
*Part 7*
"Bapak Kenzo."
"Iya, Bu."
"Selamat, istri anda melahirkan bayi laki-laki. Nanti setelah dipindahkan ke ruang rawat, baru bisa ditemani," ucap seorang bidan kepada Kenzo.
"Istri? Eh iya, alhamdulillah, makasih banyak Bu Bidan."
Mendengar berita baik yang dibawa oleh sang bidan, mata Kenzo berkaca-kaca.
Rasa cintanya kepada Fey, mampu membuat pria yang berstatus hanya sebagai kekasih itu terharu.
"Selamat, Bro. Lo udah jadi ayah," ujar Arash, menepuk pundak sahabatnya.
"Cie, bentar lagi bakalan nikah nih, ehm, kita bakalan dilangkah ini, Mas. Dengar gak tadi Bidan itu bilang kalau Fey adalah istri Mas Kenzo. Hihi," ledek Sagina.
"Bisa jadi, Sayang. Aku juga kaget banget waktu Bidan itu bilang, kalau Fey adalah istri lo, semoga ucapan itu Bidan jadi doa.
Tenang, Bro ... Nifas cuma empat puluh hari kok, haha," Arash menimpali.
"Kalian berdua lagi doain apa ngeledekin?!"
Ketiganya tertawa, wajah mereka terlihat sangat bahagia.
Tigapuluh menit kemudian, Fey keluar dari ruang bersalin menuju ruang perawatan.
Kenzo langsung berlari menghampiri, mengambil alih kursi roda yang tadi didorong oleh perawat.
Sesampainya di ruang perawatan, Fey yang merasa sudah pulih karena melahirkan secara normal, menolak untuk berbaring di atas tempat tidur.
Ia lebih memilih duduk di sofa yang tersedia di ruangan tersebut.
Kenzo membantunya turun dari kursi roda.
Keduanya duduk bersama, rambut Fey yang berantakan di sisir dengan jari sang kekasih.
Fey sempat menolak, dengan alasan rambutnya berminyak karena habis keringatan sewaktu melahirkan tadi.
"Ah, sudah diam aja. Aku gak peduli, mau berminyak atau nggak."
"Aku gak pede, Mas. Bau apek."
"Sudah diam, jangan menghindar terus. Aku mau mengurusmu, kok gak boleh."
Kenzo mencubit gemas pipi kekasihnya yang tertawa.
"Selamat ya Sayang, babynya lahir dengan sehat. Aku sangat bahagia."
"Terimakasih banyak, Mas. Aku gak sabar nunggu si baby pindah ke ruangan ini."
"Iya, aku juga gak sabar untuk ketemu lagi sama si baby gembul. Hehe. Tadi waktu aku adzanin, si gembul anteng aja tidur."
"Hehe, aku belum kasih dia nama. Mas Kenzo mau gak kasih nama untuk baby gembul?"
"Seriusan aku yang kasih nama?"
Fey mengangguk.
"Gak minta ke ayahmu, Sayang?"
"Seandainya beliau mau, tentunya aku akan sangat bahagia. Namun anakku bukan seorang cucu yang beruntung, Mas. Kehadirannya tidak diinginkan."
"Ssstt, sudah jangan nangis. Aku janji gak akan ngebahas masalah orang tuamu lagi. Maafin aku ya, Sayang."
Kenzo menghapus air mata kekasihnya, kemudian mencium keningnya.
"Jangan sedih lagi, ada aku di sini."
"Ada kami juga, Fey."
Kenzo dan Fey menoleh ke ambang pintu masuk, Sagina dan Arash sedang berjalan mendekat.
Kedua sahabat karib, Fey dan Sagina saling berpelukan.
"Gue bilang jangan cengeng! Kita semua ada buat lo, ok."
"Thanks, Bondol. Love you," isak Fey.
Keduanya kembali berpelukan.
"Selamat ya Fey, aku udah bisa dipanggil Oom ganteng dong ya sekarang. Hehe," canda Arash, membuat semuanya tertawa.
"Lo lebih pantas dipanggil Opa ganjen, Bro," ledek Kenzo.
"Haha," gelak tawa kebahagiaan memenuhi ruang rawat inap vip.
Tidak lama kemudian, seorang perawat datang menggendong bayi mungil berselimut biru, yang tidak lain putra dari Fey.
"Ibu Feylin, ini putranya. Sudah bisa tinggal bersama ibu di ruangan ini."
"Terimakasih banyak, Sus. Kata Bu Bidan, kalau saya gak salah dengar sore ini saya sudah boleh pulang ya Sus?"
"Iya ibu, dengan syarat ibu tidak mengalami pendarahan, sudah bisa buang air kecil atau besar, tidal pusing dan lemas. Juga tidak ada masalah dengan Asi ibu, sehingga kondisi baby dipastikan aman dan baik ketika hendak meninggalkan rumah sakit bersalin ini."
"Semoga semua yang tidak baik itu tidak menimpa saya ya Sus."
"Nanti jam empat sore akan ada observasi lanjutan, Bu. Tolong vitamin dan susu ibu menyusuinya di minum ya Bu."
"Baik, Sus. Terimakasih banyak atas informasinya."
"Baik, Ibu. Kalau tidak ada lagi yang ditanyakan, saya permisi."
"Baik, Suster."
Malaikat kecil yang kini sedang tertidur pulas itu kini sedang dipangku oleh Kenzo.
Tak hentinya ia menciumi pipi sang bayi yang gembil.
Sagina dan Arash pun turut gemas kepada sang bayi, mereka meminta Kenzo untuk bergantian menggendongnya.
"Udah cocok, Gin." ucap Fey.
"Eh, fotoin gue sama Mas Arash dong sambil gendong si baby, hehe."
Fey tertawa dengan kecentilan sahabatnya.
Kenzo mengambil ponselnya, lalu memotret kedua sejoli yang sebentar lagi akan melabuhkan cintanya di pelaminan.
"Siapa nama baby lo, Fey?"
Fey menggeleng, "belum dikasih nama, gue tadi minta Mas Kenzo yang kasih nama."
"Ayo, Mas. Kasih nama si baby ini, kan Mas Kenzo calon ayahnya."
"Hehe, duh jadi geer," Kenzo tertawa kecil sambil melirik ke arah Fey.
__ADS_1
"Ayo, Mas. Beri si baby nama!"
"Ok, Sayang. Kalau kamu setuju, aku mau kasih si gembul nama Kenzie Mahendra Rahim."
"Keren, Bro," puji Arash.
"Hooh, Mas. Bagus namanya," timpal Sagina.
"Kok Mami Kenzie diam saja?" goda Kenzo.
"Hehe, aku setuju. Suka namanya gagah, kaya kamu."
"Cieeeeee, suitsuiwwww," dengan cueknya Sagina bersiul di depan Arash.
Gelak tawa kembali memenuhi ruangan.
Si bayi tampan yang kini telah mempunyai nama itu, tetap saja tertidur pulas. Seolah-olah tidak ada suara bising di sekelilingnya.
...
Selepas isya, tepatnya pada pukul 21.10, Fey beserta sang bayi telah sampai di apartemen.
Kenzie langsung dibaringkan di atas tempat tidur.
Sementara Kenzo, sibuk memasukkan travel bag milik kekasihnya yang berisikan segala keperluan Fey dan bayinya.
"Sayang, kamu gak keberatan kalau aku pulang sekarang?"
"Gak apa-apa, Mas. Kasihan kamu seharian ini lelah jagain dan temani aku."
"Tapi menyenangkan."
"Makasih banyak ya, Mas."
"Iya Sayang, sama-sama. Besok pagi aku mau ke Bekasi dulu sebentar, grand opening, tapi ba'da dhuhur aki sudah sampai di sini kok."
"Jangan menerlantarkan urusanmu hanya karena mengurusi kami, Mas. Aku gak mau kamu begitu."
"Insya Allah semuanya baik-baik kok Sayang, aku tahu mana yang harus di prioritaskan. Dan untuk saat ini, kalian berdua lah prioritasku."
Fey terenyuh, terharu sekaligus bahagia.
Kenzo merangkak ke atas tempat tidur mendekati Kenzie, lalu menciumi pipinya.
"Papi pulang dulu ya, Zie. Insya Allah besok ke sini lagi, tolong nanti bilang sama Mamimu, cepat-cepat ambil keputusan untuk nikah sama Papi, supaya Papi bisa sama-sama terus dan temani Zie dan Mami bobok. Hehe."
"Hehe, Mas bisa aja."
"Kode keras itu, Sayang."
"Ya, tunggu selesai nifas ya. Begitu Zie sudah aman untuk naik pesawat, kita berangkat minta restu Opu."
"Kalu ketemu orang tua aku, gak perlu tunggu lama-lama ya Sayang. Semakin cepat, semakin baik."
"Iya, Mas."
Setelah puas mencium Zie, Kenzo pun turun dari tempat tidur dan mengajak Fey untuk mengantarnya pulang.
Pria berhidung mancung itu menggenggam erat jemari tangan sang kekasih.
Fey mengantar Kenzo sampai di ambang pintu, "hati-hati ya Mas pulangnya."
"Ok, Mami Zie. Kamu met istirahat ya, kalau tengah malam ada apa-apa, cepat hubungi aku!"
"Baik, Papi Zie. Hehe, met istirahat juga."
"I love you too, Papi Zie."
"Assalamualaikum," pamit Kenzo, sambil mengecup kening Fey.
"Waalaikumsalam, bye Mas."
Kenzo berjalan mundur beberapa langkah, setelah berjarak agak jauh ia melambaikan tangan ke arah Fey dan kemudian berjalan meninggalkan wanita tercintanya yang masih setia berdiri di ambang pintu.
Fey pun masuk dan menutup pintu, setelah sang kekasih berbelok menuju lift.
***
Perhatian Kenzo kepada baby Kenzie sangat besar.
Kenzo memberikan kasih sayang yang seharusnya dicurahkan oleh seorang ayah kandung.
Demi Kenzie, ia rela untuk untuk mengesampingkan pekerjaannya.
Untungnya, Kenzo memiliki orang-orang yang jujur dan dapat diandalkan dalam mengelola usahanya. Sehingga tanpa ia sering turun tangan pun, bisnis kuliner yang dirintisnya berkembang pesat.
Cabang baru di kota Bekasi pun omsetnya selalu memuaskan, ia selalu berujar kalau baby Kenzie membawa rezeki bagus pada kehidupannya.
"Coba lihat, Zie! Apa yang Papi bawa untukmu," Kenzo membuka kado yang ia bawa untuk bayi mungil yang tengah sibuk menggerak-gerakan tangannya. "Papi belikan kamu bouncher, sebentar Papi rakit dulu ya, supaya kamu bisa duduk santai."
Sepuluh menit kemudian, kursi bouncher berwarna biru yang dibelinya sudah selesai dirakit.
Perlahan, Kenzo menggendong Kenzie dan memindahkannya ke atas bouncher yang dilengkapi dengan getar plus musik juga mainan gantung berwarna-warni.
Seperti mengerti, Kenzie langsung tertawa girang saat didudukan. Kenzo tergugu dan ikut tertawa.
"Gak apa-apakah Mas, Zie duduk di situ? Takutnya nanti jadi bungkuk."
"Aman, Sayang. Kan sudah masuk usia tiga bulan sekarang."
"Syukur deh, takutnya belum bisa."
"Yang bahaya itu aku."
"Kenapa bisa?"
"Baby Zie sudah besar, kok belum juga bisa nikahin Maminya."
"Hehe, sabar dong. Semua harus dilakukan dengan matang."
"Udah gosong, Sayang."
"Coba aku bicara ya sama Mama, bagaimana baiknya."
"Ok, tapi aku mau kenalin kamu sama orang tuaku secepatnya. Kamu mau kan?"
"Sudah waktunya kah?"
"Iya, Sayang. Aku gak mau menunda waktu lebih lama lagi."
"Ok, Mas atur saja waktunya."
"Alhamdulillah, makasih ya Sayang."
"Iyaa," jawab Fey, memencet dan menarik hidung bangir kekasihnya yang terlihat sumringah.
"Zie ajak saja nanti."
__ADS_1
"Gak usah, Mas. Biar dia dijaga Gina saja saat pertemuan nanti, tapi aku akan berterus terang tentang kondisiku yang sebenarnya kepada orang tuamu."
"Bagaimana baiknya kamu aja, Sayang."
...
Sesuai dengan kesepakatan awal, malam itu Kenzo datang menjemput Fey, untuk memperkenalkannya kepada kedua orang tuanya.
Sagina dan Arash yang bertugas menjaga Kenzie.
Di sepanjang perjalanan menuju kediaman Kenzo, wajah Fey menunjukan mimik yang tidak bersahabat.
Suasana hatinya tidak menentu, terlalu banyak hal yang ia takuti.
Dalam benaknya, terlintas reaksi orang tua Kenzo saat mengetahui kondisi yang sebenarnya.
Walaupun ia sudah pasrah dengan rencana Allah kepadanya, namun tetap saja apabila ada pertentangan, tentunya dirinya akan merasa sangat sedih dan terpukul.
Kenzo yang merasakan apa yang sedang kekasihnya rasakan, selalu memberikan ketenangan hati.
"Sayang, jangan seperti itu. Kamu harus percaya sama aku, kalau aku akan tetap bersamamu dengan atau tanpa restu orang tuaku."
Jemari Fey digenggam erat olehnya.
"Iya, Mas. Aku sangat terharu dengan ketulusan cintamu."
"Jangan dipikirin terus ya, nanti cantiknya hilang kalau mukanya ditekuk terus kaya gitu."
Fey sedikit terhibur dengan candaan sang kekasih.
Tiga puluh menit kemudian, mobil yang dikendarai oleh Kenzo memasuki sebuah komplek perumahan elite.
Seketika wajah Fey berubah pucat, seperti merasakan ketakutan.
"Ada apa, Sayang?"
Fey menggeleng, dan tetap bungkam.
Namun pada saat mobil sedan berwarna abu metalik yang dikemudikan oleh Kenzo berhenti di depan sebuah rumah besar dan mewah yang merupakan kediaman orang tuanya, Fey tiba-tiba menjerit histeris.
"Aku mau pulaaaaaang," raungnya.
Tangisnya pecah, kemeja yang dikenakan Kenzo kusut ditarik dan diremas oleh wanita yang akan diperkenalkan kepada orang tuanya itu.
"Tapi ada apa, Sayang?"
"Aku mau pulaaaang, bawa aku pulaaaangg!"
"Kamu kenapa, Sayang? Ada apa?"
"Kalau Mas Kenzo gak mau bawa aku pulang, aku akan turun dan pulang naik taksi."
"Ok, kita pulang sekarang."
Kenzo segera memundurkan mobil dan melaju meninggalkan rumahnya.
Fey terus menangis di sepanjang perjalanan menuju apartemen.
Sedangkan Kenzo, merasa heran dengan perubahan sikap kekasihnya.
"Bilang sama aku, Sayang kamu kenapa?"
Fey tidak menjawab, ia terus menangis.
Sesampainya di pelataran parkir apartemen, ia langsung membuka pintu mobil dan berlari meninggalkan Kenzo yang masih duduk di belakang kemudi.
"Sayang ... sayang!" teriak Kenzo, cepat-cepat keluar dari mobil dan berlari mengejar Fey.
Begitu tiba, Fey langsung masuk dan mengunci diri di dalam kamarnya.
"Ada apa sih Mas?"
"Aku juga bingung, Gin. Tiba-tiba dia menangis dan minta pulang."
"Sudah bertemu orang tuamu belum, Mas?"
"Belum, baru sampai di depan gerbang rumah."
"Sabar, Bro. Mungkin pengaruh keadaan, atau dia bisa saja dia lelah karena per hari ini banyak sekali kegiatannya di sekolah."
Kenzo menghempaskan tubuhnya di atas sofa di ruang tengah. Sofa yang terletak tepat di samping pintu kamar Fey.
Rambutnya diremas, wajahnya kusut, sekusut kemejanya.
Arash memberi isyarat kepada Sagina agar memberikan waktu kepada Kenzo untuk sendiri.
Sagina mengangguk dan kembali ke ruang tamu bersama Arash.
Kenzo yang tengah sendiri, tanpa menyerah terus mengetuk pintu kamar kekasihnya.
"Buka dong, Sayang! Kita harus bicara."
"Pergi kamu, Mas! PERGIII, huuuu."
"Aku bingung, kamu kenapa tiba-tiba begini. Apa salahku?"
"Aku bilang, pergiiiiii."
"Astaghfirullah, Sayang. Keluarlah, kita bicara. Jangan teriak-teriak begitu."
Tangisan Fey semakin kencang terdengar.
Setelah kurang lebih satu jam menunggu, Sagina masuk ke ruang tengah dan berbicara pelan kepada Kenzo.
"Mas, berilah waktu kepada Feu untuk sendiri dan menenangkan hatinya."
"Gak bisa, Gin. Aku gak bisa tenang kalau belum bicara sama dia. Aku harus tau ada apa dengannya."
"Aku bingung jadinya, Mas. Ucapanmu ada benarnya. Atau begini saja, tunggu sebentar!"
Sagina melangkahkan kaki masuk ke dalam kamarnya, dan tidak lama kemudian ia kembali membawa kunci cadangan kamar sahabatnya.
"Masuklah dengan kunci ini, Mas! Selesaikan semuanya, aku juga tidak tega kalau melihat kalian seperti ini."
"Makasih banyak, Gin."
Kenzo mengambil kunci dari tangan Sagina, dan diam-diam masuk ke dalam kamar Fey, lalu menguncinya dari dalam, dan memasukan kuncinya itu ke dalam saku celananya.
Melihat sang kekasih masuk, Fey kembali histeris.
***
Ada apa dengan Fey?
Jawabannya ada di part selanjutnya.
-Bersambung-
__ADS_1