
*Part - 18*
"Saya terima nikah dan kawinnya Andi Feylin Rahim binti Andi Rahim, dengan mas kawin tersebut tunai karena Allah ...."
"Sah!"
"Sah!"
"Sah!"
"Alhamdulillah," ucap Fey haru, saat mendengar pria pujaan hatinya itu mengucap ijab kabul.
Di dalam kamar pengantin, Fey yang mengenakan gaun pengantin adat bugis berwarna hijau botol dengan sisi berwarna silver, sengaja ia meminta Mira merubah warna gaun pengantinnya yang dari semula putih, itu karena ayahnya sangat menyukai warna hijau botol tersebut.
Namun, warna apapun yang dipilih, itu tetap membuatnya tampilannya sangat anggun sekali.
Riasan dahi berwarna hitam yang disebut dadasa. Tata rambutnya pun istimewa, dengan sanggul yang berdiri tegak di bagian belakang kepala sebagai tempat menyisipkan berbagai aksesori.
Hiasan bunga logam bernama pinang goyang diletakkan di atas sanggul, sedangkan bunga simpolong dipasang di sisi sanggul.
Terakhir, mahkota saloko duduk di atas kepala seperti bando. Sungguh membuat Fey terlihat semakin cantik.
Dari dalam kamar, Fey mendengarkan dengan seksama segala rangkaian prosesi akad nikah.
Jantungnya berdebar saat MC yang memandu acara, mengumumkan tentang prosesi selanjutnya yaitu 'Appabajikang Bunting'.
Setelah akad nikah selesai, Kenzo diantar ke depan kamar istrinya.
Sesuai dengan tradisi bugis-makassar, pintu kamar Fey terkunci rapat.
Kemudian terjadi dialog singkat antara pengantar mempelai pria dengan penjaga pintu kamar mempelai wanita.
Beberapa saat kemudian, Kenzo pun diizinkan masuk ke dalam kamar pengantin, kemudian diadakan acara Mappasikarawa (saling menyentuh).
Setelah itu, Kenzo dan juga Fey bersanding di atas tempat tidur untuk mengikuti prosesi selanjutnya, yaitu pemasangan sarung sebanyak tujuh lembar yang dipandu oleh indo botting (pemandu adat). Hal ini mengandung makna bahwa Kenzo sebagai mempelai pria sudah diterima oleh keluarga mempelai wanita.
Suasana haru terasa saat kedua mempelai melakukan prosesi sungkem kepada kedua orang tua mereka. Walaupun yang hadir dari pihak Kenzo hanya om dan tantenya, namun hal itu tidak mengurangi kesakralan acara tersebut.
Keduanya tersenyum lega saat semua prosesi akad pernikahan yang panjang telah selesai dilaksanakan dengan baik dan khidmat, Fey mencium punggung tangan suaminya dengan takzim. Itu kali pertama ia lakukan, dan akan menjadi rutinitasnya kelak setelah resmi menjadi seorang istri.
"Masya Allah, cantik sekali istriku ini," puji Kenzo, sambil menggenggam jemari Fey.
Di atas pelaminan, kedua insan yang sedang berbahagia itu tidak bosan menyunggingkan senyuman kebahagiaan.
Keduanya tidak menyangka, perjalanan cinta mereka dapat berlabuh di pelaminan.
Sagina dan Arash mengucap selamat kepada pengantin yang merupakan sahabat dari keduanya.
"Selamat ya Fey, akhirnyaaa ... Gue sangat bahagia."
"Terimakasih ya, sahabat dunia khirat gue. Gue doain semoga lo dan Mas Arash pun disegerakan dan lancar semua prosesnya."
"Amiin, ya Allah. Amiin ...."
Menjelang dhuhur tiba, tamu undangan membludak, tampak para tetangga dan juga anggota dewan yang merupakan rekan sekerja Andi berdatangan dan mengucapkan selamat kepada kedua mempelai pengantin.
Diantara antrian panjang menuju pelaminan, terlihat Rio sedang berdiri ikut dalam barisan bersama seorang gadis berhijab.
Wajah Kenzo berubah bahagia saat melihat teman barunya itu muncul, "thanks Rio, sudah sempatkan hadir."
"Sama-sama, Kak. Selamat ya, semoga kalian menjadi keluarga yang berbahagia di dunia dan akhirat."
"Amiinn, segerakan wanita berhijabmu itu Rio. Undang kami, jangan lupa!"
"Insya Allah, Kak. Mohon doanya."
Kenzo dan Rio saling berpelukan, sementara Fey mengulas senyum kepada Rio dan kekasihnya, sebelum turun dari pelaminan, mereka berempat pun berfoto bersama.
Tidak seperti di daerah yang ada di pulau Jawa, pesta pernikahan dengan adat Bugis biasanya dihelat dalam waktu yang singkat. Lepas adzan dhuhur, tamu undangan sudah tidak ada lagi yang datang.
"Sayang, kok emak-emak ketjeh pembaca setia cerbung kita gak pada dateng? Kamu lupa undang mereka ya?"
"Sudah semua kok, Mas. Mungkin mereka lagi sibuk, atau gak punya ongkos, hihi."
"Mungkin juga ya, gak apa-apa deh yang penting doanya aja ya Sayang, supaya rumah tangga kita bahagia dan diberi keberkahan oleh Allah."
" Amiin, insya Allah mereka doain kita Mas."
Tidak lama seorang photografer pun menghampiri mereka berdua.
Suasana kian sepi, yang terlihat di area pesta adalah para petugas catering yang sibuk membereskan piring-piring kotor, beserta dengan peralatan yang telah digunakan, dan juga kedua mempelai yang asyik berfoto di atas pelaminan, dengan dipandu seorang photografer.
Setelah sesi foto selesai, keduanya turun dari pelaminan dan berjalan bersama menuju rumah.
Kedatangan mereka disambut oleh ledekan dan suitan dari keluarga yang sedang berkumpul di ruang tamu dan ruang tengah.
Khadijah datang menghampiri anak dan menantunya, "kalian berganti pakaian, lalu makan dan istirahat."
"Iye', Ma."
Dengan malu-malu, keduanya masuk ke dalam kamar.
Usai berganti pakaian dan membersihkan diri, Fey dan Kenzo makan bersama di ruang tengah.
Mereka berdua sangat bahagia, karena keluarga besar Fey dari segala penjuru Sulawesi selatan hadir, mulai dari yang terdekat sampai yang terjauh.
Saat sore hari tiba, sanak saudara mulai berpamitan pulang. Suasana yang awalnya ramai, berubah menjadi kembali sunyi.
Arash dan juga Sagina, ditahan untuk tidak segera pulang. Namun karena banyaknya pekerjaan yang ditinggal lama, akhirnya selepas maghrib keduanya berpamitan kembali ke Jakarta.
Kemudian, pasangan pengantin baru itu pun mengantar kepulangan kedua sahabatnya sampai di bandara, tidak lama setelah sampai mereka pun berpisah.
"Sampai ketemu di Jakarta, Fey."
"Iya, Gin. Kabari gue setelah sampai!"
"Yoi, bye."
"Bye!"
Keduanya masuk ke dalam gedung bandara, setelah menghilang dari pandangan, Kenzo merangkul bahu istrinya dan berjalan bersama menyusuri bandara menuju parkiran.
"Yang ...."
__ADS_1
"Kamu ingat dengan cafe ini?"
Kenzo menunjuk sebuah cafe yang dahulu pernah menjadi saksi duka, saat mereka hendak kembali ke Jakarta karena diusir oleh Andi.
"Huum."
"Kita masuk yuk!"
"Aku masih kenyang."
"Kita santai sebentar, minum kopi supaya kuat begadang, hehe."
Fey mencubit perut suaminya, "aduuh, sakit dong Sayang."
"Habisnya," sungut Fey.
"Jangan ngambek dong, tar aku ilang lagi nih."
Fey segera mengeratkan tangannya ke pinggang sang suami, "awas aja berani kabur, aku teriakin maling."
"Haha, jahat banget."
Dan keduanya pun memasuki cafe.
"Mas ...."
"Apa, Sayang?"
"Aku mau tanya."
"Aku mau jawab, hehe."
"Mass Kenzo ini ya, godain aku terus."
"Abis cantik sih."
"Tuh kan, gombal."
"Udah halal kali, bebas mau ngapain aja."
"Hihi, aku mau tanya soal inisial nama 'A' di status WA kamu dulu, itu siapa?"
"Ada aja, kepo!"
"Aku ngambek nih."
"Ngambek aja, tar aku cium bibirnya biar tau rasa. Haha."
"Jawab aku, Mas! Inisia nama itu siapa?"
"Masa gak tau?"
"Ya gak tau, kan Mas belum kasih tau."
"Kasih tau gak ya?"
"Males deh, Mas nyebelin."
"Duh, gitu aja ngambek. Iya aku kasih tau, inisial nama itu ya kamu sayang. 'A' itu Andi."
"Haha, ih masa aku jeruk makan jeruk."
Setelah puas bercengkrama sambil menikmati kopi panas dan sepotong tiramisu, keduanya pun pulang.
Di sepanjang perjalanan menuju rumah, Kenzo menceritakan perihal pertemuannya dengan Rio dan ayah mertuanya, Fey tidak dapat menahan tawanya.
"Nekat banget, Mas."
"Daripada aku kehilangan kamu, hayo."
"Seandainya Kak Rio gak mau lepasin aku buat kamu, kamu mau gimana?"
"Ya aku buka ikatannya supaya kamu bisa lepas, haha."
"Hihi, Mas ada-ada aja jawabannya."
"Kalau Rio gak mau kasih kamu ke aku, ya aku bawa kamu lari. Kita kawin lari."
"Aku gak mau, silariang atau kawin lari dalam adat kami bisa fatal akibatnya, Mas."
"Aku juga gak mau, Sayang. Kan cuma berandai-andai, lagian juga males aku kawin lari, capek."
Fey memukul lengan sang suami yang tak berhenti bercanda dan menggodanya.
Sesampainya di halaman rumah, suasana masih ramai oleh para bapak-bapak yang bermain gaple atau domeng.
Rupanya Andi mengadakan kompetisi dengan hadiah yang lumayan.
Kenzo dan Fey menghampiri sang ayah yang sedang asyik meminum kopi sambil mengobrol dengan suami dari Radi.
"Hadiahnya apa, Opu?"
"Hadiah hiburan, sarung sutera. Kalau hadia utama, juara pertama uang satu juta, kedua uang tujuh ratus lima puluh ribu dan yang ketiga uang lima ratus ribu."
"Aku boleh ikutan gak Opu?" celetuk Kenzo.
"Ndak usah'ya, kamu tunaikan saja kewajibanmu terhadap putriku. Bisa cemberut nanti istrimu ituu, kalau kamu begadang di sini. Haha."
Fey tersipu malu, pipinya berubah warna merah jambu.
Sedangkan Kenzo, tertawa bersama bapak-bapak yang lain.
Fey berpamitan untuk masuk ke dalam rumah, sedangkan Kenzo masih asyik menonton pertandingan domeng.
"Yang gak apa-apa ya, aku di sini dulu?"
"Iya, Mas. Aku masuk dulu ya."
Kenzo mengangguk dan tersenyum kepada istrinya.
Waktu beranjak tengah malam, pertandingan pun usai. Semua orang berpamitan, untuk kembali ke rumahnya masing-masing.
Kenzo dan mertuanya masih duduk-duduk di teras rumah.
__ADS_1
"Tidurlah, Nak!"
"Iya, Opu. Tapi sebenarnya masih ada yang ingin Kenzo sampaikan sama Opu."
"Apa itu, Nak?"
"Hmm, begini Opu. Boleh gak kalau saya bawa Fey dan Kenzie ke Jakarta?"
Andi mengulas senyum, namun senyumannya itu terlihat getir.
"Opu ndak bisa melarangmu, Fey adalah istrimu, bebas mau kamu bawa kemana saja."
"Alhamdulillah, terimakasih Opu."
"Asal ... Jaga dan perlakukan istrimu dengan baik, berikan dia nafkah lahir dan bathin dengan baik, berikan didikan istri dan anakmu kelak dengan baik. Jangan pernah sakiti istrimu, seandainya suatu hari nanti kamu sudah tidak menginginkannya lagi, antarkan dan kembalikan istrimu kepada Opu. Tapi semoga hal itu tidak terjadi."
Mata Andi berkaca-kaca.
"Insya Allah, saya akan melaksanakan apa yang Opu utarakan barusan. Susah payah saya memperjuangkan putri Opu, jadi rasanya mustahil bagi saya bisa menyia-nyiakannya."
"Opu percaya itu, Nak. Titip Fey dari adikmu ya Ken, jangan sampai kelak adikmu itu kembali melecehkan putri Opu. Seandainya hal itu sampai terjadi, Opu ndak segan untuk menindaknya, bahkan kalau perlu Opu akan membunuhnya, walaupun dengan resiko akan dipenjara, Opu ndak gentar."
Kenzo tertunduk, ia merasa malu dengan kelakuan adik tirinya.
"Iya, Opu. Insya Allah, saya akan menjalankan semua amanah yang Opu titipkan kepada saya."
"Ya sudah, istirahat sana. Sudah hampir jam dua, kasihan istrimu tidur sendirian."
"Iya, Opu. Saya pamit ke kamar, selamat istirahat Opu."
"Iyo, Nak. Terimakasih."
Kenzo beranjak dari kursi, lalu berlalu masuk meninggalkan ayah mertuanya yang masih enggan untuk masuk.
Krieeeettt ...!
Kenzo melangkah perlahan memasuki kamar pengantin, di sisi kiri ranjang tampak sang istri dengan balutan baju tidur berwarna biru langit tengah tertidur lelap sambil memeluk guling.
Ia duduk di bibir ranjang, tepat di samping istrinya.
Kenzo mengusap rambut Fey sambil tersenyum, "untuk pertama kalinya aku melihat wajahmu sedamai ini. Semoga selamanya aku bisa membuatmu bahagia, istriku."
Tidak ingin membangunkan istrinya yang tengah menjelajah alam mimpinya, Kenzo membaringkan tubuh di samping Fey dan menyusupkan tangannya ke pinggang sang istri yang tidur dengan posisi membelakangi dirinya.
Tersadar suaminya berada di belakangnya, Fey membalikkan tubuhnya.
Ia menenggelamkan wajahnya di dada bidang Kenzo, keduanya merapatkan tubuh erat.
"Sudah selesai ma'domengnya, Mas?"
"Sudah, Sayang. Maafin ya, aku biarin kamu tidur sendirian tadi."
"Gak apa, Mas. Yang penting kan sekarang Mas, sudah ada di dekat aku."
"Sayang ...."
"Ya, Mas." Fey sedikit mendongakan wajahnya.
"Mau sekarang atau nanti?"
"Terserah, Mas. Kapan pun Mas mau, aku siap."
Kenzo mengusap anak rambut yang menghalangi wajah istrinya, perlahan ia pun mencium kening dan bibir sang istri.
"I love you, istriku."
"I love you, suamiku."
"Mari kita sholat dua rakaat berjamaah dulu, setelah itu akan aku tunaikan kewajibanku sebagai suami."
Fey mengangguk dan keduanya beranjak dari tempat tidur, menuju kamar mandi untuk berwudhu.
Usai sholat, Kenzo memegang ubun-ubun istrinya.
"Allaahumma innii as-aluka khayraha wa khayra maa jabaltahaa ‘alaihi wa a’uudzu bika min syarrihaa wa min syarri maa jabaltahaa ‘alaihi." ucapnya pelan.
Fey tidak dapat menahan tangisnya, ia langsung menyandarkan kepalanya di pangkuan sang suami.
Kenzo memegang bahu istrinya, "ada apa Sayang? Kenapa nangis?"
"Aku terharu, kamu memperlakukan aku dengan sangat baik dan terhormat. Aku merasa gak pantas, hiks."
Bahu Fey naik turun, air mata mnya berlinang membasahi sarung yang dikenakan oleh Kenzo.
"Jangan bicara gitu, kita sudah sepakat gak akan membahas tentang masa lalu. Buatku, kamu adalah wanita suci. Jadi sudah sepantasnya aku memperlakukanmu dengan baik, aku sangat mencintaimu, istriku."
Kenzo mengangkat bahu sang istri, mengusap kedua pipinya dan membawa tubuh istrinya ke dalam pelukannya.
"Aku gak mau kamu terus seperti ini, selalu dihantui bayangan masa lalu. Menikahimu adalah anugerah buatku, memilikimu adalah impianku sejak awal aku menyatakan cintaku kepadamu, menua bersamamu adalah keinginanku saat aku mengucapkan ijab kabul dengan menjabat tangan ayahmu. Jadi, tidak ada alasan bagimu untuk bersedih dan larut dalam bayangan masa lalu.
Aku menerimamu apa adanya, aku tidak peduli berapa banyak orang yang berbicara miring tentangmu, aku masa bodoh dengan cibiran yang ditujukan kepadamu. Buatku adalah bagaimana membuatmu dan Kenzie bahagia hidup bersama denganku.
Jangan merasa tidak pantas untukku, karena mulai saat ini kita berdua telah menjadi satu. Kita harus saling melengkapi satu sama lain.
"Kamu pahami semua itu Sayang? Lepas masa lalu, dan sambut masa depan bersamaku."
"Terimakasih ya, Mas. Aku sangat mencintaimu, Maha Pengasih Allah karena telah memberiku pria hebat sepertimu untuk jadi pendamping hidupku."
Kenzo mengulas senyum dan kembali memeluk istrinya.
***
Nah lho, kok cuman segitu doang?
Belah durennya kapan?
Sabar maaakk, lagi cari goloknya dulu buat belah durennya. Wkwk.
Di part selanjutnya, kita belah duren yaaakkk, kita makan rame-rame.
Hihihi, 😁😄😃
***
__ADS_1
-Bersambung-