
*Part - 16*
"Gue gak cinta Rio, Gin."
"Makan tuh cinta! Hidup harus siap menerima segala yang udah digarisin sama Allah, Fey. Jangan ngeliat terus ke belakang, lo bisa ngelupain si brengsek Kevin, dan itu berarti lo juga harus bisa ngelupain Abang tirinya. Mereka sama kan?!"
Fey duduk lemas, melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Sagina yang berdiri mengelus rambutnya.
"Lo mah harus selalu gue bentak dan dikasarin supaya mau ngerti, terima kenyataan kalau lo sama Mas Kenzo gak mungkin bersatu. Dia udah mau nikah, tengok status WA dia. Pamer-pamer kemesraan, sok-sok'an udah bisa move on dari lo. Ih amit-amit, gak tahu malu."
"Dia nikah sama orang mana, Gin?"
"Sama orang utan kali."
'Haha, gileee beneeerr. Gak tahan gue pengen banget ketawa.'
"Jadi menurut lo, gue harus gimana?"
"Terima nasib!"
Fey mengangguk pelan, lalu kembali merapatkan rangkulannya.
"Gue mau nikah sama Rio, asalkan lo mau tinggal di sini sampai hari H selesai."
"Ok, jangan sampai hari H, sampai malam pengantin aja gue jabanin apa mau lo, gue bakalan diem-diem di ujung kamar lo, jagain lo biar lo sama laki lo kagak dikerubutin nyamuk, buat gue yang penting lo bisa bahagia. Haha."
Fey memukul pelan pinggang sahabatnya, bibirnya tertawa kecil mendengar candaan yang dilontarkan oleh Sagina.
"Udah ya, jangan galau lagi. Itu duit simpen dulu di tempat yang aman, tar raib secara sekarang lagi banyak orang di sini. Hehe."
"Palingan yang ngambil duitnya lo, kn gak sembarangan orang bisa masuk kamar gue."
"Haha, lumayan ya, buat modal nikah gue nanti."
"Bisa, bisa ... Dengan senang hati gue kasih itu duit, biar gue batal nikah sama si Rio itu."
Sagina tertawa dalam hatinya, ia tidak sabar dengan kejutan yang dipersiapkan untuk sahabat tercintanya itu.
Waktu tidak terasa sudah beranjak sore, rombongan keluarga Kenzo berpamitan kepada keluarga calon besannya.
Namun sebelumnya mereka meminta agar dapat bertemu dengan Fey, akhirnya tanpa Kenzo, keempat adik dari mendiang ayahnya itu masuk ke dalam kamar calon istri keponakannya itu.
"Nak, ini keluarga calon suamimu, ingin bertemu dan berkenalan."
"Iye', Ma."
Fey berjalan menghampiri, lalu menyalami semuanya.
"Kami sangat senang bisa kenalan sama calon keponakan kami, kamu sangat cantik."
Fey tertunduk malu mendapat pujian dari salah seorang tante Kenzo.
Setelah berbincang sebentar, akhirnya mereka semua berpamitan kepada Fey.
...
Menjelang hari pernikahan, kesibukan mulai tampak di kediaman Fey. Setiap hari para saudara dan juga tetangga berdatangan membuat kue-kue serta hidangan ringan pencuci mulut. Sedangkan untuk hidangan inti, Andi lebih memilih menggunakan jasa catering.
Siang itu, Fey tengah bersiap untuk berangkat ke rumah rias pengantin. Sagina dengan setia mengantarnya.
"Calon suami'ta inginkan warna putih dik," ujar Mira, pemilik rumah rias pengantin.
"Sembarang saja, Kak. Ndak masalah buatku warna apa saja, sama saja'i."
"Awwe, kenapa adik Feylin ini ndak bersemangat sekali. Baru kali ini aku lihat pengantin macam'ta, hehe."
"Hehe, Kak Mira bisa saja."
"Kalau untuk acara Mappanre Temme, dik Feylin mau pakai gaun warna apa?"
"Apa bagus, Kak?"
"Hijau terang, mau?"
"Ok."
"Kak Mira, Mappanre Temme itu apa?" tanya Sagina.
"Mappanre Temme, itu salah satu prosesi yang dilakukan sebelum hari pernikahan, pada sore hari sehari sebelum hari pernikahan, diadakan acara mappanre temme atau khatam Alquran. Prosesi ini juga diikuti dengan pembacaan barzanji yang dipimpin seorang imam."
Sagina manggut-manggut.
"Serunya ya, Kak. Banyak sekali prosesinya."
"Sebetulnya banyak yang harus dilakukan sebelum hari pernikahan tiba. Tahapannya yaitu, Mappasau Botting dan Cemme Passih.
Perawatan dan perhatian akan diberikan kepada calon pengantin. Biasanya tiga malam berturut-turut sebelum hari pernikahan calon pengantin melakukan ritual Mappasau (mandi uap).
Dilanjutkan dengan memakai bedak hitam (bedak bolong) yang terbuat dari beras ketan yang digoreng sampai hangus dan dicampur dengan asam jawa dan jeruk nipis.
Cemme Passih sendiri merupakan mandi tolak balak yang dilakukan untuk meminta perlindungan Tuhan dari bahaya.
Upacara ini umumnya dilakukan pada pagi hari, sehari sebelum hari-H. Setelah acara prosesi Mappasau dan Cemme Passih selesai, calon pengantin mulai bersiap untuk prosesi Mappanre Temme tadi.
Prosesi selanjutnya adalah Mappaccing/Tudampenni. Mappaccing berasal dari kata Paccing yang berati bersih. Mappaccing artinya membersihkan diri. Upacara ini secara simbolik menggunakan daun Pacci (pacar). Karena acara ini dilaksanakan pada malam hari, maka dalam bahasa Bugis prosesi ini biasa disebut βWenni Mappacci atau malam mappacci."
__ADS_1
Upacara Mappaci merupakan simbol sekaligus harapan, kedua calon mempelai telah siap dengan hati yang suci dan ikhlas untuk memasuki kehidupan rumah tangga dengan membersihkan segalanya, termasuk Mappaccing Ati (bersih hati), Mappaccing Nawa-nawa (bersih pikiran), Mappaccing Pangkaukeng (bersih/baik tingkah laku/perbuatan), dan Mappaccing Ateka (bersih itikat).
Orang-orang yang diminta untuk meletakkan daun Pacci pada calon mempelai biasanya adalah orang-orang yang punya kedudukan sosial yang baik serta memiliki kehidupan rumah tangga yang bahagia. Bisa dari pihak keluarga inti, saudara, teman, kerabat, tokoh agama dan tokoh masyarakat yang dituakan.
Semua ini mengandung makna agar calon mempelai kelak dapat pula hidup bahagia seperti mereka yang telah meletakkan daun Pacci itu di tangannya.
Selain itu, pada saat acara upacara mappacci itu, adalah suatu moment dimana calon mempelai perempuan diberikan kesempatan untuk mengucapkan permintaan maaf, terimakasih dan izin untuk menikah kepada kedua orang tuanya.
Pokoknya, saat malam mappacci segala rasa bercampur menjadi satu. Bahagia dan juga haru."
"Ya Allah, indah sekali tahapan-tahapannya ya Kak."
"Iye', Dik."
Sagina tampak sangat antusias, tapi tidak dengan Fey, ia cuek saja dengan penjelasan panjang lebar Mira, yang dalam pikirannya hanya ada Kenzo.
"Jangan melamun, Dik."
Fey terkejut, lalu **** senyum ke arah Mira.
"Untuk malam mappacci, mauki pakai warna apa gaunnya?"
"Sembarang, Kak. Apa bagusnya."
Sagina menepuk jidatnya, sementara Mira tertawa kecil melihat tingkah laku Fey.
"Menurut dik Gina, apa bagus merah atau biru?"
"Merah saja, Kak."
"Ok."
Selanjutnya, Fey pun mencoba satu persatu gaun yang akan dikenakannya nanti.
"Astagafirullah, cantiknyaa. Belumpi dimake-up, cantiknya sudah terpancar."
Fey menatap kosong pantulan bayangannya di depan cermin, tubuh indahnya yang terbalut gaun pengantin berwarna putih dengan hiasan yang sangat mewah tidak diperdulikannya.
Sementara Sagina tampak sangat bersemangat, melihat-lihat ke seluruh penjuru ruangan rumah rias pengantin milik Mira tersebut.
Mira meninggalkan Fey, yang masih berdiri mematung di depan cermin.
Fey bagai raga yang tak bernyawa, tubuhnya kaku dengan wajah yang pucat.
Krieeeeeetttt ...!
"Assalamualaikum ...."
Terdengar ucapan salam, bersamaan dengan pintu kaca rumah rias pengantin yang dibuka oleh seseorang, Fey yang masih berdiri sangat terkejut saat menoleh kepada orang yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu.
"Mas Kenzo ...," panggil Fey lirih, bibirnya gemetar, suaranya pun langsung saja berubah menjadi parau. Ia tidak dapat menahan air matanya, saat melihat pria yang selama ini dinantikan, berada di ruangan yang sama dengan dirinya.
'Sedang apa dia di sini?'
Menyadari air matanya berlinang membasahi pipi, Fey segera menyeka dengan punggung tangannya.
Kenzo berjalan perlahan mendekat, matanya menatap lekat wajah sendu wanita yang sangat ia rindukan.
"Apa kabar, Fey?"
"Aku baik, Mas. Kamu ... Lagi apa di sini?"
Sejenak Kenzo diam, mencoba berpikir tentang jawaban atas pertanyaan yang dilontarkan kekasihnya itu.
"Aku, aku sedang ada project di Maros. Dan aku kemari untuk bertanya tentang harga sewa kursi dan tenda."
"Project di Maros? Sudah berapa lama?"
"Hmm, hampir satu minggu aku di sini."
"Satu minggu? Tapi, kenapa selama itu Mas gak pernah singgah ke rumah?"
"Gak enaklah, kemarin yang lalu aku lewat depan rumahmu, tapi sepertinya di rumahmu sedang ada acara. Banyak orang dan mobil parkir di halaman."
Fey mengangguk pelan.
"Ada acara apa?"
"Eh, itu ... Itu acara lamaran."
"Alhamdulillah, selamat ya Fey. Aku turut bahagia."
"Terimaka-sih, Mas."
Kenzo tersenyum, lalu mengangguk. Tak lama kemudian, dari dalam ruangan muncul seorang pria sebaya dengannya, ia langsung menghampiri Kenzo yang datang dengan tujuan mengepaskan pakaian pengantinnya.
Dengan segera, Kenzo langsung menarik pria yang merupakan suami dari Mira, pemilik rumah rias. Ia menyampaikan hal yang seharusnya dirahasiakan.
Pria itu mengangguk dan mengacungkan satu jempol ke arah Kenzo.
Setelah pembicaraan usai, Kenzo pun kembali berjalan menghampiri Fey yang masih berdiri menatapnya.
"Hmm, Fey ... Aku pamit ya."
"Eh, iya Mas. Silahkan!"
__ADS_1
Kenzo mengulurkan tangannya, tak lama Fey pun menyambutnya. Keduanya bersalaman.
Namun, sesaat setelah Kenzo keluar, tubuh Fey tumbang. Ia jatuh pingsan.
Sagina dan Mira yang sedang asyik memilah-milih aksesories, berlari berhamburan saat mendengar sesuatu terjatuh ke lantai. Vas bunga yang berada di dekat di mana Fey tadi berdiri pecah tersenggol.
Keduanya menghampiri Fey, Sagina panik dan berteriak histeris. Kenzo yang melihat dari kaca luar kekacauan yang terjadi di dalam, langsung berlari kembali memasuki ruangan.
"Gin, Fey kenapa?"
"Mas, ngapain kamu di sini?"
"Sudahlah, nanti aku jelaskan. Mari sini, biar aku bopong Fey."
Sagina, Mira dan suaminya menepi ke pinggir. Kenzo segera mengangkat tubuh kekasihnya, dan membaringkannya di sofa.
"Ini kayu putihnya," ucap Mira, menyodorkan sebotol minyak kayu putih kepada Kenzo.
Peluh membanjiri wajah Kenzo, ia sangat panik atas apa yang sedang menimpa kekasihnya itu.
"Badan Fey dingin sekali, Gin. Wajahnya juga pucat, apa yang terjadi?"
"Aku gak tau, tadi baik-baik aja kok. Ya kan, Kak Mira?"
"Iye', adik Feylin baik-baik, walaupun terus saja melamun, tidak bergairah. Apa mungkin dia belum makan?"
Sagina menepok jidatnya, "aku baru ngeh, dia lagi puasa. Cum dia gak sahur, malah semalam pas kita semua makan bersama, dia menolak dan lebih milih mengurung diri di kamar."
"Ya Allah, aku yang salah. Membuatnya seperti ini."
Kenzo mengusap-ngusap telapak tangan Fey yang dingin, bagaikan es.
"Sejak dilamar, dia jadi murung dan pendiam. Gak ada semangat sama sekali."
Kenzo tak berhenti berusaha untuk membuat Fey sadar. Botol minyak kayu putih pemberian dari Mira tadi, ia dekatkan ke hidung.
Mira dan suaminya segera masuk ke dalam, bermaksud mau membuatkan segelas teh manis hangat untuk Fey.
Sedangkan Sagina keluar ruangan, menerima telpon dari kekasihnya.
Perlahan, mata Fey yang sedari tadi terpejam, terbuka.
Kenzo lega, saat melihat belahan jiwanya itu siuman.
"Kamu sudah sadar?"
Fey menaikkan tubuh, kepalanya bersandar pada sandaran tangan sofa.
Lalu Mira pun datang, membawa segelas teh manis hangat dengan irisan jahe di dalamnya.
"Dik, ini minum dulu!"
Fey menggeleng, "tabe', Kak Mir, aku lagi puasa."
"Ndak usah dipaksa, minumiki, supaya ada tenaga dan hangat perut'ta, Dik!"
"Tabe', Kak Mir. Aku minum nanti saja saat adzan maghrib, nanggung tinggal satu jam lagi."
Mira melirk jam dinding yang menempel di atas pintu masuk ruangan depan.
"Ya sudah, ndak usah cepat-cepat pulang, istirahat dulu di sini."
"Iye', Kak Mir. Terimakasih banyak."
"Iye', Dik. Sama-sama, Kakak tinggal ke dalam ya. Mau selesaikan persiapan yang lain."
"Iye', silahkan Kak."
Sepeninggal Mira, Kenzo berpindah duduk, kini ia duduk di tepi sofa tepat di samping pinggang Fey.
"Batalkan puasamu, minum teh manis ini sekarang!"
"Maaf, Mas. Aku gak bisa, aku sedang puasa, mengikuti prosesi yang seharusnya."
"Jangan abaikan kesehatan! Hanya demi mengikuti tradisi."
"Sudahlah, Mas. Jangan buat aku tersiksa, tinggalkan aku sendiri!"
"Aku tidak akan pergi, sebelum kamu mau minum teh manis ini."
Fey menangkupkan kedua tangannya, menutupi wajah. Ia menangis tersedu.
Melihat hal itu, Kenzo sungguh tidak tega. Dengan spontan, ia pun berkata, "menikahlah denganku!"
***
Nah loh, kira-kira Kenzo bakal bocorin semuanya gak?
Akan terjawab di part selanjutnya, pantengin terus ya maakk.
Jangan ngatain author jahat karena gantung cerita, ππ π
Anggap semua ini adalah ujian kesabaran maakk, wkwk.
***
__ADS_1
-Bersambung-