Lepas Masa Lalu

Lepas Masa Lalu
Lepas Masa Lalu


__ADS_3

Part - 4


...*...


Kinerja Fey di sekolah menengah atas tempat dimana kini ia mengajar patut diacungi jempol, berkat cara mengajarnya yang baik serta cara pendekatan kepada para muridnya membuat dirinya dinobatkan menjadi guru teladan.


Hal itu membuat dirinya resmi diangkat menjadi tenaga pengajar tetap, di sekolah swasta yang cukup elite dan terkenal itu.


Fotonya terpampang di mading dekat pintu masuk ruang guru.


Dirinya sangat disayangi oleh semua murid di sekolah itu, khususnya murid kelas 3 jurusan IPA.


Kesibukannya sebagai seorang guru matematika plus guru les privat dengan mata pelajaran yang sama di luar jam sekolahnya, membuat dirinya semakin bersemangat dalam menjalani hidupnya kini.


Namun dibalik kesuksesan yang diraihnya, ada seseorang yang merasa iri.


Seorang guru wanita senior, usianya tiga puluhan.


Merupakan seorang perawan tua, yang diputuskan oleh kekasihnya lima tahun yang lalu. Padahal dia dengan sang kekasih sudah bertunangan dan akan segera melangsungkan pernikahan.


Ia sangat muak dengan segala sukacita yang didapatkan oleh Fey.


Rianti tidak terima kalau Fey dinobatkan sebagai guru teladan, padahal baru mengajar selama enam bulan lamanya. Sedangkan dia sudah hampir sepuluh tahun lamanya mengabdikam diri, tapi tidak pernah sekalipun mendapatkan predikat yang sangat membanggakan itu.


"Lihat saja kamu Fey, akan aku buat kamu malu dan dikeluarkan dari sekolah ini," rutuk Rianti sambil turut bertepuk tangan dalam perayaan keberhasilan Fey yang dinobatkan menjadi guru teladan.


"Selamat saya ucapkan kepada Ibu Andi Feylin Rahim, atas prestasi dan dedikasinya yang luar biasa terhadap murid dan sekolah ini. Berkat beliau, sekolah kita dapat menjuarai kompetisi Matematika tingkat Nasional.


Dan yang paling membanggakan, sebentar lagi sekolah kita ini akan mengikuti kompetisi di tingkat Asia. Sungguh pencapaian yang sangat patut diacungi jempol.


Tanpa lelah, dalam kondisi berbadan dua, Ibu Feylin memberikan ilmu serta edukasi kepada Keanu agar dapat menguasai setiap materi yang akan dilombakan.


Ibu Feylin juga tanpa mengeluh dan tetap bersemangat walau hari liburnya di Sabtu dan Minggu harus masuk untuk kembali memberikan arahan kepada Keanu.


Dan yang paling mengharukan, tidak pernah sekalipun Ibu Feylin marah ataupun kesal kepada Keanu juga anak didiknya yang lain, saat mereka belum mengerti tentang materi yang telah dijelaskan. Walaupun beliau telah berkali-kali mengulang isi dari materi yang sedang dipelajari tersebut.


Bu Feylin juga tidak segan memberikan les privat setelah jam pulang, hal itu beliau lakukan agar anak didiknya dapat mendapatkan nilai yang baik. Apalagi mengingat kelas 3 SMA adalah masa-masa yang sangat rawan.


Untuk itu, saya panggil si Wonder Woman itu. Berikan tepuk tangan yang meriah untuk Ibu Feylin."


Semua murid bersorak bahagia menyambut kedatangan Fey di tengah lapangan indoor, yang terdapat di dalam gedung sekolah tersebut.


Wajah Fey tampak sangat bahagia serta terharu mendapatkan perlakuan seperti itu.


Ia tidak pernah merasa hebat ataupun pintar.


Selama ini ia hanya melakukan kewajibannya sebagai guru, tidak lebih.


Dirinya tidak pernah menyangka kalau usaha yang dilakukannya selama ini, membuahkan hasil yang sangat membanggakan.


"Silahkan Bu Fey, berilah kata sambutan serta motivasi kepada rekan guru lain agar dapat meraih prestasi seperti Ibu. Waktu dan tempat kami persilahkan." ucap Mirna, sang kepala sekolah.


Perlahan Fey naik ke mimbar yang telah disediakan.


Dengan mata berkaca-kaca, wanita yang kini tengah hamil delapan bulan itu melambaikan tangan kepada seluruh murid yang berbahagia menyambutnya.


"Assalamualaikum, selamat pagi Ibu Ketua Yayasan, Ibu Kepala Sekolah beserta rekan-rekan guru yang saya hormati. Serta semua murid yang sangat saya cintai.


Sebelumnya saya haturkan rasa syukur saya kehadirat Allah, yang tiada henti selalu memberikan nikmat serta berkahNya.


Saya tidak tahu harus mengucapkan apa di sini, yang jelas semua ini gak akan bisa saya raih tanpa ada kerjasama serta kesungguhan dari semua murid, khususnya Keanu di ajang kompetisi bergengsi itu.


Ibu bangga kepada kalian, anak-anakku tercinta. Semoga kalian menjadi orang sukses.


Sekian yang dapat saya sampaikan, wassalamualaikum warohmatullahi wabarakatuh."


Riuh semua orang menjawab salam Fey.


Sagina yang hadir di acara perayaan kecil-kecilan itu tersenyum bangga, bulir air mata jatuh di ujung matanya.


Sebagai sahabatnya, ia tentu merasa bangga akan kemajuan Fey.


Ia sangat bahagia, akhirnya sahabatnya itu bisa bangkit dari keterpurukan.


Sesaat setelah bertepuk tangan, Sagina teringat kepada Khadijah, ibunda dari Fey.


Wanita yang kini mulai memanjangkan rambut atas permintaan kekasihnya itu pun, langsung merogoh ponsel di saku celananya.


Jarinya mengusap layar android berukuran 5" dan kemudian menghubungi wanita yang sudah dianggapnya ibu itu lewat


"Assalamualaikum, Tante."


"Waalaikumsalam, Nak Gina."


"Tante, apa kabarnya?"


"Alhamdulillah baik, Nak. Nak Gina dan Fey bagaimana kabarnya?"


"Kami sehat juga, Tante."


"Ada apa Nak Gina menelpon pagi-pagi begini? Fey bersalin kah?"


"Hehe, nggak Tante. Ini aku lagi di sekolah tempat Fey mengajar."


"Ada apa dengan Fey?"


"Putri kesayangan Tante itu, baru saja mendapatkan penghargaan karena kinerjanya yang sangat baik dan mengharumkan nama sekolah."


"Masya Allah, benarkah itu Nak?"


"Iya, Tante. Fey baru saja turun dari mimbar, habis kasih sambutan. Aku terharu atas keberhasilannya."

__ADS_1


"Hiks, tante bangga. Sangat bangga, hal ini akan tante ceritakan kepada Opu. Semoga dengan berita baik ini, Opu mau menghilangkan egonya dan mau menemui Fey."


"Amiin, aku doain mudah-mudahan Opu mau memaafkan Fey ya Tante."


"Amiin, terimakasih ya Nak, sudah mengabari. tante jadi bersemangat hari ini."


"Sama-sama, Tante."


Usai mengucap salam, Sagina pun memasukkan kembali ponsel ke dalam saku celananya.


Dari kejauhan tampak sosok Fey berjalan ke arahnya.


Setelah dekat, wanita dengan rambut diikat kuncir kuda itu pun langsung memeluk sahabatnya.


"Selamat Feeeeyyy, gue bangga banget sama lo."


"Makasiihh, Gin. Udah mau nyempetin dateng ke sini. Mana Mas Arash? Kok dia gak ikut."


"Mas Arash titip salam, dia sibuk banget di resto karena partner bisnisnya datang dari Bandung hari ini."


"Waalaikumsalam, nanti pulangnya kita mampir yuk ke resto Mas Arash. Aku kepingin makan udang bakar madu."


"Ok, sip."


"Lihat Gin, reward yang aku dapat."


Fey menyerahkan sebuah amplop coklat panjang kepada Sagina.


Dengan mata berbinar, Sagina membuka amplop tersebut.


"Wow, fantastis ... uang tunai dua puluh juta, dan piagam sertifikasi grade A. Alhamdulillah Feeeyyyy, gue bangga banget."


"Uang ini mau gue kasih semua untuk Mama, Gin. Ini bisa buat tambahan tabungan haji Opu dan Mama."


"Ide bagus, gue setuju banget. Pasti Tante dan Oom akan senang."


"Mama gue yakin senang, tapi gue nggak yakin dengan Opu, Gin." wajah Fey berubah lesu.


Sagina meremas bahu sahabatnya, "bismillah, Opu akan melunak. Beliau sangat menyayangimu, apalagi kini dengan prestasimu sekarang, gue yakin beliau akan luluh. Jangan sedih gitu, semangaatt!"


"Amiin, makasih Gin selalu ada buat gue."


"Iya, sama-sama beib."


"Ish, mulai deh nyebelin." sungut Fey sambil memukul lengan Sagina.


"Hihi, sorry-sorry."


...


"Wah-wah, ada Ibu guru teladan."


"Mas Arash, bisa aja. Hehe."


"Waahh, makasih banyak Mas Arash. Yes."


Arash tersenyum.


"Kalau aku free juga gak, Mas?"


"Apa sih yang gak free untuk kesayangan aku?"


Sagina tersipu malu.


Melihat sahabatnya menunduk malu, Fey terkekeh.


"Aku pindah tempat duduk ya, kasihan sahabatku ini kayanya kangen berat sama kamu, Mas."


"Ish, apaan sih lo Fey."


"Beneran juga nggak apa-apa, Gin," timpal Arash.


Sagina cengengesan digoda oleh kekasihnya seperti itu.


Dan Fey, ia pun langsung berpindah duduk ke meja depan. Ia duduk membelakangi kedua sejoli yang sedang dibuai asmara.


Arash yang diberikan tempat untuk berduaan bersama Sagina, tersenyum lebar dan langsung menarik kursi di samping kekasihnya itu.


Mereka berdua pun terlibat dalam perbincangan yang sangat seru, sementara Fey sedang melepas rindu sekaligus memberi kabar bahagia kepada sang ibu di telpon.


Lima belas menit kemudian, makanan yang dipesan pun tiba.


Pelayan yang membawa nampan berisi hidangan itu pun mencolek lengan Arash, "Maaf Pak mengganggu, Pak Kenzo cari Bapak."


"Oh iya, sebentar saya ke kantor."


"Baik, Pak."


"Hidangan ini, masuk ke tagihan saya ya Guh."


"Siap, Pak. Saya sudah pahim, hehe."


"Good job."


Setelah berpamitan kepada Sagina juga Fey, Arash pun berlalu melangkahkan kaki menuju kantornya.


"Heh, Bumil. Pindah sini duduknya!"


Fey berbalik dan menggeleng, "ogah!"


"Kampret, masa gue makan sendirian?"

__ADS_1


"Bentaran lagi juga Mas tercinta lo itu datang lagi kemari, dan gue ini akan kembali jadi pengharum ruangan buat lo berdua. Huh!"


"Haha, gak gitu juga kalee."


"Udah ah, jangan berisik. Gue mau nikmatin udang bakar gue. Diem-diem lo punya mulut, jangan ngemeng terus."


Sambil bersungut, Sagina melemparkan sepotong kentang goreng yang ia ambil dari dalam piring di mejanya.


"Diem Bondol! Ganggu orang seneng aja, ah."


Usai menyantap makanan, tampak Arash bersama seorang pria yang postur tubuhnya lebih tinggi darinya berjalan ke arah Sagina dan Fey sedang duduk.


"Gin, Fey ... kenalkan ini Kenzo, partner bisnisku."


Sagina berdiri menyalami partner bisnis kekasihnya itu, sementara Fey tidak menyadari kehadiran Kenzo dan Arash karena sedang asyik bermain game di ponselnya.


"Fey, udahan dulu main gamenya, itu ada teman Arash."


"Eh, euh ... iya, sorry."


Fey segera manaruh ponselnya di atas meja.


Wanita berbadan dua itu kemudian menjabat tangan Kenzo, sembari menyebutkan namanya.


Kenzo menatap lekat wajah Fey, ia sangat terpesona melihat aura kecantikan alami gadis keturunan Bugis itu.


Namun rasanya ia gugurkan, saat melihat perut buncit Fey.


'Sayang sekali, sudah bersuami.'


"Hey, Bro. Udahan kali jabat tangannya."


"Sorry, Fey. Malah ngelamun," jawab Kenzo malu-malu.


"Ngelamun apa jatuh cinta pada pandangan pertama, Mas Bro?" ledek Arash.


Dan mereka berempat pun tertawa, lalu kemudian duduk berbincang bersama.


"Jadi, kamu guru di SMA Bina Insani?" tanya Kenzo.


"Iya, Mas. Aku mengajar matematik, kelas 3."


"Adikku juga sekolah di sana, kelas 3 juga."


"Siapa?"


"Keanu."


"Juara olimpiade matematika tingkat nasional dan sebentar lagi akan mewakili Indonesia ke tingkat Asia itu kan?"


"Ya, betul. Tadi juga aku baru dari sekolahannya, diminta jadi pendampingnya. Tapi sayang, karena terlambat datang jadinya acara perayaannya sudah selesai. Semua murid di bebas belajarkan."


"Hehe, iya betul Mas. Makanya saya ada di sini sekarang, karena sekolah diliburkan khusus hari ini."


"Mas Kenzo tahu gak guru pembimbingnya Keanu siapa? Sampai bisa hebat begitu?" tanya Sagina.


"Aku dengar guru baru di sekolah itu, masih muda. Sayangnya aku tadi gak sempat bertemu, karena sekolah sudah sepi."


"Jangan kecewa, Mas. Karena orangnya ada di depanmu."


"Fey? Jadi kamu ...."


Fey mengangguk dan tersipu malu.


"Keren, di usia muda dan dalam keadaan hamil tua kaya gitu kamu bisa menunjukkan etos kerja yang maksimal. Sungguh luar baisa, aku yakin suamimu sangat bangga punya istri sepertimu."


Air muka Fey langsung berubah sendu, saat Kenzo menyinggung masalah suami di dalam pembicaraannya.


"Gin, kita pulang yuk!" ajak Fey, memaksa.


"Eh, iya."


"Mas Arash, Mas Kenzo ... kepalaku pusing, aku pamit ya."


Kenzo dan Arash mengiyakan.


Fey menarik paksa tangan sahabatnya dan berjalan cepat meninggalkan kedua pria yang masih duduk di sofa berwarna orange-kuning.


Sepeninggal Fey dan kekasihnya, Arash langsung menepuk bahu sahabatnya yang masih terheran atas perubahan sikap Fey yang tiba-tiba.


"Jangan singgung soal suami sama si Fey, Bro. Dia hamil tanpa suami, pacarnya menolak menikahinya. Dan dia juga dikucilkan oleh ayahnya karena aib itu. Jadi saat lo berucap soal suaminya akan bangga punya istri kaya dia, dia langsung tersinggung dan sedih."


"Ya Allah, gue gak tahu Rash. Sungguh gue gak tahu. Gue jadi gak enak banget ini."


"Udahlah gak apa-apa, kan lo gak tahu kondisi doi. Santai aja, Bro."


"Tetep aja gue gak enak, Bro."


"Ya udah gini aja, tar malam kita berkunjung ke apartemen Sagina. Doi tinggal bareng sama Sagina. Lo bisa minta maaf langsung sama doi."


"Okelah, thanks ya Rash."


"Sip, eh gue titip ya sama lo. Jangan bocor sama adik lo tentang status si Fey, karena doi ngaku ke sekolah itu adalah seorang janda."


"Iyalah, gue juga tahu kok. Gue akan keep."


"Ok."


Kenzo kembali tercenung, ia tidak menyangka kalau wanita pintar dan hebat seperti Fey ternyata mengalami perlakuan tidak baik dari kekasihnya.


Namun entah mengapa, ada rasa bahagia menyeruak di dalam hatinya saat mengetahui kalau guru dari adiknya itu ternyata belum memiliki suami.

__ADS_1


...*...


**Bersambung**


__ADS_2