
*Part - 15*
Rio membawa calon mertuanya itu ke sebuah rumah makan dekat pantai Losari, matanya berkeliling mencari sosok pria asing yang semalam mencegatnya.
Tidak lama kemudian, seseorang yang sedari tadi dicarinya muncul, tampak baru memasuki rumah makan.
"Itu orangnya, Opu," ujar Rio kepada Andi.
Mata Andi membulat sempurna, saat melihat siapa yang datang.
"Nak Kenzo?"
Pria misterius itu, tidak lain adalah Kenzo. Setelah Fey pergi, ia gelisah dan resah. Saat dirinya sudah .mampu menghilangkan ego di hatinya, akhirnya Kenzo pun muncul menemui Sagina dan meminta pendapatnya.
Awalnya Sagina marah, mencaci dan menyalahkan Kenzo. Namun dengan bujukan Arash, akhirnya Sagina pun luluh dan memberikan informasi yang ia tahu tentang Fey kepada kekasih dari sahabatnya itu.
Kenzo tidak menunda waktunya, ia segera pergi untuk mengintai situasi. Berbekal informasi dari Sagina, malam itu ia menunggui Rio di depan minimarket yang tidak jauh dari rumah Fey.
Kenzo mencium punggung tangan Andi dengan takzim, saat itulah ia tidak mampu menahan rasa sesalnya.
Andi menepuk bahu Kenzo dan mempersilahkannya untuk duduk.
"Jadi bagaimana, apa yang akan Nak Kenzo lakukan?"
"Saya ingin menikahi Fey, Opu."
"Ndak mungkin, Nak."
"Semua belum terlambat Opu, Rio belum melamar dan mengucap ijab kabul terhadap Fey, jadi saya masih punya kesempatan."
"Ndak semudah itu, Nak. Hargai Nak Rio!"
Kenzo menatap Rio yang duduk di samping ayah dari kekasihnya itu.
"Bicaralah, Rio! Katakan yang sejujurnya kepada Opu! Agar semua bisa diselesaikan dengan baik, dan tidak ada yang merasa tersakiti."
"Ada apa ini, Nak Rio?"
Dengan suara bergetar, akhirnya Rio pun buka suara perihal perasaan yang sebenarnya kepada Fey.
Andi sangat terkejut, ia sama sekali tidak menyangka dengan apa yang didengarnya.
Pria paruh baya itu, merasa bersalah kepada putrinya dan juga calon menantunya itu, karena ternyata Rio terpaksa untuk menikahi Fey hanya demi dapat membalas budi kepadanya.
Rio adalah putra dari seorang kenalan Andi, ayah Rio hanyalah seorang petani biasa. Namun berkat kegigihannya, ia berhasil menyekolahkan kelima anaknya hingga lulus menjadi sarjana, termasuk Rio, si anak bungsu.
Andi banyak membantu keluarga Rio, saat panen belum tiba, atau saat waktu gagal panen, dialah yang membantu dalam hal keuangan.
Setelah lulus kuliah, Andi pun membantunya dalam hal mencari pekerjaan. Akhirnya, Rio diterima di sebuah perusahaan BUMN dengan jabatan yang bagus, yaitu sebagai direktur pengadaan.
Rio adalah seorang anak yang patuh kepada orang tua dan tahu balas budi, sehingga saat Andi mengutarakan niatannya untuk menjodohkan Fey kepadanya, tanpa banyak bicara Rio pun langsung saja mengiyakan.
Walaupun ia tidak mencintai putri Andi, tapi ia rela mengorbankan perasaanny demi orang yang sudah banyak berjasa di dalam kehidupannya.
"Maafkan saya, Opu," tutur Rio, tertunduk lesu.
Ada gurat kekecewaan yang mendalam tersirat di wajah Andi, tapi semuanya ia terima dengan hati yang lapang.
Namun di sisi lain, ia pun merasa bahagia, karena keinginan putrinya untuk dapat menikah dengan Kenzo dapat terwujud.
"Sekali lagi, maafkan saya, Opu."
"Ndak apa-apa, Nak Rio. Maafkan juga kalau Opu kemarin sudah terkesan memaksamu."
"Iye', ndak apa-apa."
"Hmm, dan Nak Kenzo. Jadi kamu bersungguh-sungguh mau melamar dan menikahi putriku?"
Kenzo mengangguk yakin, "insya Allah iya Opu."
Wajah Andi berseri kembali, ia menepuk bahu Kenzo dan keduanya tersenyum bahagia.
"Aku akan bantu semua prosesnya," ucap Rio.
__ADS_1
"Terimakasih, Rio."
"Sama-sama, Kak Kenzo."
"Nak Kenzo, Nak Rio ... Kita rahasiakan masalah rencana kita ini dari Fey, biarlah dia beranggapan kalau Nak Rio yang akan menikahinya. Kita beri surprise, agar bahagia yang dirasakannya terasa lebih indah dan juga mengharukan."
Baik Kenzo, maupun Rio, keduanya setuju dengan apa yang diucapkan oleh Andi.
"Nak Kenzo, tahan-tahan dulu le'Nak, jangan hubungi Fey dulu. Kalau perlu buat dia semakin percaya kalau kamu sudah bisa melupakannya, agar lebih dramatis, hehe."
"Hehe, siap Opu. Saya gak menyangka, Opu sangat jahil."
"Demi kebahagiaan Fey, apapun akan Opu lakukan."
Kenzo tersenyum, lalu ketiganya pun merayakan pertemuan mereka dengan memesan makanan dan menyantap makan malam hidangan laut segar dengan nikmatnya.
***
Rencana yang disusun oleh Andi, disampaikan oleh Kenzo kepada Sagina. Sagina sangat bahagia dengan berita yang disampaikan oleh kekasih dari sahabatnya itu.
"Makasih ya Gin, sudah kasih aku informasi yang akurat. Sehingga aku belum terlambat untuk mencegahnya."
"Iya. Jaga dan jangan tinggalin Fey lagi ya Mas! Awas aja kalau sampai itu terjadi lagi, hehe."
"Hehe, siaaapp bu Komandan. Galak bener dagh ah."
Keduanya tertawa, tak lama Kenzo pun menutup telponnya. Ia lalu membuka aplikasi WA dan menulis sebuah status yang akan membuat Fey semakin bersedih.
Isi statusnya adalah :
"Memulai babak baru dengan senyuman, love you A."
Kenzo senyum-senyum sendiri, membayangkan reaksi yang akan dilakukan Fey saat membaca statusnya itu.
Saat sedang asyik melamun, ponselnya berdering, Rio menelpon dan mengabari bahwa dirinya sudah berada di lobi hotel untuk mengantar Kenzo dalam mencari segala keperluan hantaran untuk lamaran serta pernikahan nanti.
Keduanya pergi ke sebuah pusat perbelanjaan, Kenzo membeli segala yang dibutuhkan untuk acaranya nanti.
"Om dan Tanteku akan kemari, ada juga sahabatku, yang juga sahabat Fey, dan orang-orang terdekat yang aku percayai untuk kelola bisnisku, insya Allah mereka akan datang juga."
"Kalau aku ikut dalam rombongan'ta bisa?"
"Bisa banget, dong."
Rio tersenyum, keduanya kini semakin akrab dan dekat.
...
Fey melemparkan ponselnya, ia menangis saat membaca status Kenzo.
Ia merasa tidak terima, kalau Kenzo telah memiliki pacar baru. Sesungguhnya dirinya merasa tidak rela, karena pria yang sangat dicintainya bisa secepat itu melupakannya.
"Dasar laki-laki jahat, gak punya hati, katanya gak bisa hidup tanpa aku, tapi buktinya NOL! Huuuu,"
Beberap saat kemudian, Fey kembali membuka WA dan mencoba mengintip kembali status mantan kekasihnya itu.
Ternyata Kenzo membuat status baru, ia memasang foto semua belanjaan untuk acara mereka nanti, dengan caption 'Bismillah, belanja untuk hantaran, Done! Love you A.'
Lagi-lagi Fey histeris, di dalam kamarnya ia menangis sendiri.
"A? Siapa itu A? Bisa-bisanya dia mau nikah sama si A itu, janji mau nikahin aku, janjimu hanya janji palsu, Mas."
Karena tidak tahan tersakiti, akhirnya Fey pun memblokir nomer Kenzo dari daftar kontaknya.
"Mulai detik ini, aku harus bisa lupain dia. Aku akan membuka hati untuk Rio, sejauh ini aku lihat, Rio adalah pria santun dan baik. Tidak ada salahnya, kalau aku mencoba untuk mencintainya."
Fey mengusap air matanya yang membasahi pipi, berkali-kali ia menarik nafas panjang, guna menenangkan kegundahan serta kegelisahan yang bergejolak di dalam hatinya.
***
Waktu beranjak berganti hari, acara lamaran pun tiba.
Di kediaman Fey, keluarga besarnya berkumpul untuk membuat makanan dan kue-kue khas Bugis, guna menyambut calon besan yang akan datang nanti.
__ADS_1
Para tetangga juga turut hadir membantu, semuanya turut berbahagia. Dengan penuh suka cita, mereka semua bekerja sambil sesekali tertawa.
Saat yang dinanti pun akhirnya tiba, rombongan keluarga Kenzo tiba di kediaman Fey ba'da dhuhur.
Tanpa sepengetahuan Fey, sahabatnya, Sagina dan Arash pun turut hadir dalam rombongan.
Kenzo membawa om dan tante yang merupakan adik dari mendiang ayahnya, sebagai wakil dari pihak keluarganya. Dan tak lupa, Rio pun turut serta sebagai perwakilan dari pihak Kenzo.
Kedatangan mereka disambut baik oleh keluarga Fey, tamu yang hadir serta keluarga tuan rumah dan seorang tokoh masyarakat dan tokoh agama yang dituakan, mereka semua duduk melantai beralaskan permadani.
Mereka semua duduk saling berhadapan, meja dengan tinggi kurang lebih setengah meter yang menjadi pemisahnya.
Dimana di atas meja tersebut, sudah tertata rapi bosara-bosara (piring saji terbuat dari stainless, berbentuk bulat) berisi kue-kue manis khas Bugis yang dibuat sendiri.
Kenzo menjalani semua proses lamaran, sedangkan Fey menunggu di dalam kamarnya.
Fey sama sekali tidak mengetahui, kalau yang sedang melamarnya itu adalah pria yang sangat ia cintai. Bukan Rio, seperti dugaannya. Air matanya terus bercucuran, meratapi semua yang tengah terjadi di dalam hidupnya.
Setelah kedua pihak menemukan satu kata mufakat, maka acara ramah tamah pun dilakukan. Menu masakan khas Bugis pun disajikan di meja prasmanan.
Semua bersuka cita menikmati hidangan yang disuguhkan oleh tuan rumah, begitu juga dengan Kenzo.
Ia tampak berbahagia berbincang bersama calon mertuanya, Andi.
Khadijah mengetuk pintu kamar putrinya, lalu beberapa saat kemudian ia masuk menyerahkan sebuah kotak yang ditutup kain berenda berwarna emas.
Kotak itu berisikan uang yang dibawa oleh Kenzo, untuk biaya pernikahan nanti.
"Fey, ini uang dari calon suamimu, dan pernikahan akan dilaksanakan dalam waktu satu minggu lagi."
"Mengapa cepat sekali, Ma?"
"Calon suamimu yang menginginkannya, Nak."
"Kan bisa minta bulan depan, Ma."
Fey merasa hancur, tangisnya kembali pecah.
"Sudah, Mama ndak mau berdebat lagi. Persiapkan dirimu, Mama yakin kamu akan bahagia."
"Huuuuuu."
Tok ... Tok ... Tok!
"Masuk," perintah Khadijah.
"Fey, aku datang."
"Ginaaaaa ...."
Fey bangkit dan langsung berlari memeluk sahabatnya.
"Tolong akuuu, Giiinnn. Gue gak mau menikah dengan pria itu."
Sagina tersenyum kepada Khadijah.
"Jangan egois, Fey. Lo harus menikah sama pria itu!"
"Tapi, Gin ...."
"Kenzo? Apalagi yang lo harapin dari dia? Jangan pakai hati, bisa-bisanya lo ngarepin seseorang yang udah tega ninggalin lo. Perlu lo tau, si Kenzo itu udah mau nikah. Dia kemarin datang ke restoran, sama calon istrinya. Jangan bego jadi cewek!"
Fey terus menangis, menumpahkan semua kesedihan di bahu sahabatnya.
***
Fey, Fey ... Hihi.
Siap-siap senyum bahagia di part selanjutnya ya maaaakkk..😁😃
***
-Bersambung-
__ADS_1