
Part - 2
...*...
Fey berjalan cepat sambil menundukkan kepalanya.
Sapaan dari Ali, seorang satpam penjaga rumah kekasihnya tidak digubrisnya.
"Non ... Non Fey, kok motornya gak dibawa Non?" teriak Ali.
Fey semakin mempercepat langkahnya.
Dari balik jendela di lantai dua rumah megah itu, tampak Kevin sedang memperhatikan mantan kekasihnya yang pulang tanpa mengendarai motor matic yang ia hadiahkan kepada Fey saat ulang tahun yang ke-23, beberapa bulan yang lalu.
"Maafin aku Fey, gue gak mau kehilangan semua fasilitas hanya karena kebodohanmu yang gak bisa menjaga diri supaya gak hamil."
Sungguh mudahnya Kevin mencampakkan wanita yang selama ini selalu menemani dan menuruti segala kemauannya.
Hubungan mereka, selama satu tahun terakhir ini sudah layaknya suami istri.
Jarangnya orang tua Kevin berada di rumah, membuat kedua insan itu bebas melakukan perbuatan zina kapan pun mereka mau.
Tanpa segan dan malu, Fey sering menginap di rumah megah itu.
Bahkan sampai berhari-hari, sungguh ironi memang.
Keroyalan Kevin dalam memberikan uang serta barang branded, membuat Fey terbuai dalam cinta dan dosa.
Ia tidak memikirkan akibat dari perbuatannya itu.
Yang terpikir di benak Fey saat itu, hanyalah indahnya hidup dihujani dengan cinta dan harta.
Setelah dirinya dinyatakan hamil dan lalu dengan mudahnya Kevin menolak untuk bertanggung jawab, barulah ia menyadari serta menyesali segala perbuatannya.
Namun, nasi sudah menjadi bubur, arang sudah menjadi abu.
Tidak banyak yang dapat dilakukan oleh calon Sarjana Pendidikan itu, selain pasrah dan terus menjalani hidup bersama janin yang sedang dikandungnya kini.
Setelah lima belas menit ia berjalan, akhirnya sampailah Fey di tepi jalan raya besar.
Ia duduk di bangku besi sebuah taman kecil di depan komplek elite kediaman Kevin.
Tangannya merogoh ponsel di dalam tas kecil miliknya.
Ia segera memesan taksi online.
Sambil menunggu taksi yang sudah dipesannya datang, ia segera menyeka wajahnya dengan menggunakan tissue basah.
Dan sepuluh menit kemudian, sebuah mobil Suzuki Ertiga putih berhenti di hadapannya.
"Mbak Feylin?"
"Iya, Mas."
Fey beranjak dari duduknya, lalu berjalan dan menaiki mobil tersebut.
...*...
"Bego ... udah gue bilang, jangan ML!" caci Sagina, sahabat Fey.
Fey tidak dapat menjawab ucapan sahabatnya itu, ia terus menangis tersedu.
"Udah kaya gini, lo juga yang rugi. Sarap banget si Kevin itu, nidurin lo seenaknya dan sekarang lo hamil, dia ngebuang lo dengan seenaknya juga. Ckck!"
"Gue harus gimana, Gin?"
"Ya tetap lanjutkan hidup lo, memangnya lo mau apa? Mati konyol bunuh diri?"
"Tapi,gue aku bisa?"
"Lo berani berbuat, harus berani bertanggung jawab. Sewaktu Lo ML sama si Kevin, lo udah tahu kan resikonya seperti apa?"
Fey mengangguk.
"Ya udah, mau diapain lagi. Hidup aja kaya biasanya."
"Orang tua gue?"
"Terserah, mau dikasih tau apa kagak. Itu hak lo."
"Bisa mampus gue kalau Bonyok (bokap-nyokap) sampai tau, Gin."
"Ya udah, diam berarti."
"Gimana caranya?"
"Tetap stay di Jakarta! Jangan pernah pulang ke Makassar sampai lo melahirkan nanti. Habis melahirkan, cepat lo cari jodoh yang mau nerima kondisi lo. Setelah menikah, baru deh lo jujur sama Bonyok."
"Mustahil rasanya gue bisa merahasiakan semua ini dari Bonyok gue, Gin."
"Kalau mustahil, ya udah sono lo jujur sama mereka! Dan siapkan fisik serta mental lo, atas segala resiko yang bakalan terjadi nanti."
Tangis Fey kembali pecah.
"Semua terserah lo, gue sebagai sahabat hanya bisa kasih masukan dan merangkul lo. Percuma juga gue selama satu tahun ini nasihatin lo, lo anggap gue hanya kaya radio butut. Lo lupain gue, setiap waktu lo habisin waktu sama si Kevin. Jahat banget kan lo sama gue, dan sekarang saat lo kaya gini, lo baru ingat kalau ada gue. Hiks."
"Maafin gue, Gin." Fey menarik tubuh mungil sahabatnya, dan kemudian memeluknya dengan erat.
"Selama ini gue bawel dan judes, bukan gue iri sama lo Fey yang udah punya cowok, sementara gue masih jomblo. Gue ngelakuin semuanya karena gue sayang, gue gak mau lo kenapa-kenapa. Omongan gue kebukti kan? Coba lo nurut, lo gak akan seperti sekarang ini Fey."
"Maafin gue ya, Gin. Gue nyesel. Lo masih mau kan jadi sahabat gue?"
Sagina melepaskan pelukan, ia menampar pelan pipi gadis cantik di hadapannya.
"Sekali lagi lo nanya kaya gitu, tamparan yang gw lakuin akan lebih keras dari ini."
Fey tertawa sambil kembali menangis, ia kembali memeluk tubuh Sagina.
"Gue sayang sama lo, Fey. Tinggal sama gue ya di apartemen ini, kita sama-sama urus bayi itu nanti kalau udah lahir. Gue gak akan ngebiarin lo sendirian."
"Hiks, makasih ya."
Kedua sahabat yang sudah menjalin kedekatan semenjak awal di bangku kuliah itu pun menangis tersedu.
Fey sangat bahagia dan merasa beruntung, karena sahabatnya itu tidak membuangnya seperti yang dilakukan oleh Kevin kepadanya.
...*...
•
•
"Assalamualaikum ...."
"Waalaikumsalam, masya Allah Araassh. Kok kamu pulang gak kabari Mbak sih?"
"Coba cek handphonemu, Mbak! Aku telpon berkali-kali minta jemput, tapi gak diangkat-angkat."
"Ah, masa?"
Wanita berkerudung panjang itu mengambil ponsel di atas meja tivi, setelah melihatnya sebentar ia pun terkekeh.
"Haha, maafin mbakmu ini Rash. Handphonenya tak silent, jadi gak kedengeran."
"Sudah biasa, Mbak Evelyn kan memang pelupa, hehe."
"Sini adik bungsuku, peluk mbakmu dulu. Rindu sekali hati ini, sudah lama gak bertemu."
Pemuda berkulit sawo matang dengan postur tinggi dan atletis itu merangkul Evelyn, kakak perempuannya.
Arash pun merasakan rindu yang sama, karena selama tiga tahun terakhir ia dipindah tugaskan ke Malaysia.
"Mbak dan keluarga apa kabar?"
"Seperti yang kamu lihat, mbakmu ini semakin subur, hehe."
"Mas Fillah dan Uwais?"
"Alhamdulillah, mereka juga sehat. Uwais sedang bobo di kamar. Kamu sendiri bagaimana kabarnya?"
"Baik, Mbak," jawab Arash terlihat lesu.
Pemuda tampan dengan bulu mata lentik itu menyimpan kekecewaan yang berusaha disembunyikannya.
"Kamu kenapa? Ada masalah?"
"Gak ada apa-apa, Mbak."
"Jangan bohong! Kamu gak bisa bohongin mbak, setelah ibu dan ayah tiada, mbak yang mengurusmu. Bicaralah, ada apa Rash?"
"Prita, Mbak. Dia memutuskan hubungan seminggu yang lalu, dia dijodohkan dengan seorang Dokter."
Evelyn menatap wajah sendu sang adik.
"Hmm, belum jodoh adikku. Berlapang dada dan ikhlaskan dia menikah dengan calon pilihan orang tuanya. Mbak yakin, Allah akan mempertemukanmu dengan wanita yang lebih baik dari Prita."
"Amiin, Mbak. Makasih ya."
"Iya, sama-sama. Mau mbak cariin?"
"Hehe, baju kali dicariin."
"Seriusan ih, mau gak?"
"Haha, jangan Mbak. Aku mau nikmatin dulu masa jombloku."
"Jangan lama-lama, usiamu semakin lama, semakin tua."
"Hehe, iya Mbaku sayang," rajuk Arash sambil menggelayut manja di bahu kakaknya.
"Kamu ini ya, usia sudah mau kepala tiga juga masih saja gak tahu malu ngelendot sama nbak."
"Hehe." Arash cengengesan, Evelyn mengelus kepala plontos sang adik.
...*...
•
•
"Are you sure?"
Fey mengangguk.
"Aku ikut."
"Tapi ...."
"Jangan banyak cingcong, pesenin tiket pesawat juga buat gue!"
"Ok."
Fey menurut.
Ia pun segera memesan tiket pesawat lewat aplikasi di ponselnya.
Niat gadis keturunan Bugis itu sudah bulat, untuk memberitahukan semua kepada kedua orang tuanya di Makassar.
"Sudah, Gin. Besok siang kita berangkat."
"Sip. Berapa totalnya? biar gue transfer sekalian gue mau keluar sebentar cek toko."
"Dua juta empat ratus, Beib."
"Lo sadar gak?"
__ADS_1
"Sadar kenapa?"
"Lo manggil gue 'Beib'. Lo pikir gue si kampret Kevin!"
"Shut Up, jangan sebut dia lagi!"
"Haha, sorry. Gitu aja ngambek."
"Gak lucu."
Fey membuang wajahnya.
Melihat hal itu, Sagina tertawa sendiri sambil memakai sneakersnya.
"Screeshoot yang harus gw transfer, di atm dekat toko gue transfernya."
"Ya."
"Gue jalan dulu ya, Beib."
"Sialan, Ginaaaaaaa. Argh!"
"Hahahaaa."
Sagina menutup pintu apartementnya sembari tertawa terbahak-bahak.
Sahabat dari Fey itu adalah seorang gadis tomboy, stylenya sangat 'laki' banget.
Walaupun ucapannya selalu ceplas-ceplos dan juga tampangnya sangar, Sagina sangat baik hati.
Dia adalah sosok seorang sahabat yang dapat diandalkan, dia adalah sahabat yang sangat nyaman dijadikan tempat untuk berkeluh kesah.
Dibalik sikapnya yang agak temperamen, Sagina adalah seorang pendengar yang baik.
Makanya Fey betah bersahabat dengan gadis Minang itu.
Sepeninggal Sagina, ruangan kembali hening.
Fey duduk di sofa sambil menonton televisi.
Pandangannya kosong, raganya seperti tanpa nyawa.
Semenjak insiden di rumah Kevin, putri seorang anggota dewan perwakilan daerah itu berubah menjadi pendiam dan sangat sensitif.
Hari-hari yang ia lalui kini terasa hampa.
Ia selalu menangis bila kembali mengingat dosa yang dilakukannya.
"Opu, Mama ... maafin aku. Aku sudah mengecewakan kalian, hiks."
Fey menenggelamkan wajahnya di atas bantal sofa yang beralaskan sarung berbahan bulu lembut.
Matanya yang indah kembali basah.
"Kevin ... jahat sekali kamu, aku sangat mencintaimu."
Isakan tangisnya terdengar memilukan.
Air mata Fey tidak terbendung, tangisnya semakin kencang.
Ia memukul bantal sofa berkali-kali, sesekali meremas dan meninjunya.
Dawai asmara yang digadang-gadang akan selalu membuat hidupnya bahagia, ternyata berujung sebuah petaka yang maha dahsyat.
Kini, Fey sudah tidak berani untuk membayangkan masa depannya.
Yang ada di dalam benaknya sekarang adalah beban moral juga sanksi sosial yang akan diterimanya.
Angannya melayang membayangkan hal buruk yang akan menimpanya kelak.
Tentang bagaimana caranya menjalani hidup dengan kondisinya yang hamil tanpa seorang suami.
Tentang bagaimana reaksi orang tuanya saat dia jujur menceritakan semuanya.
Dan tentang bagaimana kemungkinan-kemungkinan buruk lainnya.
"Ya Allah, ampuni hamba," ucapnya lirih.
...
"Ma, buatkan kapurung untuk Fey!"
"Iya Opu, sore dia sampai di sini. Karena pesawatnya siang."
"Sudah telpon lagi kah anakmu itu?"
"Iye, sudah Opu."
"Syukurlah. Ya sudah kalau begitu, aku mau lanjutkan dulu pekerjaan ya Ma. Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam."
Khadijah menaruh ponselnya di atas meja makan, wajahnya berseri-seri karena putri kesayangannya akan datang.
Ia sibuk mengeluarkan bahan masakan yang akan ia olah untuk menyambut Fey.
Dengan semangat 45 wanita paruh baya itu berbelanja sayur, buah juga ikan di pasar.
Ia akan menyajikan menu kesukaan putri semata wayangnya, yaitu kapurung dan ikan bakar.
Terdengar senandung salawat terucap dari bibirnya.
Di usianya yang kini menginjak lima puluhan, ibunda Fey masih terlihat sangat sehat.
Hal itu karena pola hidupnya yang teratur dan pola makannya yang sehat.
Semua pekerjaan dilakukannya berdua dengan ayah Fey, Andi sang suami bukan tidak mampu membayar asisten rumah tangga untuk membantu istrinya mengerjakan pekerjaan rumah.
Namun, mereka berdua menerapkan sikap saling bergotong royong dalam mengerjakan semuanya.
Walaupun hanya dikerjakan berdua, rumah mereka tampak selalu bersih terawat.
Tanaman hias yang berjejer rapi di halaman rumahnya yang luas, tidak luput dari perhatian pasangan suami istri yang telah menikah hampir tiga puluh tahun itu.
Pot-pot bunga tertata rapi dan tumbuh subur menghiasi pekarangan dengan warna-warnanya yang mampu memanjakan mata setiap orang yang berkunjung ke rumahnya.
Waktu beranjak cepat, adzan ashar telah berkumandang.
Khadijah menyegerakan panggilan untuk melaksanakan kewajibannya.
Ibu dari satu orang putri yang sebentar lagi akan di wisuda itu memanjatkan doa terbaik untuk anak serta suaminya.
Dalam untaian doanya, ia selalu meminta perlindungan kepada Allah atas keselamatan sang putri yang menimba ilmu jauh darinya.
Ia sangat bangga atas prestasi yang diraih Fey, sehingga bisa mendapatkan beasiswa untuk kuliah di universitas negeri di Jakarta.
Tok ... Tok ... Tok!
"Assalamualaikum."
Mendengar suara lembut yang selama ini dirindukan, Khadijah segera membuka mukena yang ia kenakan, lalu beranjak dari atas sejadahnya.
Wajahnya sumringah, tatkala sosok yang dinanti telah tiba dan sedang menunggu untuk dibukakan pintu.
Ia menyambar jepit rambut, lalu menggulung rambut panjangnya yang sudah mulai bercampur dengan uban agar terlihat lebih rapi.
Sambil tergopoh-gopoh, wanita paruh baya bertubuh sintal itu berjalan menuju pintu rumah dan membukanya.
"Waalaikumsalam, Fey."
Khadijah memeluk putri tercintanya, berkali-kali ia mencium pipi gadis yang tampak sedang menangis itu.
"Apa kabarmu, Nak? Gemukan sekarang."
"Baik, Mama."
"Ini siapa?"
"Oh iya, Ma. Ini Sagina, yang sering Fey ceritakan di telpon."
Sagina tersenyum, lalu segera mencium punggung tangan ibu dari sahabatnya.
"Salam kenal, tante. Saya Sagina."
"Fey, banyak cerita tentang kebaikan Nak Sagina. Silahkan masuk!"
"Hehe, Fey lebay Tante. Iya, makasih."
Khadijah berjalan sambil merangkul putrinya.
Diperlakukan seperti itu, membuat Fey semakin terpojok dan merasa berat untuk mengutarakan kenyataan yang ada saat itu.
"Mau langsung makan, Nak?"
Fey menggeleng.
"Fey mau salat dulu, sekalian ganti baju Ma."
"Ya sudah, biar Mama panaskan dulu sayur dan lauknya."
"Ndak usah, Ma. Biarmi, nanti saja kalau Fey mau makan yang panaskan sendiri."
"Sudah, kamu salat dan ajak Sagina. Urusan dapur, itu urusannya Mama, ya Nah."
Fey tersenyum sekilas dan kemudian mengangguk.
"Ayo, Gin!"
Tanpa menjawab, Gina berjalan mengekor di belakang gadis berjaket jeans biru dongker.
Sesampainya di kamar ...
"Gimana ini Gin?"
"Gimana apanya?"
"Gue bingung dan gak tega."
"Maju terus, lebih baik jujur. Walaupun resikonya gede dan berbahaya."
"Lo liat gak muka nyokap gue tadi?"
"Ya terus mau gimana sekarang?"
Fey menggeleng.
"Tarik nafas panjang, dan kumpulin nyali lo Fey!"
Sagina menepuk pelan bahu sahabatnya itu.
Fey mendongak dan mengangguk lemas.
"Sekarang buruan deh lo salat! Minta sama Allah supaya lo diberi kekuatan serta keberanian."
"Ok."
Sagina memandang punggung Fey yang menghilang di balik pintu kamar mandi.
Kepalanya menggeleng-geleng, ia pun merasa sangat gugup dan takut atas reaksi dari kedua orang tua Fey nanti.
Setengah jam kemudian, kedua sahabat itu keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur.
Tampak di sana, Khadijah sedang menata ulang piring-piring berisi makanan di meja makan.
"Mau makan sekarang, Nak?"
__ADS_1
"Nanti saja sama-sama dengan Opu, Ma."
"Ba'da maghrib Opumu pulangnya, Nak. Makan saja dulu nah sekarang! Nanti makan malam, baru sama-sama dengan Opu."
"Baiklah."
Fey menarik kursi makan, begitu juga dengan Sagina.
Dengan bersemangat, Khadijah menemani mereka bersantap sore.
"Fey, kok gak pakai nasi atau sokko (nasi ketan), Nak?"
"Lagi diet, Ma. Hehe."
Fey berdusta dari kenyataan bahwa semenjak hamil, ia tidak bisa mengkonsumsi nasi sama sekali.
"Ndak usah diet-diet, Nak. Takut sakit."
"Ndak apa-apa, Ma. Fey sudah kenyang kok hanya makan sayur dan ikan saja."
"Tapi, nanti kalau lapar segera makan lagi ya Nak!"
"Iye, Ma."
Sagina menatap iba ke arah Khadijah yang duduk di hadapannya.
Sungguh sangat tidak tega melihat wajah sejuk dan sikap lembut wanita yang telah melahirkan sahabatnya itu.
Gadis berambut pendek seperti laki-laki itu, merasakan hambar saat melahap makanan yang disajikan oleh Khadijah.
Hal itu bukan karena rasanya yang tidak enak, namun ia ikut merasakan ketegangan serta ketakutan yang amat besar seperti yang dirasakan oleh Fey.
Suasana makan sore pun semakin lama, terasa semakin hangat.
Khadijah adalah sosok yang senang bercerita.
Ia banyak menceritakan hal-hal lucu tentang masa kecil putrinya.
Sagina tertawa lepas, sedangkan Fey hanya bisa tersenyum getir.
Tanpa terasa, hari sudah mulai gelap.
Fey serta Sagina berpamitan untuk melaksanakan salat magrib, Khadijah pun segera melaksanakan ibadah wajibnya di mushalla kecil yang terletak di dekat ruang tengah rumahnya.
Lima belas menit setelah mereka melaksanakan salat maghrib, terdengar suara mobil memasuki pekarangan rumah.
"Itu bokap gue, Gin."
"Tarik nafas panjang!"
Fey menurut.
Sagina meraih kedua tangan sahabatnya.
"Bismillah, dan kumpulkan keberanianmu!"
"I-iya, Gin."
Sagina sebisa mungkin menenangkan hati Fey yang sedang dilanda ketakutan yang hebat.
Setengah jam kemudian, mereka berdua pun keluar dari dalam kamar dan berjalan menuju ruang tengah.
Melihat Fey, Andi berdiri dan memeluk putrinya itu.
"Masya Allah, Nak. Opu sangat rindu sama kamu. Sehatkah kamu Nak? Wajahmu pucat sekali, tanganmu juga dingin."
"Sehat, Opu. Opu sehat juga kah?"
"Alhamdulillah, Nak. Sehat."
Fey memperkenalkan Sagina kepada sang ayah.
Andi menyambut ramah kedatangan sahabat dari putrinya itu.
Setelah berbincang ringan, Fey pun memulai untuk berbicara ke pokok permasalahan.
"Opu, Mama ... Fey mau bicara sesuatu."
"Ada apa, Nak?"
"Iya, bicaralah Nak!"
Sejenak Fey terdiam.
Wajahnya merunduk, matanya mulai berkaca-kaca.
"Bismillah ... kuat, Fey!" bisik Sagina.
Sagina sebetulnya ingin berdiam diri di kamar, namun Fey memaksanya untuk tetap tinggal duduk menemaninya.
Fey menarik nafas panjang.
Andi menatap istrinya, Khadijah menggeleng pelan tanda kalau ia pun tidak mengetahui apa yang akan dibicarakan oleh putrinya itu.
"Opu, Mama ... yang akan Fey utarakan ini adalah bukan berita baik."
"Katakanlah, Nak!"
"Iya, jangan buat kami penasaran."
"Fey ... Fey ... hiks."
Andi dan Khadijah kembali beradu pandang, mereka semakin bingung.
"Ada apa, Nak?"
"Fey hamil ...."
Seketika mata Andi terbelalak dan membulat sempurna.
Tangis Khadijah pun pecah, hatinya hancur.
Pria paruh baya itu berdiru dan menghampiri putrinya yang duduk menunduk.
Dengan kasar ia menarik kerah daster yang dikenakan oleh Fey.
Plaaaaaakkk!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi gadis muda yang kini tengah mengandung itu.
Tanpa rasa kasihan, Andi menyeret tubuh putrinya.
"Opuuu ... jangan!" hardik Khadijah.
"Oommm, saya mohon jangan perlakukan Fey seperti itu Oom."
Andi tidak menggubris ucapan keduanya.
Dengan langkah cepat, Andi berjalan.
Sesampainya di ambang pintu depan rumahnya, dengan gemetar seorang ayah yang sedang merasa marah dan kecewa itu pun menghempaskan tubuh putri semata wayangnya ke lantai.
"Pergi kau dari rumah ini! Jangan pernah kembali, opu kecewa denganmu Fey. Siang dan malam opu dan Mamamu berikhtiar dan berdoa demi bisa membuatmu menjadi orang yang sukses. Opu dan Mamamu menaruh harapan besar terhadapmu, dan sekarang kamu mencoreng nama baik kami berdua.
Jangankan membuat kami bangga, kamu malah melemparkan kotoran ke muka kami.
Sebelum opu lebih marah, cepat tinggalkan rumah ini!"
Fey menangis histeris.
Ia bersimpuh mencium kaki ayahnya.
"Ampuni Fey, Opu." rengeknya.
Andi bergeming, dia membalikkan badannya hendak masuk ke dalam rumah.
Kedua tangan Fey memeluk erat kaki sang ayah.
Dengan sekuat tenaga ia menahan tubuh ayahnya agar tidak pergi.
Khadijah dan Sagina saling berpelukan sambil menangis menyaksikan pemandangan itu.
"Kemasi pakaian kalian berdua, lalu tinggalkan rumah ini malam ini juga!" ujar Andi kepada Sagina.
Tubuh lemah Fey di dorong kuat oleh sang ayah, setelah itu Andi pun bergegas masuk ke dalam rumahnya.
Sepeninggal ayahnya, Fey menangis sesenggukan.
Ia tidak berani menatap wajah sang ibu, yang kini berjongkok di hadapannya.
"Siapa pria itu, Nak?"
Fey menggeleng, tanpa menjawab ia langsung memeluk ibunya.
"Maafin Fey, Ma."
Tangis keduanya pecah, tangan Khadijah mengelus rambut putrinya.
Jauh di lubuk hatinya, ia merasakan kekecewaan yang teramat sangat kepada Fey.
Namun tidak dapat dipungkiri, kalau rasa sayang serta cintanya kepada putrinya itu dapat mengalahkan rasa kecewanya.
"Pria itu ndak mau bertanggung jawab Ma, dan Fey pun sudah membulatkan tekad untuk tidak menuntutnya menikahi Fey. Karena percuma juga menikah kalau karena terpaksa, akan hancur di tengah jalan nantinya. Biarlah Fey yang akan mengurus dan membesarkan bayi ini. Gina, dia mau menampung dan membantu Fey."
"Ya Allah ... hiks."
Sagina berlutut, sambil menangis ia pun memeluk keduanya.
"Kita pulang malam ini juga Fey?"
"Hiks, iya Gin."
"Besok saja, Nak."
"Ndak Ma, malam ini kami akan pulang. Mama kan tahu sifat Opu seperti apa, Fey takut nanti Opu akan semakin murka."
"Baiklah, Nak. Tapi jangan putus komunikasi dengan Mama ya, Nak."
"Iya, Ma."
"Nak Gina, tante titip Fey ya. Segala keperluannya biar nanti Tante yang transferkan tanpa sepengetahuan Opunya.
"
"Jangan sungkan begitu Tante, saya gak mempermasalahkan tentang biaya hidup. Saya menolong Fey dengan ikhlas."
"Masya Allah, baik sekali sahabatmu ini Fey. Terimakasih banyak, Nak. Semoga Allah membalasnya beribu-ribu kali lipat."
"Sama-sama, Tante."
"Fey, jaga dirimu baik-baik! Salat taubat mohon ampunan kepada Allah, perbaiki ibadahmu dan jangan kecewakan kami lagi."
"Iya, Ma. Sekali lagi, maafin Fey ya Ma."
"Mama sudah memaafkanmu, Nak. Masalah Opu, jangan kamu pikirkan. Pelan-pelan Mama akan coba bicara kepadanya."
"Iya, Ma. Mama temani Fey berkemas ya!"
"Iya, Nak. Iya."
Dan lalu, mereka bertiga pun berjalan menuju kamar Fey untuk segera berkemas pakaian.
...*...
**Bersambung**
__ADS_1