Lepas Masa Lalu

Lepas Masa Lalu
Lepas Masa Lalu


__ADS_3

*Part - 19*


Fey membuka mukena dan kemudian melipatnya, begitu pula Kenzo, ia pun melepaskan baju koko serta sarungnya.


Beberapa saat kemudian, Kenzo mendekat ke arah istrinya yang sedang menatap ke luar jendela. Kedua tangannya dilingkarkan ke pinggang sang istri.


"Lihat apa?"


"Lihat kamu."


"Kok aku?"


"Di manapun, aku selalu lihat kamu."


"Cie, sudah pandai menggombal juga rupanya."


"Hehe, demi suami tersayang, apa pun akan aku lakukan."


"Betulkah?"


"Huum."


"Bohong, ah."


"Beneran!"


"Buktinya, tadi sewaktu di cafe kamu menolak aku cium. Haha."


"Maas, gak segitunya juga kali."


"Haha, katanya 'apapun akan aku lakukan', gitu aja gak berani, cemen."


Fey memonyongkan bibirnya dan membuang pandangan ke luar jendela.


Melihat sang istri bertingkah seperti itu, Kenzo pun tertawa lalu menyelipkan rambut panjang istrinya ke belakang telinga, bibir pria tampan itu mendekat ke pipi sang istri.


Sebuah ciuman penuh dengan cinta mendarat di pipi kanan Fey, langsung saja wanita berkulit putih bersih itu tersenyum dan menunduk malu.


Tanpa berbicara lagi, Kenzo langsung menggendong tubuh istrinya menuju ke peraduan.


"Izinkan aku menunaikan salah satu kewajibanku, Istriku."


"Iya, Suamiku sayang."


Dan kemudian, mereka berdua pun terlena dalam belaian cinta, terbuai dalam manisnya madu asmara. Keduanya tak dapat lagi menahan gejolak hasrat yang menggelora di dalam dada mereka.


Tak lama, rintik hujan pun turun membasahi bumi, hal itu membuat suasana malam pertama mereka semakin romantis dan juga syahdu.


...


"Pfuuhh!" Kenzo meniup anak rambut yang menutupi sebagian wajah istrinya.


Fey menggeliat dan mengerjapkan matanya.


"Bangun, Sayang! Sudah adzan subuh, aku mau ke mesjid sama Opu."


Sambil tersenyum, Fey mengangguk dan segera beranjak mengambil handuk yang diberikan oleh suaminya.


"Mas tampan sekali," puji Fey, saat melihat suaminya telah siap dengan baju koko dan sarung juga pecinya.


"Bawaan dari lahir, limited edition ini. Jadi kata Allah, aku ini harus buat kamu, supaya serasi."


"Hehe, pede abis."


"Harus dong, kalau gak pede mana bisa aku jadi suami kamu?! Hehe, ya sudah mandi sana, itu Opu sudah manggil aku."


"Iya, Sayang."


"Aku berangkat dulu, assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Kenzo bangkit dan melangkah keluar dari kamar. Di ruang tamu tampak ayah mertuanya sudah menunggu, selanjutnya mereka berdua pun berangkat bersama untuk menunaikan sholat subuh di mesjid.


Usai mandi dan sholat, Fey langsung ke dapur membantu sang ibu yang sedang sibuk memasak.


"Met pagi, Mama."


"Pagi juga, Sayang. Segar sekali anak Mama ini, rambutnya basah, kehujanan semalam kapang (kali/mungkin)? Hehe," goda Khadijah.


Fey tersipu malu, ia memeluk ibunya dari belakang.


"Jangan begitu dong, Ma. Maluka dikasih begitu."


"Sudah biasa itu, Nak. Namanya juga pengantin baru, bahagia sekali Mama lihatnya."


"Makasih, Ma. Mama masak apa?"


"Ini sedang goreng pisang, untuk teman Opu dan Kenzo ngopi."


"Apa yang bisa Fey bantu, Ma?"


"Tuangkan saja itu air panas yang ada di panci ke cangkir."


"Iye', Ma."


Fey pun beringsut ke samping ibunya, melakukan apa yang disuruh tadi.


"Setelah itu naikkan panci dandang, Nak."


"Apa isinya Ma?"


"Sokko (ketan), sama ampas kelapa. Untuk sarapan."


"Aih mantap sekali, narinduka sarapan macam gini, di Jakarta susah mau sarapan kaya gini. Banyaknya nasi uduk, nasi kuning, bubur ayam atau lontong sayur. Bosanka."


"Makanya tinggalmi di sini, jangan pindah ke Jakarta."

__ADS_1


"Hehe, Fey manut aja sama Mas Kenzo."


"Nanti Mama mau bilang sama Opu, supaya bicara sama Kenzo, suruh buka cabang di sini saja. Supaya kalian bisa dekat dengan kami."


"Fey setuju, Ma."


"Lagipula kalau kalian tinggal di Jakarta, Mama takut dan cemas, Kevin dan juga mertuamu akan bertindak yang ndak-ndak."


"Semoga saja ndak, Ma. Fey pun tidak akan tinggal diam."


"Apa sebaiknya Kenzie tinggal bersama kami, Nak? Supaya lebih aman dari jangkauan Kevin."


Fey menggeleng, wajahnya langsung berubah sendu.


"Janganmi, Ma. Biarlah Kenzie tinggal bersama Fey, ada Mas Kenzo juga yang akan menjaga kami. Jangan cemas ya, Ma."


"Baiklah kalau begitu, Nak."


Fey merangkul pundak sang ibu, Khadijah pun kemudian mencium kepala putri semata wayang yang sangat dicintainya itu dengan penuh kasih.


...


Seminggu kemudian, Kenzo memboyong istri dan juga keponakan yang kini statusnya sudah berubah menjadi putranya itu ke ibu kota.


Sesampainya di Jakarta, Kenzo langsung membawa Fey dan juga Kenzie ke sebuah rumah minimalis, dengan halaman yang tidak terlalu luas, namun bersih dan teduh. Di atas lantai keramik berwarna coklat keemasan itu berjejer rapi pot-pot bunga yang tampak sangat terawat.


"Kita akan tinggal di sini, silahkan masuk Mami dan Kenzie."


Fey tersenyum dengan penyambutan yang dilakukan oleh suaminya.


"Rumah kita ini, Mas?"


"Iya, tapi masih cicil. Gak apa-apa ya?"


"Gak apa-apa, Sayang. Walaupun ini rumah kontrakan, aku bahagia."


Kenzo merangkul sang istri dan mengecup keningnya, "makasih istriku sayang."


Fey mengeratkan pelukan dan mencium pipi suaminya, "aku sangat mencintaimu, untuk itu tinggal di manapun, bagiku asal bersamamu, itu sudah lebih dari cukup."


"Ya Allah, aku sangat terharu."


"Aku selalu bahagia bila bersamamu, suamiku."


"Aku juga, Sayang. Mari aku antar ke kamar, kita baringkan Kenzie di kasur. Kasihan badannya pasti pegal karena di gendong terus."


"Iya, Mas."


Kenzo berjalan di belakang istrinya, ditaruh kedua tangannya diatas bahu wanita yang sangat dicintainya itu.


Keduanya berjalan ke depan sebuah kamar yang tidak jauh dari ruang tamu, Kenzo membuka kenop pintu dan menunjukkan kamar baru untuk mereka tempati.


"Ini dia kamar kita, walaupun perabotannya sederhana, gak apa-apa ya?"


"Jangan bicara gitu ah, aku bukan istri yang gila harta dan kemewahan."


Usai membaringkan putranya, Fey berjalan mendekati suaminya, lalu mengajaknya untuk duduk bersama di bibir ranjang.


"Semua yang Mas lakukan selama ini membuatku juga Kenzie sangat bahagia. Aku dan Kenzie adalah manusia yang paling beruntung, karena memiliki pria hebat sepertimu."


Fey menggelayut manja, menyandarkan kepalanya ke bahu sang suami.


"Yuk!"


"Yuk apa?"


"Kasih Kenzie adik."


Fey tertawa dan kemudian mengangguk setuju.


...


"Bisa-bisanya dia nikahin pelacur sialan itu!" sungut Anggun kepada suaminya.


"Cocoklah, aku gak masalah si Kenzo itu nikah sama siapa pun juga."


"Jangan gitu dong, Pi! Biar bagaimana dia itu anakku, harusnya dia nurut apa kata aku. Jangan kaya gini caranya, ngelunjak banget."


"Lah memang dari dulu dia itu ngelunjak sama kita, gak tahu diri udah dipiara dan kita sekolahin sampai kuliah, tapi selalu saja membangkang sama kita. Anak apa itu namanya? Pantes gitu dia dapet perhatian dari kita?! Aku sih seneng dia udah angkat kaki dari sini, gak perlu capek ngusir."


Anggun menunduk lesu.


"Aku kepingin mempermalukan pelacur itu, Pi."


"Terus kamu ajak lagi anakmu itu masuk ke rumah ini lagi?"


"Enggak, aku hanya kepingin bikin si pelacur itu kehilangan muka di depanĀ  orang banyak. Aku gak suka coba hancurin hidup Kevin dulu, gagal rencananya, sekarang malah si Kenzo yang kejebak."


"Aku juga masih gak terima kalau ingat dulu dia datang ke sini, merengek minta dinikahin sama si Kevin. Bisa-bisanya dia mengarang cerita!"


"Aku punya rencana, Pi."


"Apa itu?"


Kemudian Anggun pun membisikkan rencananya itu kepada sang suami, Rahmat mengangguk dan mengacungkan jempolnya tanda setuju.


...


"Sayang," bisik Kenzo.


"Apa, Sayang?"


"Mami barusan telpon aku."


"Ada apa?"


"Beliau memintaku mengajakmu ke rumah."

__ADS_1


Fey menarik kaos suaminya, wajahnya langsung berubah sendu.


"Aku gak mau, Sayang."


"Kenapa?"


"Gak mau, aku takut. Takut dipermalukan lagi."


"Sayang, kan ada aku. Kamu pikir memangnya aku akan diam kalau sampai Mami berbuat gitu lagi sama kamu, Yang?!"


Mata Fey berkaca-kaca, "tapi Sayang, aku benar-benar gak siap dan sangat takut."


"Kamu gak percaya sama aku?"


"Gak gitu, Sayang."


"Ya sudah, pikir apa lagi. Kalau kamu yakin aku bisa jagain kamu, ayo kita temui Mami!"


"Tapi ...."


"Apalagi, Sayaang?"


"Kenzie, jangan diajak ya. Biar Gina yang jaga."


"Harus?"


"Harus, Sayang. Aku gak mau Kenzie ikut, cukup aku saja yang bertemu dengan Mamimu."


"Iyaa, baiklah kalau gitu."


"Kapan kita akan ke rumah Mami?"


"Malam ini."


"Ya sudah kita ke apartemen Gina ya sekarang, supaya gak kemalaman pulangnya."


"Iya, Sayang. Aku siap-siap dulu."


"Ok, aku juga mau mandikan Kenzie dulu."


"Maminya juga mandi doong, supaya wangi dan makin cantik."


"Hehe, iya. Nanti setelah Kenzie mandi, aku yang mandi Papiii."


"Barengan ya."


"Huhu, Papi mesum."


"Haha, mau?"


"Ogaaahhh, malu sama emak-emak yang baca. Hihi."


"Ya jangan berisik dong, mereka ngertiin kok."


"Nggak! Sudah ah, aku mau mandiin Kenzie dulu."


Kenzo menarik daster istrinya, lalu mengelitik perut dan naik ke leher.


"Haha, ampuunn Sayang. Geliiii."


"Haha, gemeesss."


Seolah mengerti ibunya sedang dikerjai oleh ayahnya, Kenzie pun ikut berceloteh dan tertawa sambil mengayun-ayunkan kaki dan tangannya.


...


Ba'da maghrib Kenzo dan Fey tiba di tujuan.


Kedua tangan Fey serasa membeku, ia dilanda ketakutan yang luar biasa.


"Ada aku, jangan takut ya!" ucap Kenzo sesaat sebelum turun dari mobil.


Fey mengangguk ragu.


Tak lama, keduanya pun turun dan berjalan menuju teras rumah.


Kenzo memencet bel rumah, seorang asisten rumah tangga yang sudah lama bekerja di rumah itu membukakan pintu.


"Mas Kenzo dan ... Non Fey?"


"Iya, Bik. Fey adalah istriku, sudah kenal?"


Wanita paruh baya bertubuh gempal itu pun mengangguk pelan dan tersenyum kepada Fey.


Fey membalas senyuman dan kemudian menyapanya, "apa kabar, Bik?"


"Baik, Non. Mari silahkan masuk!"


Kenzo merangkul bahu sang istri, lalu mengajaknya untuk masuk ke dalam ruang keluarga.


Di dalam ruang keluarga, Anggun beserta Rahmat dan juga Keanu tengah duduk bersantai di sofa, rupanya mereka sudah menunggu kedatangan pasangan pengantin baru.


Wajah Keanu sangat bahagia, manakala bertemu dengan guru kesayangannya. "Bu Feylin," serunya sambil mencium punggung tangan Fey.


Anggun dan Rahmat merasa jijik saat melihat putra bungsunya menyambut Fey dengan sangat ramah, keduanya saling berpandangan, Anggun menaik turunkan alisnya, memberikan kode-kode yang hanya dimengerti oleh mereka berdua.


***


Kira-kira apa rencana ibu mertua si Fey?


Kapan kira-kira Fey ketemu sama Kevin, sang mantan pacar?


Jawabannya di part selanjutnya.


***


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2