Lepas Masa Lalu

Lepas Masa Lalu
Lepas Masa Lalu


__ADS_3

*Part - 20*


Anggun bersikap sok ramah kepada menantunya, di depan Kenzo ia bersandiwara seolah-olah hatinya telah luluh dan merestui pernikahan mereka berdua.


Pertemuan mereka diawali dengan makan malam bersama, bermacam-macam hidangan lezat telah tersaji di meja makan.


Ibu dan ayah tiri Kenzo sedang berusaha bersikap baik kepada Fey, hal ini mereka lakukan demi melancarkan siasat jahat mereka.


"Ken, kami undang kalian dengan maksud baik, kami ingin mengadakan resepsi pernikahan kalian di Jakarta untuk ...."


"Uhuk-uhuk." Fey langsung tersedak saat mendengar penuturan ayah mertuanya.


"Minum dulu, Sayang." Kenzo segera memberikan segelas air mineral kepada istrinya.


"Kamu kenapa, Fey? Gak suka dengan rencana kami?" tanya Anggun ketus.


"Maaf, saya tersedak. Karena kurang kuah, saat makan tadi," sahut Fey berbohong.


Anggun mencebik sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Sudah-sudah, gimana Ken dan Fey setujukah kalian dengan rencana kami?"


"Bagaimana, Sayang kamu mau?" tanya Kenzo kepada istrinya.


"Aku rasa nggak perlu pesta resepsi, hanya buang waktu dan uang."


"Aku setuju dengan yang diucapkan Fey, Mi, Pi."


"Loh, kamu gak usah khawatir Fey, acara resepsi nanti kami nggak akan suruh si Ken yang biayai. Kami tahu uang tabungannya sudah terkuras untuk menikah kemarin, kamu gak usah cemaskan hal itu."


"Maksud Fey bukan begitu, Pi. Walaupun bukan pakai uangku, tapi tetap saja pesta resepsi nanti hanya akan buang uang."


"Tapi kalian pikirkan nama baik Papi di mata relasi dan teman-teman, masa anaknya nikah tapi mereka gak dapat undangan. Walaupun kamu anak tiri, tapi tetap saja Papi harus memperlakukanmu sebagai anak sendiri. Untuk itu jangan tolak permintaan kami!"


"Apa yang dibilang Papimu benar, Ken. Selain relasi dan teman Papi, teman-teman Mami juga sama pasti akan tersinggung kalau tahu kamu udaj nikah, sementara mereka gak diundang. Jangan sampai mereka bergunjing yang nggak-nggak tentang kalian."


"Bergunjing apa Mi?" tanya Kenzo heran.


"Ya bergunjing dan bergosip, kenapa bu Anggun dan Pak Rahmat gak mengadakan resepsi ngunduh mantu di Jakarta? Mami gak mau ada orang yang menilai kalau kalian menikah karena kecelakaan. Kamu ngerti kan maksud Mami?"


Bagai tersambar listrik, tubuh Fey mendadak kaku saat mendengar ucapan ibu mertuanya.


Matanya berkaca-kaca, wajahnya merah padam menahan rasa malu atas sindiran yang dilontarkan mertuanya barusan.


Kenzo yang menyadari istrinya dipojokkan, langsung menyanggah semua ucapan ibunya.


"Yang akan bergosip dan bergunjing itu siapa? Relasi dan teman-teman Mami dan Papi, atau Mami yang sengaja menyindir masa lalu istriku?" sungut Kenzo, "jangan kaya begitulah, Mi. Kami kesini dengan niat baik, tolong jangan menyulut perpecahan kembali. Kalau Mami mau terus menyakiti Fey, lebih baik kami pulang!"


Rahmat melirik istrinya, dan memberi kode untuk tidak terpancing emosi.


"Maafkan Mamimu, Ken! Dia gak bermaksud menyindir, sudahlah."


"Tolong hargai kami, Pi. Maka kami pun akan menghargai Mami dan juga Papi."


"Ya, sudah-sudah. Jangan diperpanjang lagi! Bagaimana keputusan kalian? Tolong pikirkan nama baik kami, kami hanya ingin merayakan pernikahan kalian, ikut berbahagia. Kamu adalah anak sulung kami, Ken. Pikirkanlah!"


Kenzo dan Fey saling bertatapan.


"Bagaimana, Sayang?"


Perlahan, Fey mengangguk, tanda setuju. Kenzo tersenyum dan *** jemari istrinya.


"Baik, kami setuju. Tapi dengan satu syarat."


"Katakanlah! Apa itu?"


"Aku gak mau si Kevin datang ke acara itu?"


"Kenapa?"


"Kita tahu kenapa alasannya, Pi. Jadi aku mohon jangan dipertanyakan lagi."


Rahmat menarik nafas panjang, lalu kemudian ia pun menyanggupi.


"Kapan resepsinya akan dilakukan Pi?"


"Dua minggu lagi," ucap Rahmat, mengerlingkan mata ke arah istrinya. "Nanti akan Papi kabari lagi mengenai segala sesuatunya."


"Baik, Pi."


"Ya sudah kalau begitu, lanjutkan makan kalian!"


Makan malam pun berlanjut, diselingi dengan perbincangan ringan dan sesekali mereka tertawa kecil.


Waktu menunjukkan pukul 21.40, Kenzo mengajak istrinya untuk berpamitan pulang kepada kedua orang tuanya.


Saat di perjalanan pulang menuju apartemen, Fey tampak banyak diam dan melamun.


"Sayang, kenapa?"


"Nggak, Mas."


"Jangan bohong! Aku tahu kamu lagi mikirin sesuatu."


"Beneran, gak apa-apa."


"Percuma berkelit, aku tahu kamu lagi ada yang dipikirin."


"Maafin aku, Mas. Aku hanya masih ragu tentang rencana orang tuamu."


"Ragu kenapa?"


"Aku kok ngerasa curiga, kalau mereka sedang ngerencanain sesuatu yang gak baik sama aku."


"Jangan suudzon ah, gak baik."

__ADS_1


"Tapi, kenapa bisa mereka berubah merestui kita? Dalam waktu yang singkat, kayanya gak masuk akal banget Mas."


"Memangnya orang tuaku jahat sekali ya Sayang? Kok bisa kamu berpikiran kaya gitu? Bisa saja kan, mereka sudah menyadari kesalahan mereka, walaupun terkadang Mamiku masih agak sinis sama kamu, tapi kan yang penting beliau sudah mau melunakkan hatiny sama kita."


"Kok Mas jadi marah?"


"Bukan marah, hanya gak suka kalau kamu menilai orang tuaku kaya gitu. Aku akui mereka selama ini jahat padamu juga keras terhadapku, tapi aku sangat bahagia karena malam ini mereka menunjukkan perubahan sikap yang berbeda, aku seperti manusia normal yang punya orang tua, walaupun Pak Rahmat Ayah tiriku."


"Aku gak menjudge orang tuamu serendah itu, aku hanya mengutarakan isi hatiku, apa aku salah? Kan Mas yang tanya tadi, mau tahu aku kenapa, setelah tahu malah aku dimarah-marahi."


"Yang marah-marah siapa? Kamu mah suka salah paham, aku cuma kasih tahu kamu jangan suudzon. Nanti dosa, siapa tahu mereka berubah betulan, bukan sandiwara. Jangan bikin masalah sepele jadi rumit dan panjang!"


"Ya, terserah Mas saja, aku memang selalu salah."


"Berubah dong, Yang! Jangan gampang kesinggung kaya gitu, aku gak suka."


"Aku juga gak suka kamu bentak-bentak aku kaya gitu!"


Fey membuang pandangan ke luar jendela mobil, hatinya bergemuruh saat suaminya itu menanggapi unek-uneknya dengan sikap jutek.


Demi mengusir rasa kesalnya, Kenzo membesarkan volume musik dan selanjutnya mereka pun saling diam.


Sesampainya di pelataran apartemen, Kenzo menyuruh istrinya untuk menunggu di mobil. Lalu pria jangkung berlesung pipi itu pun keluar dari mobilnya, menuju apartemen Sagina untuk menjemput Kenzie.


Malam semakin larut, hampir pukul duabelas malam, keduanya baru sampai di rumah mereka.


Fey langsung membaringkan putranya di box bayi, setelah itu ia langsung membersihkan diri dan berganti pakaian.


Sementara Kenzo, setelah berganti pakaian, ia lebih memilih duduk di sofa ruang tengah sambil menonton televisi.


Pasangan pengantin baru itu masih 'perang dingin' atas perdebatan di mobil saat perjalanan pulang tadi, keduanya sama-sama keras dan masih dikuasai oleh ego juga emosi.


Krieeeettt ...!


Fey keluar kamar, melangkahkan kakinya menuju dapur untuk mempersiapkan keperluan putranya saat meminta susu nanti. Kenzo melirik ke arah istrinya, lalu kembali fokus ke layar televisi di hadapannya.


Tak lama, wanita yang dalam kesehariannya hobi mengenakan daster itu kembali dari dapur dengan membawa nampan berisi beberapa botol susu kosong, toples berisi susu bubuk, sebotil air mineral dan sebuah termos kecil berisi air panas. Tanpa bicara, Fey masuk ke dalam kamar.


"Dasar gak punya hati! Bisanya marah-marah gak jelas," sungut Fey sambil menarik selimut menutupi tubuhnya sampai leher.


Satu jam kemudian, setelah Fey terlelap tidur, Kenzo memasuki kamar. Rasa kantuk menyerang matanya, ia membaringkan tubuhnya di samping sang istri.


Ditatapnya lekat wajah wanita yang sangat di cintainya itu, perlahan jemarinya menyisir anak rambut yang menutupi kening istrinya.


Fey yang sangat sensitif, langsung terbangun saat jemari tangan suaminya menyentuh kepalanya.


Saat membuka mata, tampak Kenzo sedang lekat menatapnya.


"Kaget ya?" bisik Kenzo, sambil membelai rambut istrinya.


"Iya."


"Masih marah?"


"Bukannya Mas yang marah?"


"Aku gak suka dibentak-bentak, Mas. Rasanya sakit sekali, hiks.".


Kenzo menarik tubuh istrinya merapat ke tubuhnya, lalu memeluknya erat, "Sssttt, maafin aku ya! Aku hanya sangat bahagia, karena Mami akhirnya menerimamu sebagai menantunya, kebahagiaanmu adalah yang utama bagiku, aku gak peduli jika Mami mau baik atau jahat sama aku, yang penting buatku sikap Mami sama kamu, Sayang. Aku mohon mengertilah aku! Aku ingin bahagia menikmati indahnya damai dalam keluarga, yang gak pernah aku dapatkan sebelumnya."


Fey tidak menyahut, hanya isakan tangis yang keluar dari mulutnya.


"Aku salah, sudah bentak-bentak kamu tadi di mobil. Jangan dimasukin ke hati ya! Sifatku memang mudah sekali marah, sekali lagi aku minta maaf Sayang."


Sambil terisak, Fey menganggukan kepalanya.


"Kok cuma ngangguk, ngomong dong!"


Fey menggeleng, dan kembali menenggelamkan wajah sendunya ke dada bidang sang suami.


"Berarti belum maafin aku?"


"Udah."


"Udah apa?"


"Maafin Mas."


"Ngomong dong!"


"Ngomong apa?"


"Yang ngomong, kalau kamu udah maafin aku."


"Iya, aku udah maafin Mas."


"Bukan kaya gitu, kata-katanya."


"Habis, gimana dong?"


"Kaya gini nih, 'Suamiku yang ganteng, aku udah maafin kamu, i love you!', hehehe."


Fey tertawa dan mencubit gemas perut suaminya.


"Wadaw, sakit Sayang, haha."


"Pede abis, huh."


"Loh memang kenyataan, aku memang ganteng, ya kan?!"


"Hehe, iya ganteng deh, daripada nanti aku bilang jelek, tar ngambek terus mogok makan, bisa bahaya, haha."


"Haha, gak mungkin dong aku mogok makan, bisa lemes dan gak kuat nantinya."


"Gak kuat ngapain?"

__ADS_1


"Gak kuat kasih Kenzie adik, haha."


"Ih, Mas ini, haha."


Dengan agresif, Kenzo menghujani istrinya dengan ciuman. Dan selanjutnya mereka pun saling memadu kasih, merenda cinta dan meneguk madu asmara yang manisnya tiada tara.


***


Kedua orang tua Fey telah tiba di Jakarta, guna mengikuti acara pesta resepsi putrinya. Mereka sangat bersyukur akhirnya kedua besannya itu dapat menerima putri mereka dengan baik. Walaupun, Andi masih kesal terhadap orang tua dari menantunya itu, tapi ia mengalah dan mengesampingkan kekesalanny itu demi kebaikan bersama.


Setelah satu hari berada di Jakarta, Kenzo mengajak kedua mertuanya itu untuk bertemu dengan orang tuanya.


Pertemuan berlangsung dengan baik, walaupun suasana tidak hangat, tapi semuanya berjalan dengan harapan Kenzo.


Sepulang dari rumah orang tuanya, Kenzo membawa Fey dan kedua mertuanya mampir ke sebuah butik khusus yang mendesign sendiri serta menjual pakaian pengantin.


Di mana Anggun telah memesan gaun serta stelan jas yang terbaik untuk anak menantunya, serta tak ketinggalan dua set pakaian untuk kedua besannya.


...


Hari yang dinanti pun akhirnya tiba, kedua orang tua Kenzo menyewa sebuah ballroom di salah hotel bintang lima terkenal di Jakarta untuk mengadakan acara resepsi anak dan menantunya itu.


Fey tampak anggun dengan balutan gaun berwarna coklat susu lengan panjang, gaun mewah rancangan designer ternama itu sungguh sangat cantik, hiasan mutiara dan hiasan bunga berwarna putihnya sangat pas dan terlihat sangat apik.


Begitu pula dengan tatanan rambut ibu dari satu anak itu, sanggul modernnya sangat simpel namun terkesan mewah dan juga berkelas. Apalagi dengan tambahan sebuah mahkota berkilauan yang disematkan di atas rambutnya, membuat tampilan Fey bak putri raja.


Sedangkan Kenzo mengenakan stelan jas berwarna navy, kemeja putih dan tambahan aksen dasi kupu-kupu, membuat tampilan pria tampan itu semakin gagah dan bersahaja.


Kedua insan yang baru saja menikah itu, berjalan perlahan menuju pelaminan mengikuti instruksi pembaca acara.


Semua para tamu undangan terpukau dan juga berdecak kagum dengan kecantikan mempelai wanita, tidak sedikit orang yang memuji keanggunan dan keserasian pasangan pengantin yang baru saja berjalan di hadapan mereka.


Setelah Fey dan Kenzo berada di pelaminan, para tamu yang hadir mulai menyalami mereka.


Acara semakin meriah dengan terdengarnya lagu-lagu cinta yang dilantunkan oleh penyanyi di atas panggung.


Wajah kedua pengantin tampak berseri dan bahagia, Fey dan Kenzo terus mengulas senyum.


Namun suasana berubah menjadi tegang saat seseorang berbicara panjang lebar di panggung.


"Aku ucapin selamat kepada Kakakku Kenzo beserta istri, semoga kalian berbahagia dengan pernikahan ini. Salut sekali kepada Kak Kenzo, karena beliau sudah bersedia menerima wanita 'bekas' adiknya sendiri," ucap pria yang mengenakan stelan jas hitam, sambil tersenyum meledek.


Suasana menjadi riuh atas apa yang telah diucapkan pria muda itu.


"Tenang semuanya, maafkan kalau ucapanku tadi membuat anda semua terkejut, tapi itulah kenyataan yang terjadi. Feylin yang kini menjadi istri dari Kakakku itu dahulunya adalah pacarku, kami bepacaran cukup lama yakni dua tahun, sampai akhrinya suatu waktu dia menjebakku dengan kehamilannya ...."


"CUKUP!!!" teriak Kenzo, berlari dari pelaminan menuju panggung, tempat dimana pria itu berdiri.


Dengan penuh amarah, Kenzo mencengkeram kerah kemeja pria itu, wajahnya merah padam dengan peluh bercucuran.


"Kurang ajar kamu Vin! Bisanya kamu mempermalukan istriku, arrrrgggh ...."


Tanpa berkata-kata lagi, Kenzo langsung melayangkan tinju ke wajah pria yang tidak lain adalah adik, yaitu Kevin.


"Rasakan itu jahanam! Tega sekali kamu melakukan hal memalukan seperti ini terhadap wanita yang dulu pernah kamu cintai."


"Haha, persetan dengan cinta!"


"Aaarrgh, biadan kamu Viiin!"


Kemarahan Kenzo semakin membuncah, ia kembali menghajar adiknya, darah segar keluar dari sudut bibir Kevin.


Kevin tersungkur ke bawah keyboard, Kenzo menarik kembali kerah kemeja sang adik, lagi-lagi ia memukul dan menendang adiknya yang terus tertawa dan meracau seperti orang yang tidak waras.


Bau alkohol tercium dari mulut Kevin, rupanya ia sedang dibawah pengaruh minuman keras.


Semua orang yang menyaksikan berteriak histeris, termasuk Anggun, Fey dan ibunya.


Fey yang sedang menangis di dalam pelukan ibunya langsung berlari menghampiri suaminya di atas panggung.


Andi yang geram pun tidak tinggal diam, ia menarik tangan besannya Rahmat menuju panggung.


"Sudah, Mas! Huuuhuuu...."


Kenzo tidak menghiraukan ucapan istrinya, ia terus menghajar adiknya dengan membabi buta.


"Hentikan, Ken!" cegah Rahmat, sambil melerai keduanya.


Andi segera menarik tangan putrinya untuk meninggalkan ruangan, namun sebelum beranjak pergi ia berucap kepada Rahmat dan Kevin.


Sagina dan Arash yang baru saja datang merasa terkejut dengan kericuhan yang terjadi di acara pesta sahabatnya.


"Aku ndak akan lupa dengan perlakuan kalian mempermalukan anakku, kamu bajingan kecil dengan lantang berniat membuat wajah anakku tercoreng, tapi kamu ndak sadar bahwa sebenarnya kamu sedang membuka aibmu sendiri, keluarga macam apa kalian ini? Bekerja sama dalam hal keburukan, naudzubillahimindzalik!" seloroh Andi dengan mata berkaca-kaca. "Dan kamu Kenzo, sebaiknya kamu tinggalkan anakku! Aku ndak terima adikmu itu berbuat seperti ini, ini baru awal, dan aku yakin besok lusa dia akan berbuat lebih nekat dari ini kepada anakku."


"Tapi, Opu... Kenapa aku yang harus dihukum atas sikap Kevin?"


"Kamu dan keluargamu sama saja, seandainya dulu kamu ndak mencegah Nak Rio menikahi anakku, pasti sekarang Fey sudah bahagia tanpa harus bertemu kembali dengan bajingan tengik itu!"


Fey tertunduk, air matanya berlinang, ia tidak dapat berkata apa-apa.


"Ayo Fey, ikut Opu! Kita kembali ke kampung."


Tanpa menunggu jawaban, Andi segera menarik paksa tangan putrinya itu meninggalkan ruangan ballroom yang masih penuh dengan tamu undangan.


"Mami, Papi dan kamu Kevin, aku akan buat perhitungan dengan persekongkolan kalian!" ancam Kenzo, tak lama ia pun berlari mengejar sang istri yang ditarik paksa oleh ayah mertuanya.


***


Waduuuh, kok jadi kacau gini.


Apa yang akan terjadi selanjutnya?


Akankah Fey dan Kenzo bercerai?


Temuin jawabannya di part selanjutnya ya Maaakk.

__ADS_1


***


-Bersambung-


__ADS_2