
*Part12*
"Sudahlah kalau memang kamu mau putus denganku, aku pasrah. Aku lelah dengan sikapmu yang selalu begitu."
"Aku ... Aku hanya bingung dan putus asa, aku serba salah antara memilih lanjut atau mundur. Aku takut!"
"Aku diusir dari rumah, aku menentang Mami yang sudah berbuat semena-mena kepadamu. Apa kurang bukti kesungguhanku, Yang?! Aku juga sama sepertimu, tapi tentunya kamu masih lebih beruntung dariku, setelah kamu berhasil meninggalkanku, kamu masih bisa berkeluh kesah kepada kedua orang tua. Tidak seperti aku, anak yatim tapi serasa yatim piatu."
Fey tersedu, ia memeluk tubuh kekar kekasihnya dari belakang.
"Maafin aku, Mas. Aku gamang, aku hanya memikirkan egoku, tanpa memikirkan seperti apa perasaan dan kondisimu saat ini. Sekali lagi, maafin aku."
Kenzo memejamkan matanya, air matanya berlinang. Hari itu hatinya sungguh sangat hancur.
"Maafin aku, Sayang. Aku ingin menenangkan diri dulu, rasanya kepalaku mau pecah. Ucapan Mami, Papi Kevin dan kamu tadi sungguh membuat otakku buntu."
Perlahan, Kenzo melepaskan pelukan wanita yang sedang menangis sesenggukan di punggungnya.
Pria berambut hitam lebat itu oun kemudian membalikkan tubuhnya, dan mencium sekilas kening Fey.
"Beri waktu untuk kita saling berintrospeksi diri, tenangkan hati dan pikiran! Setelah segala sesuatunya membaik, baru kita bicara lagi."
Fey tidak dapat mencegah kepergian Kenzo, air matanya terus keluar membasahi pipinya. Ada rasa sesal di hati yang tidak dapat dihapus oleh apapun, ia tidak menyangka kalau sikap juga tutur katanya membuat hati kekasihnya itu terluka.
Kenzo berjalan cepat menuju pelataran parkir, pikirannya bercabang dan tidak menentu saat itu.
Kenzo mengemudikan mobilnya menuju kampung ayahnya di kota Yogyakarta, ia ingin menemui kakak dan adik dari sang ayah yang tinggal menetap di kota yang terkenal akan gudegnya itu.
Selain itu, ia pun ingin mengunjungi makam sang ayah, dan mengirimkan hadiah doa.
Sejatinya ia tidak ingin meninggalkan Fey yang sedang rapuh, tapi tidak ada pilihan lain, posisinya pun saat ini sedang terpuruk sehingga perpisahan untuk sementara adalah jalan yang terbaik bagi mereka berdua.
Kenzo merasa jengah dan tidak tahan dengan keraguan Fey kepada dirinya.
Ia merasa perjuangannya selama ini hanya dianggap angin lalu, sebagai lelaki tentunya ia punya harga diri.
Walaupun tidak mau, akhirnya Kenzo pun memutuskan untuk menjauh dari wanita yang sangat dicintainya itu.
***
Waktu terus berjalan, hari berganti minggu, minggu pun berganti bulan.
Perpisahan Fey dan Kenzo sudah berlangsung selama dua bulan lamanya.
Fey sudah putus asa mencari cara agar bisa menghubungi kekasihnya, pada bulan pertama wanita yang kini telah memiliki putra itu sangat depresi karena Kenzo menghilang dan sulit untuk dihubungi.
Ratusan panggilan dan pesan singkat dikirim Fey, namun tidak pernah satu kali pun Kenzo membalasnya.
Namu seiring berjalannya waktu, lambat laun kondisi emosional juga psikis Fey kian membaik.
Tidak banyak yang bisa dilakukan oleh Sagina dan Arash, keduanya tidak tahu dimana Kenzo berada.
Kenzo benar-benar menghilang, kepergiannya tidak menghilangkan jejak sedikit pun. Ia melepaskan tanggung jawab restoran kepada para sahabat yang dipercayainya.
Kondisi Fey yang belum mendapatkan pekerjaan, membuatnya putus asa dan ia mengutarakan niatnya untuk pulang kampung saja.
"Gue sanggup bantu untuk beli susu dan diapersnya si Zie, Fey. Masalah makan dan listrik tak usah juga dipikirin. Lo enjoy aja di sini, gue malahan akan sedih kalau lo pulang. Gue bakalan kesepian dan sendiri."
"Gak bisa kaya gitu, Gin. Semakin lama tabungan gue akan habis, sementara cari kerja juga susah. Maminya Mas Kenzo rupanya sudah mengultimatum kenalan-kenalannya yang merupakan kepala sekolah berbagai sekolah swasta di Jakarta untuk memblack list gue, CV udah gue masukin ke belasan sekolah tapi tetap gak ada panggilan."
"Lo tau kabar soal blacklist itu dari siapa?"
"Dari salah seorang rekan guru yang kebetulan ikut rapat kepengurusan yayasan sekolah. Pantas saja lamaran gue gak ada satu pun mendapatkan panggilan, jahat sekali Gin."
"Gila, tuh nenek lampir. Bener-bener kurang ajar. Harus dikasih pelajaran."
"Sudahlah, Gin. Biarin aja, gue percaya sama hukuman dari Allah, cepat atau lambat dia pasti akan dapet ganjaran dari apa yang udah dia perbuat."
"Lo yang sabar ya, atau lo mau coba alternatif lain supaya dapet penghasilan tanpa harus ninggalin Kenzie?"
"Apaan tuh, Gin?"
"Gini, distro gue kan sekarang udah ngerambah ke fashion cewek komplit dengan aksesoriesnya. Gimana kalau lo bantu jualin?"
"Online?"
"Yups!"
"Kalau gak laku gimana?"
"Dicoba dulu lah, cara promosinya jangan hanya share foto kaya para dropship, tapi lo rajin live promosi. Gue suka nyimak para seller online, jualan lewat live di IG dan FB."
"Sistemnya gimana?"
"100% keuntungan lo ambil semua, gue jual harga modal sama lo. Keuntungan dari satu kemeja atau kaos, 40-50 ribuan, sementara dari aksesoris 20-30 ribuan, lumayanlah buat beli susu dan diapersnya Zie."
Fey manggut-manggut, lalu tersenyum gembira. Dan memeluk sahabatnya itu.
"Makasih ya, lo udah kasih kesempatan buat gue."
__ADS_1
"Iya, sama-sama. Tar kita tata ulang ruang tengah untuk kasih space buat lo live nanti. Dibikin senyaman dan seenak dipandang dindingnya, supaya para calon buyer betah dan suka sama live yang lo adain. Kapan lo mau mulai? Biar gue bawa sebagian koleksi di toko."
"Besok kita rapihin ruangan, lusa kita mulai ok!"
"Ok, dari sekarang lo mulai search grup jual beli online di grup FB dan gabung. Supaya yang nonton live lo banyak, dan peluang buat dapet buyer juga banyak."
Keesokan harinya, Fey dan Sagina menata ulang ruang tengah, beberapa manekin yang ada di butik dibawa Sagina dan diletakan di meja.
Ia juga memasang beberapa gantungan di dinding, untuk mendisplay pakaian yang akan dijual.
Di depan meja yang sudah ada manekinnya, dipasang karpet kecil tebal dan empuk untuk nanti Fey duduk dan berpromosi di hadapan kamera ponselnya.
Saat malam hari, Sagina tiba di apartemen dengan menenteng dua kantongan besar berisi kemeja, kaos dan aksesories.
Semua barang di tata rapi, di rak portable yang dibelinya di sebuah situs belanja online terkenal.
"Yess, rapi dan cantik." puji Fey bersemangat.
"Hooh, untuk referensi, banyakin nonton siaran live seller orang ya. Lo live kalau Zie udah bobok, jadi gak keganggu. Kalau pas gue ada, mau mulai agak sore juga gak apa-apa."
"Sip, gak sabar untuk mulai. Hehe."
"Mulai aktif di FB, IG dan WA ya Fey, jadikan tiga medsos itu sebagai sarana lo promosi. Insya Allah lo akan sukses."
"Ok, makasih banyak ya Gin. Lo sahabat terbaik gue."
"Semangat ya, selama ada usaha, di situ ada jalan. Allah selalu bersama kita, Fey."
"Iya, Mamah Dedeh. Hehe."
Malam itu, keduanya tampak bahagia.
...
Malam minggu itu, selepas isya, Fey memulai aksinya mengadakan live di FB.
Selama kurang lebih dua jam, dia cuap-cuap untuk menarik perhatian para buyer.
Diluar dugaan, respon dari para calon buyer sangat baik, acara livenya disaksikan oleh seratus orang lebih.
Hal itu dikarenakan, pakaian yang dijual sangat bagus model dan kualitasnya. Tidak pasaran, karena satu model baju diproduksi tidak banyak, hanya satu lusin saja. Jadi dijamin tidak pasaran, dan pada produksi selanjutnya, model dan motif akan berganti. Mengikuti trend.
Sagina bekerja sama dengan sebuah konveksi terbaik di Bandung dalam memproduksi pakaiannya, maka tidak heran malam itu semua barang yang dipasarkan oleh Fey ludes terjual.
Sampai larut malam, Fey merekap daftar pakaian yang terjual beserta dengan data pembelinya.
Saat esok hari tiba, setelah Kenzie tertidur kembali setelah mandi dan disuapi, Fey mengecek mutasi di rekeningnya lewat internet banking, lalu menandai nama-nama buyer yang sudah melakukan transfer, agar barang pesanannya dapat segera dikirimkan.
Ia tetap berpikiran positif dan menjalani pekerjaan barunya itu dengan senang dan bahagia.
"Gin, ini hasil jualan pertama gue," Fey menyodorkan sejumlah uang ke hadapan sahabatnya.
"Kereenn, dapat untung berapa?"
"Live pertama dapat keuntungan hampir satu juta, hehe."
"Wow, kereenn. Kalah deh omset gue di toko. Wkwk."
"Ini, lo ambil!"
"Kagak, ah. Gue udah bilang, full buat lo."
"Kalau lo gak mau nerima, gue mau pulang kampung aja."
"Gile, ancamannya, sadiisss."
Sagina pun menyambar uang yang disodorkan Fey kepadanya, lalu menghitungnya.
"Gak mau tapi, dihitung juga."
"Gue ambil tiga ratus ribu aja, sisanya buat Kenzie. Ok."
"Ok."
"Gue terima nih ya. Haha."
"Iya, kan buat biaya akomodasi lo juga PP ke Bandung."
"Okeh, okeh boss. Besok gue mau ke Bandung, klo lo punya ide model kemeja atau motif buat di kaos, kasih tau gue. Kita produksi barang yang bagus dan gak pasaran, supaya omset terus bagus."
"Iya, coba nanti pas mau tidur, gue search di internet."
"Ya udah, kalau gitu gue molor duluan ya, besok jam enam harus udah berangkat."
"Sip."
Sagina masuk ke dalam kamarnya, sedangkan Fey merapikan ceceran kertas, lakban dan kantong plastik sisa packing tadi siang.
Malam itu ia bersyukur atas rezeki yang didapatkannya, Allah sungguh Maha Pengasih dan Maha Pemurah.
__ADS_1
Setelah semua rapi, Fey kemudian beranjak masuk ke dalam kamarnya untuk tidur.
***
Perlahan tapi pasti, bisnis usaha online yang dirintis Fey atas ide sahabatnya itu berjalan mulus.
Selain pakaian dan aksesories, Fey menambah koleksi jualannya dengan menjual hijab.
Hijab yang dijualnya merupakan produksi konveksi langganan Sagina, model-model yang diciptakan mengikuti trend yang dimodifikasi semenarik mungkin.
Lagi-lagi, hijab yang dijual diburu oleh para buyer langganannya. Bahkan kini, ia sudah memiliki beberapa reseller terpercaya.
Pundi-pundi rupiah pun terus mengalir mengisi rekeningnya, yang paling mengejutkannya adalah laba bersih dari hasil jualan online yang ia dapat, melampaui dari gajinya saat menjadi guru.
Sungguh pencapaian yang sangat membanggakan.
Fey kembali mempekerjakan Liya untuk mengasuh putra tercintanya, hal ini dikarenakan setiap hari ia sibuk dengan rutinitasnya berniaga.
Seperti biasanya, Fey mengecek inbox satu persatu, wajahnya berseri karena pesanan datang bertubi-tubi.
Sambil membalas, ia merekap apa-apa saja yang dipesan oleh para pelanggannya.
Tidak lama kemudian, ia pun berpamitan kepada Liya untuk keluar sebentar, guna menemui buyer yang ingin membeli hijabnya dalam jumlah yang banyak dengan sistem COD.
Saat sampai di depan gedung apartemen, taksi online yang dipesannya sudah menunggunya.
"Sebelum ke Teras Kota, tolong mampir ke atm ya, Pak," ujarnya saat memasuki mobil.
Sang supir mengangguk, lalu satu jam kemudian ia pun sampai di tempat tujuan.
Seorang wanita cantik, dengan mengenakan hijab berwarna hitam polos sedang duduk menunggu kedatangan Fey di sebuah cafe.
"Maaf Mbak Indah, udah lama nunggu ya?"
Wanita berkulit putih bersih itu pun tersenyum ramah, memamerkan giginya yang dipasangi kawat.
"Aku juga baru datang, Mbak."
"Syukurlah, oh iya ini pesanan hijabnya, lima lusin segi empat instant dan lima lusin voal motif campur."
"Makasih banyak ya, Mbak. Uangnya sudah aku transfer ke rekeningnya Mbak. Lima juta lima ratus ribu rupiah."
Wanita bernama Indah itu menunjukkan bukti transfer di ponselnya, dan untuk memastikan kebenarannya, Fey pun mengecek mutasi lewat internet bankingnya.
"Alhamdulillah, sudah masuk. Makasih banyak, Mbak Indah. Semoga laris manis dan berkah."
"Ini bukan untuk dijual, Mbak. Ini untuk souvenir gathering di kantor aku. Hehe."
"Oh gitu, mau dibuatkan nota? Aku bawa nih buki notanya, perusahaan biasanya harus resmi."
"Boleh deh, Mbak kalau memang ada."
Tangan Fey merogoh bagpack coklatnya, lalu membuatkan nota untuk pelanggannya.
Beberapa saat kemudian, keduanya berbincang hangat seputar pribadinya masing-masing.
Satu jam kemudian, Fey berpamitan untuk pulang.
Namun sesaat sebelum dirinya beranjak dari kursi, tiba-tiba datang seorang pria mendekat ke mejanya.
"Assalamualaikum," ucap pria itu kepadanya dan Indah.
Pria itu berdiri di belakang Fey.
Salam dijawab bersamaan oleh keduanya, lalu kemudian Fey melihat Indah tersenyum ke arah pria tersebut.
"Mbak Andi, kenalin ini suami aku."
"Sayang, kenalkan ini Mbak Andi, yang aku ceritakan tadi di telpon."
Fey berdiri untuk bersalaman dengan pria yang baru datang tersebut.
Namun, dirinya sangat terkejut saat berbalik dan melihat sosok pria yang disebut Indah merupakan suaminya itu.
Begitu juga dengan pria itu, cukup lama keduanya saling bertatapan.
Wajah Fey pucat, tanpa berpamitan ia langsung berlari meninggalkan keduanya.
Fey langsung menyetop mobil taksi di depan gedung pusat perbelanjaan tersebut, di dalam mobil ia menangis tersedu.
"Mbak Indah, suamimu itu adalah ...."
***
Siapa sih cowok itu?
Emak-emak sabar ya, tar jawabannya ada di part selanjutnya, 😂😅😋
***
__ADS_1
-Bersambung-