
"Kemasi pakaian, kita tinggal di apartemen Sagina untuk sementara waktu."
Fey mengernyitkan dahi, tak mengerti mengapa suaminya itu enggan untuk tinggal di rumah orang tuanya.
"Tapi, kenapa, Mas?"
"Sudahlah, jangan bantah aku, aku mohon."
"Tapi, Mas, ini sudah malam. Kenzie sudah tidur, dan ...."
"Jangan bantah, kalau memang kamu tidak mau, sudahlah biar aku saja yang menginap di apartemennya Sagina."
Kenzo bangkit dari sofa dan berlalu keluar dari kamar, meninggalkan Fey dan putranya yang tengah tertidur pulas.
Sepeninggal Kenzo, Fey pun menangis. Ia sedih karena suaminya berani membentak dengan nada yang tinggi.
Tak ingin memperkeruh keadaan, sambil terisak ia pun segera mengemasi pakaian ke dalam koper.
Setelah selesai packing, kemudian ia segera menggendong Kenzie dengan gendongan sling. Lalu berjalan dengan gontai, keluar dari dalam kamar.
Air mata wanita keturunan Bugis itu tak juga surut, pipinya basah.
"Aku siap untuk pergi, Mas." Tanpa menunggu jawaban, Fey meninggalkan suaminya yang sedang duduk di sofa ruang tengah, berjalan menuju mobil yang terparkir di garasi.
Tak lama kemudian, Kenzo pun muncul dari dalam rumah dan memasuki mobil.
Tanpa bicara, lelaki berwajah oriental itu melajukan mobilnya di jalanan aspal yang basah karena hujan seharian tadi turun mengguyur bumi.
Langit terus menerus mendung semenjak awal sang surya menampakkan diri, seolah ikut bersedih atas apa yang sedang menimpa keluarga Kenzo.
Lelaki itu hancur, sehancur-hancurnya saat harus menerima kenyataan kalau ibu yang selama ini sangat haus akan harta itu harus mendapatkan balasan yang pedih dari Tuhan.
Makanya wajar bila emosinya tak terkontrol, sehingga Fey menjadi pelampiasan atas kekesalannya itu.
Mereka sampai pelataran parkir apartemen, Kenzo menoleh kepada istrinya sesaat sebelum turun dari mobil.
"Biar aku yang gendong Kenzie," ucapnya pelan.
Fey menggeleng, "Mas bawakan koper saja."
"Baiklah."
Mereka pun turun dan bergegas memasuki gedung puluhan lantai itu.
Saat sampai di dalam apartemen, Fey langsunh membaringkan tubuh gemuk putranya. Lalu ia ke kamar mandi untuk mencuci muka dan kaki.
Kenzo membuka pintu kaca dan berdiri melamun menatap pemandangan kota Jakarta malam hari dari atas balkon.
Gurat kekecewaan tampak jelas di wajahnya, beberapa kali ia menghela napas panjang, berusaha menenangkan hati dan juga pikirannya.
Di saat sedang asik sendiri, tanpa ia ketahui Fey berjalan mendekat ke arahnya. Wanita itu tanpa ragu, langsung memeluk tubuh tegap suaminya dari belakang.
Disandarkannya kepala di punggung Kenzo, matanya terpejam dan mulai bicara dengan nada yang lemah lembut.
"Maafin aku ya, Mas. Aku gak bermaksud bantah, hanya saja karena Kenzie sudah bobo, kasihan."
Kenzo membalikkan tubuhnya, lalu menarik istrinya ke dalam pelukannya. Pucuk kepala Fey diciumnya, lalu didongakan wajah cantik yang tampak sendu itu dan ia mencium bibirnya sekilas.
"Aku yang harusnya minta maaf, karena kesal dan kecewa, akhirnya aku malah marahin kamu."
"Aku ngerti kok, Mas."
Kenzo tersenyum dan mengeratkan pelukan, "aku ...."
"Mas kenapa?"
"Aku ...."
"Mas kenapa?"
__ADS_1
"Lapar, hehe."
"Ya ampun, Papi Kenzie lapar," ledek Fey, sambil mencium dada bidang suaminya.
"Aku turun dulu ya cari makan."
"Ok, tapi pakai jaketnya ya, cuaca sedang dingin. Besok kita harus pulang ke Bandung, aku gak mau Mas sakit."
"Iya, Sayang. Jaket ada di mobil. Kamu mau dibawain makanan apa?"
"Gak usah, aku gak lapar."
"Dari siang, kamu pun belum makan."
"Mas saja, aku gak lapar."
Kenzo mengerucutkan bibirnya, lelaki jangkung itu pun merajuk, "Ya udah, aku juga gak mau makan."
"Huu, manja!" ledek Fey, menjepit gemas hidung suaminya. " Ya sudah, aku mau makan, tapi suapin ya!"
"Yes, aku berhasil ngambek! Haha," ujar Kenzo sambil tertawa.
Keduanya pun masuk dan sementara Kenzo keluar dari apartemen untuk mencari sesuatu yang bisa dibeli di luar gedung.
Satu jam kemudian, Kenzo kembali dengan membawa dua bungkus nasi goreng.
"Sayang, bangun!"
Fey mengerjapkan mata, lalu bangkit dari ranjang dan berjalan sambil memeluk tubuh suaminya dari belakang.
"Mau aku suapin?" tanya Kenzo.
Fey menggeleng, "Memangnya aku bayi."
"Kamu kan susah makan, jadi harus aku paksa supaya mau makan."
"Uhuk ... uhuk ... uhuk!" Fey batuk-batuk, sesaat setelah menyuapkan nasi goreng ke mulutnya.
"Mas, pedes banget ...."
"Salah ambil kamu, Sayang." Dengan segera, Kenzo pun mengangsurkan segelas air minum kepada istrinya.
"Mas kuat makan sepedes itu?"
"Kuat lah, aku kn doyan pedas."
"Ih, serem banget. Tenggorokan aku, panas, huh ... hah." Fey mengipasi mulutnya dengan kipas tangan yang terbuat dari anyaman.
Kenzo terkekeh, lalu menyerahkan piring nasi goreng milik Fey dan mengambil piring nasi goreng yang seharusnya menjadi miliknya.
"Maafin aku, ya. Aku kira gak pedes banget."a
"Ini, yang punya aku pedes gak?"
"Anget, kaya pelukan aku."
"Mulai deh, gombal."
Fey memonyongkan bibir, Kenzo yang nakal langsung mencium dan kemudian menahannya cukup lama.
Akhirnya keduanya berciuman, tubuh Fey direngkuh Kenzo.
Terdengar lenguhan Fey, ia sungguh menikmati setiap sentuhan yang dilakukan suaminya.
"Kruyuk ... kruyuk ...."
Fey menarik diri, lalu menatap suaminya, kedua bibirnya yang terkatup itu akhirnya tertawa.
"Makan dulu, baru ciuman. Suara perut Mas Kenzo, ngerusak suasana tau gak, hihi."
__ADS_1
Kenzo menggaruk kepala tidak gatal, lalu ia pun cengengesan.
"Aku suapin, mau?"
"Mau, tapi pake bibir," rajuk Kenzo, menggelayut manja di pundak istrinya.
"Ih, ogah. Pedes, haha."
"Dih, gak ikhlas, tadi nawarin."
"Yang bener aja, Mas. Masa iya, nyuapin nasi goreng dari mulut ke mulut," sungut Fey.
"Ahaha, sentimen banget, bercanda keleus. Tar kita main permen ya, oper-operan, hehe."
Kenzo mengecup pipi Fey, lalu kembali duduk di kursinya untuk menikmati nasi goreng pedas yang dibelinya tadi.
"Nakal," jawab Fey mencubit gemas pinggang suaminya.
Keduanya tertawa, menikmati makan malam yang sudah telat, karena keadaan yang sempat memanas akibat banyaknya insiden yang terjadi di kehidupan mereka.
"Besok pagi, kita berangkat ke Bandung ya, Sayang!"
Kenzo kembali memulai pembicaraan.
"Iya, Mas. Tapi, aku mau nengok mami dulu, boleh?"
Suara Fey terdengar berat.
"Kamu masih mau menengok mami? Setelah semua yang sudah dia lakukan sama kamu, Sayang."
"Yang lalu, biarlah berlalu. Mami sudah menuai hasil dari semua yang ditanamnya. Aku gak mau menghakimi beliau, cukup Allah yang memberi balasan."
"Aku malu, sama kamu, Sayang."
"Jangan gitu, Mas. Buatku, Mas Kenzo sayang dan selalu perhatian sama kami, itu udah lebih dari cukup. Sikap Mami, jangan lagi diingat. Aku gak dendam, meskipun dulu sempat membencinya."
"Cinta aku sama kamu dan Zie, gak akan pernah berubah. Kamu dan Zie adalah anugerah terindah yang Allah berikan di kehidupan aku, dari awal jumpa aku tahu dan merasa kalau kamu itu jodoh terbaik buat aku."
Fey bangkit dari kursi, lalu menghampiri sang suami, ia melingkarkan kedua tangannya leher Kenzo.
"Aku adalah wanita paling beruntung, karena punya lelaki hebat seperti Mas. Dicintai, dihujani kasih sayang, dan selalu diperhatikan setiap waktu, adalah hal yang selalu aku buat aku bahagia. Semoga Allah selalu melindungi Mas, i love you, Honey."
"I love you too," tutur Kenzo, mendaratkan kecupan di bibir istrinya.
"Makannya sudah belum?" tanya Fey, melirik piring milik Kenzo, yang belum habis nasi gorengnya.sebut
"Kenapa gitu?"
"Aku mau main oper-operan permen, hehe."
"Omaygat, istri aku mulai agresif sekarang."
Kenzo bangkit, mengangkat tubuh istrinya, bridal style.
"Mau di mana? Kamar atau sofa?" tantang Kenzo.
"Sofa aja, takut Zie bangun kalau di kamar."
"Okay, Honey. Let's do it." Gula-gula mint berwarna merah, pun diambil oleh Kenzo dari dalam saku celana pendek yang dikenakannya.
"Ini, Sayang," ucapnya, memasukkan permen tersebut ke dalam mulut sang istri dengan bibirnya.
"Do you like, Honey?"
Fey mengangguk.
Kenzo berjalan perlahan menuju ruang tengah, bibirnya berpagutan mesra.
-TAMAT-
__ADS_1