
*Part - 14*
Di dalam bandara, Fey berkali-kali menengok ke belakang, berharap sosok Kenzo akan muncul, dengan maksud untuk menyusulnya.
Sampai pesawat yang ditumpanginya melesat terbang di udara, kekasihnya itu tidak juga muncul.
"Bukan jodohku berarti," gumamnya sembari memeluk erat Kenzie.
Kini, hanya Kenzie yang mampu membuatnya terhibur.
Bayi yang sudah mulai berceloteh yang hobi tidur itu, selalu saja memberikan kebahagiaan kepada ibunya yang tengah dirundung duka.
Dua jam kemudian, Fey dan putranya sampai di Makassar. Nampak di depan pintu kedatangan, ayah dan ibunya sedang berdiri untuk menyambutnya.
Keduanya memeluk serta menciumi anak dan cucunya, terlebih Andi, ia sangat bahagia saat melihat cucunya yang sangat menggemaskan itu. Pria berusia setengah abad itu, enggan berjauhan dengan Kenzie.
Kesedihan Fey seakan lenyap, saat melihat wajah ayahnya yang berseri-seri menggoda putranya. Ia memeluk sang ibu dan memberikan kode tentang respon ayahnya kepada Kenzie.
"Opumu sudah belikan banyak hadiah untuk Kenzie, mulai dari baby walker, sepeda family roda tiga, sampi mobil yang pakai aki, ckck."
"Masa, betulkah itu Ma?"
"Iyo, lihat saja nanti di rumah."
"Hehe, Opu sangat senang berarti ya Ma Kenzie akan tinggal bersamanya?
"Sangat senang, Nak. Semalam saja Opu bicara sama Mama, kalau Kenzie harus bersamanya bersamanya."
"Haha, Opu-Opu."
Andi melirik ke arah istrinya, "jangan bongkar rahasia Opu sama Fey Ma, malu bah. Haha."
"Terimakasih ya Opu."
Andi tersenyum dan mengusap rambut putrinya, lalu menyerahkan Kenzie untuk kembali digendong ibunya.
"Sama Mamimu dulu le'Nak! Kakek mau kemudi mobil dulu."
"Iya Kakek, jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya, Zie tatut, jangan lupa Kakek ... Kita ke toko roti Maros dulu, Zie mau sekali makan roti yang terkenal enaknya itu, hehe," jawab Fey sambil melambai-lambaikan tangan putranya ke arah sang ayah.
Andi dan Khadijah tertawa, lalu mereka pun segera memasuki mobil.
Fey segera memberi kabar kepada Sagina, bahwa dirinya telah sampai dengan selamat.
Sagina langsung membalas pesan dan mengajak untuk video call sebelum beranjak tidur nanti malam.
Fey mengiyakan.
...
Keesokan harinya, Fey berkumpul bersama ayah dan ibunya di teras untuk membicarakan masalah perjodohan.
"Berapa uang panai yang kamu minta, Nak? Karena calon suamimu itu bertanya pada Opu."
"Berap saja, Opu. Sesanggupnya," jawab Fey datar.
Andi memandang istrinya, keduanya tahu kalau putrinya itu tidak setuju untuk dijodohkan.
"Tujuh puluh lima atau seratus juta, Nak?"
"Fey menyerahkan semuanya kepada Opu juga Mama, yang terbaik menurut Opu dan Mama, adalah yang terbaik juga menurut Fey."
Andi menarik nafas panjang, lalu kemudian ia berbicara lagi. "Kamu temui saja dulu nanti malam calon suamimu itu akan datang."
"Iye'."
"Ya sudah, kalau begitu. Ba'da isya le', tolong jangan permalukan kami untuk yang kedua kalinya."
"Iye', insya Allah tidak Opu."
Andi tersenyum, lalu merangkul pundak putrinya yang tertunduk lesu.
"Jangan pikirkan Kenzo terus, Nak! Ndak baik, bukan jodohmu berarti. Buktinya dia ndak ada datang menyusulmu."
Fey mengangguk.
...
"Sudah dulu ya, Gin. Gue mau pura-pura tidur dulu. Di luar Opu lagi ketuk pintu kamar gue."
Fey menyudahi video call-nya dengan Sagina, lalu segera menarik selimut dan memejamkan matanya.
Andi yang sedari tadi mengetuk pintu, akhirnya memutuskan untuk langsung masuk.
"Fey, temui dulu itu calon suamimu, Nak! Dia mau bicarakan waktu untuk melamar."
Fey bergeming, ia bertahan dengan kepura-puraannya.
__ADS_1
"Nak, bangun dulu sebentar'e! Ndak enak ituu, orangnya sudah menunggumu di ruang tamu."
Mata Fey masih saja terpejam, ia sangat malas untuk menemui pria yang akan dijodohkan kepadanya.
'Biarmi dia menunggu sampai subuh, Opu. Fey ndak peduli.'
Andi geleng-geleng kepala, lalu ia pun keluar dari kamar putrinya, dan menemui tamunya.
"Maafkan Fey le'Nak, mungkin dia kelelahan karena habis perjalanan jauh kemarin. Tadi siang dia sudah menyerahkan semuanya kepada Opu, kapan waktu lamaran dan pernikahan."
"Iye', Opu. Ndak apa-apa'ji saya sangat mengerti. Bagaimana kalau minggu depan acara lamarannya, Opu?"
"Opu setuju, Nak. Perihal uang panai ...."
"Berapa Fey minta?"
"Dia ndak menentukan, katanya semampu't saja."
Calon suami Fey pun tersenyum, dan mereka pun melanjutkan obrolannya sampai tengah malam tiba.
...
Saat pagi hari tiba, Fey dipanggil oleh Andi untuk membicarakan kejadian semalam.
Sang ayah tampak emosi atas sikap yang dilakukan oleh putrinya itu, "apa maumu, Nak? Mau buat kami malu lagi?"
Fey tertunduk, ia tidak berani menatap wajah ayahnya yang dikuasai emosi.
"Kamu mau mengharapkan Kenzo, tapi kamu ndak berfikir kalau dia sudah ndak peduli terhadapmu. Bersikaplah rasional, jangan seperti anak ABG, tengok Kenzie, dia butuh figur seorang ayah."
Tidak ada jawaban yang dapat diucapkan oleh Fey, ia menyadari atas kesalahannya. Hanya isakan tangis yang terdengar.
"Opu ingin menikahkanmu, bukan semata-mata ingin melepaskan tanggung jawab Opu sebagai ayah kepada suamimu kelak. Tapi, Opu ingin melihatmu bahagia. Punya keluarga yang utuh. Kenzie semakin lama semakin besar, dia akan bertanya-tanya mengapa dia hanya punya Kakek, sedangkan teman-temannya punya ayah? Apa yang akan kamu katakan saat dia bertanya seperti itu? Mau bilang ayahnya sudah meninggal atau pergi menghilang entah kemana?"
Fey semakin tersedu, ia menangkupkan kedua tangannya.
"Lupakan Kenzo! Songsong masa depanmu dengan hati bahagia, kami tidak akan menjerumuskanmu kepada hal yang tidak baik. Kami menyayangimu, Nak. Jadi tolong jangan buat kami malu untuk yang kedua kalinya."
Andi melunak, ia pun sebenarnya merasa tidak tega harus melihat putrinya seperti itu. Tapi, hanya itu yang bisa ia lakukan. Tidak mungkin juga ia akan menghubungi Kenzo, menawar-nawarkan putrinya bak barang yang sudah tidak laku lagi di pasaran.
Fey bersimpuh di pangkuan ayahnya, "maafkan Fey, Opu. Semalam Fey ndak siap bertemu dengannya. Beri Fey waktu beberapa hari, setelah itu Fey bersedia untuk bertemu dengannya sebelum hari untuk melamar tiba."
Diusapnya rambut sang putri, kemudian kakek dari satu cucu itu memeluk putrinya.
"Iyo', maafkan Opu kalau terkesan memaksamu. Opu ndak mau kamu mendapatkan cibiran juga hinaan karena tidak mempunyai suami. Opu juga ndak mau, Kenzie mendapat bully dari teman-temannya karena tidak punya seorang ayah. Opu ingin kamu bahagia, Nak."
"Terimakasih, Opu. Sekali lagi, tolong maafkan Fey."
Fey beringsut duduk di samping sang ayah, lalu memeluknya erat.
...
Tiga hari berlalu setelah kejadian, Fey meminta ayahnya mengatur waktu untuk bisa bertemu dengan pria yang akan menjadi calon suaminya.
Saat malam hari, lepas waktu isya, yang ditunggu pun akhirnya tiba.
Sebuah mobil Honda Jazz putih tiba di halaman rumah Fey, tidak lama setelah mesin mobil dimatikan, turunlah seorang berperwakan tinggi dengan tubuh yang agak kurus.
Pria berambut cepak, dengan kumis tipis dan sedikit janggut itu menyunggingkan senyuman kepada kedua orang tua Fey yang sedang berdiri menyambutnya.
"Assalamualaikum, Opu dan Mama."
Diciumnya punggung tangan Andi juga Khadijah, lalu ia memberikan kantong yang dibawanya kepada calon ibu mertua. Kantong berisi oleh-oleh, berupa kue dan makanan ringan.
"Waalaikumsalam, Nak Rio. Mari, Nak silahkan masuk!"
Dengan sopan, pria berkulit sawo matang itu pun memasuki rumah dan duduk di sofa ruang tamu.
"Sebentar, Opu panggilkan Fey dulu."
Lima menit kemudian, Andi kembali bersama putrinya.
"Nak, ini Rio."
Rio berdiri dan menyalami Fey.
"Feylin."
"Rio."
"Silahkan kalian berbincang, Opu mau sholat isya dulu."
Fey dan Rio mengangguk.
"Fey, maafkan kalau kedatanganku menganggu."
"Ndak apa-apa, Kak. Jadi kapan Kak Rio mau datang melamar? Tentukan saja waktunya! Kapan pun, aku siap."
__ADS_1
Rio terkejut mendapat pertanyaan yang terkesan to the point itu, namun sikapnya tetap tenang dan jaim.
"Kapan kita siap, aku ndak mau terkesan memaksa."
"Kita saja yang tentukan waktunya, kapan bisa?"
"Baik, kalau begitu. Insya Allah, minggu depan ya?"
"Iye', bicara lagi nanti dengan Opu."
"Iye'."
Beberapa saat kemudian, Andi kembali ke ruang tamu. Fey lebih banyak diam dan menyimak obrolan kedua pria di hadapanya. Ia sama sekali tidak tertarik dengan apa yang mereka obrolkan.
Waktu menunjukkan pukul 23.30, Rio berpamitan pulang.
Mobil Honda Jazz putih yang dikemudikan oleh Rio perlahan meninggalkan rumah Fey, tapi saat di ujung jalan, mobilnya dicegat oleh sebuah motor matic. Pria yang mengendarai motor tersebut turun, dan mengetuk kaca mobil.
Rio menurunkan kaca mobil, pria berjaket hitam yang mengentikan mobilnya pun berbicara, "bisa kita bicara sebentar?!"
"Siapa kita?"
"Setelah bicara, kamu akan tahu siapa saya."
Rio gamang dan ragu, walaupun ia yakin pria yang mencegatnya itu bukan seorang perampok, namun tetap saja ia merasa was-was dan harus waspada, karena pria yang ada di hadapannya itu adalah pria asing yang tidak dikenalnya.
"Jangan terlalu lama berpikir, dimana kita bisa bicara?"
"Eh, iya. Mari kita bicara di cafe Solattang, dua ratus meter dari sini, sebelah kiri jalan. Kita bertemu di sana!"
"Maaf, saya minta dulu SIM, KTP dan STNK kamu. Untuk jaminan kalau kamu tidak akan kabur."
Rio geleng-geleng kepala, dan setelah beberapa saat berfikir, ia pun menuruti permintaan pria asing yang berdiri di samping mobilnya.
Pria jangkung yang masih misterius itu, berlalu mengendarai motornya.
Keduanya tiba di tempat yang dituju, Rio duduk di kursi yang ada di teras cafe.
Pria misterius itu pun, membuka jaket dan helmnya. Lalu duduk di hadapan Rio.
"Maaf kalau sikapku tadi membuatmu merada tidak aman dan tidak nyaman, ini aku kembalikan," ucap pria itu, sambil memberikan SIM, KTP dan STNK milik Rio.
"Siapa kita? Ada urusan apa, kita memberhentikan mobil saya?"
"Urungkan niatanmu melamar Feylin!"
Rio mengernyitkan dahinya, "kenapa?"
"Aku mohon, urungkan niatmu itu!"
"Ndak semudah itu, aku ndak mungkin membatalkan lamaran. Waktu sudah ditentukan."
"Tapi, Feylin tidak mencintaimu."
"Bah, kamu pikir aku mencintainya? Aku hanya merasa ndak enak kepada Opu yang sudah banyak bantu aku. Sudah sepantasnya aku membalas jasa-jasanya."
"Berarti gak susah untukmu membatalkan semuanya?"
"Seandainya aku bisa, sudah kutolak perjodohan ini."
Pria misterius yang duduk di hadapan Rio itu, menggeser kursinya ke samping.
Ia berbicara serius kepada calon suami Fey, Rio manggut-manggut dan memahami apa yang diutarakan oleh pria asing di sampingnya.
Setengah jam kemudian, keduanya pun berpisah, setelah sebelumnya saling bertukar nomer handphone.
***
Keesokan harinya, ba'da maghrib, Rio kembali mendatangi rumah Fey. Ia hendak menemui calon ayah mertuanya, untuk membicarakan kejadian semalam.
Andi terperanjat, terkejut bukan main karena ada seseorang yang berusaha untuk menggagalkan rencana pernikahan putrinya.
Setelah beberapa saat mereka berbicara serius berdua, Andi masuk ke dalam kamarnya untuk berganti pakaian. Lalu ia berpamitan kepada anak juga istrinya.
"Opu pergi sebentar, ada urusan sama Nak Rio."
Khadijah dan Fey mengangguk bersamaan, keduanya mencium punggung tangan Andi.
Rio pun berpamitan kepada calon mertua dan calon istrinya, lalu masuk ke dalam mobil bersama Andi.
***
Jreeeeng ... Opu sama Rio mau kemana dan mau apa? Dan siapa pria misterius itu?
Pantengin part selanjutnya, jawabannya ada di situ.
Hehe,😁😀
__ADS_1
***
-Bersambung-