
"Astaga anak ini." Ibu Jasmine langsung memeriksa tugas Alfa. "Eh, ini jawaban nya." Bu Jasmine terlihat terkejut. "Loh, kenapa bu?"Tanya Leo aneh melihat ekspresi bu Jasmine. "Apakah tugas Alfa salah semua?" Tanya Erik penasaran. "Sebentar, ibu... ibu periksa dulu." Bu Jasmine langsung berlari kearah mejanya.
"Bagaimana bu?" Tanya Leo penasaran. "Ini tugas nya, ibu sangat terkejut.Tolong bangunkan Alfa!" Ibu Jasmine berdiri dari bangkunya.
"Hm... Jangan ganggu gw, gw mau tidur capek tau gak!" Alfa langsung menepis tangan-tangan yang berusaha mengangkat tubuhnya. "Woi!Bangun lo ada guru!" Teriak Leo kepada Alfa. "HAH! " Alfa langsung berdiri dengan sigap. "Oh a*njir susah-susah ku angkat tubuhnya ternyata teriakin aja gitu dia langsung bangun, bangcat Alfa!" Batin Leo bergelora.
"Eh... Ma... Maaf bu saya ketiduran, saya minta maaf." Ucap Leo yang sudah tersadar dari dunia mimpinya. "Hadeh, lain kali jangan begadang nak." Ucap ibu Jasmine sambil menghela nafasnya. "Maaf bu." Ucap Alfa lagi. "Saya akan memberikan kamu hukuman lain kali. Sekarang jawab pertanyaan ibu dengan jujur, yang mengerjakan tugas ini siapa?" Tanya bu Jasmine penasaran. "Saya sendiri bu." Jawab Alfa. "Hmm... Yang benar?" Bu Jasmine langsung mengajukan pertanyaan. "Iya bu, saya tidak bohong." Jawab Alfa. "Ah iya benar bu, tadi pagi saya sama Alfa ngerjain bareng." Ucap Erik. "Eee... Gimana ngerjain pagi-pagi?" Bu Jasmine tambah bingung. "Jam 2 pagi bu." Jawab Alfa dengan jujur. "Hah... Yang benar saja!" Bu Jasmine tambah kebingungan. "Jadi saya sama Erik begadang bu."Ucap Alfa. "Iya bu, makanya tadi saya dikejar kepsek secara langsung." Erik langsung tertunduk. "Baiklah keruangan saya sekarang.Oh ya, Alfa bagus tugas kamu benar semua." Bu Jasmine berbalik badan, membereskan buku-buku anak murid di mejanya.
"Oke yang lain jangan ribut, dan Erik Alfa kalian ikut ibu ke kantor." Bu Jasmine langsung keluar dari ruangan kelas.
"Hebat gw bro!" Teriak Alfa. "Hebat apanya." Leo mendekat ke wajah Alfa. "A... Itu.. Tugas gw betul semua." Alfa terkejut ketika wajah dingin Leo mendekat kearah nya. "Iya lo hebat, tugas lo betul semua tapi lo kena hukum." Ucap Leo. "Hm, sangat disayangkan." Lanjut Jodi. "Bener juga, yah udah lah Rik kita ke ruangan bu Jasmine yok, selagi matahari gak terik." Ajak Alfa. "Heh.. Hubungan nya apa hukuman sama matahari?" Erik bertanya kebingungan. "Kalo hukumannya hormat bendera kan berabe." Lanjut Alfa, yang langsung berlalu pergi diikuti oleh Erik. "GOOD LUCK GUYS!"Teriak Jodi kepada kedua temannya.
__ADS_1
5 menit berlalu, terlihat Jodi yang mengganggu Leo. " A, Leo lo ngebuat gw bosen."Ucap Jodi. "Lah kok gw sih, yang suruh lo ngeganggu gw siapa?" Leo hanya fokus dengan ponselnya. "Kalau ada Erik, dia pasti ngeganggu gw." Jodi menghela nafas. "Ya udah ikutan aja kena hukum sana." Leo berbicara dingin. "Ehehe... Gak mau dong, gw disini aja nemenin lo."Jodi kembali mengganggu Leo dengan menarik-narik rambut Leo dari belakang, mencubit lengan Leo.
Leo tiba-tiba berdiri dari duduknya. " Hem Fris!"Ucap Leo. "Eh iya kenapa?" Friska bertanya terkejut "Jangan bilang mau ganggu aku, kemarin ibu bilang kamu anak baik Leo." Batin Friska. "Nanti kamu sibuk gak sayang?" Tanya Leo, sembari wajahnya mendekat ke wajah Friska."Tuh kan ku bilang juga apa, terjadi lagi gini mulu. Lama-lama ku bunuh juga ni manusia." Batin Friska. "Hmm... Setampan itukah aku, sehingga lo natap lama banget." Tukas Leo. "GR." Ucap Friska singkat, sembari berdiri karena terganggu dengan kehadiran Leo yang mengganggu nya. "Eits tunggu dulu, gw belum selesai ngomong." Ucap Leo sambil menarik tangan Friska. "Kurang ajar!" Gumam Friska. "Nah kan lo cuman diem doang jangan-jangan gw memang tampan." Ucap Leo lagi."Lo tuh.. "Leo langsung menutup mulut Friska. " Stop jangan ngomong kasar, lo harus ngebukak hati buat gw."Bisik Leo di dekat telinga Friska. "Ini manusia yah, mau ku makan dia!" Batin Friska. "Gw cuman mau nanya lo sibuk gak malem ini?" Tanya Leo. "Gak tau." Jawab Friska singkat. "Mau makan malem bareng gak?" Tanya Leo lagi. "Bokap lo baru.."Lagi-lagi pembicaraan Friska terpotong,Leo langsung berbalik badan. " Lah diri ku ini salah apa!" Batin Friska sembari duduk.
"Nanya kesalahan gak, nanya gak, nanya gak.Hmmm ku tanya dia emosi gak, kalo dia emosi nanti aku kepancing gimana kan gawat disini buanyak orang lah tiba-tiba aku berubah, eh dia kan manusia biasa mana mungkin bisa ngebuat aku berubah. Tapi kata ibu kalau aku suka atau orang itu suka aku maka aku bisa berubah. Ahaha mana mungkin aku begitu, yah sudahlah akan ku tanyakan." Batin Friska yang bersautan.
"Kalau ku samperin aku bisa di mangsa. Lebih baik lewat pesan saja, pandai lah aku." Batin Friska sambil mengeti
......................
__ADS_1
Jam berlalu, akhirnya waktu pulang, Friska seperti biasa menunggu di jemput Alan, atau ibu atau mungkin ayah.
"Aaaaa!" Friska berteriak karena terkejut dengan suara klakson dari belakang nya. "Monyet lo! Siapa sih nyari ribut aja!" Teriak Friska lagi. "Hai cantik ku." Sapa lelaki yang ada di atas motor. "Astagah, biar ku tebak ini nih pasti manusia yang tidak berguna." Batin Friska. "Setiap aku datang atau kita ketemu di jalan kamu pasti gini ngelamun, kenapa sih mikirin ketampanan ku kan."Leo tertawa kecil. "Cih GR." Friska menjawab singkat. "Aih, kau tidak bisa menolak ku."Leo turun dari motor dan melepaskan helm nya.
Leo mendekati Friska." Pulang bareng yuk."Ajak Leo secara tiba-tiba. "Ah gak usah gw nunggu supir aja."Ucap Friska sembari memalingkan wajahnya. " What?Kamu bilang apa gw?"Leo mengernyitkan keningnya. "Bu.. Bukan nya itu udah biasa yah."Friska langsung mundur satu langkah. " Sekarang tidak lagi, kau akan menjadi pacar ku."Jawab Leo. "Hu.. Stres!" Friska langsung menghindar.
Leo dan Friska berdiri berjauhan, tiba-tiba ponsel Friska berbunyi. "Eh ibu, bukannya jemput anaknya malah nelpon. Kayak gak bisa jemput langsung aja." Gumam Friska dan langsung menerima panggilan dari ibu "Halo, ibu tidak berniat menjemput aku?"Tanya Friska dengan wajah cemberut. "Halo sayang, maaf nak ibu sedang di kantor." Balas ibu. "Eh tumben ibu kekantor." Ucap Friska lagi. "Iya, hari ini ibu membantu menyusun dokumen sayang. dan ayahmu juga punya acara hari ini, dokumen nya sangat penting kata ayah. Ibu dan ayah akan menghadiri acara, Alan juga ikut Aduh! Libet sekali terhapus lagi, eh iya sayang telpon bi Hasmi dan suruh sopir kesana." Ibu sangat gaduh saat menyusun dokumen. "Ouh baik lah akan ku lakukan itu, ibu tidak usah repot memikirkan nya." Ucap Friska. "Hah! Tidak usah repot katamu." "Eh maksud ku ibu kan banyak pekerjaan."Friska sangat ketakutan melihat kemarahan ibu. " A, iya juga yah, baiklah akan ibu lanjut kan dah sayang. Hati-hati yah nak!" Telpon langsung berakhir.
"Lo gak usah nelpon sopir."Leo kembali mendekat pada Friska. " He, he jangan macem-macem kau."Friska langsung mundur. "Hadeh, aku hanya ingin mengantarmu." Jawab Leo sembari memegang kepala Friska. "Oh tidak usah." Jawab Friska singkat. "Hm.. Kau menolak aku untuk membantu mu, mungkin nanti jika kau butuh bantuan ku aku juga tidak akan membantu mu." Leo memakai helm nya. "Em, baiklah aku terima." Friska memegang tangan Leo secara tiba-tiba "Astagah apa yang kulakukan." Batin Friska. "Kau tidak akan menerima ku, tapi kenapa membuat aku berharap." Batin Leo sembari berjalan kearah motornya.
Diperjalanan. "Nih cewek gak pegangan, apa gw harus rem mendadak biar dia pegangan. Eh jangan deh, tapi cobain aja, udah a gak usah!" batin Leo.
__ADS_1
"Ehem... Fris kita makan dulu yuk, mungkin nanti aku gak jemput kamu buat makan malem ini kan masih jam 4 sore bisa kan?" Tanya Leo. "Oh oke." Friska menjawab singkat "kalau tidak mau menjemput ku kenapa mengajaku. Eh kok aku jadi emosi yah, Jangan-jangan aku..... Eh gak gak gak aku gak mungkin punya perasaan sama manusia." Batin Friska.
...****************...