
Part - 24
Anggun bersikap angkuh dan tidak acuh saat putra beserta istri dan cucunya datang. Ia lebih memilih mengunci diri di dalam kamarnya, sesaat setelah berjumpa dengan anak dan menantunya itu.
Penampilan wanita berusia lima puluhan itu tampak kacau. Yang dahulunya selalu full makeup, rapi dan juga wangi, kini tampak berantakan, kumel dan lusuh. Kenzo dan juga sang istri merasa sangat kasihan dengan keadaannya sekarang.
Namun sapertinya Anggun tidak perduli dan masa bodoh dengan perhatian yang diberikan oleh anak dan menantunya itu.
"Maafin Mami ya, Kak!"
"Aku sudah bilang sama kamu, Kean! Kalau aku gak ada harga dan artinya di mata Mami. Sudah kacau seperti itu, Mami masih saja sombong dan egois!" maki Kenzo, sembari menghempaskan tubuhnya di atas sofa di ruang keluarga. "Papimu juga keterlaluan, kemana dia sudah seminggu gak pulang-pulang?"
"Entahlah, Kak. Papi susah dihubungi, kata sekretarisnya, Papi lagi ada kunjungan ke Menado, ada resto cabang baru di sana."
"Ah, bullshit! Palingan juga dia sibuk dengan istri barunya."
"Apa maksud Kakak? Papi poligami?"
"Ya, Papimu itu sudah menikah lagi, malahan dari istri barunya itu, ia sudah punya anak."
Kenzo duduk lemas di sofa, matanya berkaca-kaca dan tangannya mengepal menahan emosinya.
"Kenapa? Kenapa keluarga kita jadi berantakan seperti ini?"
"Bukan kita, tapi kamu. Karena selama ini aku nggak pernah dianggap keluarga oleh Mami dan Papimu."
"Jangan bicara begitu, Kak! Aku sangat sayang kepadamu."
Fey segera menghampiri suaminya, berusaha membujuk dan meredakan kemarahannya.
"Aku salah apa sih, Yang?" Kenzo tersedu di bahu istrinya.
"Jaga ucapanmu terhadap Keanu, dia nggak salah dan nggak tahu apa-apa. Jangan bebani pikirannya dengan masalah Mami dan Papi, Mas. Aku gak mau prestasinya menurun gara-gara kepikiran. Dan untuk Mami, aku mohon maklumin Mami, Mas! Mas harus sabar menghadapinya, yang dibilang Keanu tadi benar. Kita harus mengerti keadaannya saat ini."
"Kenapa harus kita terus yang mengerti Mami, sementara Mami nggak pernah mengerti kita?! Terutama aku, sedari kecil aku nggak pernah dianggapnya. Jangankan mendapatkan pelukan dan ciuman, perhatian saja nggak pernah dia kasih."
Fey beradu pandang dengan adik iparnya, ia merasa bingung harus bersikap bagaimana. Keanu mengangguk dan memberi isyarat dengan tangan, agar kakak iparnya itu membawa suaminya itu ke dalam kamar untuk beristirahat.
"Mas, kita istirahat saja dulu yuk! Pastinya Mas capek sekali, aku nggak keberatan kalau malam ini kita bermalam di rumah ini."
"Aku sudah nggak punya tempat di rumah ini."
"Jangan begitu, Kak! Jangan melawan emosi dengan emosi juga, bukan mereda, malah akan menimbulkan masalah yang ada semakin panas dan panjang, Kak."
"Keanu benar, Sayang. Kalau kita ke apartemen Gina sekarang, kasihan juga sama Kenzie. Masa Mas gak kasihan?!"
Kenzo bergeming, kepalanya bersandar ke bahu sofa dengan mata yang terpejam.
"Kak Ken, Kak Feylin, aku ke kamar dulu ya," pamit Keanu, seolah tidak ingin menganggu keduanya.
"Iya, Kean. Jangan banyak pikiran ya, Dik."
"Iya, Kak. Walaupun aku sangat terkejut dan kecewa dengan keadaan keluarga ini, terutama kepada Papi, tapi aku akan tetap bersikap tenang dan tetap fokus untuk belajar. Aku ingin menjadi orang yang sukses, aku ingin membuat Mami dan Papi bangga kepadaku."
"Hebat! Itu baru adikku. Ya sudah, selamat istirahat ya!" sahut Fey ramah, sementara Kenzo diam dan tetap memejamkan matanya.
"Thanks, Kak Feylin."
Fey mengulas senyum kepada adik iparnya yang beranjak dari sofa, dan berlalu meninggalkan dirinya beserta sang suami.
Sepeninggal Keanu, Fey kembali membujuk suaminya yang masih tidak bisa berdamai dengan keadaan. Tangannya mengusap dada bidang suaminya, lalu melingkarkan kedua tangan ke pinggang pria yang duduk di sampingnya.
"Aku sedih kalau Mas kaya gini."
"...."
"Mas, sudah jangan berlarut-larut seperti ini. Dari awal kan Mas sudah tahu, kalau sikap Mami akan seperti ini, jadi seharusnya Mas sudah mempersiapkan mental untuk menghadapinya."
Kenzo masih tetap bergeming, hal itu membuat Fey naik pitam.
"Jangan diam aja, Mas! Aku mau pulang saja ke Bandung. Tahu kaya gini, lebih baik tadi aku tinggal di sana sama Kenzie."
Kenzo membuka matanya, lalu menatap tajam kepada istrinya.
"Tadi kan aku sudah tawari kamu, mau ikut atau tinggal?! Kamu minta ikut. Aku gak maksa kamu, kok! Mau pulang ke Bandung kapan? Sekarang tah? Hayu aku antar kamu. Aku pusing kalau kamu ceramah terus, nggak si Keanu, nggak kamu, sama saja!"
Fey terkejut, seketika matanya berkaca-kaca, ia tidak menyangka kalau suaminya itu melampiaskan kemarahan kepadanya.
"Aku bisa pulang sendiri, aku gak butuh kamu, Mas! Kamu jahat!"
Fey bangkit, lalu bergegas ke dalam kamar. Kenzo yang masih dikuasai emosi, diam melihat istrinya keluar dari kamarnya dengan menggendong putranya yang sudah tertidur pulas.
Sepuluh menit kemudian, sebuah mobil yang merupakan taksi online pun datang. Satu jam kemudian, Fey pun sampai di depan gedung yang merupakan sebuah apartemen. Ia hendak bermalam di apartemen milik sahabatnya, Sagina.
Sesampainya di apartemen, Fey langsung menidurkan putranya di dalam kamar. Setelah itu, ia berganti pakaian dan melaksanakan sholat isya.
Usai sholat, wanita berperawakan tinggi semampai itu pun membaringkan tubuhnya di sisi si kecil. Namun saat tidurnya akan terlelap, tiba-tiba ponselnya berdering.
'Papi Kenzie', itu nama kontak yang muncul di layar ponselnya, tapi dengan wajah masam, ia pun mengabaikan panggilan telpon tersebut.
Puluhan kali Kenzo menghubunginya, namun tidak satu panggilan pun yang dia respon. Hatinya masih kesal dan marah atas sikap suaminya yang seperti itu.
Ting ...!
[Sayang, kamu di mana?]
Lagi-lagi, Fey bersikap cuek. Ia kembali menaruh ponselnya di atas meja rias di samping ranjangnya.
Ting ...!
[Yang, maafin aku! Aku tadi khilaf, karena kesal sama Mami. Aku mohon kamu mengerti, Yang. Kamu dan Kenzie di mana? Aku khawatir.]
"Nyebelin," sungut Fey, kesal. Ia kembali menaruh ponselnya.
Ting ...!
[Kamu ke Bandung tah Yang? Katakan, sekarang di mana? Terminal atau agent travel? Aku jemput kamu, ya.]
Ting ...!
[Aku susulin kamu ke Bandung ya, aku berangkat sekarang, pintu apartemen jangan dikunci ya.]
Membaca pesan terakhir, membuat Fey berpikir. Antara membiarkan suaminya itu kembali ke Bandung atau memberitahu keberadaannya. Wanita berambut panjang itu berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya sambil mengetuk-ngetuk ponselnya ke dagu.
Setelah setengah jam berpikir, akhirnya Fey pun memutuskan untuk memberitahu keberadaannya. Ia merasa tidak tega juga, kalau pria yang sangat dicintainya itu harus kembali ke Bandung, sementara dirinya masih berada di Jakarta.
[Aku di apartemen Gina.]
Kurang lebih dua jam kemudian, kenop pintu apartemen Sagina dibuka oleh seseorang yang tidak lain adalah Kenzo. Pria yang mengenakan kemeja press body berwarna biru gelap itu langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam, menghampiri sang istri yang sedang duduk di sofa ruang tengah sambil menonton televisi.
Fey melirik sinis suaminya yang duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Yang, maafin aku ya!"
"Bodo! Aku males sama kamu. Kalau marah sama orang, selalu saja uring-uringan dan lagi-lagi aku yang jadi pelampiasannya."
"Iya, aku salah. Kebiasaan jelekku itu belum bisa aku rubah, aku janji gak akan kaya gitu lagi."
"Halah, tiap habis marah-marah juga selalu bilang kaya gitu. Aku udah bosen dengernya!"
"Tapi, sama orangnya gak bosen kan?!"
Fey berusaha menahan tawa, ia membuang muka ke samping, agar tidak kentara oleh sang suami kalau dirinya sempat tergugu dengan pertanyaan konyol suaminya itu.
"Kok buang muka? Tar kalau hilang gimana mukanya? Susah loh, cari muka cantik kaya muka kamu itu, Yang. Limited edition, hehe. Kalaupun Opu dan Mama bisa produksi lagi, belum tentu juga hasil cetakannya sebagus dan secantik kamu."
Kali ini, Fey tidak dapat menahan tawanya. Ia langsung memukuli lengan suaminya yang ikut tertawa juga. Kenzo tidak membuang kesempatan baik ini, ia langsung merangkul tubuh sang istri dan mencium keningnya.
"Maafin aku, ya!"
"Kalau aku nggak mau, gimana?"
"Aku akan bujuk kamu, supaya mau maafin aku!"
"Coba bujuk!"
"Tunggu ya sebentar," ucap Kenzo, lalu kemudian ia merogoh saku celana jeansnya. Mengeluarkan beberapa bungkus permen mint, dan memberikannya kepada sang istri. "Ini buat kamu, supaya mau maafin aku, hehe."
"Ih, gak banget! Cuma permen, pasti kembalian di minimarket saat Mas beli rokok, ya kan?!"
"Hehe, tahu aja. Jangan-jangan Opu itu dukun ya."
"Haha, nyebelin deh."
"Ini gimana, mau gak permennya?"
"Gak mau."
Kenzo lalu membuka kemasan salah satu perment mint dan memasukan ke dalam mulutnya.
"Kalau aku kasih langsung dari mulut aku, mau ya?!"
Permen yang di dalam mulutnya itu pun dikeluarkan dengan lidahnya, ke arah sang istri yang tertawa melihat aksi nyelenehnya itu.
"Jangan ketawa! Mau gak ini permennya?!"
Fey mendekatkan bibir ke telinga suaminya, lalu ia pun berbisik, "kejar aku! Kalau Mas bisa tangkap aku, maka aku bersedia bermain-main dengan permen itu. Haha."
Mata Kenzo membulat sempurna, ia pun menyeringai nakal dan langsung mengejar istrinya yang kabur berlari mengitari ke seluruh ruangan apartemen itu.
***
Kenzo berdiri saat seseorang yang sedang ditunggunya sedari tadi muncul, pria yang mengenakan pakaian tahanan berwarna biru dongker itu terus menunduk, tak kuasa menatap mata sang kakak yang sedang berdiri di hadapannya.
"Apa yang kamu perbuat, sehingga kamu berada di sini?"
Pria itu menggeleng, menutup rapat mulutnya.
"Jawab aku, Vin! Masalah apa yang bisa menyeretmu ke balik jeruji besi itu?"
"A-abor ... si, Kak."
Plaaaakkk ...!
Dengan penuh emosi, Kenzo menampar keras pipi adiknya.
"Aku takut. Tolongin aku, Kak!"
"Hhhh, sudah begini baru kamu memanggilku Kakak, selama ini mana rasa hormat dan sopan santunmu kepadaku?!"
"Maafin aku, Kak. Aku mohon tolonglah aku!"
"Hubungi Papimu yang tajir dan punya kuasa itu! Aku bukan siapa-siapa buatmu, bukankah kamu dulu sering mengataiku dengan sebutan 'anak yatim sialan', lalu kenapa sekarang kamu meminta tolong kepada seorang anak yatim sialan ini? Lagipula aku kesini hanya menjalankan amanat Keanu, adik bungsuku yang sangat shaleh dan baik. Kalau bukan karena dia, aku malas dan muak menjengukmu."
"Maki aku sepuasnya, aku terima Kak. Aku mohon maafkanlah aku, Kak!"
Kevin bersimpuh di kaki sang kakak, tangisnya pecah tak terbendung.
"Apa-apaan kamu, Vin?!"
"Aku mohon Kak, maafin aku! Aku menyesal."
"Menyesal karena kamu dipenjara, seandainya kamu nggak masuk ke sini, pastinya kamu akan masih meneruskan petualangan sexmu kepada wanita lainnya."
Kevin sesenggukan, ia memeluk kedua kaki Kenzo dengan erat.
"Kak, aku mohon maafin aku! Aku sangat menyesal, aku taubat Kak, taubaaaatttt."
Kenzo mundur beberapa langkah ke belakang, sambil mendorong kuat tubuh adiknya.
"Sudahlah, memastikan keadaanmu baik-baik saja itu sudah cukup bagiku. Masalah hukumanmu, aku nggak peduli. Biarlah nanti Papimu yang akan mengurusnya bersama pengacara. Aku pamit, Vin."
Kenzo berlalu meninggalkan sang adik di dalam ruangan berukuran 5x6 meter itu sendirian, tidak sedikit pun ia terenyuh dengan rintihan dan rengekan dari adiknya, Kevin.
"Kaaaak, jangan tinggalin aku, Kaaaakkk!"
Tanpa belas kasih, Kenzo tetap melangkahkan kakinya menuju keluar ruangan.
"Kak Ken, tolongin aku, Kaaaaaaakkkk! Huhuhu ...."
Kenzo tidak memperdulikan panggilan adiknya, ia bergegas berjalan menuju mobilnya yang terparkir di luar gedung kantor polisi.
Satu jam setengah kemudian, ia pun sampai di apartemen.
"Bagaimana Mas, sudah bertemu Kevin?"
"Sudah."
"Kasus apa yang menjeratnya?"
"Aborsi, kronologisnya aku nggak tahu, aku gak banyak bertanya sama dia, aku nggak mau tahu malah."
"Astaghfirullah, manusia satu itu, gak ada insyafnya. Ckck."
"Untuk itu, aku muak sama dia. Seandainya kasusnya lain, aku pasti akan mengurusnya. Tapi setelah aku tahu kasus yang menjeratnya adalah hobi petualangan cintanya, makanya aku cepat pergi meninggalkannya."
"Maaf sebelumnya, Mas ... Kalau aku boleh kasih saran, sebaiknya Mas coba menghubungi Papinya Kevin, beritahu dia masalah ini. Agar dia bisa segera mengurusnya."
"Biarin ajalah, aku nggak mau pusing ngurusin masalah si Kevin. Ini semua adalah karma dari Allah, karena sudah membuatmu dan Kenzie menderita, serta pernah membuatku mendekam di dalam penjara beberapa waktu yang lalu."
"Tapi, Mas ...."
"Tapi kenapa? Kamu cemas dengan keadaannya atau mungkin kami rindu sama dia?"
__ADS_1
"Jangan sembarangan bicara, Mas! Aku hanya kasihan sebagai seorang kakak, bukan sebagai orang yang pernah ada di dalam cerita hidupnya di masa lalu. Picik kamu, Mas! Kotor sekali pikiranmu itu."
Fey membanting mangkuk stainless ke meja makan, lalu ia pun bergegas meninggalkan suaminya yang duduk di kursi makan sendirian.
Kenzo *** rambutnya, lalu menghempaskan tangannya ke depan. Kemudian ia pun beranjak dari kursi dan segera menyusul istrinya ke dalam kamar.
"Sayang, tolong maafin aku ya!"
"Sudahlah, aku bosan denger kamu minta maaf terus, selalu begitu setiap kali ada masalah sama orang lain, selalu aku yang kena sasaran."
"Aku sangat tersiksa dengan keadaan ini, Yang. Keluarga Mamiku nggak sehat, aku sangat kecewa dan sedih sekali. Aku mohon mengertilah aku, pahamilah keadaanku!"
"Sejak kapan sih aku nggak ngertiin kamu, Mas? Aku selalu berusaha menjadi penengah dan berusaha memberi ketenangan di setiap masalahmu, tapi apa balasan yang aku dapat? Aku selalu jadi sasaran kekesalan dan kemarahanmu, walaupun tidak ada KDRT, namun tetap saja sikap dan ucapan kasarmu sangat menyakitiku."
"Iya, aku tahu aku salah. Aku menyadari itu, tolong maafkan aku Yang! Aku mohon, jangan masukan ke dalam hati kata-kataku tadi."
Kenzo memeluk istrinya yang sesenggukan menangis, akibat ulahnya.
"Jangan seperti itu terus, Mas! Lama-lama aku bisa kehilangan kesabaran, dan nggak kuat menerimanya."
"Iya, Sayang. Bantu aku untuk berubah ya, aku pun nggak mau terus seperti ini."
"Janji ya mau berubah menjadi lebih baik?!"
"Insya Allah, aku akan berusaha. Jangan bosan ingatkan aku ya, Sayang!"
"Iya, aku sangat mencintaimu, Mas. Jadi jangan seret kembali Kevin ke dalam kehidupanku, buatku dia hanya masa lalu yang harus aku hapus. Kini, perasaanku sama dia hanya sebatas ipar, tidak lebih. Dan kenapa aku ingin Mas mendampinginya? Itu hanya karena rasa kemanusiaan saja. Lepas dari itu, jauh di lubuk hatiku, aku sangat membencinya."
"Maafin aku ya, karena tadi sempat salah paham tentang ucapanmu."
"Iya, Mas. Aku sudah maafkan, Mas mau dampingi Kevin kan?"
"Tapi, dia pantas mendapatkan hukuman atas kelakuannya."
"Aku tahu, tapi setidaknya ... Berikanlah dia dukungan moril, agar dia merasa nggak sendirian. Aku yakin, cobaan ini sangat berat untuknya, dan semoga saja dengan teguran seperti ini membuatnya sadar dan mau bertubat."
"Baiklah, Sayang. Aku akan menuruti permintaanmu, semua aku lakukan demi kamu. Kalau bukan karena kamu memohon, aku nggak sudi berbaik hati sama manusia tidak bermoral itu."
"Ssstt, sudah! Jangan memaki lagi, dia adikmu, aku mohon!"
"Iya, makasih ya Sayang. Aku nggak menyangka hatimu sangat baik."
"Sama-sama, Sayang. Kita sudahi masalah ini."
"Kita baikan ya."
"Iya, kita udah baikan. Sekarang kita makan yuk!"
"Yuk, kamu masak apa?"
"Masa nggak lihat, kan tadi Mas sudah duduk di kursi makan, bersiap untuk makan siang."
"Ketutup sama kecantikan kamu, jadinya itu hidangan di meja nggak kelihatan. Hehe."
Keduanya tertawa, dan kemudian mereka pun berjalan bersama menuju dapur.
***
"Aku nggak terima Silva meninggal seperti itu, bagaimana pun caranya aku harus membalas dendam! Lihat kamu Kevin, aku akan membuatmu menderita."
Wanita berperawakan tinggi dan agak berisi itu mengepalkan tangannya, lalu meninju kaca cermin di hadapannya. Kemudian dengan hati yang hancur, wanita berambut ikal itu menangis tersedu, tidak memperdulikan tangannya bersimbah darah akibat terkena pecahan kaca yang menancap di kulitnya.
"Mbak Iin, Mbak kenapa?" teriak seorang gadis berusia tanggung, sambil berlari menghampiri sang kakak yang duduk di lantai tak sadarkan diri.
Gadis berkaca mata itu mengguncang-guncang tubuh kakaknya yang tergolek lemas.
"Mas Fahriiiii, tolong Mbak Iin Maaaassss! Mbak Iin pingsan, toloooong Maaassss!"
Mendengar teriakan dari arah dapur, pria muda yang bernama Fahri itu pun langsung berlari menghampiri.
"Ya Allah, Selvi ... Mbak Iin kenapa?"
"Aku juga nggak tahu, Mas. Tolongin dulu Mas, bawa dia ke rumah sakit! Aku takut dia kehabisa darah."
"I-iya, Sel."
Dengan cepat, Fahri pun membopong tubuh kakak perempuannya menuju garasi, dan kemudian memasukannya ke dalam mobil.
"Sel, kamu jaga rumah ya! Tolong hubungi Abi Naura, bilang kalau Mbak Iin Mas bawa ke rumah sakit."
"Iya, Mas. Kabari aku yo, kalau ada apa-apa."
"Insya Allah, Mas berangkat dulu ya!"
Fahri segera menancap gas, membawa sang kakak ke rumah sakit terdekat.
Sesampainya di rumah sakit, Fahri segera membawa kakaknya menuju IGD. Iin segera ditangani oleh dokter jaga. Setengah jam kemudian, perawat memberi kabar kepada Fahri bahwa sang kakak sudah ditangani, dan ia pun sudah siuman.
Fahri bergegas masuk ke dalam ruangan IGD, ia lega saat mendapati kakaknya sedang duduk bersandar di atas tempat tidurnya.
"Ya Allah, Mbak Iin ... Kenapa to Mbak bisa seperti ini?"
"Aku belum ikhlas, Ri. Silvania meninggal dibunuh kekasihnya."
"Jangan begitu, Mbak. Pelakunya kan sudah ditangkap, jadi biarkan pihak berwajib yang menangani kasus itu. Masalahnya belum jelas, Mbak. Silva dibunuh atau meninggal karena pendarahan."
"Bagiku sangat jelas, Ri. Silva hamil, lalu laki-laki biadab itu bukannya bertanggung jawab, malah membawanya ke dukun beranak, lalu kemudian memaksanya untuk mau menggugurkan kandungannya. Walaupun dokter menyatakan Silva meninggal karena kehabisan darah, tapi bagiku, si Kevin itulah yang sudah membunuhnya. Nyawa harus dibayar dengan nyawa, Ri."
"Ya Allah, Mbaaakk ... Jangan dendam seperti itu, nggk baik Mbak. Istighfar Mbak, istighfar!"
"Huuuuhuuu, aku nggak terima Ri. Adik kita diperlakukan seperti itu, jahanam sekali manusia bernama Kevin itu. Gak bermoral dan demi Allah, dia akan mati di tanganku."
"Ingat Naura, Mbak! Kalau Mbak nekat, apakah Mbak tega membuat Naura kehilangan sosok ibunya?! Apalagi setelah tahu ibunya dipenjara gara-gara kasus pembunuhan, kasihan dia Mbak. Istighfar Mbak!"
"Astagfirullah, Mbak bingung dan sakit hati, Riiiii."
"Aku juga sama, Mbaak. Sangat marah dan ingin sekali menghajar si Kevin itu. Tapi kan pihak yang berwajib sudah menangani kasus ini, jadi Mbak harus bersabar dan tawakal ya Mbak."
"Iya, Ri. Makasih ya, sudah mengingat Mbak. Demi Naura, Mbak akan menahan rasa sakit hati dan meredam dendam ini."
Keduanya pun berpelukan, menumpahkan segala rasa sesak di hati mereka karena harus kehilangan adiknya secara tragis.
***
Nah lho, gimana kelanjutannya?
Setia mantengin part selanjutnya ya.
Terimakasih.
***
__ADS_1
-Bersambung-