
Part - 5
...*...
Air muka Fey langsung berubah sendu, saat Kenzo menyinggung masalah suami di dalam pembicaraannya.
"Gin, kita pulang yuk!" ajak Fey, memaksa.
"Eh, iya."
"Mas Arash, Mas Kenzo ... kepalaku pusing, aku pamit ya."
Kenzo dan Arash mengiyakan.
Fey menarik paksa tangan Sahabatnya dan berjalan cepat meninggalkan kedua pria yang masih duduk di sofa berwarna orange-kuning.
Sepeninggal Fey dan kekasihnya, Arash langsung menepuk bahu sahabatnya yang masih terheran atas perubahan sikap Fey yang tiba-tiba.
"Jangan singgung soal suami sama si Fey, Bro. Dia hamil tanpa suami, pacarnya menolak menikahinya. Dan dia juga dikucilkan oleh ayahnya karena aib itu. Jadi saat lo berucap soal suaminya akan bangga punya istri kaya dia, dia langsung tersinggung dan sedih."
"Ya Allah, gue gak tahu Rash. Sungguh gue gak tahu. Gue jadi gak enak banget ini."
"Udahlah gak apa-apa, kan lo gak tahu kondisi doi. Santai aja, Bro."
"Tetep aja gue gak enak, Bro."
"Ya udah gini aja, tar malam kita berkunjung ke apartemen Sagina. Doi tinggal bareng sama Sagina. Lo bisa minta maaf langsung sama doi."
"Okelah, thanks ya Rash."
"Sip, eh gue titip ya sama lo. Jangan bocor sama adik lo tentang status si Fey, karena doi ngaku ke sekolah itu adalah seorang janda."
"Iyalah, gue juga tahu kok. Gue akan keep."
"Ok."
Kenzo kembali tercenung, ia tidak menyangka kalau wanita pintar dan hebat seperti Fey ternyata mengalami perlakuan tidak baik dari kekasihnya.
Namun entah mengapa, ada rasa bahagia menyeruak di dalam hatinya saat mengetahui kalau guru dari adiknya itu ternyata belum memiliki suami.
'Feylin ... ada apa dengan hatiku?'
...
Siang itu matahari bersinar cukup terik, Fey berjalan menuju gerbang depan gedung sekolah sambil menutup kepalanya dengan map coklat yang berisikan piagam milik Keanu, salah satu muridnya yang menjuarai kompetisi olimpiade matematika beberapa waktu yang lalu.
Sesampainya di ambang pintu gerbang sekolah, ibu hamil yang menggunakan dress hamil selutut berwarna merah muda itu sejenak menghentikan langkahnya.
Netranya menatap jalan raya di depannya yang tampak sudah lengang.
"Temannya belum datang menjemput, Bu?" tanya Diman, sang penjaga sekolah.
"Belum, Pak."
"Tumben sekali, Bu. Biasanya ontime."
"Iya, nih. Mungkin terjebak macet."
"Mau saya ambilkan kursi, Bu?"
"Gak usah, Pak. Saya tunggu di sana aja. Mari Pak."
"Iya, Bu. Silahkan, hati-hati di jalan."
Fey tersenyum, lalu kemudian ia pun berjalan menuju halte yang berada persis di samping bangunan sekolah tersebut, dan duduk di kursi besi yang tersedia di sana.
Nafasnya tampak tersengal, perutnya yang besar, membuat tubuh wanita berusia 25 tahun itu mudah lelah.
Peluh yang bercucuran membanjiri dahi dan leher, ia seka dengan menggunakan tisue yang sudah mulai robek.
Berkali-kali ia melirik jam tangan bundar berwarna gold dengan hiasan permata yang melingkar di pergelangan tangan sebelah kirinya.
Dua puluh menit sudah, wanita muda yang berprofesi sebagai guru matematika di sekolah SMA swasta terkenal di Jakarta itu menunggu sahabatnya yang biasa datang dan tidak pernah absen untuk menjemputnya.
"Duh, nomernya gak aktif lagi. Kamu kemana Ginaa?"
Sepuluh menit kemudian, akhirnya Fey memutuskan untuk memesan taksi lewat aplikasi dari ponselnya.
Namun, saat dirinya sedang menunggu taksi online yang dipesannya datang, tiba-tiba sebuah mobil sedan berwarna abu metalik berhenti tepat di depannya.
Seorang pemuda tampan, bertubuh jangkung dan atletis turun dari mobil tersebut.
Pria berwajah oriental itu berjalan menghampiri Fey yang sedang khusyu menatap layar ponsel.
"Fey," sapanya.
"Eh, Mas ...."
"Kenzo," jelasnya.
"Sorry, lupa-lupa ingat. Hehe," ucap Fey sembari tersenyum. "Mas mau jemput Keanu ya?"
"Gak apa-apa, gak Fey ... aku ke sini mau jemput kamu."
Fey mengernyitkan dahinya.
"Kamu keberatan kalau aku jemput?"
"Eh, nggak kok Mas. Cuma aneh aja, tiba-tiba aja Mas Kenzo nongol, hehe."
"Sagina ada keperluan, dia diajak Arash bertemu kakaknya. Jadi tadi dia minta aku untuk jemput kamu."
"Hmm, bisa-bisanya dia gak kasih kabar sama aku, aku khawatir banget takut dia kenapa-napa karena nomernya gak aktif."
"Ponselnya mati, dia lupa bawa charger."
"Ckck, kebiasaan emang dia itu."
"Pulang sekarang, yuk!"
"Tapi, Mas. Aku udah pesan taksi online."
"Cancel aja," pinta Kenzo. "Aku diamanatin sama Gina loh, untuk jemput kamu."
"Hehe, ya sudah Mas. Sebentar ya aku cancel dulu."
"Ok."
Usai mengcancel orderan taksinya, Fey berdiri dan berjalan mengekori Kenzo yang kemudian membukakan pintu untuknya.
"Silahkan masuk."
"Makasih banyak, Mas."
"Sama-sama, Fey," jawab Kenzo dengan wajah berseri-seri.
Bibir tipis pemuda keturunan Tionghoa itu tidak berhenti mengulas senyum.
Senyum kebahagiaan karena bisa berada dalam satu mobil dengan wanita yang sudah mampu membuatnya hatinya berbunga-bunga.
Untuk sesaat, tidak ada perbincangan diantara mereka berdua.
Namun akhirnya Kenzo mengambil inisiatif untuk membuka obrolan dengan hal-hal yang ringan.
"Makasih banyak ya Fey, sudah bimbing adikku sampai dia mahir dan pintar seperti sekarang. Dia banyak cerita kalau cara mengajarmu sangat efektif dan mudah dipahami."
"Aku hanya menjelaskan materi yang sudah ada, memang Keanu murid yang cerdas dan berprestasi dalam bidang matematika. Jangan berlebihan kaya gitu ah, aku jadi malu. Hehe."
"Tapi kan kalau cara ngajar kamu gak enak, pastinya si Keanu gak akan bisa menjuarai kompetisi bergengsi kaya kemarin, karena gak bisa menguasai materi dan rumus dengan baik."
"Jangan membuat aku menjadi besar kepala," tukas Fey sembari merunduk malu. "Oh iya, Mas. Ini piagam punya Keanu, tadi ketinggalan. Kayanya dia lupa masukkan ke dalam tas."
Kenzo meraih map coklat yang diberikan oleh wanita yang duduk di sampingnya, "Makasih ya, nanti aku sampaikan sama dia."
"Ok."
"Kamu mau gak mampir dulu ke kedai atau rumah makan untuk makan?"
"Langsung pulang aja, Mas."
"Tapi, aku lapar Fey. Please mau ya," pinta Kenzo setengah merengek.
Untuk sesaat Fey terdiam, hingga akhirnya ia pun setuju dengan ajakan Kenzo.
"Kita ke resto Jepang yuk, aku kepingin banget makan sukiyaki."
"Ok," jawab Fey.
'Yes,' gumam Kenzo dalam hati.
Setengah jam kemudian, sampailah mereka di sebuah pusat perbelanjaan, dimana restoran Jepang itu berada di dalam gedung mall tersebut, tepatnya di lantai tiga.
Keduanya menaiki lift dan kemudian berjalan memasuki gedung bercat orange, dengan ornamen dan hiasan cantik serba merah yang cerah dan mampu memanjakan mata setiap pengunjung yang datang ke sana.
Kenzo mengajak Fey duduk di sudut ruangan, spot yang sangat nyaman dengan meja menghadap ke jendela kaca yang cukup besar.
"Kamu mau makan apa, Fey?"
"Barengan aja, Mas. Kan sukiyaki porsinya banyak."
"Ok kalau gitu, mau pakai nasi?"
"Gak, Mas. Sudah ada mienya, takut mubazir."
"Terus minumnya mau apa?"
"Thai tea aja, tapi es batunya dikit."
"Ok," jawab Kenzo sembari menutup buku menu, lalu kemudian ia berbicara kepada sang pelayan yang sudah berdiri di sampingnya, "sukiyaki porsi medium satu, thai tea dengan sedikit es batu dan matcha latte nya, dan dua botol air mineral."
"Baik, Kak. Mohon ditunggu ya."
"Ok."
Sepeninggal pelayan tanpa disadari, Kenzo asyik menatap wajah Fey yang cantik.
Menyadari sedang diperhatikan, Fey pun spontan langsung menepuk lengan Kenzo.
"Sorry, keasyikan. Hehe."
"Maksudnya, Mas?"
"Bukan apa-apa. Lupakan!"
'Wajahmu bikin hatiku selalu merindumu, Fey.'
"Mas Kenzo, masih lama di Jakarta?"
"Gak tau nih, liat sikon aja."
"Terus siapa yang urus resto di Bandung?"
"Ada teman yang aku percaya."
"Syukurlah, punya teman yang bisa diandalkan."
__ADS_1
"Alhamdulillah, sama kaya Arash, teman rasa saudara."
"Hehe, sama kaya aku sama Sagina dong Mas."
"Yups, kamu sahabatan sama Sagina udah lama ya?"
"Semenjak kuliah. Kalau Mas sama Mas Arash sudah lama sahabatan?"
"Dari semenjak dalam kandungan, hehe."
"Hehe, bisa aja."
"Oh iya Fey, aku mau bicara sesuatu sama kamu."
"Ada apa, Mas?"
"Aku mau minta maaf."
Fey mengernyitkan dahinya, "maaf untuk apa?"
"Soal ucapanku tempo hari."
"Yang mana, Mas? Aku bingung loh, beneran."
"Soal, kehamilan dan suamimu."
Seketika wajah Fey menjadi muram, raut kesedihan terpancar jelas.
"Sudahlah, Mas. Jangan dibahas lagi!" Sebuah senyuman getir terulas dari bibirnya.
"Tapi tetap aku harus minta maaf, aku benar-benar gak tau."
"...."
"Jangan sedih Fey, songsong masa depanmu, yakinlah kalau Allah akan memberimu kehidupan yang lebih baik jika kamu sungguh-sungguh bertaubat."
"Makasih banyak supportnya, aku hanya sedih setiap kali masalah kehamilan ini dibahas. Gara-gara kebodohanku, aku jadi dibuang oleh ayahku. Beliau tidak memperdulikanku lagi, hiks."
Bulir bening menetes di sudut mata indah Fey.
"Maafin aku sekali lagi, Fey. Aku harap kamu jangan patah semangat dan putus asa, suatu hari nanti orang tuamu pasti akan kembali baik."
"Iya, Mas. Aku gak marah kok sama kamu. Semoga saja."
Tangan Kenzo mengusap bahu Fey, yang merunduk sambil menangis.
'Seandainya kamu tahu Fey, aku bersedia menjadi ayah dari bayi yang sedang kamu kandung itu. Aku ... Aku mencintaimu, Feylin.'
***
"Ayolah, Mbak. Aku sangat mencintai Sagina."
"Tapi, Mbak gak sreg sama dia Rash."
"Gak sregnya kenapa Mbak?"
"Gak tau, kurang cocok aja di hati ini."
"Ya Allah, terus biar Gina bisa cocok dengan hati Mbak harus bagaimana?"
"Mbak masih berniat menjodohkanmu dengan gadis yang dulu pernah ngekost di rumah Mas Fillah."
"Mbak, aku yang akan menjalani pernikahannya. Jadi tolonglah, hargai keinginanku."
"Aku pengganti Ibu dan Ayah, jadi sudah seharusnya juga kamu mengerti kalau Mbak mau yang terbaik untukmu."
Wajah Arash memerah, ia menahan emosi yang bergemurug di dalam dadanya.
"Sebentar Mbak akan hubungi dan ajak gadis itu kemari, kamu bertemu dulu sama dia sekali saja, setelah itu baru kamu putuskan. Mbak sayang sekali sama anak itu, dia sangat baik dan sopan. Orang tuanya juga sudah kenal dengan Mbak, berasal dari keluarga yang baik dan jelas."
Arash membisu, ia kemudian berdiri dan berlalu meninggalkan sang kakak tanpa mengucapkan pamit.
"Ckck, suka ya kok sama cewek metal gitu. Mbak tau itu Sagina suka pakai banyak anting, walaupun tadi dia cuma pakai sepasang anting, tapi keliatan kok lubang bekas tindikan berderet sampai ke atas. Di hidungnya juga ada bekas tindikan, artis India bukan. Hadeuh, Arash ...," oceh Evelyn.
Mendengar hal itu, Arash merasa sedih. Ia menutup pintu kamarnya dengan kencang.
"Argh, menilai manusia hanya dari luar. Ya Allah, lunakkan hati Kakakku."
Arash mengempaskan tubuhnya ke atas kasur, matanya menatap langit-langit kamar.
Beberapa kali ia menarik nafas panjang, berusaha menenangkan dirinya.
Ia tidak mau berdebat dengan kakaknya, hal itu dilakukannya karena demi menjaga perasaan wanita yang selama ini sudah mengurus serta sudah berjuang keras membiayai sekolah, serta kuliahnya.
Setelah kedua orang tua mereka meninggal, tanggung jawab dipikul sepenuhnya oleh Evelyn.
Evelyn sangat menyayangi Arash, tanggung jawabnya ia tuntaskan sampai adiknya itu rampung menyelesaikan kuliah perhotelan dan sukses menjadi seorang Chef yang handal.
Tok ... Tok ... Tok!
"Rash, kamu mau ikut?"
"Gak, Mbak."
"Ya sudah kalau gitu, Mbak pergi dulu yo. Keponakanmu kepingin makan di luar."
"Iya, Mbak."
Masih dengan hati yang kesal, Arash menutup wajahnya dengan bantal.
Petang itu ia enggan kembali ke restoran, hatinya sedang gundah dan kecewa atas sikap kakaknya yang tidak merestui hubungannya dengan sang kekasih.
...
"Iya, Sayang. Yuk kita ke toilet!" ajak Evelyn, menuntun putra semata wayangnya.
Evelyn membawa masuk putranya ke dalam toilet wanita.
Tanpa diduga di dalam toilet tersebut, wanita dengan kerudung syar'i berwarna hijau mint itu bertemu dengan Fey.
Fey mencium punggung tangan mantan ibu kostnya dulu, lalu keduanya saling berpelukan.
"Berapa bulan, Fey?"
"Jalan sembilan, Mi," jawab Fey setengah berbisik. "Umi apa kabar?"
"Alhamdulillah sehat, Sayang. Kamu nikah kok gak undang Umi?" tergambar jelas rasa kecewa di wajah Evelyn, karena harapannya untuk menjodohkan adiknya dengan gadis yang tengah berdiri di hadapannya kandas sudah.
"Hmm, anu ... Mi," ucapan Fey tertahan, ia merasa bingung.
"Iya, Umi mengerti dengan alasanmu tidak mengundang Umi. Yang penting kehamilanmu sehat dan proses melahirkan nanti juga dilancarkan segala sesuatunya oleh Allah."
"Amiin, makasih ya Umi. Fey kangen sekali sama Umi."
"Main-main dong ke rumah! Umi gak pernah kemana-mana kok."
"Hehe, iya insya Allah Umi. Nanti kalau ada waktu, Fey akan singgah ke rumah. Fey sekarang mengajar di Bina Insani, Mi."
"Level apa?"
"SMA, mengajar matematika. Di kelas IPA."
"Masya Allah, keren sekali bisa menjadi staff pengajar di sekolah swasta berkelas seperti Bina Insani."
"Alhamdulillah, Mi. Hehe, oh iya Umi sama siapa?"
"Berdua aja sama Uwais, abinya masih di luar kota," sahut Evelyn, "anaknya lagi di dalam, pipis." Tunjuknya ke arah pintu toilet di belakang Fey.
"Oh, pintarnya sudah bisa pipis sendiri," puji Fey sambil mengulas senyum lebar. "Hai, anak shaleh, kamu apa kabar?" sambutnya saat melihat Uwais keluar dari dalam toilet.
Uwais yang tidak mengenal sosok Fey, hanya diam sambil menatap.
Evelyn menghampiri sang putra, kemudian ia menyuruh putranya itu untuk menyalimi Fey yang mengusap pipi Uwais.
"Ini Aunty Feylin, dulu Aunty Fey ini kost di rumah Abi."
"Hai, ganteng. Kenalan yuk! Nama kamu siapa?"
Uwais tersenyum dan kemudian mencium punggung tangan Fey, "Uwais, Aunty."
"Sudah sekolah?"
"Sudah."
"Kelas berapa?"
"Kelas sepuluh," jawab Uwais asal, membuat Fey dan ibunya tertawa.
Setelah beberapa saat bercengkrama, Fey pun segera berpamitan untuk pulang duluan.
Ia teringat kepada Kenzo yang sudah menunggunya di mobil.
"Hati-hati di jalan ya Sayang, salam untuk suamimu."
Fey tidak menyahut, ia hanya tersenyum sembari mengangguk.
Sepeninggal Fey, bathin Evelyn berkecamuk.
Ada sepenggal rasa kecewa yang menyelimuti petemuannya dengan gadis yang selama ini ia sayangi.
Niat hati akan menjodohkan adiknya dengan Fey, telah gagal seiring dengan kenyataan yang ia dapati.
Mantan anak kostnya itu kini tengah berbadan dua.
'Bukan jodoh berarti, pfuh!' gerutu Evelyn di dalam hatinya.
...
"Maaf ya lama, Mas."
"Gak apa-apa, aku sabar menunggu kok."
Fey tersenyum.
"Mau langsung pulang atau ...."
"Langsung pulang aja, Mas. Kaki aku udah pegal, hehe."
"Sip. Besok berangkat jam berapa?"
"Jam 06.00, Mas. Kenapa gitu?"
"Gak apa-apa, cuma nanya. Hehe."
'Besok aku akan mengantarmu ke sekolah, Fey.'
"Mas, makasih ya untuk waktunya. Dengerin curhatan aku yang gak penting itu."
"Aku sangat senang bisa jadi orang yang kamu jadikan tempat untuk berbagi. Aku pendengar yang baik kan?"
"Bukan hanya pendengar yang baik, Mas Kenzo juga seorang penasihat yang handal. Kamu udah bikin semangat hidupku menyala."
"Alhamdulillah, harus semangat Fey. Kamu percaya sama rencana Allah, semua akan indah dan membaik."
"Amiin, ya Allah."
__ADS_1
Fey kembali tersenyum dan melirik pria yang sedang mengemudi di sampingnya.
'Aku akan membuat hidupmu indah dan baik, Fey.'
Selanjutnya keduanya kembali terlibat dalam perbincangan yang hangat dan akrab.
...
"Fey, gue gak bisa nganterin lo gawe. Bokap datang, gue mau jemput ke bandara."
"Iya, gak apa-apa. Eh gimana kemarin ketemu sama keluarga Mas Arash?"
"Biasa aja, ah. Cuma sama kakaknya doang kemarin ketemu, Mas Arash kan yatim piatu Fey."
"Ya Allah, kasihan banget. Gimana respon kakaknya?"
"Gak tau ya cuma perasaan gue, ataukah memang benar, cuma dari sikapnya kayanya dia kaya gimana gitu sama gue."
"Kaya gitu gimana maksudnya?"
"Ya kaya gak suka sama gue, ngeliat gue dari atas sampai bawah."
"Ah jangan berprasangka buruk dulu, kan baru ketemu, jadi wajar kalau kakaknya itu ngeliat lo kaya gitu."
"Ya aneh aja, dia gak suka kali sama fashion gue, celana jeans dan kemeja ketat. Secara calon ipar gue itu kerudungnya panjang, syar'i gitu."
"Hehe, jangan dipikirin ah. Toh yang penting Mas Arashnya sangat sayang sama lo, itu yang terpenting."
"Iya, alhamdulillah. Makanya bokap hari ini mau datang, selain mau ada yang dibeli untuk di tokonya, sekalian mau kenalan sama Mas Arash."
"Mantap jiwa, semoga lancar urusan lo sama Mas Arash."
"Amiin, kemarin gimana?"
"Gimana apanya?"
"Nge-date sama Mas Kenzo."
"Rese lo, sembarangan aja kalau ngomong."
"Haha, abis apaan dong namanya jalan berduaan kaya gitu, kalau bukan kencan?"
"Kan lo yang nyuruh Mas Kenzo jemput gue?!"
Sagina menggeleng, "gue mau jujur nih sama lo, tapi janji ya lo jangan ngambek sama gue!"
"Ada apaan sih?"
"Janji dulu sama gue!"
"Cepetan bilang!"
"Janji dulu!"
"Ya, gue janji. Cepetan bilang."
"Sebenarnya, Mas Kenzo yang menawarkan diri buat jemput lo. Tadinya gue dan Mas Arash yang mau jemput, habis turunin lo di apartemen, kita mau langsung ke rumah Mas Arash. Tapi Mas Kenzo yang ngotot minta jemput lo, akhirnya gue matiin handphone sesuai permintaannya Mas Kenzo, supaya lo mau diajak dia pulang bareng."
Mendengar ucapan Sagina, mata Fey membulat sempurna.
"Kenapa bisa?"
Sagina mengangkat kedua bahunya.
"Lain kali jangan kaya gitu, ah. Gue risih harus berduaan sama Mas Kenzo, Gin."
"Risih kenapa?"
"Risih aja, walaupun dia sangat baik dan enak diajak ngobrol, tapi tetap aja guenya gak nyaman."
"Santai aja kali, gue rasa Mas Kenzo itu ada hati sama lo Fey."
"Ngaco, ah," sungut Fey sembari melemparkan handuk basah ke arah sahabatnya yang duduk di tepi kasur.
"Seriusan, Fey. Mas Arash sempat cerita sama gue kemarin, katanya Mas Kenzo jatuh hati sama lo."
"Udah ah, jangan bahas gituan. Gak ada gunanya. Sarapan yuk!"
Fey membuka knop pintu dan meninggalkan Sagina di dalam kamarnya.
Wanita berpakaian dress batik itu melangkahkan kakinya menuju dapur, untuk membuat hidangan sarapan.
"Giin, mau nasgor gak?" teriaknya.
"Yoiiii," sahut Sagina dari dalam kamar.
Dengan cekatan, Fey mengupas dan memotong bawang merah, lalu menumisnya di atas wajan teflon berukuran sedang.
Aroma harum tercium, dan beberapa menit kemudian nasi goreng plus telur dadar pun sudah tersaji di meja makan.
Fey kembali berteriak memanggil sahabatnya, namun tidak ada sahutan.
Akhirnya ia pun memutuskan untuk sarapan seorang diri.
Ting ... Tong!
Fey beranjak dari kursi makannya untuk membukakan pintu.
Sosok pria jangkung dengan kemeja press body berwarna merah marun dan celana jeans navy, berdiri sambil mengulas senyum kepada Fey yang membukakan pintu.
"Assalamualaikum, Fey."
"Wa-waalaikumsalam, Mas Kenzo."
"Maafin kalau aku datang sepagi ini, aku cuma mau antar kamu ke sekolah."
"...."
Fey bergeming, netranya masih betah menatap pria tampan di hadapannya.
Sejujurnya ia masih shock karena tidak menyangka kalau Kenzo akan datang sepagi itu, hanya untuk mengantarnya ke sekolah.
Kenzo melambai-lambaikan telapak tangannya di depan wajah Fey.
"Fey, hai ... kamu gak keberatan kan kalau aku antar kamu?"
"Euh, sorry Mas. Aku hanya kaget, hehe. Mari silahkan masuk!"
Beberapa langkah Fey mundur, dan mempersilahkan tamu tak diundangnya itu untuk masuk.
"Silahkan duduk dulu, Mas! Aku bikinin dulu teh hangat ya."
"Jangan repot, Fey."
"Gak kok, sudah sarapan?"
Kenzo menggeleng.
"Ok," ucap Fey sembari tersenyum.
Tanpa membuang waktu, wanita berdarah Bugis-Makassar itu pun segera bergegas ke dapur untuk menyiapkan hidangan sarapan untuk Kenzo.
"Mas, Kenzo. Mari ke sini!" ajak Fey.
Kenzo menurut, ia pun segera masuk dan duduk bersama Fey di kursi makan.
"Sarapan dulu, Mas!"
"Jadi ngerepotin."
"Gak kok, Mas. Ini teh hangatnya."
"Makasih, ya."
"Iya."
Perlahan tapi pasti, Kenzo menikmati nasi goreng buatan Fey.
"Fey ...."
"Ya."
"Nasgornya enak."
"Pakai bumbu instant, hehe."
"Oh iya? Tapi kok wangi ya."
"Aku tambahin bawang merah, supaya lebih sedap."
"Pantas."
Ketika keduanya sedang asyik menyantap sarapan, tiba-tiba muncul Sagina dari dalam kamar.
Berkali-kali ia mengucek matanya, gadis manis asli Minang itu masih tidak percaya kalau sahabat dari kekasihnya kini tengah duduk berdua bersama sohibnya, sedang menikmati sarapan sembari berbincang dengan sangat akrab.
Hanya berdua.
"Ehm," Sagina berjalan memghampiri dua sejoli yang terlihat sangat menikmati kebersamaan mereka. "Sarapan berduaan, gak ngajak-ngajak."
Kenzo menjadi salah tingkah, pemuda berusia 27 tahun itu tersenyum dan memanggutkan kepalanya ke arah Sagina.
"Gue panggilin, tapi lo gak nyahut."
"Ketiduran, hehe."
"Dasar, *****."
"Hehe, cuacanya mantap buat bobo lagi. Apalagi di kamar lo spreinya bersih dan wangi."
Fey dan Kenzo tertawa mendengar jawaban Sagina yang terkesan polos dan apa adanya itu.
Dengan cuek, Sagina mengambil piring nasi goreng milik Fey, dan melahapnya.
Suasana sarapan pagi itu dirasa lebih hangat dari biasanya.
Kehadiran Kenzo yang humoris, mampu membuat atmosfer pagi itu menjadi lebih hidup.
Hingga tidak terasa waktu telah menunjukkan pukul 06.05.
Sudah saatnya untuk Fey berangkat ke sekolah tempat dimana ia mengajar, yang berjarak kurang lebih 35 km dari kediamannya.
Sagina mengantar sahabat dan Kenzo sampai di ambang pintu.
Wajahnya berbinar bahagia.
Ia berharap, kehadiran Kenzo mampu membuat hidup dari wanita yang sudah dianggapnya sebagai saudara itu menjadi kembali berwarna.
Banyak harapan serta doa terucap di dalam hatinya, agar Allah segera menyudahi penderitaan dari sahabatnya itu.
"Berbahagialah, Fey. Sudah waktunya kamu kembali tersenyum dan tertawa."
...*...
**Bersambung**
__ADS_1