kalau besok ngegombalnya.]


[Hehe, Yang ...]


[Apa, Mas?]


[Aku minta foto kamu pas mappacci tadi dong.]


[Ih, buat apa?]


[Gak boleh? Buat obat rindu.]


[Hehe, boleh-boleh. Tapi habis itu, tidur ya!]


[Iya, Sayang. Asal ...]


[Apa?]


[Panggil aku Sayang!]


[Apaan sih Mas?]


[Tuh kan, dari semenjak kita pacaran, kamu gak pernah sekalipun manggil aku dengan sebutan Sayang. Selalu Mas, kaya tukang bakso.]


[Habis ijab kabul besok, aku akan ucapkan itu.]


[Betul?]


[Insya Allah.]


[Ya udah, fotonya jangan lupa kirim ya Sayang.]


[Iya, love you.]


[I love you too.]


Setelah menyudahi chat, Fey segera mengirim fotonya yang memakai gaun merah pada saat mappacci tadi.


Tidak lama setelah foto dikirim, Fey kembali menerima pesan dari Kenzo.


[Semakin sulit tidur, semakin rindu sama bidadariku.☺😍😘]


Fey tersenyum sendiri, saat membaca pesan terakhir yang dikirim oleh calon suaminya itu.


***


Emak-emak di sini, pada mau lihat Fey juga gak? Hehe...


Sudah pada siap kondangan belum maakk?


Pestanya digelar besok, author mau siap-siap dulu.


Hehehe😁😃😅😆


***

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2