
*Part11*
"Cerita sama aku, Yang! ada apa? "
Fey tetap bergeming, tangisnya pun sudah mulai mereda.
"Aku tadi jemput ke sekolah, tapi kata Pak Diman kamu sudah pulang naik ojek. Kenapa gak nunguin? "
"Kepalaku sakit, jadi aku cepat-cepat pulang tadi."
"Hmm, aku tau kamu lagi bohong."
"Mas, sudah ya jangan berpikir macam-macam, aku capek!"
"Ya, maafin aku. Kita makan yuk! Aku bawain sop buntut dan paru goreng."
"Ok, aku ganti baju dulu."
"Aku tunggu di luar ya!"
Fey mengangguk, Kenzo keluar dari kamar kekasihnya. Dan meminta Liya agar menuangkan makanan yang dibawanya dituangkan di piring saji.
Lalu kemudian, Kenzo menemani keponakan sekaligus calon anak tirinya bermain di ruang tengah.
Usia Kenzie telah menginjak usia lima bulan, bayi bertubuh gemuk itu sudah bisa merespon ucapan dan candaan dari orang-orang di sekitarnya.
Kenzo mengajak bermain ciluk-ba, dan sesekali mencium perut Kenzie yang buncit. Yang dilakukan oleh calon suami dari Maminya itu, membuat malaikat kecil itu tertawa senang.
Tak lama kemudian, Fey keluar dari kamarnya. Kenzo langsung menggendong si gembul, dan berjalan menuju dapur.
"Mari Mas, Kenzienya saya saja yang gendong," pinta Liya.
"Ok, Mbak Liya sudah makan?"
"Belum, Mas. Tapi nanti saja, belum lapar."
Setelah Kenzie berada di tangannya, Liya pun berlalu meninggalkan majikannya.
"Makan yang banyak, Yang!"
"Aku gak enak badan, Mas. Nanti kalau lapar, aku makan lagi."
Kenzo geleng-geleng, ia meras bingung dengan sikap kekasihnya siang ini.
"Ada apa, sih?"
"Gak ada apa-apa, Mas. Aku hanya kecapekan, dibawa tidur juga besok baikan."
"Mau aku belikan vitamin?"
Fey menggeleng, setelah itu suasana di dapur pun sepi. Yang terdengar hanya suara sendok dan garpu yang beradu ke piring.
Usai makan, Kenzo berinisiatif untuk membereskan piring dan gelas kotor, lalu membawanya ke wastafel.
Liya dipersilahkan untuk pulang oleh Fey, baby sitter berusia tiga puluh tahunan itu pun menurut.
Tinggalah Kenzo yang masih setia menemani. Ia memang betah berlama-lama bermain dengan Kenzie, ujarnya itu suatu obat pereda lelah setelah berkutat dengan pekerjaan di restoran.
Malam pun tiba, Fey meminta kekasihnya itu untuk pulang.
"Baru jam delapan, Sayang."
"Aku capek, Mas. Mau istirahat."
"Ya sudah tidur aja, gak apa-apa aku di sini aja masih mau nonton tivi. Sambil nunggu Sagina pulang, aku gak mau ninggalin kamu dan Kenzie tanpa ada Sagina."
"Mas Kenzo kenapa sih selalu berbuat semaunya? Gak pernah ngerti sama mau aku, keadaan aku, huuu."
Fey pun berlari memasuki kamar tidurnya, Kenzo segera menyusulnya.
Pria berkemeja coklat garis-garis itu pun mengusap lembut rambut kekasihnya, Fey berbaring memunggungi.
"Aku tau kamu lagi ada masalah lain, aku gak ngerti dari tadi sikapmu sangat galak sama aku. Tiap ditanya pasti ketus, aku jadi serba salah."
Fey tidak merespon ucapan kekasihnya itu, ia lebih memilih memejamkan matanya.
"Yang ... Ceriata dong sama aku! ada apa?"
Hening. Tidak ada sahutan.
"Ya sudah aku pulang ya," pamit Kenzo, lalu mencium kening Fey dan Kenzie yang sudah terlelap tidur.
Saat pintu ditutup, Fey langsung membuka matanya. Ia kembali menangis, "maafin aku, Mas. Aku belum siap cerita sama kamu."
...
Keesokan harinya, saat pagi hari tiba.
Langit sedikit mendung, sinar matahari menyembunyikan sinarnya dibalik awan putih.
Usai menunaikan sholat subuh, Kenzo bersiap untuk berangkat mengantar Fey bekerja.
Namun tiba-tiba, pintu kamarnya diketuk oleh sang adik, Keanu.
"Masuk, Kean!"
Kean yang baru selesai mandi, masuk dan duduk di sofa.
"Kak."
"Ada apa, Kean?"
"Kemarin siang sepulang bimbel, aku lihat Bu Feylin keluar dari ruang guru sambil nangis. Terus Bu Kepala sekolah juga keluar dan berusaha ngejar Bu Feylin, tapi gak berhasil. Dan ...."
"Dan apa?"
__ADS_1
"Aku lihat Mami juga keluar dari ruang guru, sambil berkacak pinggang dan mukanya kaya orang marah."
Kenzo terkejut, namun ia berusaha untuk tetap tenang di hadapan adik bungsunya.
"Mami ngapain ke sekolah kamu?"
"Biasa, Kak. Rapat yayasan."
Kenzo menepuk jidatnya, wajahnya langsung berubah pucat.
"Ada apa, Kak?"
"Hmm, gak kenapa-napa. Makasih ya infonya Kean," ucap Kenzo, menepuk punggung sang adik.
"Sama-sama, Kak. Aku bersiap sekolah dulu ya!"
"Ok."
Sepeninggal Keanu, Kenzo langsung menelpon Sagina.
"Fey sudah cerita sama kamu, Gin?"
"Masalah Mamimu itu ya Mas?"
"Iya."
"Tega sekali, Mas. Mami Mas Kenzo memaki, menghina dan membeberkan aib si Fey di depan dewan Guru dan Kepala sekolahnya."
"Astaghfirullah."
"Mami Mas Kenzo juga bukan hanya itu, Mami kamu juga mengancam akan mencabut sumbangannya ke yayasan dengan mengajak anggota yang lain, kalau pihak sekolah gak mau memecat Fey."
"Parah!"
"Banget, Mas. Makanya per hari ini, si Fey resmi jadi pengangguran. Dia lebih memilih ngundurin diri daripada harus dipecat secara tidak hormat."
"Ya Allah, nanti aku ke sana Gin. Makasih banyak informasinya."
"Ok, Mas. Oh iya, jangan cerita sama si Fey kalau aku beberin semuanya ya. Dia udah wanti-wanti sama aku, supaya rahasiain masalah Mami kamu mengancam pihak sekolah untuk memecatnya."
"Alasannya?"
"Dia gak mau, kamu jadi anak durhaka katanya."
"Ok, Gin," pungkas Kenzo. "Arrrrgh ...!"
Kenzo melampiaskan kemarahan kepada ibunya dengan cara membanting barang-barang yang ada di dalam kamarnya.
Pria berkulit putih itu menarik nafas panjang sambil memejamkan matanya. Setelah merasa tenang, ia pun keluar dari kamar hendak menemui ibunya.
Sang ibu sedang duduk di kursi makan bersama suaminya, keduanya sedang menikmati sarapan pagi.
"Mi, kenapa kemarin Mami mempermalukan pacar aku di depan umum?"
"Dia pantas kok menerima perlakuan seperti itu."
"Sampai segitunya kamu belain dia, Ken. Kaya gak ada cewek lain aja, hhhhh..."
"Jelas aku mati-matian belain dia, karena dia adalah pacarku dan segera akan kunikahi."
"Yang bener aja kamu, Ken. Mau nikah sama cewek murahan kaya dia. Kalau memang kamu udah ngebet nikah, tar Mami cariin yang baik dan selevel sama kita."
"Kita? Aku hanya anak seorang pria yang jatuh miskin karena selurug aset yang dimiliki habis untuk biaya pengobatan kanker darah yang dideritanya, bukan anak dari seorang konglomerat yang tajir dan punya banyak perusahaan. Jadi Mami gak usah repot-repot mikirin siapa yang akan jadi istriku nanti.
Aku mohon sama Mami, supaya bisa bersikap baik dan lebih menghargai Feylin. Dia korban kepengecutan dan kebejatan anak kesayangan Mami."
Rahmat, Papi Kevin langsung berdiri dan tidak terima saat nama putranya disebut.
"Jaga ucapanmu, anak gak tahu diri."
"Ow, ow ... Papi mau membela anak kesayangannya, hendak melindungi dan membungkus rapat bangkai yang bau busuk. Aku sangat sedih dengan sikap kalian.
Seharusnya Papi bisa bersikap bijak dalam mendidik putra-putranya, didik si Kevin jadi orang yang berani mempertanggung jawabkan segala perbuatannya. Jangan lantas pergi dan berlindung di ketiak Papi.
Dengan dalih ingin mendapat pendidikan yang lebih baik, kalian berdua mengabulkan permintaannya untuk pindah kuliah ke Singapura.
Ya Allah miris sekali."
"Lihat Mi, putra si Daniel, mantan suamimu itu, sangat tidak sopan dan sombong. Persis seperti ayahnya, sok hebat dan sok alim, cuih."
Mendengar nama ayahnya disebut dan dijelek-jelekan, emosi Kenzo membuncah.
Dengan penuh amarah, ia menarik kerah kemeja Rahmat dan meremasnya, hampir membuat ayah tirinya tidak bisa bernafas.
"Hina saya sesuka hati anda! Tapi, jangan pernah anda sebut-sebut ayah saya. Sebab, demi ayah saya, saya bisa melakukan apa saja. Termasuk melakukan yang nekat."
Anggun panik, ia menangis lalu kemudian melerai keduanya.
"KENZO! Lepaskan Papimu, dasar anak durhakaaa, huuu."
Kenzo mundur beberapa langkah ke belakang.
"Dari dulu Mami selalu menyebut aku anak durhaka, aku terima Mi. Semoga saja Allah memaafkan segala salah dan khilaf Mami, aku tau Mami sangat membenciku. Gak pernah menyayangiku, Mami disilaukan harta dan kemewahan."
Rahmat merapikan kemejanya.
"Detik ini juga, pergi dan tinggalkan rumah ini! Jangan pernah kamu kembali, dasar bedebah!"
"Jangan begitu, Pi."
"Kenapa kamu gak terima anak si Daniel aku usir?"
"Semua bisa dibicarakan baik-baik, Pi. Kalau dia jauh dari kita, maka dia pasti nekat nikahin pelacur itu. Aku gak sudi punya mantu wanita murahan kaya si Feylin itu."
"Argh, peduli setan dia mau nikah sama siapa pun juga. Dia bukan anakku, kalo kamu gak terima aku usir dia, kamu ikut dia saja, aku gak keberatan kok."
__ADS_1
Mendengar ancaman suaminya, Anggun langsung diam dan menunduk.
Jelas saja ia tidak mau kehilangan fasilitas mewah, yang selama ini selalu didapatkannya.
Rumah mewah, mobil mewah, perhiasan berlian, tas, pakaian dan sepatu mahal, ditambah dengan perawatan wajah dan tubuh di klinik kecantikan.
Sungguh ironis memang.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Kenzo pun langsung berlalu meninggalkan keduanya. Ia langsung mengemasi pakaian, dan surat-surat penting ke dalam koper juga tas ranselnya.
Tekadnya untuk tidak akan pernah kembali ke rumah mewah yang selalu memberikan kesedihan itu sudah bulat.
Tak ingin membuang waktu, ia pun segera bergegas pergi dengan mobil kesayangannya.
Mobilnya melaju membelah jalan raya ibu kota yang padat, langit pagi itu tampak mendung, awan-awan putih menyembunyikan sang surya sehingga sinarnya bersinar redup, seredup suasana hati Kenzo.
Kenzo mengemudikan mobilnya menuju apartemen, ia tidak sabar ingin menemui kekasihnya dan membicaran langkah selanjutnya.
Tiga puluh menit kemudian, mobil sedan berwarna abu metalik itu sudah parkir di pelataran parkir di lantai bawah.
Tok... Tok...!
Sagina yang telah berpakaian rapi, membuka pintu apartemennya.
"Masuk, Mas!"
"Fey?"
"Daritadi pagi gak mau keluar kamar. Kayanya dia depresi berat."
"Kenzie?"
"Bobok, di kamar aku sama Liya."
"Ok, aku langsung ke kamar Fey ya, Gin."
"Iya, oh iya Mas, kamu keberatan gak kalau seharian ini di sini? Aku sama Mas Arash mau ke konveksi di Bandung, antar bahan dan desain buat kaos di distro aku."
"Iya, gak apa-apa, lagian Papinya Kevin tadi ngusir aku."
"Ckck, jahat banget sih itu orang. Gak bapaknya, gak anaknya, sama gebleknya."
"Baju-baju aku ada di mobil, hehe. Tar kalau urusan udah kelar, baru aku cari kost."
"Tar deh aku cariin yang deket-deket sini mau?"
"Ide bagus, makasih ya Gin."
"Iyess, sama-sama Mas."
"Oh iya, Gin. Tolong bilang sama Arash, mampi ke resto sebentar, tolong cek catatan penjualan bulan kemarin, sudah sesuai dengan struk atau belum."
"Siap, Boss."
"Makasih ya, aku masuk dulu ya."
Sagina mengangguk.
Di dalam kamar, Fey tampak kusut. Ia sedang duduk di tepi ranjang sambil memandang pemandangan lewat kaca jendela.
Matanya sembab dan merah, rambutnya pun terurai berantakan.
Kenzo berjalan perlahan, ia tidak ingin membuat kekasihnya itu terkejut.
Fey menoleh ke arah Kenzo saat indera penciumannya mencium bau khas lelakinya itu.
"Sayang, aku sudah tau semuanya."
"Bagus kalau memang Mas udah tau, itu artinya aku gak perlu panjang lebar ngejelasin tentang keinginanku untuk putus."
"Aku gak mau, sampai kapanpun aku gak mau putus sama kamu."
"Percuma hubungan ini diteruskan, aku akan terus tersudut dan terhina."
"Kamu sama aku, Yang. Jadi gak akan ada orang yang bisa melakukan hal itu." nada suara Kenzo mulai meninggi.
"Surgamu dibawah telapak kaki ibu Anggun, jadi taati beliau! Jangan jadi anak durhaka."
Sekejap wajah Kenzo berubah sendu, "aku memang sudah menjadi anak durhaka, telah lama sebelum pagi tadi Mami mengucapkan sebutan itu, ia sudah sering menyebutnya."
"Sebelum bertambah durhaka, tinggalkan aku!"
"Gak semudah itu, Yang. Cintaku bukan cinta sesaat sama kamu, aku berani bersumpah demi apa saja kalau aku sangat bersungguh-sungguh padamu. Aku mohon hargai hubungan ini."
"Tak ada gunanya lagi diteruskan, aku bilang kita PUTUS!"
"AKU LEBIH BAIK MATI DARIPADA PUTUS SAMA KAMU! CUMA KAMU YANG AKU PUNYA, SETELAH PAPI KEVIN MENGUSIR AKU, SETELAH MAMI MENYEBUTKU ANAK DURHAKA LENGKAP DENGAN SUMPAH SERAPAH LAINNYA, KINI KAMU BERSIKUKUH MINTA PUTUS DENGANKU, APA GUNANYA AKU HIDUP, HAH?!" kenzo tidak dapat menahan emosi dan kesedihannya.
Kenzo meninju dinding di hadapannya, Fey terkejut dan melirik ke arah kekasihnya.
"Selalu saja, setiap ada masalah kamu minta putus. Kamu kira aku hanya main-main denganmu, Yang?"
Tanpa menunggu jawaban dari Fey, Kenzo pun langsung berdiri dan keluar meninggalkan kekasihnya yang mulai panik dan memanggil-manggil namanya.
"Maass, maaaasss...."
***
Nah lho, nah lho ... Kenzo bakalan batalin niatanya buat pergi gak ya?
Dua-duanya sama-sama lagi frustasi berat, apa yang bakal terjadi selanjutnya?
Pantengin terus yaa, terimakasih😊☺
***
__ADS_1
-Bersambung-